<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600</id><updated>2011-11-09T11:28:11.256+07:00</updated><category term='Spiritualitas'/><category term='Para Kudus'/><category term='Liturgi'/><category term='Hal-hal lain'/><category term='Doa'/><category term='Ajaran Iman'/><category term='puisi'/><category term='Kitab Suci'/><category term='News'/><category term='Gereja (Ekklesiologi)'/><title type='text'>In the Way of Perfection</title><subtitle type='html'>Not so Carmelite, Not so Charismatic, but Roman enough.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>89</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-7271083384233963667</id><published>2011-01-08T20:11:00.000+07:00</published><updated>2011-01-08T20:11:33.317+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Liturgi'/><title type='text'>Misa Pembaptisan Tuhan</title><content type='html'>Antifon Pembukaan (Mat 3:16-17)&lt;br /&gt;Setelah Yesus dibaptis, terbukalah langit, dan Roh Kudus seperti burung merpati turun pada-Nya, serta terdengarlah suara Bapa, “Inilah Putera-Ku terkasih, pada-Nya Aku amat berkenan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa Pembukaan&lt;br /&gt;Allah yang mahakuasa dan kekal, Engkau telah memaklumkan Yesus Kristus sebagai Putera-Mu, ketika sesudah pembaptisan-Nya di Sungai Yordan. Ia keluar dari air, dengan disaksikan oleh Roh Kudus yang turun pada-Nya seperti burung merpati. Kami pun telah Kau angkat menjadi putera dan puteri-Mu, ketika kami dilahirkan kembali dari air dan Roh Kudus. Kami mohon, semoga kami tetap setia dan hidup pantas sebagai putera dan puteri-Mu. Demi Yesus Kristus, Putera-Mu, Tuhan kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacaan Kitab Suci&lt;br /&gt;Yesaya 42: 1-4, 6-7; Mazmur 29: 1-4,9-10; Kisah Para Rasul 10: 34-38; Mat 3:13-17&lt;br /&gt;&lt;a href=" http://way-perfection.blogspot.com/2011/01/baptis-dan-pertobatan-renungan-pesta.html"&gt;(Anda dapat membaca renungan saya tentang Bacaan Kitab Suci dan pesta hari ini di sini [klik]&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa Persiapan Persembahan&lt;br /&gt;Ya Allah, terimalah kiranya persembahan yang kami unjukkan pada hari Engkau memaklumkan Putera-Mu. Semoga persembahan umat-Mu ini disatukan dengan kurban-Nya, sebab dalam belas kasih-Nya Ia mau membersihkan dunia dari dosa-dosa. Dia yang hidup dan berkuasa sepanjang masa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antifon Komuni (Yoh 1: 32,34)&lt;br /&gt;Yohanes berkata, “Aku telah melihat dan memberi kesaksian: Dia inilah Putera Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa Sesudah Komuni&lt;br /&gt;Ya Allah, Engkau telah menyegarkan kami berkat anugerah-Mu yang suci. Kami mohon, semoga kami dengan setia mendengarkan Putera-Mu yang tunggal, supaya kami bukan saja dinamakan, tetapi benar-benar menjadi putera dan puteri-Mu. Demi Kristus Tuhan kami.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-7271083384233963667?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/7271083384233963667/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2011/01/misa-pembaptisan-tuhan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/7271083384233963667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/7271083384233963667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2011/01/misa-pembaptisan-tuhan.html' title='Misa Pembaptisan Tuhan'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-4107605508098062733</id><published>2011-01-08T20:09:00.002+07:00</published><updated>2011-01-08T20:09:21.878+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Spiritualitas'/><title type='text'>Baptis dan Pertobatan (Renungan Pesta Pembaptisan Tuhan)</title><content type='html'>Hari ini kita mendengarkan bacaan Injil tentang pembaptisan Yesus. Walaupun Pembaptisan Yesus tidak sama artinya dengan pembaptisan kita, namun kita juga punya pengalaman dibaptis. Ketika saya dibaptis, saya tidak mengerti apa makna baptisan saya, dan hal ini wajar karena saya dibaptis ketika masih anak-anak. Ketika itu, saya bahkan sempat membuat seluruh gereja tertawa karena saya menyeka rambut saya agar air yang masih tersisa segera turun. Saya membutuhkan waktu sangat lama untuk kemudian menyadari makna baptisan saya dan kemudian mulai berusaha menghayatinya. Dan sampai hari ini pun saya seringkali gagal menghayati makna baptisan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Yesus dibaptis, terdengarlah suara Bapa “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Saya kira hal yang sama juga terjadi pada saat kita dibaptis, yaitu Allah mengatakan kepada kita “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Pada zaman Yesus hidup, Yohanes Pembaptis membaptis orang-orang sebagai tanda pertobatan, dan Yesus, sang Anak Allah, yang tidak membutuhkan pertobatan ini bersedia dibaptis semata-mata untuk menunjukkan kepada kita bahwa pertobatan adalah jalan hidup yang dikehendaki Allah agar kita menjadi anak-anak-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita seringkali memaknai pertobatan sebagai penyesalan atas dosa-dosa dan niat untuk tidak mengulanginya lagi. Tetapi ini hanya sebagian saja dari pertobatan. Sekedar menyesal dan tidak berniat mengulanginya tidaklah cukup. Lihatlah Yudas Iskariot, ia pun menyesal sungguh-sungguh atas tindakannya dan ia pun tidak ingin mengulanginya lagi. Tetapi dia mati gantung diri dan tertolak selamanya. Apakah yang kurang pada diri Yudas? Hanya satu hal yang kurang, yaitu ia tidak mau kembali kepada Allah. Maka, pertobatan adalah kembali kepada Allah. Percuma saja jika kita meninggalkan yang jahat namun tidak kembali kepada Allah. Jika kita menyesali dosa kita sungguh-sungguh dan berniat tidak mengulanginya lagi, namun enggan kembali kepada Allah maka kita akan menjadi Yudas Iskariot yang baru. Maka dalam baptisan Yesus terdengarlah suara “Inilah Anak-Ku”, Allah memanggil kita untuk memiliki hubungan yang intim dengan-Nya, yang dalam Injil digambarkan sebagai hubungan ayah dan anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pada pesta pembaptisan Tuhan ini, kita diajak untuk memperbarui hubungan kita dengan Allah, untuk mempererat hubungan kita dengan-Nya supaya kita dapat hidup seperti Yesus hidup. Yesus ini sendiri mengatakan bahwa makanan-Ku adalah melakukan kehendak Bapa (Yoh 4:34). Hal ini menunjukkan bahwa segala sesuatu yang Yesus perbuat, Ia lakukan dalam persatuan dengan Bapa-Nya. Inilah tujuan akhir dari pembaptisan kita, supaya kita hidup dalam persatuan dengan Allah dan apapun yang kita lakukan, kita lakukan untuk Dia (Kol 3:17). Semoga kita juga menjadi anak-anak yang dikasihi Allah, yang kepada kita Ia berkenan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-4107605508098062733?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/4107605508098062733/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2011/01/baptis-dan-pertobatan-renungan-pesta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/4107605508098062733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/4107605508098062733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2011/01/baptis-dan-pertobatan-renungan-pesta.html' title='Baptis dan Pertobatan (Renungan Pesta Pembaptisan Tuhan)'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-4261237380441729374</id><published>2011-01-06T19:47:00.002+07:00</published><updated>2011-01-06T19:47:54.100+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Spiritualitas'/><title type='text'>Homili Natal St. Gregorius Agung (sang Teolog)</title><content type='html'>Kristus sudah lahir, muliakanlah dia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kristus datang dari surga, pergilah menemui Dia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kristus ada di bumi, tinggikanlah Dia! Bernyanyilah bagi Tuhan, hai seluruh bumi; semoga aku dapat bergabung dengan satu ucapan, dan hendaklah langit bersukacita, dan bumi bergembira, karena Dia yang dari surga ada di bumi. Kristus dalam daging, bersukacitalah dengan gemetar dan penuh sukacita; dengan gemetar karena dosa-dosamu dan dengan sukacita karena harapanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, kegelapan sudah berlalu, dan Terang sudah muncul; sekali lagi Mesir dihukum dengan kegelapan, dan sekali lagi Israel diterangi dengan sebuah tiang. Orang yang diam dalam kegelapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal yang lama sudah berlalu, lihatlah segala sesuatu sudah menjadi baru. Huruf (hukum Taurat) telah lampau, dan Roh tampil ke depan. Bayang-bayang sudah berlalu, dan kini kebenaran sudah tiba. Melkisedek sudah ditutup. Dia yang tanpa Ibu menjadi tanpa Bapa (Kristus sebagai sang Sabda tidak memiliki ibu, namun sebagai manusia Ia tidak memiliki ayah jasmani).  Hukum alam terkejut; surga telah penuh. Kristus memerintahkannya, janganlah kita menentang Dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertepuk tanganlah kalian semua, karena seorang Anak telah lahir untuk kita, seorang Putera telah diberikan kepada kita, pemerintahan atas di atas bahu-Nya (karena dengan Salib Ia mengangkatnya), dan nama-Nya adalah Penasehat Bapa, Malaikat yang Agung. Hendaklah Yohanes berseru, mempersiapkan jalan bagi Tuhan; Aku pun akan menyerukan betapa hebatnya hari ini. Dia yang tidak berdaging menjadi daging, Putera Allah menjadi Putera Manusia, Yesus Kristus tetap sama kemarin, hari ini, dan selamanya. Biarlah orang-orang Yahudi tersinggung, biarlah orang-orang Yunani meratap; biarlah para bidaah berbicara sampai lidah mereka sakit. Maka mereka akan percaya, saat mereka melihat-Nya naik ke surga, dan jika masih belum percaya juga, meeka akan percaya saat Dia datang dari surga dan duduk sebagai hakim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah Hari Raya kita; yang kita rayakan pada hari ini, datangnya Allah kepada manusia, supaya kita dapat dapat pergi (atau dalam ungkapan yang lebih tepat) dapat kembali kepada Allah- agar dengan menanggalkan manusia lama, kita dapat mengenakan yang baru; dan sebagaimana kita mati dalam Adam, agar kita dapat hidup dalam Kristus, dilahirkan bersama Kristus dan disalibkan serta dimakamkan bersama Dia agar dapat bangkit bersama-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi saya harus segera meninggalkan pertukaran yang indah ini, sebagaimana rasa sakit mendahului kebahagiaan, begitu jugalah semakin besar kegembiraan semakin kuat juga rasa sakitnya. Karena di mana ada banyak dosa di situlah ada banyak rahmat; dan jika suatu rasa menghukum kita, betapa lebihnya sengsara Kristus membenarkan kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari itu, marilah kita merayakan Pesta ini, jangan seperti  perayaan Pesta orang kafir, tetapi dengan cara yang saleh; jangan merayakan Pesta ini dengan cara duniawi, tetapi dengan cara surgawi; jangan merayakan Pesta ini sebagai Pesta kita sendiri tetapi sebagaimana kita adalah milik Dia yang menjadi milik Kita, Dia yang adalah Tuan kita; bukan sebagai kelemahan, tetapi sebagai penyembuhan; bukan sebagai ciptaan, tetapi sebagai penciptaan kembali.﻿&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-4261237380441729374?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/4261237380441729374/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2011/01/homili-natal-st-gregorius-agung-sang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/4261237380441729374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/4261237380441729374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2011/01/homili-natal-st-gregorius-agung-sang.html' title='Homili Natal St. Gregorius Agung (sang Teolog)'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-6006032708251129539</id><published>2011-01-06T19:38:00.000+07:00</published><updated>2011-01-06T19:38:57.435+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Liturgi'/><title type='text'>Interview dengan Kardinal Urbano Navarrete Cortes</title><content type='html'>VATICAN CITY –Beliau telah melayani tidak kurang dari lima Paus, sejak Pius XII sampai Benediktus XVI dengan kesetiaan mutlak. Kami berbicara tentang Kardinal Urbano Navarrete Cortes, seorang Spanyol dari Camarena de la Sierra, yang menajdi Rektor Universitas Kepausan Gregorian sejak tahun 1980, seorang imam Yesuit yang termasyhur, dan ahli Hukum Kanon, yang diangkat menjadi Kardinal dalam konsistori 24 Novemnver 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Yang Mulia, apakah Anda memiliki cerita yang dapat dibagikan kepada kami mengenai pelayanan Anda selama melayani Gereja?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya punya banyak cerita dan anekdot, tetapi jika Anda berkenan, saya lebih senang memusatkan perhatian saya kepada dua Paus yang paling saya sayangi, tanpa mengurangi peranan dan rasa sayang saya kepada yang lain.”&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Mari kita mulai berdasarkan urutan waktu dengan membahas Pius XII.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengenai beliau, telah ada banyak fitnah dan catatan sejarah yang tidak tepat telah ditulis dan dibicarakan yang perlu dibantah sekali untuk selamanya. Misalnya, mengenai tuduhan bahwa beliau itu anti-Semit: ini adalah penipuan yang berteriak menuntut pembalasan! Saya sendiri sadar bahwa ada fakta-fakta yang belum pernah dipublikasikan dan sampai sekarang belum dibuka”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tolong, katakanlah kepada kami!&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saat saya menjadi Rektor, beberapa pengajar yang berusia lebih tua daripada saya mengatakan kepada saya bahwa selama Perang Dunia II, Paus Pacelli telah merancang dan memerintahkan- saya tekankan bahwa beliau “memerintahkan”- sebuah istana untuk dijadikan tempat pengungsian Yahudia di bagian subterran Universitas Gregorian untuk menyelamatkan mereka. Saya bertanya kepadamu: Dapatkah kenyataan ini selaras dengan tuduhan bahwa Pius XII itu anti-Semit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Namun diamnya Pacelli dengan kasus Shoah seringkali dikecam oleh masyarakat.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seriuslah! Apa lagi yang dapat ia lakukan? Ia diam bukan karena tidak peduli tetapi karena pertimbangan yang matang berdasarkan situasi sejarah. Sebenarnya Pius XII memilih keburukan yang lebih kecil, bersikap diam saja ini ditujukan agar tidak memperburuk keadaan orang Yahudi dan mencegah mengganasnya penganiayaan Nazi terhadap mereka. Hal ini juga membuktikan Pacelli tidak pernah menjadi anti-Semit, dan saya menantikan saatnya ia dinyatakan kudus sambil tetap menghormati keputusan Gereja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mari beralih kepada Hamba Allah Paulus VI.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya mengenalnya secara pribadi dan dapat memberikan kesaksian mengenai kekudusannya. Dia orang yang sangat teliti, kaku dan dengan tekun memperhatikan setiap detail. Jadi, sungguh menyenangkan sekaligus sulit untuk bekerja dengannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Seperti apakah kepribadian Paus Montini?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ia penyendiri dan pendiam. Tetapi setelah Vatikan II, ia merasa terluka, diserang dan dalam arti tertentu ia tidak lagi menjadi dirinya sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dalam arti apa?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia disalahkan atas kekacauan paska-Konsili: Ia merasa diserang dan dituduh bahkan oleh mereka yang umum disebut faksi progresif dalam Gereja. Saya dapat meyakinkan kamu bahwa hal itu sangat menyakitkan baginya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dalam pandangan Anda, apakah yang dimaksud oleh Paulus VI dengan ungkapan “asap Setan dalam Gereja”?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya ingin mengingatkan kamu akan apa yang saya katakana sebelumnya. Ungkapan ini diucapkannya sesudah Konsili, ketika hidup telah menjadi sulit baginya. Jadi, pada masa itu, menurut beliau, kehadiran asap setan dalam Gereja terdapat pada gagasan bernuansa memberontak yang dianut oleh beberapa pejabat Gereja yang telah meninggalkan dia sendirian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa yang sebenarnya Paulus VI pikirkan tentang Konsili Vatikan II pada akhir Konsili?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia tidak menafsirkannya sebagai pemutusan terhadap masa lalu. Sebaliknya, ia mempertahankan gagasan bahwa sungguh salah menggambarkan Konsili sebagai semacam revolusi, sebaliknya ia mendorong supaya Konsili “dibaca” dalam terang kesinambungan dengan tradisi Gereja”&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Mari berbicara mengenai “kreatifitas liturgi” ibu dari begitu banyak pelecehan sepanjang Misa Kudus.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Salah satu penyebab kesedihan Paulus VI adalah pandangan dari begitu banyak tokoh dalam Gereja yang memerintahkan, bahwa sesudah Vatikan II “buanglah semua yang lampau!” untuk memutus semua ikatan dengan masa lalu. “Kreatifitas liturgi” semacam ini telah disalahgunakan untuk melindungi dan mendorong segala kelakuan dan imajinasi dari para Imam yang berpikir bahwa mereka mengendalikan Gereja”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apakah Anda berharap bahwa Pius XII dan Paulus VI akan dibeatifikasi dalam waktu dekat?&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;“Bagi saya, keduanya sudah menajdi orang kudus karena apa yang telah mereka lakukan dan karena penderitaan yang mereka tanggung demi iman mereka. Perkataan saya ini, saya serahkan kepada penilaian Gereja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dalam motu proprio “Summorum Pontificum” telah membebaskan perayaan Misa Kudus menurut buku-buku liturgi Santo Pius V. Apakah Anda setuju dengan gagasan Benediktus ini?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja. Paus telah menjalankan suatu tindakan kejujuran intelektual dan kebijaksanaan, juga kebebasan dan keadilan. Saya sendiri bertanya, bagaimana mungkin suatu ritus yang telah menguatkan banyak generasi orang beriman dilarang atas nama modernisme yang absurg? Saya percaya bahwa orang-orang tradisionalis memiliki hak untuk merayakan Misa Kudus menurut ritus kuno dalam persekutuan dengan Pengganti Petrus, terutama karena hal ini tidak bertentangan dengan Novus Ordo”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apakah Anda menemukan keagungan, spiritualitas dan Misteri dalam Misa secara lebih baik dalam ritus St. Pius V?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk lebih jelasnya, saya tidak memiliki apapun untuk menentang tata cara Misa Paulus VI, dan saya menganggapnya valid sebagaimana tata cara St. Pius V. Tetapi, pada kenyataannya, Misa Pius V, melalui Kanon Romawi lebih terarah kepada Allah daripada Kanon yang terlalu singkat (Doa Syukur Agung II). Maka, saya piker Misa St. Pius V lebih terarah kepada Allah dibandingkan dengan Misa Novus Ordo, selain dalam pandangan saya doa-doa dalam Misa St. Pius V lebih lengkap dibanding Novus Ordo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa pendapat Anda mengenai Komuni di tangan?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya percaya lebih baik membagikan Ekaristi di lidah daripada di tangan, untuk mencegah bagian atau remahnya disentuh tangan yang kotor. Saya tidak ikhlas mengizinkan pembagian Komuni di tangan; dibutuhkan suatu pendidikan yang jauh lebih baik, juga karena Komuni di tangan cenderung membuat orang menganggap enteng menerima Komuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;﻿&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Daniel P. dari terjemahan Inggris oleh Carlos Antonio Palad:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://rorate-caeli.blogspot.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi asli Italia:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.papanews.it/dettaglio_interviste.asp?IdNews=8150#a&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-6006032708251129539?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/6006032708251129539/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2011/01/interview-dengan-kardinal-urbano.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/6006032708251129539'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/6006032708251129539'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2011/01/interview-dengan-kardinal-urbano.html' title='Interview dengan Kardinal Urbano Navarrete Cortes'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-5674622234589478643</id><published>2011-01-06T19:33:00.000+07:00</published><updated>2011-01-06T19:33:11.779+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Liturgi'/><title type='text'>Terjemahan Indo- Surat Benediktus XVI Yang Menyertai Summorum Pontificum</title><content type='html'>Saudara-saudaraku terkasih para uskup,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penuh kepercayaan dan harapan, Saya menyerahkan kepada kalian selaku gembala-gembala teks dari Surat Apostolik yang baru “Motu Proprio data” tentang penggunaan liturgi Romawi sebelum pembaruan tahun 1970. Dokumen ini adalah buah dari banyak permenungan, konsultasi, dan doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak berita dan penilaian yang dibuat tanpa informasi yang cukup, dan telah menciptakan banyak kebingungan. Ada berbagai reaksi terhadap dokumen ini, yang nyatanya isinya belum diketahui, mulai dari yang menerima dengan gembira sampai yang menolak dengan keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokumen ini ditentang secara keras terutama karena dua ketakutan, yang sekarang ingin saya bahas lebih jauh dalam surat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama, ada ketakutan bahwa dokumen ini menyimpang dari otoritas Konsili Vatikan II, yang salah satu keputusan mendasarnya- pembaruan liturgi- sedang dipertanyakan. Ketakutan ini tidak berdasar. Dalam hal ini, harus dikatakan bahwa pertama-tama Misale yang diterbitkan oleh Paulus VI dan kemudian diterbitkan kembali dalam dua edisi oleh Yohanes Paulus II, tetap menajdi bentuk yang normal-bentuk biasa- dari liturgi Ekaristi. Versi terakhir dari Missale Romanum sebelum Konsili, yang diterbitkan dengan otoritas Paus Yohanes XXIII di tahun 1962 dan digunakan selama Konsili, sekarang dapat digunakan sebagai bentuk luar biasa dalam perayaan liturgi.  Sungguh tidak patut untuk berbicara mengenai dua versi Misale Romawi ini seolah-olah mereka adalah “dua ritus”. Sebaliknya, ini adalah masa dua cara penggunaan dari ritus yang satu dan sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai penggunaan Misale 1962 sebagai bentuk luar biasa dari liturgi Misa, saya ingin menarik perhatian kalian kepada fakta bahwa Misale ini tidak pernah dibatalkan secara hukum, dan konsekuensinya adalah, selalu diizinkan untuk digunakan. Pada saat penerbitan Misale baru, tampaknya tidak ada kebutuhan untuk mengeluarkan norma khusus bagi kemungkinan penggunaan Misale yang lebih tua. Mungkin pada masa itu dipikirkan bahwa hal ini akan timbul sebagai kasus yang menyangkut sedikit orang, dan dapat diselesaikan secara kasus per kasus pada tingkat lokal. Namun, kemudian menjadi jelas bahwa sejumlah orang dalam jumlah yang cukup banyak tetap terikat kepada penggunaan ritus Romawi ini, yang telah akrab dengan mereka sejak masa kanak-kanak. Hal ini terutama menyangkut kasus-kasus di negara-negara dimana gerakan liturgi telah memberikan pendidikan liturgi yang mendalam dan keakraban yang pribadi dengan bentuk perayaan liturgi yang lebih tua. Kita semua tahu bahwa dalam gerakan yang dipimpin oleh Uskupagung Lefebvre, kesetiaan kepada Misale kuno menajdi tanda lahiriah identitas mereka, walaupun alasan perpecahan dengan mereka ada pada tingkatan yang lebih dalam. Banyak orang yang secara tegas menerima karakter mengikat dari Konsili Vatikan II, setia kepada Paus dan para Uskup, juga ingin memulihkan bentuk liturgi suci yang mereka sayangi. Hal ini terjadi karena di banyak tempat perayaan menurut tata cara baru telah dirayakan dengan tidak setia, malahan dipahami sebagai pengesahan atas kreatifitas yang seringkali menuntun kepada kehancuran liturgi yang sulit diterima. Saya mengemukakan hal ini dari pengalaman, karena saya sendiri juga mengalami masa-masa itu dengan segala harapan dan kebingungannya. Dan saya juga telah melihat bagaimana penghancuran liturgi secara sembarangan ini telah menimbulkan luka yang dalam bagi umat yang sepenuhnya berakar dalam iman Gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, Paus Yohanes Paulus II merasa berkewajiban untuk menyediakan panduan bagi penggunaan Misale 1962 dalam Motu Proprio Ecclesia Dei ( 2 Juli 1988), bagaimanapun juga dokumen itu tidak memuat persyaratan yang rinci selain sebuah permohonan secara umum agar para uskup bermurah hati kepada “keinginan yang sah” dari umat beriman yang meminta penggunaan ritus Romawi ini. Pada saat itu tujuan utama Paus adalah untuk membantu Serikat Santo Pius X untuk memulihkan kesatuan penuh dengan Pengganti Petrus, dan untuk menyembuhkan suatu luka menyakitkan yang pernah dialami. Sayangnya, rekonsiliasi ini belum membuahkan hasil yang diahrapkan. Namun begitu, ada juga sejumlah komunitas yang dengan senang hati menggunakan kemungkinan-kemungkinan yang disediakan oleh Motu Proprio itu. Di sisi lain, tetap ada kesulitan untuk menggunakan Misale 1962 di luar kelompok-kelompok tersebut, karena kurang rincinya norma-norma hukum yang ada, secara khusus kesulitan ini timbul karena para Uskup seringkali merasa takut otoritas Konsili akan dipertanyakan. Saat Konsili Vatikan II selesai diduga bahwa permintaan penggunaan Misale 1962 hanya akan terbatas kepada generasi tua yang telah tumbuh dengannya, namun seiring berjalannya waktu jelas pula bahwa orang-orang muda telah menemukan bentuk liturgi ini dan merasakan daya tariknya, serta menemukan perjumpaan dengan Misteri Ekaristi Mahakudus, dengan cara yang cocok bagi mereka. Maka, muncullah kebutuhan bagi pengaturan hukum yang lebih jelas, yang belum dianggap perlu pada saat penerbitan Motu Proprio 1988. Norma-norma yang sekarang ini juga bertujuan untuk membebaskan para Uskup dari keharusan untuk melakukan evaluasi terus-menerus mengenai bagaimana cara mereka menganggapi berbagai situasi yang muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, ketakutan juga diungkapkan bahwa Motu Proprio yang akan muncul ini, yang memungkinkan penggunaan Misale 1962 secara lebih luas, akan menuntun kepada pemisahan atau bahkan perpecahan dalam komunitas paroki. Saya menganggap ketakutan ini tidak berdasar. Penggunaan Misale lama mengandaikan pendidikan liturgi dalam tingkatan tertentu dan sedikit pengetahuan bahasa Latin; kedua hal ini tidaklah sering dijumpai. Dari keadaan nyata ini, jelaslah bahwa Misale baru akan tetap menajdi bentuk biasa dari ritus Romawi, bukan hanya secara hukum, tetapi juga karena situasi nyata komunitas umat beriman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga benar bahwa kadang-kadang beberapa aspek sosial dari sikap umat yang terikat dengan tradisi liturgi Latin kuno telah dilebih-lebihkan secara tidak bertanggung jawab. Cinta kasih dan kebijaksanaan pastoral kalian akan menjadi suatu bantuan dan panduan untuk memperbaiki keadaan ini. Karena itu, dua bentuk dari ritus Romawi bisa saling memperkaya; santo-santa baru dan prefasi-prefasi baru dapat dan harus ditambahkan ke Misale lama. Komisi “Ecclesia Dei”, bersama dengan berbagai lembaga yang setia menggunakan usus antiquior (cara lama), akan mempelajari berbagai kemungkinan praktis tentang hal ini. Sebaliknya, perayaan Misa menurut Misale Paulus VI juga akan mampu untuk menunjukkan dengan lebih baik segala hal yang dikaitkan dengan Misale lama, yaitu sakralitas yang telah menarik banyak orang ke cara lama. Jaminan paling kuat bahwa Misale Paulus VI dapat menyatukan komunitas paroki dan dicintai oleh umat beriman bergantung pada cara merayakannya yang sesuai dengan aturan-aturan liturgi. Hal ini akan memperlihatkan kekayaan rohani dan kedalaman teologi dari Misale ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya akan menjelaskan alasan positif yang mendorong keputusan saya untuk mengeluarkan Motu Proprio yang memperbarui Motu Proprio tahun 1988. Alasan ini adalah mengenai rekonsiliasi internal dalam jantung Gereja. Menatap kembali ke masa lalu, kepada perpecahan yang selama rentang waktu berabad-abad telah menyobek Tubuh Kristus, seseorang dapat memiliki kesan bahwa setiap kali terjadi saat kritis menjelang perpecahan, para pemimpin Gereja tidak cukup berupaya untuk memelihara atau memulihkan kembali rekonsiliasi dan kesatuan. Seseorang dapat memiliki kesan bahwa kelalaian dari pihak Gereja ini menunjukkan bahwa mereka memiliki tanggung jawab atas kenyataan bahwa perpecahan ini kemudian menjadi semakin keras. Keadaan masa lalu ini memberikan kewajiban kepada kita di zaman sekarang; untuk melakukan segala usaha yang membuka kesempatan bagi mereka yang sungguh-sungguh ingin tetap berada dalam kesatuan atau ingin memperolehnya kembali secara baru. Saya teringat suatu kalimat dalam Surat Kedua kepada umat Korintus, ketika Paulus menulis: “Hai orang Korintus! Kami telah berbicara terus terang kepada kamu, hati kami terbuka lebar-lebar bagi kamu. Dan bagi kamu ada tempat yang luas dalam hati kami, tetapi bagi kami hanya tersedia empat yang sempit dalam hati kamu. Maka sekarang, supaya timbale balik- Bukalah hati kamu selebar-lebarnya!” (2 Kor 6: 11-13). Paulus memang berbicara dalam konteks yang lain, tetapi anjurannya dapat dan harus menyentuh kita juga dalam masalah ini. Marilah kita dengan murah hati membuka hati kita dan membuat ruang bagi segala hal yang diizinkan oleh iman itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada pertentangan antara dua edisi Misale Romawi ini. dalam sejarah liturgi ada pertumbuhan dan perkembangan, tetapi tidak ada ketidaksinambungan. Apa yang dipandang oleh generasi sebelumnya sebagai suci, akan tetap suci dan agung bagi kita, tidak mungkin terjadi suatu hal tiba-tiba dianggap terlarang dan berbahaya. Pada kita tergantung tugas untuk memelihara kekayaan yang telah berkembang dalam iman dan doa Gereja, dan bergantung pula tugas untuk memberi tempat yang pantas bagi kekayaan ini. Tidak usah dijelaskan lagi bahwa agar dapat mengalami persekutuan penuh, para imam dari komunitas-komunitas yang setia menggunakan cara lama, pada prinsipnya tidak dapat menyingkirkan secara total perayaan menurut buku-buku liturgi yang baru. Penyingkiran total ritus baru tidak akan sejalan dengan pengakuan akan nilai dan kesuciannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara-saudaraku terkasih, sebagai penutup, saya ingin menekankan bahwa norma-norma baru ini tidak memperkecil otoritas dan tanggung jawabmu, baik mengenai liturgi atau mengenai kepedulian pastoral bagi umat berimanmu. Sesungguhnya, setiap uskup adalah moderator liturgi di keuskupannya sendiri (cf. Sacrosanctum Concilium, 22: "Sacrae Liturgiae moderatio ab Ecclesiae auctoritate unice pendet quae quidem est apud Apostolicam Sedem et, ad normam iuris, apud Episcopum").&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, tidak ada sesuatu pun yang diambil dari otoritas para uskup, yang perannya tetap bertugas untuk menjaga agar segala sesuatu dilakukan dalam damai dan ketentraman. Jika kemudian muncul masalah yang tidak dapat diselesaikan para pastor paroki, Ordinaris lokal selalu dapat mengintervensi sejalan dengan setiap hal yang telah diatur oleh norma-norma baru yang disampaikan Motu Proprio ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh lagi, saudara-saudara terkasih, saya mengundang kalian semua untuk mengirimkan kisah pengalaman kalian kepada Tahta Suci dalam jangka waktu 3 tahun setelah Motu Proprio ini berlaku. Jika memang ada masalah  yang benar-benar serius, maka cara penyembuhannya juga harus dicari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara-saudara terkasih, dengan penuh syukur dan kepercayaan, saya mempercayakan ke dalam hati kalian sebagai gembala halaman-halaman surat ini dan norma-norma Motu Proprio. Ingatlah selalu akan kata-kata Rasul Paulus yang ia sampaikan kepada para penatua di Efesus: “Jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi uskup untuk menggembalakan Gereja Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Putera-Nya sendiri.” (Kis 20:28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mempercayakan norma-norma ini kepada bantuan doa penuh kuasa dari Maria, Bunda Gereja, dan dengan sepenuh hati saya menyampaikan berkat Apostolik saya kepada kalian semua, saudara-saudara terkasih, kepada para pastor paroki keuskupan kalian, kepada semua imam kalian, rekan kerja kalian, dan juga seluruh umat beriman kalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diberikan di Santo Petrus, 7 Juli 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-5674622234589478643?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/5674622234589478643/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2011/01/terjemahan-indo-surat-benediktus-xvi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/5674622234589478643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/5674622234589478643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2011/01/terjemahan-indo-surat-benediktus-xvi.html' title='Terjemahan Indo- Surat Benediktus XVI Yang Menyertai Summorum Pontificum'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-3949239023561032402</id><published>2011-01-06T19:30:00.000+07:00</published><updated>2011-01-06T19:30:29.214+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Liturgi'/><title type='text'>Terjemahan Indo-Summorum Pontificum</title><content type='html'>BENEDICTUS, EPISCOPUS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SERVUS SERVORUM DEI&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Para Paus sejak dulu sampai sekarang selalu memberi perhatian untuk memastikan agar Gereja Kristus mempersembahkan ritual yang layak ke hadapan keagungan Ilahi, ‘agar nama-Nya dipuji dan dimuliakan’ dan ‘agar berguna bagi seluruh Gereja-Nya yang kudus.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dulu pula, sebagaimana juga nanti untuk masa mendatang- telah dipandang perlu untuk memelihara suatu prinsip dimana ‘setiap Gereja partikulir harus sejalan dengan Gereja universal, bukan sekedar dalam hal ajaran iman dan tanda-tanda sakramental, tetapi juga mengenai penggunaannya secara universal sebagaimana disaksikan oleh tradisi apostolik yang tidak terputus, yang harus ditaati bukan sekedar untuk menghindarkan kesalahan tetapi juga untuk meneruskan iman secara menyeluruh, karena aturan doa Gereja berkaitan erat dengan aturan imannya.’ [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara para Paus yang telah menunjukkan perhatian mengenai hal tersebut di atas, nama St. Gregorius Agung sangat menonjol, karena ia telah melakukan segala usaha untuk memastikan bahwa generasi baru di Eropa menerima baik iman Katolik maupun harta karun ibadat dan kebudayaan yang telah dikembangkan oleh orang-orang Romawi pada abad-abad sebelumnya. Ia memerintahkan agar bentuk perayaan liturgi Ilahi sebagaimana dirayakan di kota Roma (baik menyangkut Kurban Misa dan Ibadat harian) dipelihara. Ia mengambil  perhatian besar untuk menyebarkan para biarawan dan biarawati yang mengikuti peraturan hidup St. Benediktus dan mewartakan Injil dengan hidup mereka yang mencerminkan kebijaksanaan dari Aturan mereka yang menyatakan ‘ tidak ada sesuatu yang ditempatkan diatas karya Allah.’ Melalui cara ini, liturgi ilahi, yang dirayakan menurut tata cara kota Roma, tidak hanya memperkaya iman dan kesalehan tetapi juga kebudayaan dari banyak bangsa. Sudah diketahui umum, bahwa liturgi Latin, dalam banyak bentuknya, di setiap abad dari zaman Kristen, telah menjadi penguat bagi kehidupan rohani banyak orang kudus, dan telah mengembalikan mereka kepada kebajikan keagamaan dan menyuburkan kesalehan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak Uskup Roma lainnya yang sepanjang sejarah telah menunjukkan perhatian khusus untuk memastikan agar liturgi ilahi dapat melaksanakan tugas ini secara lebih efektif. Diantara mereka menonjol nama St. Pius V, yang didorong oleh semangat pastoral yang besar dan mengikuti anjuran dari Konsili Trente, telah memperbarui seluruh liturgi Gereja, dan memerintahkan penerbitan buku liturgi yang telah diperbarui sesuai aturan para bapa Gereja dan menyediakannya untuk digunakan oleh Gereja Latin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu buku liturgi bagi ritus Romawi adalah Misale Romawi, yang dikembangkan di kota Roma, dan sering dengan perkembangan selama berabad-abad, sedikit demi sedikit mencapai bentuk yang serupa dengan yang ada sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kepada tujuan yang sama inilah para Paus Roma selanjutnya mengerahkan tenaga mereka pada abad-abad yang selanjutnya untuk memastikan agar ritus dan buku-buku liturgi menjadi sesuai dengan zaman dan apabila perlu diperjelas isinya. Sejak permulaan abad ini mereka telah melakukan suatu pembaruan yang bersifat lebih umum.’[2] Sehingga, para pendahulu kami; Klemens VIII, Urbanus VIII, St. Pius X[3], Benediktus XV, Pius XII, dan Beato Yohanes XXIII semuanya ambil bagian dalam pembaruan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu yang lebih kini lagi, Konsili Vatikan II mengungkapkan suatu niat agar rasa hormat yang sesuai terhadap ibadat ilahi harus diperbarui dan disesuaikan dengan kebutuhan zaman kita. Digerakkan oleh keinginan ini, pendahulu kami, Imam Agung Paulus VI, menyetujui dan pada tahun 1970 memperbarui dan mengubah sebagian buku-buku liturgi untuk Gereja Latin. Buku-buku ini, kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia, dan diterima dengan rela oleh para uskup, imam, dan umat beriman. Yohanes Paulus II memperbarui edisi acuan ketiga dari Misale Romawi ini. Jadi, para Paus Roma telah bekerja sedemikian untuk menjamin ‘bentuk liturgi yang diperbarui ini..harus sekali lagi bersinar dalam keagungan dan harmoninya.’ [4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, di beberapa wilayah, ada sejumlah umat yang tetap memiliki rasa cinta dan kesetiaan yang besar kepada bentuk liturgi yang lebih awak. Liturgi kuno ini telah begitu dalam meresap dalam kebudayaan dan semangat hidup mereka sehingga akhirnya pada tahun 1984, Paus Yohanes Paulus II, yang tergerak oleh kepedulian pastoral kepada umat beriman ini, memberikan izin khusus ‘Quattor abhinc anno,” yang dikeluarkan oleh Konggregasi Ibadat Ilahi, untuk memberikan izin penggunaan Misale Romawi yang diterbitkan oleh Beato Yohanes XXIII pada tahun 1962. Kemudian, pada tahun 1988, melalui Surat Apostolik berupa Motu Proprio ‘Ecclesia Dei,’ mendorong para uskup untuk dengan murah hati menggunakan kekuasannya untuk memberi izin kepada umat yang menginginkan perayaan liturgi kuno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, dengan mengikuti doa yang tekun dari umat beriman ini, dan sebagaimana telah sejak dulu diinginkan oleh Yohanes Paulus II, dan setelah mendengarkan pandangan-pandangan dari para bapa Kardinal dalam konsistori tanggal 22 Maret 2006, dan setelah merenungkan semua sisi masalahnya secara mendalam, dan dengan berseru kepada Roh Kudus serta mempercayai pertolongan Allah, melalui Surat Apostolik ini kami menetapkan yang berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 1. Misale Romawi yang disahkan oleh Paulus VI adalah ungkapan biasa dari ‘Lex orandi’ (aturan doa) Gereja Katolik ritus Latin. Walaupun demikian, Misale Romanum yang disahkan oleh Pius V dan disahkan kembali oleh Beato Yohanes XXIII dianggap sebagai ungkapan luar biasa dari ‘Lex orandi’ yang sama dan harus diberi penghormatan karena penggunaannya yang kuno dan terhormat. Dua ungkapan Lex orandi Gereja ini tidak akan dengan cara apapun menimbulkan perpecahan dalam Lex credendi (aturan iman) Gereja. Sesungguhnya, mereka adalah dua cara penggunaan dari satu ritus Romawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, diizinkan untuk merayakan Kurban Misa menurut edisi acuan Misale Romawi yang disahkan oleh Beato Yohanes XXIII pada tahun 1962 dan yang tidak pernah dibatalkan, sebagai suatu bentuk luar biasa dari Liturgi Gereja. Kondisi bagi penggunaan Misale ini sebagaimana telah diatur dalam dokumen sebelumnya yaitu ‘Quattor abhinc annis’ dan ‘Ecclesia Dei’ sekarang digantikan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 2. Dalam Misa-Misa yang dirayakan tanpa umat, setiap imam Katolik ritus Latin, entah sekuler ataupun regular, dapat menggunakan Misale Romawi yang diterbitkan oleh Beato Paus Yohanes XXIII pada tahun 1962, atau Misale Romawi yang disahkan oleh Paus Paulus VI pada tahun 1970, dan dapat melakukannya pada hari apapun kecuali pada Triduum Paskah. Dalam perayaan-perayaan Misa tanpa umat, imam dapat menggunakan salah satu Misale tanpa membutuhkan izin dari Tahta Apostolik ataupun dari Ordinarisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 3.  Komunitas-komunitas hidup bakti dan Serikat-serikat hidup kerasulan, baik dengan pengakuan pontifical atau diosesan, yang ingin merayakan Misa menurut Misale Romawi edisi 1962, baik secara konventual atau “dalam komunitas” yang dirayakan di tempat doa mereka, dapat melakukannya. Jika suatu komunitas atau seluruh Institut atau Serikat ingin melakukan perayaan tersebut secara sering, rutin atau permanen maka keputusan harus diambil oleh Superior Maior sesuai dengan hukum dan dengan mengikuti dekrit dan statute mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 4. Perayaan Misa sebagaimana disebutkan dalam art.2 dapat- dengan mematuhi semua norma hukum- juga dapat dihadiri oleh umat beriman, yang atas kehendak bebas mereka sendiri, ingin hadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal. 5. § 1 Di paroki-paroki yang terdapat sekelompok umat yang mencintai tradisi liturgi yang lebih lama, maka para gembala harus dengan rela menerima keinginan mereka untuk merayakan Misa menurut ritus Misale Romawi yang diterbitkan pada tahun 1962, dan memastikan agar kesejahteraan rohani umat ini selaras dengan pelayanan pastoral biasa paroki, dibawah bimbingan uskup sesuai dengan kanon 392, dan dengan menghindarkan perpecahan dan menjaga kesatuan seluruh Gereja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ 2 Perayaan menurut Misale Beato Yohanes XXIII dapat berlangsung pada hari-hari kerja; sementara pada hari Minggu dan pesta, perayaan semacam itu juga dapat diadakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ 3 Pastor paroki juga harus memberi izin perayaan bentuk luar biasa ini kepada para imam dan umat beriman yang memintanya dalam situasi khusus seperti pernikahan, pemakaman, dan perayaan-perayaan khusus seperti dalam suatu ziarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ 4 Imam yang menggunakan Misale Beato Yohanes XXIII harus mampu melakukannya dan tidak terhalang secara hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ 5 Di gereja-gereja yang bukan paroki atau gereja biara, adalah tugas Rektor gereja untuk memberikan izin semacam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 6. Dalam Misa-misa yang dirayakan bersama umat menurut Misale Beato Yohanes XXIII, bacaan-bacaan dapat dinyanyikan dalam bahasa lokal, menurut edisi yang disahkan oleh Tahta Apostolik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 7. Jika sekelompok umat awam sebagaimana disebutkan dalam Pasal 5 § 1 tidak memperoleh jawaban memuaskan dari pastor paroki terhadap permintaan mereka, mereka harus memberitahukan hal ini kepada uskup diosesan. Sangat diharapkan supaya uskup dioses memenuhi keinginan mereka. Jika uskup tidak mampu mengadakan perayaan tersebut, ia harus menyerahkan masalah ini kepada Komisi Kepausan “Ecclesia Dei”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 8. Seorang uskup, yang ingin memenuhi permintaan itu, namun karena berbagai alasan tidak mampu melakukannya, dapat menyerahkan masalah ini kepada Komisi “Ecclesia Dei” untuk mendapatkan bimbingan dan bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal9. § 1 Pastor paroki juga dapat memberikan izin pada penggunaan ritual kuno bagi pelayanan Sakramen Baptis, Pernikahan, Pengakuan Dosa dan Pengurapan Orang Sakit, setelah meneliti semua aspeknya dan jika diperlukan bagi kesejahteraan rohani jiwa-jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ 2 Ordinaris diberi hak untuk merayakan Sakramen Krisma menurut Ponticale Romanum yang lebih kuno, jika kesejahteraan rohani jiwa-jiwa memerlukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ 3 Para klerus yang ditahbisan “in sacris constitutis” (dalam penetapan suci) dapat menggunakan Breviarium Romanum yang disahkan oleh Beato Yohanes XXIII pada tahun 1962.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 10. Ordinaris di tempat-tempat tertentu dapat mendirikan paroki personal sesuai dengan kanon 518 bagi perayaan menurut bentuk kuno ritus Romawi, atau menunjuk seorang kapelan dengan menaati semua norma-norma hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal. 11. Komisi Kepausan “Ecclesia Dei”, yang didirikan oleh Yohanes Paulus II pada tahun 1998 [5], tetap melanjutkan tugas-tugasnya. Komisi tersebut akan memiliki bentuk, tugas dan norma sesuai yang dikehendaki oleh Uskup Roma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal. 12. Komisi ini, terlepas dari kekuasaan yang dimilikinya, akan menjalankan otoritas Tahta Suci, dalam mengawasi pelaksanaan dan penerapan peraturan-peraturan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami memerintahkan, agar semua yang telah kami tetapkan dalam Surat Apostolik ini, yang diterbitkan sebagai Motu Proprio (atas inisiatif sendiri) dianggap sebagai “ditetapkan dan didekritkan”, dan agar dipatuhi sejak tanggal 14 September pada tahun ini, bertepatan dengan Pesta Pemuliaan Salib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Roma, di Santo Petrus, 7 Juli 2007, pada tahun ketiga masa kepausan Kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benedictus PP XVI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) General Instruction of the Roman Missal, 3rd ed., 2002, no. 397.    [back to text]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) John Paul II, Apostolic Letter "Vicesimus quintus annus," 4 December 1988, 3: AAS 81 (1989), 899.    [back to text]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Ibid.    [back to text]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) St. Pius X, Apostolic Letter Motu propio data, "Abhinc duos annos," 23 October 1913: AAS 5 (1913), 449-450; cf John Paul II, Apostolic Letter "Vicesimus quintus annus," no. 3: AAS 81 (1989), 899.    [back to text]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5) Cf John Paul II, Apostolic Letter Motu proprio data "Ecclesia Dei," 2 July 1988, 6: AAS 80 (1988), 1498.    [back to text]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterjemahkan dari teks bahasa Inggris di ewtn.com (kali ini rasanya terjemahannya kacau deh hehehe)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-3949239023561032402?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/3949239023561032402/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2011/01/terjemahan-indo-summorum-pontificum.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/3949239023561032402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/3949239023561032402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2011/01/terjemahan-indo-summorum-pontificum.html' title='Terjemahan Indo-Summorum Pontificum'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-2579507921857502381</id><published>2010-03-13T03:05:00.000+07:00</published><updated>2010-03-13T03:07:13.649+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gereja (Ekklesiologi)'/><title type='text'>Peranan Uskup Roma Dalam Persekutuan Gereja Sepanjang Milenium Pertama</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kami menerjemahkan sebuah draft dari Komisi dialog teologis antara Gereja Katolik dan Ortodoks mengenai peranan Uskup Roma dalam persekutuan Gereja sepanjang milenium pertama. Draft ini bukan pernyataan resmi, dan di kalangan Ortodoks juga terdapat beberapa reaksi negatif terhadap draft ini, sementara di kalangan Katolik, menurut pengetahuan kami, sambutannya cukup positif.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komisi Koordinasi Gabungan Untuk Dialog Teologis Antara Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks&lt;br /&gt;Aghios Nikolaos, Creta Yunani, 27 September- 4 Oktober 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;1. Dalam dokumen Ravenna, “Konsekuensi Eklesiologis Dan Kanonik Dari Kodrat Sakramental Gereja- Persekutuan Gerejani, Konsiliaritas Dan Otoritas”, Katolik dan Ortodoks mengakui hubungan tak terpisahkan antara konsiliaritas dan primat pada setiap tingkat kehidupan Gereja: “Primat dan konsiliaritas saling bergantung satu sama lain. Itulah sebabnya mengapa primat pada berbagai tingkatan kehidupan Gereja, lokal, regional, dan universal, harus dipertimbangkan dalam konteks konsiliaritas, dan konsiliaritas juga dipertimbangkan dalam konteks primat (dokumen Ravenna, n. 43). Mereka juga mengakui bahwa “dalam tatanan kanonik (taxis) yang dihayati oleh Gereja awali”, yang “diakui oleh semua pada masa Gereja yang tidak terbagi”. “Roma, sebagai Gereja yang menurut ungkapan St. Ignatius Antiokhia, ‘memimpin dalam cinta kasih’ (Surat kepada Roma, prolog), menempati urutan pertama dalam taxis, dan karenanya Uskup Roma menjadi protos di antara para Patriarkh” (nn. 40,41). Dokumen tersebut mengacu kepada peranan aktif dan hak prerogative Uskup Roma sebagai “protos di antara Patriarkh”, “protos di antara para Uskup dari Tahta-tahta Utama” (nn. 41,42,44), dan menyimpulkan bahwa ‘peranan Uskup Roma dalam persekutuan seluruh Gereja-gereja’ harus dipelajari secara lebih mendalam”. “Apakah fungsi khusus dari Uskup “Tahta Pertama” dalam suatu eklesiologi koinonia?” (n. 45)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Maka topik dalam dialog teologis tahap selanjutnya adalah: “Peranan Uskup Roma Dalam Persekutuan Gereja Milenium Pertama”. Tujuannya adalah untuk memahami peranan Uskup Roma secara lebih mendalam pada masa dimana Gereja Timur dan Barat berada dalam persekutuan, sementara ada sejumlah perbedaan di antara keduanya, dan untuk menjawab pertanyaan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Teks yang sekarang ini akan membahas topik tersebut dengan memperhatikan empat hal berikut:&lt;br /&gt;- Gereja Roma, prima sedes;&lt;br /&gt;- Uskup Roma sebagai pengganti Petrus;&lt;br /&gt;- Peranan Uskup Roma pada masa krisis persekutuan gerejani;&lt;br /&gt;- Pengaruh faktor-faktor non-teologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gereja Roma, “prima sedes”&lt;br /&gt;4. Katolik dan Ortodoks sepakat bahwa, sejak masa apostolik, Gereja Roma telah diakui sebagai yang pertama di antara Gereja-gereja lokal, baik di Timur maupun di Barat. Tulisan para bapa apostolik dengan jelas memberikan kesaksian akan fakta ini. Roma, ibu kota kekaisaran, dengan cepat memperoleh kemasyhuran dalam Gereja awali sebagai tempat kemartiran Santo Petrus dan Paulus (cf. Wahyu 11: 3-12). Roma menempati tempat yang unik di antara Gereja-gereja lokal dan menjalankan suatu pengaruh yang unik pula. Pada akhir abad pertama, dengan menyerukan teladan para martir, Petrus dan Paulus, Gereja Roma menulis surat panjang kepada Gereja Korintus, yang telah menolak penatua-penatuanya (1Klemens 1,44), dan mendorong agar kesatuan dan keselarasan (homonoia) dipulihkan. Surat yang ditulis oleh Klemens, yang selanjutnya dikenal sebagai Uskup Roma (cf. Irenaeus, Adv.Haer 3,3,2), walaupun bentuk kepemimpinan Klemens di Roma pada masa itu tidaklah jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Tak lama sesudah itu, dalam perjalanannya untuk dimartir di Roma, Ignatius dari Antiokhia menulis kepada Gereja Roma dengan penuh penghargaan, sebagai yang “layak bagi Allah, layak dihormati, layak disebut yang terberkati, layak akan keberhasilan, layak akan kemurnian”. Ia menyebutnya sebagai “yang memimpin di wilayah orang Romawi” dan juga sebagai “yang memimpin dalam cinta kasih” (“prokathemene tes agapes”; Roma, Salam). Ungkapan ini ditafsirkan dengan berbagai cara, tetapi ungkapan ini tampak menunjukkan bahwa Roma memiliki peranan sebagai senior dan pemimpin regional, dan juga pembedaan yang mendasar dalam Kekristenan, yaitu iman dan cinta kasih. Ignatius juga berbicara mengenai Petrus dan Paulus, yang berkhotbah kepada orang Romawi (Roma, 4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Irenaeus menekankan bahwa Gereja Roma merupakan acuan pasti bagi pengajaran apostolik. Dengan Gereja ini, yang didirikan oleh Petrus dan Paulus, merupakan hal yang perlu bahwa setiap Gereja setuju dengannya (convenire), “propter potentiorem principalitatem”, suatu ungkapan yang secara berbeda-beda dapat dipahami sebagai “karena asal-usulnya yang lebih kuat” atau “karena otoritasnya yang lebih besar” (Adv. Haer., 3,3,2). Tertullianus juga memuji Gereja Roma “yang atasnya Rasul (Petrus dan Paulus) mencurahkan seluruh ajaran mereka bersama-sama dengan mencurahkan darahnya”. Roma merupakan yang paling utama di antara Gereja-gereja Apostolik dan tidak satupun dari banyak bidaah yang pergi ke sana mencari pengakuan pernah diterima (cf. De Praescrip. 36). Maka, Gereja Roma merupakan suatu titik acuan baik bagi “pedoman iman” dan juga dalam mencari penyelesaian damai bagi kesulitan-kesulitan di dalam atau antar Gereja-gereja tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Kadang-kadang Uskup Roma terlibat dalam ketidaksetujuan dengan Uskup-uskup lain. Anicetus dari Roma dan Polikarpus dari Smyrna gagal untuk menyepakati tanggal Paskah pada tahun 154 AD namun tetap memelihara persekutuan Ekaristis. Empat puluh tahun kemudian, Uskup Viktor dari Roma memerintahkan sinode-sinode untuk menyelesaikan masalah ini- suatu contoh awali mengenai sinodalitas dan juga para Paus yang mendorong sinode-sinode- dan mengekskomunikasi Polikrates dari Efesus dan Uskup-Uskup Asia saat sinode mereka menolak mengadopsi posisi Roma. Viktor kemudian dikecam oleh Irenaeus karena sikap kerasnya dan tampak kemudian ia mencabut hukumannya dan persekutuan dipertahankan. Pada pertengahan abad ke 3, muncul sebuah konflik besar mengenai apakah mereka yang dibaptis oleh kaum bidaah harus dibaptis kembali saat mereka masuk Gereja. Dengan mengacu kepada tradisi lokal, Cyprianus dari Karthago dan para Uskup Afrika Utara, didukung oleh sinode-sinode Timur di sekeliling Uskup Firmilianus dari Kaisarea, mempertahankan pendapat bahwa mereka harus dibaptis kembali, sementara itu Uskup Stephanus dari Roma, dengan mengacu kepada tradisi Roma dan karenanya kepada Petrus dan Paulus (Cyprianus, Ep. 75,6,2), mengatakan bahwa mereka tidak boleh dibaptis kembali. Persekutuan antara Stephanus dan Cyprianus kemudian merenggang namun tidak putus secara formal. Jadi, abad-abad pertama menunjukkan kepada kita bahwa kadang-kadang pandangan dan keputusan Uskup Roma ditentang oleh para Uskup lain. Masa-masa itu juga menunjukkan suburnya kehidupan sinodal Gereja awali. Misalnya, pada masa itu ada banyak Sinode Afrika, dan surat-menyurat yang sering antara Cyprianus dan Stephanus, terutama dengan pendahulunya yaitu Kornelius, menampakkan semangat kerekanan yang tinggi (cf. Cyprianus, Ep. 55,6,1-2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Semua Gereja-gereja Timur dan Barat percaya bahwa Roma menempati tempat pertama (i.e primat) di antara Gereja-gereja. Primat ini berasal dari sejumlah faktor: pendirian Gereja oleh Petrus dan Paulus dan cita rasa kehadiran mereka yang hidup di sana; kemartiran dari dua Rasul paling utama (koryphes) di kota itu dan lokasi kuburan (tropaia) mereka di kota itu; serta kenyataan bahwa Roma adalah ibukota Kekaisaran dan pusat komunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Abad-abad pertama menunjukkan hubungan mendasar dan tak terpisahkan antara primat Tahta Roma dan primat Uskupnya; setiap Uskup mewakili, mempribadikan, dan mengungkapkan Tahtanya (cf. Ignatius dari Antiokia, Smyrnaeans 8; Cyprianus, Ep. 66,8). Maka, adalah tidak mungkin berbicara mengenai primat seorang Uskup tanpa mengacu kepada Tahtanya. Sejak paruh abad kedua, diajarkan bahwa kelanjutan Tradisi Apostolik ditandai dan diungkapkan dengan pergantian Uskup di Tahta-Tahta yang didirikan oleh Para Rasul. Baik Timur dan Barat memelihara pandangan bahwa keutamaan Tahta mendahului keutamaan Uskup dan merupakan sumber dari keutamaan Uskup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Cyprianus percaya bahwa kesatuan episkopat (jabatan Uskup) dan Gereja disimbolisasikan dalam pribadi Petrus, yang kepadanya primat diberikan, dan dalam tahtanya, dan bahwa semua Uskup bersama-sama ambil bagian dalam tugas ini (“in solidium”; De Unit. Ecc., 4-5). Maka, Tahta Petrus dapat ditemukan di semua Tahta, tetapi teristimewa di Roma. Mereka yang datang ke Roma, datang “kepada Tahta Petrus, kepada Gereja asali, kepada sumber asli dari kesatuan episkopat” (Ep. 59,14,1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Primat Tahta Roma diungkapkan dalam berbagai konsep: Cathedra Petri, Sedes Apostolica, Prima Sedes. Bagaimanapun juga, perkataan Paus Gelasius: “Tahta Pertama tidak diadili oleh siapapun” (“Prima Sedes a nemine iudicatur; Cf. Ep. 4, PL 58, 28B; Ep. 13, PL 59, 64A), yang kemudian diterapkan dalam konteks gerejani dan menjadi pertentangan antara Timur dan Barat, pada awalnya hanya berarti bahwa Paus tidak dapat diadili oleh Kaisar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Tradisi Timur dan Barat mengakui suatu “kehormatan” (timi) tertentu dari yang pertama di antara Tahta-tahta Patriarkal, yang jelas tidak murni hanya kehormatan belaka (Konsili Nicaea, kan. 6; Konsili Konstantinopel, kan. 3; dan Konsili Kalsedon, kan. 28). Kehormatan ini memuat juga suatu “otoritas” (exousia; cf. Dokumen Ravenna, n.12), yang bagaimanapun juga “tanpa dominasi, tanpa tekanan fisik dan moral” (Dokumen Ravenna, n. 14). Walaupun dalam milenium pertama Konsili-konsili Oikumene dipanggil oleh Kaisar, tidak ada Konsili yang dapat diakui sebagai Oikumene jika tidak mendapatkan persetujuan Paus, baik yang diberikan sebelumnya maupun sesudahnya. Hal ini dapat dipandang sebagai penerapan prinip yang dinyatakan dalam Kanon Apostolik 34 pada tingkatan universal kehidupan Gereja: “Para Uskup dari tiap provinsi (ethnos) harus mengakui satu yang menjadi yang pertama (protos) di antara mereka, dan menganggapnya sebagai kepala (kephale) mereka, dan tidak melakukan apapun yang penting tanpa persetujuannya (gnome); setiap Uskup hanya dapat melakukan sesuatu yang berhubungan dengan Keuskupannya (paroikia) dan wilayahnya. Tetapi yang pertama (protos) tidak dapat melakukan apapun tanpa persetujuan yang lainnya. Dengan cara ini keselarasan (homonoia) akan bertahan, dan Allah akan dipuji melalui Tuhan dalam Roh Kudus” (cf. Dokumen Ravenna, n.24). Pada tiap tingkatan kehidupan Gereja primat dan konsiliaritas saling bergantung satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Kaisar Yustinianus (527-565) membakukan urutan limat Tahta utama, Roma, Konstantinopel, Alexandria, Antiokhia, Yerusalem, dalam hukum Kekaisaran (Novellae 131, 2; cf 109 praef; 123, 3), dan dengan demikian membentuk apa yang dikenal sebagai Pentarkhi. Uskup Roma dipandang sebagai yang pertama dalam tatanan (taxis), namun tanpa menyebutkan tradisi Petrine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Pada masa Paus Gregorius I (590-604), berlangsung suatu perselisihan yang telah dimulai sejak masa Paus Pelagius II (579-590), mengenai gelar “Patriarkh Oikumene” bagi Patriarkh Konstantinople. Pemahaman yang berbeda di Timur dan Barat memicu perselisihan ini. Gregorius memandang bahwa dalam gelar ini ada suatu gagasan yang tidak dapat ditoleransi dan suatu pelanggaran hak-hak kanonik dari Tahta-tahta lain di Timur, sementara di Timur gelar ini dipahami bahwa gelar ini merupakan ungkapan hak-hak utama kepatriarkhan. Kemudian, Roma menerima gelar ini. Gregorius sendiri mengatakan bahwa ia sendiri menolak gelar “Paus Universal”, dan ia merasa dirinya dihormati saat setiap Uskup menerima kehormatan yang sepatutnya bagi mereka (“kehormatanku adalah kehormatan saudara-saudaraku”, Ep. 8, 29). Ia menyebut dirinya sendiri sebagai ‘hamba dari hamba-hamba Allah (servus servorum Dei).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Pemahkotaan Karolus Agung pada tahun 800 oleh Paus Leo III menandai suatu era baru dalam sejarah klaim-klaim kepausan. Satu faktor yang menuntun kepada perbedaan Timur dan Barat adalah kemunculan Dekretal Palsu (c. 850), yang bertujuan memperkuat otoritas Roma untuk melindungi para Uskup. Dekretal ini memainkan peranan yang besar pada abad-abad selanjutnya, karena para Paus mulai bertindak dalam semangat Dekretal yang menyatakan, misalnya, bahwa semua masalah-masalah besar (causae maiores), khususnya mengenai penggeseran Uskup dan Metropolitan, merupakan tanggung jawab utama Uskup Roma, dan semua Konsili dan Sinode menerima otoritas hukum mereka melalui peneguhan dari Tahta Roma. Para Patriarkh Konstantinopel tidak menerima pandangan semacam itu yang bertentangan dengan prinsip sinodalitas. Walaupun Dekretal tersebut tidak mengacu ke Timur, namun pada masa-masa yang kemudian, di milenium kedua, sejumlah tokoh Barat menerapkannya ke Timur. Walaupun ketegangan meningkat, namun pada tahun 1000 orang Kristen di Timur dan Barat masih merasa bahwa mereka tergabung dalam satu Gereja yang tidak terbagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uskup Roma Sebagai Pengganti Petrus&lt;br /&gt;16. Penekanan mengenai hubungan Tahta Romawi dengan Petrus dan Paulus pada masa-masa awal, kemudian secara bertahap, di Barat, dikembangkan menjadi suatu hubungan spesifik antara Uskup Roma dan Rasul Petrus. Paus Stephanus (pertengahan abad ke 3) adalah yang pertama kali menerapkan Matius 16: 18 (“engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini akan Kudirikan Gereja-Ku”) kepada jabatannya sendiri. Konsili Konstantinopel tahun 381 menyebutkan bahwa Konstantinopel memiliki tempat kedua setelah Roma: “karena ia merupakan Roma Baru, maka Uskup Konstantinopel memiliki urutan kehormatan kedua setelah Uskup Roma” (kanon 3). Kriteria yang menjadi acuan Konsili dalam menetapkan tatanan Tahta-tahta bukanlah pendirian apostolik namun status kota tersebut dalam organisasi sipil Kekaisaran Romawi. Kriteria yang berbeda bagi penataan Tahta-tahta utama disebutkan dalam Sinode yang berkumpul di Roma tahun 382 di bawah kepemimpinan Paus Damasus (cf. Decretum Gelasianum 3). Di sini Tahta-tahta utama disebutkan antara lain Roma, Alexandria, dan Antiokhia, tanpa menyebutkan apapun mengenai Konstantinopel. Dinyatakan juga bahwa Gereja Roma diberikan tempat pertama karena sabda Kristus kepada Petrus (Mat 16:18), dan karena pendiriannya oleh Petrus dan Paulus. Tempat kedua diberikan kepada Alexandria, karena didirikan oleh Markus murid Petrus, dan tempat ketiga diberikan kepada Antiokhia, di mana Petrus tinggal sebelum ia pindah ke Roma. Gagasan mengenai tiga tahta Petrine ini kemudian diulangi oleh para Paus di abad kelima seperti Bonifatius, Leo, dan Gelasius. Maka sejak 381-382 telah muncul dua kriteria untuk menentukan urutan gerejani suatu Gereja, yang pertama mengandaikan bahwa urutan gerejani harus sesuai dengan urutan sipil kota yang dipermasalahkan, sementara yang kedua mengacu kepada asal-usul apostolik, atau lebih khusus lagi asal-usul Petrine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Gagasan Petrine ini kemudian secara signifikan dikembangkan dan diperdalam oleh Paus Leo (440-461). Ia membuat pembedaan tajam antara pelayanan Petrus dan orang yang menjalankan pelayanan tersebut, yang ia pandang sebagai pewaris (haeres) tak pantas dari Santo Petrus (Serm. 3,4). Dengan menjadi pewaris, Paus menjadi “apostolicus” dan ia mewarisi “consortium” dari kesatuan tak terbagi antara Kristus dan Petrus (Serm. 5,4;4,2). Konsekuensinya, adalah tugas Paus untuk memperhatikan semua Gereja-gereja (cf 2Kor 11:28; Ep. 120,4). Keutamaan Petrus ini berdasar pada fakta bahwa Kristus mempercayakan domba-dombanya kepadanya dan hanya kepadanya (Yoh 21:17; cf Serm. 83). Uskup Roma menjaga keistimewaan tradisi Gereja Roma, tradisi Santo Petrus (cf Ep. 9; Serm.96,3). Leo memandang dirinya sebagai “penjaga iman Katolik dan penetapan para Bapa” (Ep. 114), yang berkewajiban untuk meningkatkan hormat dan pelaksanaan Konsili-konsili.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. Pada Konsili Oikumene keempat (451), pembacaan Surat Leo ditanggapi dengan seruan: “Petrus telah berbicara melalui Leo”. Bagaimanapun juga, hal ini bukanlah definisi formal mengenai suksesi Petrus. Hal ini merupakan suatu pengakuan, bahwa Leo, uskup Roma, telah menyuarakan iman Petrus, yang secara khusus ditemukan dalam Gereja Roma. Setelah Konsili yang sama, para Uskup mengatakan bahwa Leo adalah “penyambung lidah Santo Petrus bagi semua…menyampaikan kekudusan imannya bagi semua” (Epistola concilii Chalcedoniensis ad Leonem papam= Ep.98 dari Leo). Agustinus juga lebih suka memfokuskan pada iman daripada sekedar pribadi Petrus saat ia mengatakan bahwa Petrus adalah “figura ecclesiae” (Dalam Jo. 7, 14; Sermo 149, 6) dan “typus ecclesiae” (Sermo 149, 6) dalam pengakuannya akan iman dalam Kristus. Maka, merupakan suatu penyederhaan yang berlebihan untuk mengatakan bahwa orang-orang Barat menafsirkan “batu karang” di Matius 16: 18 sebagai pribadi Petrus sementara orang-orang Timur menafsirkannya sebagai iman Petrus. Dalam Gereja awali, baik Timur dan Barat, pergantian (suksesi) iman Petrus-lah yang dianggap sangat penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. Penting untuk diperhatikan bahwa semua suksesi apostolik adalah suksesi iman apostolik dalam suatu Gereja lokal tertentu. Dari sudut pandang eklesiologi, tidaklah mungkin untuk memahami suatu suksesi antar pribadi secara terpisah atau di luar suksesi iman apostolik dan suatu Gereja lokal. Maka, mengatakan Petrus berbicara melalui Uskup Roma pertama-tama berarti Uskup Roma mengungkapkan iman apostolik yang diterima Gereja dari Rasul Petrus. Dalam arti inilah terutama Uskup Roma dipahami sebagai pengganti Petrus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. Di Barat, penekanan yang ditempatkan pada hubungan antara Uskup Roma dan Rasul Petrus, sejak abad keempat dan seterusnya, disertai juga dengan meningkatnya acuan yang lebih spesifik terhadap peranan Petrus dalam dewan para Rasul. Primat uskup Roma diantara para Uskup secara bertahap ditafsirkan sebagai suatu keistimewaan karena ia adalah pengganti Petrus, yang pertama diantara para Rasul (cf. Hieronimus, In Isaiam 14, 53; Leo, Sermo 94, 2; 95, 3). Kedudukan Uskup Roma diantara para Uskup dipahami dalam konteks kedudukan Petrus diantara para Rasul. Di Timur, perkembangan (evolusi) dalam penafsiran semacam ini mengenai pelayanan Uskup Roma tidak muncul. Penafsiran semacam ini juga tidak pernah secara eksplisit ditolak di Timur sepanjang milenium pertama, tetapi orang Timur cenderung memahami bahwa setiap Uskup adalah pengganti semua Rasul, termasuk Petrus (cf. Cyprianus, De unit. ecc. 4-5; Origenes, Comm. in Matt).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21. Serupa dengan itu, Barat juga tidak menolak gagasan Pentarkhi (lihat atas n. 13)- sebaliknya Barat dengan cermat menaati taxis lima Tahta utama, Roma, Konstantinopel, Alexandria, Antiokhia, dan Yerusalem, bersama dengan lima kepatriarkhan yang dikembangkan Gereja kuno (cf. dokumen Ravenna, n.28). Bagaimanapun juga, Barat tidak pernah memberikan signifikansi yang sama kepada Pentarkhi sebagai suatu cara pemerintahan Gereja seperti yang dilakukan oleh Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22. Penting untuk diperhatikan bahwa perbedaan pemahaman mengenai keududukan Uskup Roma dan hubungan Tahta-tahta utama di Timur dan Barat ini, yang masing-masing didasarkan kepada penafsiran alkitabiah, teologis, dan kanonis, yang cukup berbeda, tetap tinggal berdampingan (co-exist) selama beberapa abad sampai akhir milenium pertama, tanpa menyebabkan putusnya persekutuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peranan Uskup Roma Pada Masa –masa Krisis Dalam Persekutuan Gerejani&lt;br /&gt;23. Pada milenium pertama, Gereja mengalami banyak kesempatan saat persekutuan gerejani terancam, misalnya, saat definisi-definisi Nicaea ditantang dengan pengecaman para Uskup ortodoks oleh sejumlah konsili yang diadakan di Timur pada abad keempat, dan saat rumusan kristologis Kalsedon ditantang oleh monofisitisme dan “Henotikon” (yang menimbulkan skisma Acacian) di abad kelima, dan kemudian oleh monoenergisme dan monothelitisme di abad ketujuh, juga pada masa krisis ikonoklasme di abad kedelapan dan kesembilan. Orang-orang Katolik dan Ortodoks mengakui pentingnya peranan yang dijalankan oleh Uskup Roma pada masa-masa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24. Pada kenyataannya, sejak abad keempat dan seterusnya, ada suatu pertumbuhan terhadap pengakuan akan Roma sebagai pusat di mana pengaduan atau permintaan bantuan dalam berbagai situasi dapat disampaikan dari seluruh dunia Kristen. Pada tahun 339-340, Uskup Alexandria, mengajukan pengaduan kepada Paus Yulius. Dalam kata-kata Paus, yang dikutip oleh Athanasius “Dia (Athanasius) datang bukan karena kemauannya sendiri, tetapi karena ia diundang oleh surat kami” (Athanasius, Apologia contra Arianos 29;cf 20. 33. dan 35). Hal ini memperlihatkan bahwa Yulius tidak sekedar menanggapi permohonan dari Athanasius, tetapi ia sendiri mengambil inisiatif untuk “mengundang” Uskup dari Alexandria itu. Maka, tampak bahwa peranan Paus lebih dari sekedar menerima pengaduan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25. Permintaan bantuan kepada Roma disaat terjadi krisis kadang juga disertai dengan permintaan seruma kepada Tahta-tahta utama gerejani lainnya. Yohanes Krisostomus (404), misalnya, mengadu tidak hanya kepada Roma melainkan juga kepada Uskup dari Milan dan Aquilela. Maka, tindakan yang diambil oleh Uskup Roma ditujukan untuk dikoordinasikan, dalam semangat konsiliar, dengan tindakan oleh Tahta-tahta utama lainnya. Lebih jauh lagi, inisiatif Uskup Roma pada umumnya cenderung dijalankan dalam konteks Sinode Romawi dan biasanya mengacu kepada sinode itu. Misalnya, dalam korespondensi pada masa perselisihan Photius, para Uskup Roma menekankan bahwa mereka telah mengambil keputusan sejalan dengan aturan atau kanon dan secara sinodal (“regulariter et synodaliter” atau “canonice et synodaliter”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26. Prosedur yang harus diikuti dalam mengajukan permohonan kepada Roma dikembangkan oleh Konsili Sardica (342-343, kanon 3-5). Dalam keputusan konsili itu ditetapkan bahwa seorang Uskup yang telah dihukum (condemned) dapat mengajukan banding kepada Paus, dan jika Paus memandangnya perlu, dapat memerintahkan pengadilan ulang, untuk dijalankan oleh para Uskup dari keuskupan-keuskupan yang dekat dengan keuskupan dari Uskup yang dihukum tersebut. Jika diminta oleh Uskup terhukum tersebut, Paus juga dapat mengirimkan wakilnya untuk mendampingi para Uskup dari keuskupan-keuskupan tetangga. Walaupun pada awalnya dikehendaki menjadi Konsili Oikumene, namun Sardica sebenarnya adalah konsili lokal yang diadakan di Barat. Kanon-kanon Sardica diterima di Timur pada Konsili di Trullo (692).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27. Deskripsi paling jelas mengenai kondisi yang dibutuhkan agar sebuah konsili dapat diakui sebagai oikumene diberikan oleh Konsili Oikumene VII (Nicaea II, 787), konsili terakhir yang diakui sebagai oikumene baik di Timur dan di Barat:&lt;br /&gt;- konsili itu harus diterima oleh kepala-kepala (proedroi) Gereja-gereja, dan mereka harus bersepakat (symphonia) dengannya;&lt;br /&gt;- Paus Roma harus menjadi “rekan kerja” (synergos) dengan konsili;&lt;br /&gt;- para Patriarkh dari Timur harus berada “dalam kesepakatan” (symphronountes);&lt;br /&gt;- ajaran-ajaran konsili harus sejalan dengan Konsili-konsili Oikumene sebelumnya;&lt;br /&gt;-konsili harus menerima angka urutan yang spesifik, agar dapat ditempatkan dalam kelanjutan dari konsili-konsili yang diterima oleh Gereja secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28. Dapat ditegaskan bahwa pada milenium pertama, peranan Uskup Roma sebagai yang pertama (protos) diantara para Patriarkh, menjalankan suatu fungsi koordinasi dan stabilitator dalam masalah yang berkaitan dengan iman dan persekutuan, dalam kesetiaan kepada tradisi dan dengan penuh hormat terhadap konsiliaritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh Faktor-faktor Non-teologis&lt;br /&gt;29. Sepanjang milenium pertama, sejumlah faktor yang tidak secara langsung bersifat teologis telah memainkan peranan yang cukup penting dalam hubungan antara Gereja-gereja di Timur dan Barat, dan mempengaruhi pemahaman dan pelaksanaan primat Uskup Roma. Faktor-faktor ini bermacam-macam jenisnya, misalnya faktor politis, historis, sosial-ekonomi, dan budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30. Sebagai indikasi faktor-faktor yang berkaitan, dapat dinyatakan sebagai berikut:&lt;br /&gt;- peristilahan, mentalitas, dan ideologi Kekaisaran Romawi;&lt;br /&gt;- perubahan politik kerajaan berkaitan dengan kehidupan Gereja;&lt;br /&gt;- pemindahan ibuka Kekaisaran ke Timur;&lt;br /&gt;-kemunduran dan kejatuhan Kekaisaran Romawi di Barat, serta konsekuensinya bagi keseimbangan politik dan kebudayaan antara Timur dan Barat, yang menuntun kepada saling keterasingan, ketidaktahuan, dan kesalahpahaman diantara keduanya;&lt;br /&gt;- ekspansi Muslim di wilayah kepatriarkhan Alexandria, Antiokhia dan Yerusalem, serta Afrika Utara dan Spanyol.&lt;br /&gt;- kemunculan Kekaisaran Barat di bawah Karolus Agung;&lt;br /&gt;- pengaruh pribadi dari sejumlah tokoh sejarah tertentu.&lt;br /&gt;Suatu kesadaran akan faktor-faktor non-teologis yang berkerja dalam hubungan antara orang-orang Kristen Timur dan Barat serta apresiasi terhadap bagaimana mereka berinteraksi dengan berbagai faktor teologi memungkinkan suatu pemahaman yang lebih dalam akan kehidupan dan iman Gereja, dan secara khusus perbedaan yang berkembang antara Timur dan Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;31. Sepanjang milenium pertama, Timur dan Barat tetap bersatu dalam perbedaan fundamental mengenai prinsip teologis, misalnya, mengenai pentingnya kelanjutan dalam iman apostolik, ke-saling tergantung-an antara primat dan konsiliaritas/sinodalitas dalam setiap tingkat kehidupan Gereja, dan suatu pemahaman mengenai otoritas sebagai “pelayanan (diakonia) cinta kasih”, dengan “penghimpunan seluruh umat manusia dalam Yesus Kristus” sebagai tujuannya (cf. dokumen Ravenna, nn. 13-14). Walaupun kesatuan Timur dan Barat terganggu beberapa kali, para Uskup dari Timur dan Barat tidak pernah gagal untuk menyadari bahwa mereka tergabung dalam Gerejayang sama dan menjadi pengganti para Rasul dalam satu jabatan Uskup. Kerekanan para Uskup diungkapkan dalam suburnya kehidupan sinodal Gereja pada semua tingkatan baik lokal, regional, dan universal. Pada tingkat universal, Uskup Roma bertindak sebagai protos diantara para kepala Tahta-tahta utama. Ada anyak contoh mengenai berbagai jenis permohonan yang diajukan kepada Uskup Roma untuk meningkatkan damai dan memelihara persekutuan Gereja dalam iman apostolik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;32. Pengalaman milenium pertama secara mendalam mempengaruhi pola hubungan antara Gereja-gereja Timur dan Barat. Walaupun perbedaan bertambah dan kadang-kadang terjadi skisma pada masa ini, namun persekutuan tetap dipelihara antara Timur dan Barat. Prinsip perbedaan-dalam-persatuan, yang secara eksplisit diterima dalam Konsili Konstantinopel yang diadakan pada tahun 879-880, memiliki dampak penting yang khusus bagi tema dari tahapan dialog kita yang berlangsung sekarang ini. Perbedaan pemahaman dan penafsiran yang jelas, tidak mencegah Timur dan Barat untuk teap tinggal dalam persekutuan. Ada perasaan yang lebih kuat sebagai satu Gereja, dan ketetapan untuk tetap ada dalam kesatuan, sebagai satu kawanan dengan satu gembala (cf. Yoh 10:16). Milenium pertama, yang telah diperiksa dalam tahap dialog kami ini, adalah tradisi bersama dari kedua Gereja kita. Dalam prinsip teologis dan eklesioginya yang dasar telah diidentifikasikan di sini, tradisi bersama ini harus melayani sebagai model bagi pemulihan persekutuan penuh kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 Oktober 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterjemahkan dari:&lt;br /&gt;http://chiesa.espresso.repubblica.it/articolo/1341814?eng=y&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-2579507921857502381?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/2579507921857502381/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2010/03/peranan-uskup-roma-dalam-persekutuan.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/2579507921857502381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/2579507921857502381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2010/03/peranan-uskup-roma-dalam-persekutuan.html' title='Peranan Uskup Roma Dalam Persekutuan Gereja Sepanjang Milenium Pertama'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-3324995051630935299</id><published>2009-11-01T20:30:00.001+07:00</published><updated>2009-11-01T20:41:44.257+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Liturgi'/><title type='text'>Qurbono: Minggu Pemberkatan Gereja</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Liturgi Maronite, berbeda dengan Latin, dimulai 8 pekan sebelum Natal, dengan perayaan Minggu Pemberkatan Gereja. Dalam Minggu Pemberkatan ini secara khusus direnungkan misteri Gereja dan ibadat yang sejati yang berkenan kepada Allah. Berikut ini adalah teks khusus dari liturgi Qurbono Minggu Pemberkatan Gereja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mazmur Pembukaan :&lt;/span&gt; Mazmur 84&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Doa Pembukaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhan Allah, jadikanlah kami layak untuk masuk ke kediaman kudus-Mu dengan kemurnian dan kekudusan. Jadikanlah hukum-Mu sebagai pakaian kami, dan hiasilah kami dengan ketetapan-ketetapan-Mu, agar anak-anak terang dapat bersukacita bersama dengan sahabat-sahabat Pengantin Pria pada pesta perkawinan-Mu yang gemilang; sehingga kami akan mengakui kebaikan-Mu yang tak terkatakan bagi kami, ya Kristus, dan memuji kemuliaan kerajaan-Mu, dan Bapa-Mu, dan Roh Kudus-Mu, sekarang dan selama-lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;HOOSOYO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proemion&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pujian dan kemuliaan bagi Tritunggal Mahakudus. Semga kami layak untuk memuliakan, bersyukur, dan menghormati Perancang bijak yang dengan rahmat-Nya membangun Gereja Kudus-Nya sebagai benteng pengampunan dan melindungi umat imami-Nya dengan penuh perhatian sebagai penopang iman. Dalam belaskasih-Nya, Ia membangun menara penebusan bagi umat-Nya dan dalam komunitas ini hidup umat yang telah ditebus dilindungi dari segala kejahatan oleh salib-Nya. Maka, sudah sepantasnyalah Dia dipuji dan dihormati pada saat ini dan di setiap waktu, musim, jam, peristiwa dan sepanjang hari hidup kita, sekarang dan selama-lamanya.&lt;br /&gt;Amin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sedro&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ya Kristus Allah kami, Engkau membangun Yerusalem yang dikenal sebagai Gereja Kudus dan mengumpulkan Israel yang terpencar didalamnya. Bangsa-bangsa mengakui kabar gembira keselamatan dari Kristus yang menjanjikan bahwa Gereja-Nya tak akan dikuasai alam maut dan kuasa-kuasa di bumi atau di atas bumi, karena Allah berdiam di dalam-Nya sehingga Gereja tidak gentar. &lt;br /&gt;Kristus akan menegakkan Gereja untuk selama-lamanya menurut janji-Nya: “Lihatlah, Aku menyertai kamu sampai akhir zaman.” Para Nabi suci menubuatkan kedatangan Gereja, dan para Rasul ilahi mewartakan penebusan-Nya. Para Martir kudus menerima mahkota karena iman Gereja yang benar. &lt;br /&gt;Karena itulah, pada hari ini, kita merayakan pengudusan Gereja yang mulia dan berkata: Bangkit dan bersinarlah, ya Gereja Kudus, karena Perancang bijak yang meletakkan dasar-dasar-Mu telah membangun pilar-pilar gerbang-Mu. Bangkit dan bersinarlah, karena Allah yang perkasa telah memilihmu sebagai kediaman-Nya untuk selama-lamanya. Bangkit dan bersinarlah, karena Ia menetapkan batas-batas-Mu dalam dami, ya Harapan sampai ke ujung-ujung bumi.&lt;br /&gt;Maka, kami meminta dan memohon kepada-Mu, ya Tuhan, sekali lagi ingatlah akan Gereja-Mu. Dalam belas kasih-Mu, tebuslah para ahli waris-Mu dan bebaskanlah kawanan-Mu dari segala kesulitan. Berilah istirahat kepada yang telah dipanggil dari Gereja ke dalam kerajaan-Mu. Berilah kedamaian di kediaman-Mu yang suci kepada mereka yang telah melayani kehendak-Mu dan kumpulkanlah mereka di sisi kanan-Mu untuk menikmati wewangian dalam perjamuan-Mu. Dan kemudian bersama-sama kami akan memuliakan-Mu selama-lamanya.&lt;br /&gt;Amin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Qolo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Terberkatilah engkau, Gereja yang kudus dan setia: Pengantin Pria yang menikahimu mempersembahkan kepadamu padang yang baik dan subur; Ia membawa minuman yang memuaskan dahaga para tamu perjamuan pernikahanmu. Datanglah: makanlah api dan roti dan minumlah roh dalam anggur. Engkau dimulaikan dalam api  dan roh dank au akan memasuki Kerajaan dalam kawanan-Nya.&lt;br /&gt;Ya Tuhan, berilah damai kepada Gereja-Mu di seluruh penjuru dan jagat. Singkirkanlah pertikaian, perpecahan, dan penyebab pergunjingan di dalamnya. Tegakkanlah para gembala di tengah-tengahnya yang akan menuntun Gereja dalam jalan-Mu; kumpulkanlah semua putera-puterinya dalam iman yang sejati di dalamnya. Maka, saat Engkau datang dalam kemuliaan, Gereja akan menemukan sukacita kawanan-Mu dalam kerajaan-Mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Etro&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ya Kristus, Engkaulah wewangian yang berkenan kepada Allah dan keharuman yang manis bagi-Nya. Terimalah aroma dupa ini, yang kami persembahkan kepada-Mu sebagai tanda syukur kami. Berilah damai dan keselarasan kepada Gereja Kudus-Mu, dan kepada para Imam dan Uskup yang melayani di Altar-Mu, agar mereka dapat memerintah Gereja menurut Roh-Mu. Maka, ya Kristus, kepala para Uskup, kami akan memuji dan memuliakan-Mu, Bapa-Mu, dan Roh Kudus-Mu yang memberi hidup, sekarang dan selama-lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mazmooro&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagaikan awan para Imam pendupaan dan Diakon mengelilingi Altar pendamaian sementara sang Roh menaungi di atasnya. Segala bangsa, dengarlah ini: para Imam mengelilingi Altar. Semua penduduk bumi berilah telinga: Roh Kudus menaunginya. Tuhan mendirikan Gereja-Nya di atas batu karang iman. Petrus memasukinya dan meletakkan dasarnya, dan Paulus menghiasi bangunannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Epistel:&lt;/span&gt; Ibrani 9: 1-12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Fetgomo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Alleluia! Alleluia! Dan aku berkata kepadamu, engkaulah Petrus, dan di atas batu karang ini akan Ku dirikan Gereja-Ku, dan alam maut tidak akan menguasainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Injil:&lt;/span&gt; Matius 16: 12-30&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-3324995051630935299?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/3324995051630935299/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/11/qurbono-minggu-pemberkatan-gereja.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/3324995051630935299'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/3324995051630935299'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/11/qurbono-minggu-pemberkatan-gereja.html' title='Qurbono: Minggu Pemberkatan Gereja'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-8293620506026840168</id><published>2009-10-31T14:37:00.001+07:00</published><updated>2009-10-31T14:43:23.318+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ajaran Iman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hal-hal lain'/><title type='text'>Dari Ortodoks Koptik Menjadi Katolik Koptik</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Diterjemahkan dari&lt;br /&gt;&lt;a href="http://forums.catholic.com/showthread.php?t=202141"&gt;Catholic Answer Forum: My Witness by mardukm&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan Istilah:&lt;br /&gt;Ortodoks Timur= Gereja-gereja Ortodoks yang mengakui 7 Konsili Oikumenis pertama dan berada dalam persekutuan dengan Patriarkh Konstantinopel, serta baru memisahkan diri dari Gereja Katolik sejak tahun 1054.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ortodoks Oriental= Gereja-gereja Ortodoks yang memisahkan diri sejak Konsili Chalcedon, dan karenanya juga disebut sebagai non-Chalcedonian. Termasuk ke dalam Gereja-gereja ini adalah Gereja Ortodoks Koptik dan Gereja Ortodoks Syria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katolik Koptik= Salah satu dari 22 gereja otonom dalam persekutuan Gereja Katolik. Gereja ini terdiri dari orang-orang Koptik yang kembali ke dalam persekutuan Katolik. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kristos Anesti!&lt;br /&gt;(Kristus Bangkit!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara-saudari dalam Kristus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu, saya telah menerima beberapa permintaan untuk menceritakan pengalaman perpindahan Gereja saja. Saya selalu merasa enggan melakukannya karena merasa tidak punya cukup waktu untuk itu. Bagaimanapun juga, perhatian utama saya adalah saya khawatir orang-orang akan berpikir mengenai sesuatu yang salah dengan iman Ortodoks Koptik saya. Namun, sejak saya kembali online sekitar dua minggu yang lalu, saya telah menerima sejumlah permintaan melalui pesan pribadi atau e-mail (kebanyakan adalah orang yang tak pernah saya temui di Catholic Answers Forum; saya menduga mereka memiliki status ‘sekedar pembaca’ atau saya hanya tidak berjumpa dengan mereka), mereka ini adalah orang-orang Timur, Oriental, dan Barat yang ingin agar saya memberikan kesaksian tentang perpindahan saya. Setelah banyak berdoa, akhirnya saya memutuskan untuk memberikan kesaksian perpindahan saya. Saya sendiri tidak pernah berhenti untuk membela atau mewartakan iman Ortodoks Koptik di forum-forum yang saya ikuti, jadi saya pikir saya bisa berterus terang mengenai hal ini tanpa melanggar perhatian utama yang saya sampaikan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mulai, saya ingin menyampaikan suatu pengamatan bahwa salah satu permintaan itu ada yang menyatakan “Saya belum pernah menemui seorang Oriental yang berpengetahuan dan tampak Romawi seperti Anda.” Dalam tradisi Koptik saya, belajar dipuji sebagai sarana yang penting untuk mengenal Allah, secara istimewa adalah mempelajari Kitab Suci, Bapa-bapa Gereja, dan kehidupan para kudus. Saya selalu berusaha untuk menjadi seorang pelajar yang serius (sayangnya belakangan ini tidak, karena tanggung jawab dunia nyata saya meningkat dengan sangat dramatis). Saya memiliki waktu tiga tahun unuk memutuskan kepindahan saya- karena mempelajari kesamaan antara Ortodoks Koptik dan Katolisisme Barat, rasanya setara dengan gelar Master bagi saya! Walaupun saya kira saya belum menerima gelar Doktor. Tetapi, sebenarnya, pernyataan saya mengenai kesamaan antara Ortodoks Koptik dan Katolisisme hanyalah masalah penelitian. Seelumnya saya tidak tahu apapun tentang Katolisisme selain dari apa yang dikatakan oleh orang-orang non-Katolik. Hanya melalui pembelajaran yang intensif saya menemukan betapa banyak hal yang dimiliki bersama oleh Ortodoks Koptik dan Katolisisme. Hal-hal itu mungkin membuat saya, entah bagaimana, terilah “Romawi”. Tetapi, saya hanya menundukkan pendirian saya tidak lebih daripada bersifat patristik. Ada banyak hal dimana ketika saya mempertahankan Kekatolikan sebenarnya adalah pembelaan terhadap warisan Ortodoks Koptik saya- ajaran Penebusan, spiritualitas penitensial (termasuk gagasan penderitaan dapat menuntun pada kesempurnaan), iman dan akal budi, sekerta eklesiologi yang bersifat yuridis/hierarkial, eklesiologi Agustinian (sejauh dibedakan dari Cyprian), sikap mengenai kewajiban suci terhadap Allah sebagaimana diarahkan oleh hierarki, kesederhanan Allah, penghargaan terhadap ungkapan teologis yang berbeda dan definisi-definisi dalam Gereja, pandangan ekumenis, tidak dapat putusnya perkawinan/pelaksanaan pembatalan perkawinan, kanon Kitab Suci yang identik, ajaran tentang kejatuhan manusia dari keadaan rahmat, tekanan akan keadilan Ilahi, dst.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menariknya (sebuah kata euphemistic dibutuhkan di sini), orang-orang Ortodoks Timur/Byzantine (khususnya para polemis) melihat semua ini dengan semangat pertentangan, dan bahkan kebencian, ketika dihadapakan dengan Katolisisme, tetapi jika berhadapan dengan Ortodoks Koptik (dan Ortodoks Oriental secara umum), entah bagaimana kebencian itu hilang dan masalah bisa diatasi dengan mudah! Kita sering mendnegar gagasan bahwa perbedaan antara Ortodoks Timur dan Ortodoks Oriental adalah dua kodrat Kristus. SALAH. Saya menghargai ketika orang Ortodoks Timur memandang seorang Koptik (dan Ortodoks Oriental secara umum) sebagai saudara mereka dalam Ortodoksi, tetapi saya kira hal ini adalah hasil dari kurangnya pengetahuan mengenai Ortodoksi Oriental dan Katolisisme, dan setidaknya ada dua keberatan yang muncul dari ekumenisme palsu semacam ini: 1) Penolakan untuk mengakui perbedaan tradisi dan spiritualitas dari Gereja-gereja Ortodoks Oriental pada umumnya, dan Gereja Ortodoks Koptik pada khususnya; 2) Hal itu secara menyedihkan dan nyata semakin mengekalkan prasangka buruk terhadap Gereja Katolik. Hal yang terakhir ini bukan hanya sekedar fakta saja, tetapi juga menghalangi perwujudan dari DOA KRISTUS SENDIRI bagi kesatuan Tubuh-Nya. Maka, jika sekarang ini saya menyoroti perbedaan antara Ortodoks Timur dan Ortodoks Oriental, saya tidak bertujuan untuk mendukung sksima. Tidak ada niat untuk itu! Sebaliknya tujuan saya adalah agar orang mengenali tradisi dan spiritualitas Ortodoks Oriental yang khas, yang seringkali tidak terwakili dan tidak diakui, dan juga untuk mengajak orang-orang Ortodoks Timur agar berpikir- “Jika kalian bisa mengatasi perbedaan-perbedaan ini dengan saudara-saudara Orientalmu mengapa kamu tidak melakukannya dengan saudara-saudara Katolikmu? Mengapa menyorotinya (mungkin tanpa disengaja) akan memperpanjang skisma dengan Katolisisme, sementara kamu mengabaikan kesulitan-kesulitan itu ketika kamu berpikir tentang Ortodoksi Oriental?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal semacam ini memiliki dampak yang besar dalam perpindahan saya ke Gereja Koptik Katolik. Saya tak pernah melihat usaha seorang Koptik Katolik untuk membujuk seorang Ortodoks Koptik berpindah Gereja, namun saya telah menemui orang Ortodoks Timur melakukannya terhadap orang Koptik, DAN bahkan seorang Ortodoks Timur yang berpindah ke Ortodoksi Oriental, justru berusaha memaksakan pandangan Timur tertentu kepada saudara-saudara non-Chalcedonian saya, khususnya mengenai pandangan yang berkaitan dengan (walaupun tidak terbatas pada) penebusan, kesederhanaan Allah, dan padangan non-ekumenis mereka terhadap Gereja Katolik. Saya menolak usaha apapun dari pihak Timur untuk memaksakan posisi mereka ke dalam identitas/tradisi Oriental yang khas (yang saya sebut sebagai helenisasi, dan tanda bagus untuk melihat seberapa jauh seorang Oriental ter-helenisasi adalah penghormatannya kepada Gregorius Palamas sebagai santo), sebagaimana orang Timur menolak Latinisasi.&lt;br /&gt;Ortodoksi Timur telah memiliki terlalu banyak anggota yang menunjukkan intoleransi, ketidaktahuan, dan kesombongan, daripada buah-buah rohani kebaikan, pengertian, kebijaksanaan dan kerendahan hati. Saya memiliki kesan ini sejak saya masih seorang Ortodoks Oriental sebelum perpindahan saya ke Gereja Koptik Katolik; sedih memang, hanya sedikit bukti yang berkebalikan dengan hal itu telah saya lihat sebagai seorag Ortodoks Oriental yang memiliki persekutuan dengan Roma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi apa yang memulai perjalanan saya kepada Kekatolikan? Awalnya hanya perubahan sederhana dalam Liturgi Koptik yang hampir tidak dirasakan perubahannya, yaitu penghapusan frase “kepala para Rasul” dari gelar St. Petrus dan Paulus. saya ingin tahu alasan perubahannya, jadi saya menyelidiki Bapa-bapa Gereja. Hal ini dimulai sebagai sekedar penelitian ilmiah terhadap frase “kepala para Rasul” dalam Gereja perdana yang akhirnya mengantar kepada penerimaan yang nyata dna penuh akan Kebenaran yang diajarkan oleh Gereja Katolik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja ada hal-hal doktrinal yang memisahkan Ortodoksi Koptik dari Gereja Katolik- berbeda dari Kekatolikan, dan lebih dekat dengan Ortodoksi Timur, saya dapat menyebutkan sejumlah hal seperti: Pengandungan Tanpa Noda Bunda Allah, Filioque, Api Penyucian, dan Kepausan (sebagai masalah berbeda dari eklesiologi, karena eklesiologi Oriental lebih serupa dengan eklesiologi Katolik daripada eklesiologi Ortodoks Timur)- saya hanya menyebutkan hal ini karena hanya hal-hal itulah yang benar-benar bisa disebut masalah (hal lain seperti ikon, penggunaan roti tak beragi untuk Ekaristi, co-Mediatrik, dst. TIDAK TERMASUK). Saya tidak merasa bahwa saya harus masuk ke dalam masalah-masalah doktriner ini di sini, karena saya sudah melakukannya dalam banyak topik lain yang muncul di sini. Dan saya mengundang siapapun yang ingin mengetahui pandangan saya untuk mencari tanggan-tanggapan saya tentang topic-topik itu di forum ini. Dalam kesaksian, saya ingin membicarakan proses batin saya dalam memahami, menerima, dan merasa damai dengan apa yang saya (pada titik ini masih sebagai seorang Ortodoks Koptik TIDAK dalam persekutuan dengan Roma) tangkap sebagai perbedaan dalam hal ajaran.&lt;br /&gt;1) Pertama dan terutama, dalam memahami masalah-masalah tertentu, hendaklah selalu memilih penjelasan dari mulut kuda dan bukan dari mulut sapi. Bedakan antara interpretasi yang mungkin dengan apa yang pada dasarnya dimaksud oeh ajaran itu. Dengan kata lain, terimalah ajaran-ajaran ini SEBAGAIMANA MEREKA ADA, bukan berdasarkan karikatur yang dikenakan kepada ajaran-ajaran itu oleh para polemis. Hal ini membutuhkan banyak pembelajaran dan pemahaman. Misalnya, mengenai masalah Filioque, keberatan umum yang disampaikan adalah bahwa ajaran ini mengaburkan pembedaan antara Pribadi Bapa dan Putera (beberapa polemic bahkan lebih jauh mengatakan bahwa ajaran ini mengaburkan SEMUA Pribadi Trinitas). Bagaimanapun, penafsiran semacam ini tidak dapat ditemukan dalam ajaran Gereja Katolik. Sebaliknya, Gereja Katolik malahan SECARA TEGAS mengajarkan pembedaan diantara Pribadi-pribadi Ilahi.&lt;br /&gt;2) Dalam memahami sebuah masalah khusus, hendaklah selalu membiarkan argumen mengalir sampai selesai. Pada satu titik , pihak lain tidak akan dapat menjawabnya. Terimalah kata akhir, terutama JIKA hal itu logis. Misalnya, berkaitan dengan kepausan, tidak perduli dalam hal apa diskusi (atau argumen) mengenai kepausan dimulai, hal itu selalu berakhir dengan argumen dimana saya tidak pernah mendapatkan jawaban, “Kamu percaya akan prinsip apostolik tentang kerekanan (i.e. sebuah badan yuridis dengan kepala yuridis). lalu, apa yang membuatmu berpikir bahwa prinsip ini harus berhenti pada tingkat Kepatriarkan? Tidakkah hal itu juga harus diterapkan pada Gereja sebagai keseluruhan dan bukannya hanya pada Gereja-gereja lokal?” (Tentu, saya mengakui bahwa retorika semacam itu akan gagal untuk meyakinkan seorang Ortodoks Timur yang memiliki paradigm eklesiologi yang berbeda).&lt;br /&gt;3) Saat menfsirkan suatu latar belakang sejarah, pilihlah yang mengakomodasi SEMUA fakta. Hal ini membutuhkan kebijaksanaan. Mislanya, dalam hal pendudukan Konstantinopel, biasanya orang-orang non-Katolik akan menyalahkan Paus atas seluruh kejadian ini. Para polemis ini tidak pernah memperdulikan bahwa Paus secara eksplisit melarang para prajurit perang salib untuk pergi ke Konstantinopel sebelum pergi ke tanah suci, dan bahwa penyebab langsung dari kehadiran tentara salib di Konstantinopel adalah seorang Yunani dari Konstantinopel sendiri.&lt;br /&gt;4) Pelajarilah para Bapa Gereja awal. Hal ini memerlukan kesetiaan. Pembelajaran yang mendalam akan sejarah Gereja awal pada millennium pertama akan menunjukkan kebenaran yang menuntun kita menjadi satu sebagai Tubuh Kristus lagi. Pembelajaran ini akan menunjukkan semua Tradisi Aposolik yang kita miliki bersama daripada apa yang umumnya kita pahami atau salah pahami sebagai hal yang memisahkan kita.&lt;br /&gt;5) Selalu menunda penilaian dan selalu mau untuk mendekati suatu masalah sebagai murid. Hal ini membutuhkan pengendalian diri dan kerendahan hati.&lt;br /&gt;6) Selalu mau untuk mengakui bahwa Anda salah ketika fakta-fakta menunjukkan kita salah. Hal ini memerlukan kerendahan hati.&lt;br /&gt;7) Pastikan hati nurani bersih dari segala tanda-tanda kemunafikan saat seseorang menuduh pihak lain atau semacanya. Hal ini membutuhkan pengertian dan kerendahan hati. Inilah pendekatan batin yang sungguh membantu saya.  Semakin saya mampu melihat ke dalam dengan mata saya, saya semakin memahami bahwa saya tidak memiliki dasar yang kuat untuk sebagian besar, atau malah semua, kesalahpahaman saya mengenai Gereja Katolik. Misalnya, mengenai Maria dikandung tanpa noda. Saya dulu (sebelum perpindahan saya) pernah mengatakan kepada teman Katolik saya, “Jika pengandungan Maria tanpa noda menghindarkan Maria dari kemampuan berdosa, maka hal itu menghindarkannya dari kehendak bebas.” Ia menjawab, “Yesus tidak punya kemampuan berbuat dosa. Apakah kamu juga mempercayai bahwa Yesus tidak punya kehendak bebas? Hal ini tidak dapat dibantah adalah sesuatu yang sangat logis bagi saya. Sekarang saya sering menggunakan retorika itu, dan hasilnya selalu sama, entah pengakuan, atau kebungkaman. Tentu saja, cara berpikir ini tergantung pada poin 6 di atas- kemauan dan kerendahan hati untuk mengakui saat seseorang bersalah.&lt;br /&gt;8) Mengampuni. Dalam pembelajaran saya akan Katolisisme, saya menerapkan setiap poin-poin ini, menghidupinya dengan banyak doa, dan menghasilkan buah-buah Roh. Saya mengakui bahwa momentum dari lahirnya sudut pandang ini adalah pengalaman saya sebagai seorang Arab-Amerika yang sejak masih kecil telah menerima banyak prasangka. Ketika saya tumbuh besar, saya dihadapkan pada pilihan: 1) Menyerah kepada kebencian, dan melakukan kepada orang lain seperti yang mereka lakukan padamu; 2) Menyerah pada apatisme; 3) Mencari kebaikan terlebih dahulu daripada menerima kejahatan, atau lakukan kepada orang lain apa yang kamu ingin mereka lakukan padamu. Berkat rahmat Allah, saya memilih pilihan yang terakhir. Contoh: Saat Bapa Suci Paus Yohanes Palus II dalam kenangan terberkati ingin mengunjungi Russia dengan Ikon dari Kazan (seingat saya itulah namanya), seorang pengamat Ortodoks Timur memberi dua kemungkinan: 1) Melihat kebaikan, dan memandang pemberian itu sebagai tindakan kerendahan hati; 2) Melihat yang jelek, dan melihat hadiah itu sekedar sebagai semacam sogokan. Saya menemukan banyak orang Ortodoks Timur yang memilih pilihan 1, tetapi yang memilih pilihan 2 lebih heboh dan menerima perhatian media. Karena pengalaman saya dengan prasangka, saya mencela kemunafikan dan ketidaktahuan.. Saya lebih bisa menerima keidaktahuan, dan selalu ingin mengoreksinya dengan pengetahuan yang disertai kesabaran, tetapi saat saya berhadapan dengan kemunafikan, saya aku, saya mendapat lebih banyak gairah untuk mempertahankan Gereja Katolik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga sering ditanya mengenai perasaan saya tentang perubahan Liturgi di Gereja Barat. Bukankah ini suatu tanda bahwa Gereja Katolik mengkhianati tradisinya dan seharusnya mencegah saya dari menjadi Katolik? Hal ini, sekali lagi, menunjukkan kesamaan antara paradigm Katolik dan Koptik. Bagi orang Koptik, Uskup adalah penjaga jiwa kita, sebagaimana dinyatakan oleh Kitab Suci, dan dalam otoritas mereka ada kekuasaan untuk mengikat dan melepaskan untuk menentukan cara dan sarana yang melaluinya kita diilahikan; bentuk Liturgi ada dibawah pengawasan Uskup. Bagi orang Koptik dan Katolik, Liturgi terutama diarahkan untuk mendekatkan kita dengan Kristus., dan puncak dari Liturgi adalah Ekaristi, semua unsur lain dalam Liturgi diakui hanya sebagai sarana untuk menyiapkan diri atau merenungkan Ekaristi dengan cara yang layak. Dengan memperhatikan dua hal ini, sebagai orang Koptik saya tidak punya urusan untuk menilai Liturgi Barat. Dan jika saya harus menilainya, maka penilaian saya didasarkan pada dua kriteria di atas- 1) Apakah perubahan Liturgi ini dilakukan oleh otoritas yang berwenang; 2) apakah perbuahan ini untuk mempermudah atau meingkatkan persatuan dengan Kristus? Saya menemukan bahwa Gereja Katolik Barat telah memenuhi kedua kriteria ini (tentu saja perubahan ini tidak mengabaikan bahwa ada unsur-unsur tertentu dalam Misa/Liturgi yang mutlak harus ada agar Misa/Liturgi menjadi valid). Tuduhan sensasionalis terhadap gereja lokal yang melakukan ini dan itu jelas bukan kesalahan Magisterium Katolik, karena kesalahan-kesalahan ini muncul pada tingkat paroki (i.e. praktek-praktek ekstrim ini juga tidak diadakan oleh Uskup lokal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja bahwa banyak orang Kristen Oriental terhelenisasi secara berlebihan. Hal ini terjadi karena kebanyakan literatur berjudul “Ortodoksi” yang dapat diperoleh datang dari Ortodoks Timur. Juga dipahami, bahwa orang-orang Kristen Oriental kerapkali melihat Ortodoksi Timur sebagai acuan bagi pemahaman spiritualitas, makna Liturgi, eskatologi, eklesiologi, dll. Hal yang menyedihkan adalah bersamaan dengan semua ini datanglah suatu cara pandang anti-Latin yang kuat. Segala sesuatu yang tampak dan berbau Latin, harus dianggap sebagai penyusupan terhadap tradisi Timur/Oriental yang “asli”. Hal ini JAAAAUHHH dari kebenarannya saudara-saudariku dalam Kristus. Orang Timur memiliki tradisi mereka sendiri yang terhormat, dan sebagai orang Oriental kita juga memiliki identitas khas kita sendiri, tanpa dipengaruhi oleh polemik Timur dan Barat dari abad 12 sampai abad 15.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal terakhir yang ingin saya sampaikan dan seringkali saya ulangi: Saya tidak datang ke dalam persekutuan Katolik dengan pandangan bahwa ada sesuatu yang salah dengan Ortodoksi Koptik. Saya tidak menolak apapun dari warisan Koptik saya untuk menjadi Katolik; saya hanya menolak kesalahpahaman dan ketakutan tentang Gereja Katolik yang dulu saya pegang. Inilah sebabnya saya tidak pernah dan tidak akan pernah menganggap keputusan saya menjadi Katolik sebagai suatu pertobatan, tetapi perpindahan. Perpindahan ini jelas merupakan suatu berkat khusus yang hanya dapat ditemukan dalam Gereja Katolik diantara keluarga Gereja-gereja Apostolik. Dan saya mengundang setiap orang untuk mempelajari Gereja Katolik dan menikmati damai Kristus yang tidak dapat dipahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berdoa agar tulisan ini mencukupi sebagai jawaban bagi mereka yang meminta saya untuk memberikan kesaksian tentang harapan yang ada pada saya. Maafkanlah saya jika saya telah menyinggung seseorang. Dan silahkan menghubungi saya untuk pertanyaan lebih jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat,&lt;br /&gt;Marduk.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-8293620506026840168?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/8293620506026840168/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/dari-ortodoks-koptik-menjadi-katolik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/8293620506026840168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/8293620506026840168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/dari-ortodoks-koptik-menjadi-katolik.html' title='Dari Ortodoks Koptik Menjadi Katolik Koptik'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-8595471810249678080</id><published>2009-10-29T22:01:00.002+07:00</published><updated>2009-10-29T22:05:59.149+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Liturgi'/><title type='text'>Penjelasan Qurbono (Part 5)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pra-Anafora&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pra-anafora terdiri dari sejumlah tindakan dan doa yang mengubungkan bagian pertama dan bagian kedua serta mempersiapkan bagian kedua, yaitu anafora, yang dalam bahasa Yunani berarti “persembahan Qurbono”. Bagian ini dibuka dengan Credo dan termasuk didalamnya adalah prosesi penyerahan persembahan, persembahannya di Altar, dan pendupaan Altar, persembahan dan umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Credo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gereja Maronite menggunakan Credo Nicaea-Konstantinopel. Credo ini diperkenalkan dalam Ibadat Qurbono pada abad ke 5. Sebelumnya, Credo ini digunakan sebagai pengakuan katekumen yang dilakukan sebelum penerimaan mereka ke dalam Misteri Baptisan dan kemudian menjadi pengakuan umat terbaptis sebelum bagian liturgi &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ekaristis, dulu pada bagian ini katekumen diutus dari Gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naik ke Altar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selebran dan para pelayan yang membantunya menuju ke Altar, menyanyikan madah yang mengiringi mereka naik ke Altar. Madah ini berbeda dari dialog pembukaan pada awal Qurbono. Bagaimanapun juga, kedua madah ini memiliki arti yang sama. Dalam penggunaan madah ini kami tidak membedakan antara Uskup dan Imam, walaupun di waktu lampau madah ini dikhususkan hanya bagi Uskup. Naik ke Altar diikuti dengan tindakan mencium bagian tengah Altar, karena Altar adalah simbol Kristus sendiri; menghormatinya berarti menghormati Kristus sendiri.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Orientasi Selebran di Altar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menurut tradisi Maronite dan menurut kesaksian Patriarkh Duwaihy, Altar harus dipisahkan dari tembok panti imam, agar selebran dapat mengelilinginya. Arsitektur gereja yang tradisional mengharuskan Altar menghadap ke timur. Jadi merupakan kebiasaan dimana selebran menghadap timur dan konggregasi di belakangnya menghadap arah yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun, karena alasan-alasan pastoral dan pemahaman Ekaristi yang lebih baik, sebagaimana Perjamuan Malam Terakhir, cara baru perayaan telah muncul dalam Gereja, yaitu selebran menghadap jemaat. Berkat hal ini, umat yang lebih terdidik mengenai Qurbono telah menunjukkan partisipasi yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 6 Juni 1992, Sinode Patriarkhal para Uskup telah mendekritkan kemungkinan untuk merayakan baik menghadap umat, atau bersama umat menghadap timur. Pengaturan akhir mengenai masalah ini diserahkan kepada hierarki lokal. Sejumlah besar gereja baru telah dibangun untuk mengakomodasi arahan baru ini, yang dalam pandangan kami, menampilkan suatu pembaruan yang sejalan dengan semangat Qurbono (sebagaimana kenangan akan Perjamuan Malam Terakhir), dan juga memenuhi tuntutan kehidupan pastoral masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pemindahan Persembahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Persembahan diserahkan atau dipindahkan dari tempat persiapan ke Altar. Mereka dibawa dalam prosesi yang disertai lilin, dupa, dan nyanyian madah tradisional yang populer: “Tuhan bertahta berpakaian kemuliaan.” Banyak makna dikenakan kepada ritus ini, yaitu: pemisahan antara dua bagian Qurbono, Sabda Allah dalam Kitab Suci dan Sabda Allah dalam Ekaristi; juga undangan kepada jemaat untuk mempersembahkan diri dan dikuduskan bersama roti dan anggur yang dipersembahkan untuk menjadi Tubuh dan Darah Kristus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Penyerahan Persembahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selebran menerima persembahan-persembahan, lalu mengangkatnya dalam sikap mempersembahkan persembahan kepada Allah sambil mengucapkan salah satu doa Maronite tertua dalam ritus ini.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Penempatan Persembahan di Altar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penempatan persembahan di Altar adalah suatu tindakan liturgis imami; tindakan ini menandakan pemisahan bahan-bahan persembahan sebagai penyerahan resmi di Altar Allah. Ritus konsekrasi dimulai pada bagian ini. Melanjutkan penempatan di Altar, selebran melakukan sejumlah pengenangan, terutama: pengenangan akan Kristus dan rencana keselamatan-Nya dan pengenangan akan orang-orang kudus, terutama pelindung gereja dan orang kudus yang pestanya sedang dirayakan. Kemudian dia mewartakan intensi umum dan khusus yang bagi mereka persembahan ini disampaikan. Persembahan diletakkan di tengah Altar di atas sepotong kayu atau marmer yang dikonsekrasi (disebut tablet), atau di atas sepotong kain yang dikonsekrasi (seperti corporale dalam Gereja Latin).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Pendupaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk pertama kalinya selebran mendupai Altar yang disiapkan untuk mengurbankan persembahan yang ditempatkan di atasnya. Pendupaan sebelumnya, dalam doa mohon belas kasihan (Hoosoyo) sewaktu Ibadat Sabda, dilakukan diluar konteks Altar dan persembahan. Pendupaan ini disertai dengan madah peringatan, madah pendupaan “Pencinta mereka yang bertobat, dan madah lain seperti Salatooke Ma’na (Semoga doamu menyertai kami), atau madah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anaphora&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Anaphora adalah kata dalam bahasa yunani yang berarti “persembahan atau “qurbono”. Di sini berarti serangkaian doa dan tindakan syukur; anaphora dimulai dengan ritus damai, konsekrasi dan komuni sampai penutupan ibadat. Bagian kedua dari Qurbono sekarang disebut dengan nama anaphora. Menurut tradisi Syriac Maronite kita, ada bermacam-macam anaphora; anaphora itu dikenakan kepada Dua Belas Rasul, atau salah satu Rasul dan Pengarang Injil, atau salah satu Patriarkh, Bapa Pendahulu, atau Uskup yang ternama. Jumlah anaphora dalam seluruh tradisi Syriac berjumlah sekitar tujuh puluh buah.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Anaphora Syriac Barat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada dua model anaphora dalam tradisi Maronite kita; beberapa diantaranya menggunakan model Syriac Barat, seperti Anaphora Santo Yakobus dari Yerusalem, sementara yang lainnya menggunakan model Syriac Timur seperti Anaphora Sharar dan Anaphora Addai dan Mari dari Assyria Chaldea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam edisi-edisi Qurbono sebelumnya (kecuali “Ritus Sederhana” terbitan Bkerke tahun 1973), sebagai tambahan dari model yang sepenuhnya Barat juga ada beberapa doa dari Anaphora Sharar yang termasuk model Syriac Timur. Anaphora ini kemudian menjadi perpaduan antara model Barat dan Timur. Dalam teks Qurbono baru ini, kami menghapuskan duplikasi semacam itu. Kami menyusun anaphora hanya menurut model Syriac Barat saja tanpa doa-doa Anaphora Sharar Maronite Timur. Bagaimanapun, hal ini tidak berarti kami sepenuhnya mengabaikan Anaphora Sharar (lihat bawah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak anaphora-anaphora Syriac Barat yang digunakan oleh Gereja Maronite. Kami menemukan beberapa diantaranya dalam manuskrip-manuskrip Maronite, terutama dalam kompilasi anaphora-anaphora yang disiapkan oleh Patriarkh Duwaihy. Kompilasi ini memuat tiga puluh nama, beberapa diantaranya memiliki nama non-Maronite. Teksnya bervariasi dari satu manuskrip dengan yang lainnya. Bagaimanapun, beberapa anaphora ini benar-beanr berasal dari sebelum abad ke 10; mereka juga dipakai dalam sejumlah manuskrip dan edisi-edisi Buku Qurbono selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, untuk edisi Qurbono ini, kami hanya membatasi jumlahnya menjadi enam anaphora saja, kami berharap nantinya kami dapat melengkapinya sampai sekurangnya ada dua puluh empat anaphora. Enam anaphora yang dipilih saat ini seluruhnya berasal dari tradisi Maronite sebelum abad ke sepuluh. Berikut kami tampilkan daftarnya sebagaimana urutan dalam buku Qurbono:&lt;br /&gt;Anaphora Dua Belas Rasul;&lt;br /&gt;Anaphora Santo Petrus, Pemimpin Para Rasul (Ya Allah Kedamaian)&lt;br /&gt;Anaphora Santo Yakobus, Saudara Tuhan;&lt;br /&gt;Anaphora Santo Yohanes Rasul;&lt;br /&gt;Anaphora Santo Markus Pengarang Injil;&lt;br /&gt;Anaphora Sixtus, Paus Roma.&lt;br /&gt;Anaphora-anaphora ini telah menjadi subyek dari sejumlah penelitian, yang beberapa diantaranya diterbitkan sebagai karya illmiah. Kami mengacu kepada teks anaphora hasil penelitian ilmiah, atau, jika belum ada hasil penelitian ilmiah semacam itu, kami mengacu kepada teks liturgis yang umum dipakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anaphora Sharar Syriac Timur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Anaphora ini memiliki berbagai nama, seperti Anaphora Para Rasul, Anaphora Santo Petrus (ketiga), dan Anaphora Sharar (Sharar adalah kata Syriac pertama dari anaphora ini dan berarti “meneguhkan”). Sejumlah penelitian atas anaphora Syriac Timur  ini menunjukkan keserupaan dengan Anaphora Addai dan Mari yang digunakan oleh Gereja-gereja Assyria Chaldea. Kedua anaphora ini mungkin memiliki asal yang sama dari Edessia sekitar abad ke 5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ritus Maronite, Anaphora Sharar memiliki susunan internal yang sama dalam Qurbono dalam dalam ritus konsekrasi krisma (Myron) dan untuk konsekrasi air baptis pada malam Epifani. Tidak diragukan bahwa Gereja Maronite menggunakan Anaphora Sharar dalam Qurbono sebelum abad ke 16, edisi pertama Buku Qurbono menempatkan anaphora ini setelah anaphora-anaphora yang lainnya, sementara edisi ke 2 (1716) tidak lagi menggunakannya. Kemudian anaphora ini menjadi Qurbono Penandaan Piala, yang merupakan ritus komuni pada hari Jumat Agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anaphora Sharar telah memiliki susunannya sendiri yang tidak begitu jelas atau mudah dipahami. Pada saat ini, anaphora ini tidak dapat digunakan, tetapi harus dipelajari dan diberi susunan yang baru terlebih dahulu. Komisi Liturgi Patriarkal telah melakukan tugas ini dengan tujuan membawa anaphora ini kembali ke kehidupan liturgis Gereja maronite, dan secepat mungkin mengoreksi dan menyusun Anaphora Sharar secara jelas. Dari sini tapak jelas bahwa Liturgi Maronite memiliki akar-akarnya juga pada sumber-sumber Syriac Timur. Kami tidak perlu menyatakan bahwa tugas ini cukup sulit, yaitu untuk menyusun kembali suatu anaphora yang selama beratus-ratus tahun tidak lagi digunakan, dan juga untuk mempersiapkan ritus serupa untuk konsekrasi krisma (Myron) dan air baptis. Sekarang ini kami menunda pekerjaan ini sampai beberapa waktu kedepan, insha Allah. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Enam Anaphora Qurbono Baru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kami menggunakan enam anaphora, sebagaimana ditunjukkan di atas, dengan sejumlah variasi, terutama:&lt;br /&gt;Kata-kata konsekrasi, yaitu narasi penetapan Ekaristi saat Perjamuan Malam Terakhir, aslinya teks ini bervariasi dari anaphora yang satu dengan yang lainnya. Bagaimanapun kami tidak dapat kembali kepada teks literal tiap anaphora, karena teks kata-kata konsekrasi dalam situasi ritus Maronite sekarang telah mengambil bentuk yang baru, dalam isi dan bentuknya. Maka, kami membatasi pilihan kami dari semua anaphora satu teks saja untuk kata-kata konsekrasi bagi semua anaphora. Kami mengambil teks dari Anaphora Dua Belas Rasul dan menambahkannya sedikit sentuhan jika hal itu dianggap perlu untuk melancarkan alur bahasa dan bentuknya, selain juga untuk mengakomodasi melodi musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku Qurbono semua anaphora ini dicetak berdampingan dalam bahasa Syriac dan Arab. Kami menginginkan agar terjemahan Arab ini elegan dan indah, terutama dalam pengenangan-pengenangan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-8595471810249678080?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/8595471810249678080/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/penjelasan-qurbono-part-5.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/8595471810249678080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/8595471810249678080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/penjelasan-qurbono-part-5.html' title='Penjelasan Qurbono (Part 5)'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-5920109375388240521</id><published>2009-10-18T20:43:00.000+07:00</published><updated>2009-10-18T20:45:47.957+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Spiritualitas'/><title type='text'>Berkata-kata dan Berdoa Dalam Bahasa Roh</title><content type='html'>Oleh Leo Kardinal Suenens&lt;br /&gt;A New Pentecost p. 74-76 (versi pdf).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pengunjung baru ke persekutuan doa seringkali merasa risih, untuk mendengar dari waktu ke waku, seseorang- atau seluruh kelompok- mulai berdoa atau bernyanyi dalam bahasa roh. kesan pertamanya adalah ketidaknyamanan yang dipicu oleh ungkapan verbal yang spontan, dimana suku-suku kata diucapkan membentuk suatu frase yang tidak dapat dimengerti. Maka, penting untuk memahami glossalalia, tanpa merendahkan atau melebih-lebihkan cara doa ini. Ini bukanlah mukjizat; juga bukan suatu kelainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bukan Mukjizat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang karismatik dari berbagai denominasi, tetapi secara khusus Pentakostal Klasik, menganggap glossalalia sebagai tanda mutlak bahwa seseorang telah menerima ‘baptisan Roh Kudus’. Juga mereka menganggap bahwa ini adalah suatu anugerah yang dicurahkan dan memampukan orang berdoa dalam sebuah bahasa yang tidak dipahaminya. Saya sudah menunjukkan bahwa cara pandang semacam itu tidak sejalan dengan teologi Katolik. Tapi kita tidak menyangkal kemungkinan dalam suatu kasus yang amat jarang dapat terjadi bahwa hal itu dapat terjadi, karena kita percaya akan mukjizat, dan fenomena semacam itu termasuk ke dalam tatanan “mukjizat” (dalam arti teologis). Tetapi saya mengakuinya bahwa hal itu sungguh merupakan pengecualian, dan kita harus menghindarkan segala bentuk “sensasionalisme”. Menurut pemahaman saya fenomena “bahasa roh” tidak ada kaitannya pencurahan bahasa misterius melalui penetapan ilahi. Dan signifikasinya seutuhnya berbeda.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Bukan Patologis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada ekstrim yang lain, kami menemukan orang, khususnya mereka yang pada tingkat tertentu familiar dengan ilmu psikiatri, mengenakan keadaan-keadaan patologis kepada fenomena ini, seperti: emosionalsime, hysteria massa. kelakukan infantil (infantile regression), dst. Inilah bukanlah pandangan yang berasal dari penelitian ilmiah yang memadai, juga hal ini bukanlah pandangan dari salah seorang yang sangat unggul dalam bidang ini yaitu William J. Samarin, professor antropolgi dan linguistic di Universitas Toronto. Profesor Samarin mengadakan suatu penelitian yang panjang dan luas, yang dilakukan di banyak negara, dan menyimpulkan bahwa fenomena ini tidak mengandung apapun yang abnormal atau patologis, dan dia menyampaikan bukti-buktinya(William J. SAMARIN, Tongues of Men and Angels (New York, 1972)).  .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika berdoa dalam bahasa roh bukan mukjizat dan juga bukan patologis, jadi bagaimana kita memahaminya?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Jadi, Apa itu Glossalalia?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pertama kita harus mengakui bahwa kita berhadapan dengan suatu fenomena yang disebutkan dalam Kitab suci: ada sekitar tiga puluh penyebutan tentang berdoa dalam bahasa roh. Dalam Perjanjian Baru kita memiliki kesaksian dari Kisah Para Rasul (2:4-11; 10:46; 19:6), Surat St. Paulus (1Kor 12:30; 13:1; 14: 2,39) dan juga janji Yesus dalam Injil St. Markus (16:7). Jadi jelas ada permasalahan eksegetis dalam hal ini, namun kita jangan membutakan diri dengan kenyataan sederhana bahwa Perjanjian Baru berbicara mengenai fenomena ini secara nyata dan cukup sering. St. Paulus mengatakan bahwa ‘karunia’ ini adalah yang paling kurang penting dalam tatanan karunia; dia juga mengatakan bahwa ia memilikinya dan berharap hal yang sama bagi orang lain, walaupun ia menekankan bahwa dalam ibadat bersama, keteraturan harus diutamakan. Maka, kita tidak dapat mengatakan bahwa tidak ada bukti alkitabiah mengenai keberadaan karunia ini. Karunia ini juga ditemukan dalam tradisi Gereja, dibagikan secara luas pada mulanya dan kemudian menjadi lebih terbatas dalam biara-biara dan para santo-santa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini saya ingin menyampaikan suatu refleksi pribadi yang tidak bersifat definitif atau memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus mengingat bahwa berkat anugerah Pembaptisan, setiap orang Kristen telah menerima Roh Kudus, dan secara potensial semua karunia Roh Kudus. Manifestasi lahiriah dari anugerah ini, penggunaannya yang aktif, menunjukkan kehadiran-Nya tetapi tidak menghasilkan suatu aungerah. Pembacaan fundamentalistik terhadap Perjanjian Baru mungkin akan membuat orang memperlakukan karunia-karunia Allah ini sebagai suatu “obyek”, suatu yang berada di luar diri kita. Pentingnya berbahasa roh tidak berkurang jika kita menempatkannya dalam tatanan alamiah yang mengenakan suatu karakter spiritual melalui intensi yang menjiwainya. Lebih jauh kita harus mengingat bahwa segalanya, dalam arti tertentu, adalah anugerah: ‘semuanya adalah rahmat’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk doa non-diskursif ini- suatu ungkapan prakonseptual dari doa spontan- berada dalam jangkauan tubuh dan selalu berada dalam kendali kita. Ini adalah suatu cara pengungkapan yang juga dikenal dalam kebudayaan lain, jadi hal ini tidaklah begitu asing sebagaimana yang kita kira. Ingatlah, misalnya dalam madah Gregorian ada suatu jubilasi (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;nyanyian spontan dengan suku-suku kata yang lahir dari ungkapan sukacita yang sangat mendalam sehingga kata-kata biasa tidak lagi dapat menggambarkannya seperti fa-la-la-na-na atau semacamnya, banyak yang berpendapat bahwa jubilasi adalah identik dengan bahasa roh yang umum pada gerakan pembaruan karismatik di zaman modern ini, salah satu yang berpandangan demikian adalah Kardinal Suenens sendiri&lt;/span&gt;)  yang melanjutkan ‘a’ yang diperpanjang pada akhir Alleluia (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;misalnya pada Veni Sancte Spiritus, pada bagian akhir alleluia sesudah amen, nadanya dibuat naik dan menggantung sama seperti kebiasaan lagu-lagu penyembahan karismatik saat mau ‘naik’ atau hendak bersenandung dalam roh/singing in the spirit&lt;/span&gt;). Ingatlah juga, bagaimana seorang anak kecil, sebelum belajar berbicara secara benar, menggunakan ungkapan bunyi-bunyian yang spontan dan tidak memiliki arti untuk mengungkapkan sukacitanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang telah mengatakan bahwa berdoa dalam bahasa roh dalam kaitannya dengan berdoa secara biasa diperbandingkan seperti seni figuratif dan seni abstrak; perbandingan ini saya kira memberikan beberapa pencerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karunia bahasa roh juga dapat dibandingkan dengan karunia air mata. Siapapun yang berada dalam keadaan yang emosional dapat menangis; aktor bisa menangis kapan saja naskah memintanya. Ini alami. Tetapi juga ada karunia air mata, yang diakui oleh tradisi spiritual sejak lama. Lebih lagi, dalam Rituale, ada anugerah untuk doa ini (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;mungkin sebenarnya Missale Romanum, dimana dalam Missale pra-Vatikan II ada teks misa votif memohon karunia air mata, yang intinya agar hati kita tersentuh oleh kebaikan Allah, menyesali dosa-dosa secara mendalam dan karenanya bertobat sungguh-sungguh&lt;/span&gt;). Tangisan disini menjadi suatu pengalaman keagamaan yang mendalam, dimana seseorang memberikan ungkapan kepada hal yang tidak terungkapkan, saat digerakan oleh rasa penyesalan, penyembahan atau syukur di hadapan Allah. Dalam hal ini, air mata, jika kita menganalisanya, tidak berbeda dari air mata tangisan biasa tetapi dampaknya jauh melampaui sekedar fenomena fisik semata. Maka, cukup tepat membandingkannya dengan bahasa roh.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-5920109375388240521?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/5920109375388240521/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/berkata-kata-dan-berdoa-dalam-bahasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/5920109375388240521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/5920109375388240521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/berkata-kata-dan-berdoa-dalam-bahasa.html' title='Berkata-kata dan Berdoa Dalam Bahasa Roh'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-113089289742602215</id><published>2009-10-17T12:18:00.000+07:00</published><updated>2009-10-17T12:19:22.753+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Doa'/><title type='text'>Bantulah Kami Melaksanakan Kehendak-Mu: Refleksi Berdasarkan Doa Pembukaan Minggu Biasa XXIX</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Latin (Missale Romanum 2002):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Omnípotens sempitérne Deus, fac nos tibi semper et devótam gérere voluntátem, et maiestáti tuae sincéro corde servíre. Per Dóminum.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;English (ICEL):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Almighty and ever-living God, our source of power and inspiration, give us strength and joy in serving you as followers of Christ.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Indonesia (Ibadat Harian):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Allah yang kekal dan kuasa, bantulah kami melaksanakan kehendak-Mu yang kudus serta mengabdi kepada-Mu dengan hati yang ikhlas. Demi Yesus Kristus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya doa ini sangat mengesan karena didalamnya tertuang pengakuan bahwa melakukan kehendak Allah tidak selalu mudah, bahkan seringkali tidak mudah. Melakukan yang benar itu kadang-kadang bertentangan dengan keinginan pribadi dan minat kita. Kita semua mengalami bahwa hati kita seringkali tidak selaras dengan kehendak Allah. Saya kira pengalaman ini adalah pengalaman kita semua, dan doa ini mewakili kerinduan hati kita semua yang sebenarnya ingin menaati Allah tetapi seringkali kesulitan melawan godaan-godaan yang datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacaan Epistel tahun B yang diambil dari Ibrani 4 memberikan dasar alkitabiah bagi doa ini: “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah Imam Besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu, marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.”(15-16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacaan ini menyinggung Yesus yang ikut merasakan kelemahan-kelemahan kita namun tidak jatuh dalam dosa. Dan berdasarkan hal itu penulis surat Ibrani meminta kita untuk datang kepada-Nya tanpa malu-malu karena Yesus tahu persis dan telah mengalami sendiri segala kesulitan kita untuk tetap tinggal benar di hadapan Allah. Penulis surat Ibrani menyatakan bahwa hal itu adalah jaminan bahwa Yesus mampu dan mau menolong kita, karena Ia sudah mengalami sendiri semua kesulitan-kesulitan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjemahan bahasa Inggris menambahkan kata “our source of power and inspirations” pada diri Allah. Sementara kata ini tidak terdapat dalam teks asli bahasa Latin dan juga tidak muncul dalam bahasa Indonesia, saya kira teks ini cukup menarik. Sosok Yesus yang berani setia kepada Bapa sampai mati memang merupakan suatu kekuatan dan inspirasi bagi mereka yang hendak setia kepada Allah. Perkataan Yesus yang meminta kita “tulus seperti merpati dan cerdik seperti ular” juga merupakan hal yang sangat penting, menaati kehendak Allah bukan berarti naïf dan bego, tetapi juga perlu menggunakan otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh yang paling jelas adalah dalam perintah Yesus untuk “memberi pipi kiri jika pipi kanan ditampar, jika orang meminta jubahmu berikan bajumu, jika seorang meminta kamu berjalan dengannya sepanjang satu mil berjalanlah bersamanya sepanjang dua mil”. Yesus tidak menyuruh kita untuk pasrah begitu saja jika dianiaya, tetapi Ia memerintahkan kita untuk melawan kekerasan dan perlakuan tidak adil dengan cara yang kreatif. Sebuah kisah menarik berkaitan dengan kata-kata Yesus ini ditunjukkan oleh pendiri General Motors yang setelah mendengar bacaan ini dibacakan di gerejanya ia terinspirasi untuk mengadakan suatu layanan purna jual (zaman itu belum ada layanan semacam ini, analoginya adalah jika orang memintamu berjalan sepanjang satu mil/menampar pipi kananmu/meminta jubahmu= ingin membeli barang, maka berjalanlah bersamanya sepanjang dua mil/berikan pipi kirimu/berikan juga bajumu= layanilah pembeli juga setelah membeli barang, jadi disini sabda Yesus diartikan sebagai memberi melebihi yang diminta). Apakah usahanya bangkrut karena ia melaksanakan sabda Yesus? Tidak, malahan usahanya makin maju dan berkembang, dan kebangkrutan General Motors dalam krisis ekonomi belakangan ini juga bukan karena prinsip layanan purna jualnya (yang ditiru banyak pengusaha di banyak bidang) tapi karena kerakusan sejumlah pejabat pentingnya (ini memang menyederhanakan persoalannya). Kisah ini menekankan sisi inspiratif dan menguatkan yang datang dari Allah dan membantu kita untuk melaksanakan kehendak-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh sederhana tadi juga dikuatkan dengan Mazmur Tanggapan tahun B yang menyatakan bahwa “sesungguhnya mata Tuhan tertuju kepada mereka yang takut akan DIa, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya, untuk melepaskan jiwa mereka daripada maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.”(Mzm 33: 18-19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah bagi semua yang merasa sulit mengikuti kehendak Allah dalam hidupmu, datanglah pada-Nya. Ia mengerti kesulitanmu dan hendak membantumu memenuhi kehendak-Nya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-113089289742602215?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/113089289742602215/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/bantulah-kami-melaksanakan-kehendak-mu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/113089289742602215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/113089289742602215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/bantulah-kami-melaksanakan-kehendak-mu.html' title='Bantulah Kami Melaksanakan Kehendak-Mu: Refleksi Berdasarkan Doa Pembukaan Minggu Biasa XXIX'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-700360938525039964</id><published>2009-10-17T12:16:00.001+07:00</published><updated>2009-10-17T12:18:20.251+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Para Kudus'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ajaran Iman'/><title type='text'>Peringatan St. Ignatius Dari Anthiokhia</title><content type='html'>St. Ignatius dari Antiokhia (+110) adalah murid dari Rasul Yohanes, menurut tradisi, ia adalah salah seorang anak kecil yang pernah diberkati oleh Yesus. Setelah dewasa ia menggabungkan diri dengan komunitas para Rasul, dan akhirnya menjadi Uskup di Antiokhia. Pada akhir hidupnya ia ditangkap oleh pemerintahan Romawi dan hendak dihukum mati di Roma. Sepanjang perjalanannya ia menulis surat kepada sejumlah jemaat Kristen dan dalam surat-suratnya ia menjelaskan berbagai hal yang dianggapnya perlu bagi perkembangan iman Kristen.&lt;br /&gt;Dalam surat-suratnya Ignatius menekankan pentingnya untuk hidup selaras dengan kehendak Allah dan untuk mengasihi Allah dan sesama. Ia juga menekankan pentingnya kesetiaan kepada Uskup yang sah dan agar umat Kristen menjauhkan diri dari berbagai pengajaran sesat. Ignatius adalah orang pertama yang menggunakan nama “Gereja Katolik” untuk menyebut persekutuan murid-murid Yesus pertama kalinya, ia juga menegaskan peranan Uskup dan Sakramen Ekaristi dalam Gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suratnya kepada Gereja Roma, Ignatius menyebut Gereja Roma mengajar Gereja lain, dan ia menolak memberi perintah (mengajar) Gereja Roma karena Rasul Petrus dan Paulus telah mengajar Gereja Roma. Mengenai Paulus memang jelas dari Kitab Suci bahwa ia menulis surat ke Roma dan dihukum mati di kota itu. Tetapi mengenai Petrus, Kitab Suci tidak secara eksplisit menunjukkan ia pergi ke Roma atau menulis suatu surat kepada Gereja itu. Maka, pernyataan Ignatius ini menunjukkan bahwa Tradisi mengenai Petrus tinggal di Roma dan menjadi Uskup di kota itu adalah tradisi yang berasal nyaris se-zaman dengan para Rasul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini ada beberapa kutipan dari pengajaran St. Ignatios yang tentunya juga masih relevan untuk kehidupan Kristen kita pada zaman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Saya tidak memberi perintah kepada kamu seolah-olah saya adalah orang besar. Tetapi, saya terikat karena nama Kristus, saya belum sempurna dalam Yesus Kristus. Sekarang saya mulai menjadi murid-Nya, dan saya berbicara kepadamu sebagai sesama murid Kristus. Iman saya sendiri pun pernah sungguh dikuatkan oleh kamu melalui nasehat, kesabaran, dan penderitaanmu. Tetapi cinta juga mendesak saya untuk tidak diam mengenai kamu, maka saya telah menggunakan kesempatan ini pertama-tama untuk menasehati kamu agar menjalankan segala sesuatunya selaras dengan kehendak Allah. Karena Yesus Kristus, yang tak terpisahkan dari hidup kita, adalah manifestasi dari kehendak Bapa. &lt;/span&gt;(Ad Ephesians, I)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Saya mendorong kalian untuk memiliki hanya satu iman, satu macam pewartaan, dan satu Ekaristi. Karena hanya ada satu daging Tuhan Yesus Kristus dan darah-Nya yang ditumpahkan-Nya bagi kita adalah satu; karena hanya satu roti yang dipecahkan bagi semua penerima Komuni, dan satu piala dibagikan bagi mereka semua, dan hanya ada satu Altar bagi seluruh Gereja, dan satu Uskup dengan para Penatua dan Diakonnya. JUga karena hanya ada satu Allah, Bapa yang kekal, dan satu Putera yang Tunggal, Allah, Firman dan manusia, dan satu Penghibur, roh Kebenaran; dan hanya ada satu pewartaan, satu iman, dan satu baptisan, dan satu Gereja yang didirikan oleh Para Rasul dari ujung-ujung bumi dengan Darah Kristus, dan dengan keringat dan usaha mereka sendiri; maka hendaknya kamu juga, sebagai orang yang dikhususkan, dan sebagai bangsa yang suci, lakukanlah segala sesuatu dengan keselarasan dalam Kristus.&lt;/span&gt; (Ad Philadelphian, IV)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Janganlah seorangpun melakukan apapun yang berkaitan dengan urusan Gereja tanpa Uskup…Di mana Uskup ada, hendaklah di sana kawanan berada sebagaimana, di mana Yesus Kristus ada, di situlah Gereja Katolik berada.&lt;/span&gt;(Ep. ad Symraean, VIII)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kalian tidak pernah memusuhi siapapun, kalian telah mengajar yang lain. Sekarang saya ingin agar hal-hal itu, melalui kelakukanmu, dipersatukan dalam pengajaran kalian. Hanya satu permintaanku dari jiwa dan ragaku, yaitu semoga aku tidak hanya berbicara, tetapi sungguh-sungguh mengendakinya, sehingga aku tidak hanya disebut Kristen, tetapi sungguh ditemukan Tuhan sebagai orang Kristen….Aku tidak menyampaikan perintah bagimu, sebagaimana Petrus dan Paulus telah menyampaikannya bagimu. Mereka itu Rasul-rasul, dan aku ini orang terkutuk; mereka bebas, sementara aku sampai saat  ini adalah hamba. Tetapi, saat aku menderita aku akan menjadi manusia bebas bagi Yesus, dan akan bangkit bersama Dia. Dan sekarang, sebagai seorang tahanan, aku belajar untuk tidak menginginkan yang duniawi dan fana.&lt;/span&gt; (Ad Roman III,IV)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-700360938525039964?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/700360938525039964/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/peringatan-st-ignatius-dari-anthiokhia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/700360938525039964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/700360938525039964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/peringatan-st-ignatius-dari-anthiokhia.html' title='Peringatan St. Ignatius Dari Anthiokhia'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-7106057149396369545</id><published>2009-10-16T21:07:00.002+07:00</published><updated>2009-10-16T21:15:31.320+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Doa'/><title type='text'>Doa Syafaat</title><content type='html'>Secara sederhana doa syafaat (intercessory prayer) adalah berdoa bagi orang lain. Dalam Kitab Suci ada begitu banyak contoh doa semacam ini, mulai Abraham bagi Sodom dan Gomora, Musa bagi Israel, Perawan Maria bagi tuan rumah pesta perkawinan di Kana dan terutama adalah Yesus bagi semua yang percaya kepada-Nya. Tradisi Katolik menjunjung tinggi kebiasaan berdoa syafaat karena melalui doa semacam ini kita menyatukan diri dengan Yesus Kristus yang menjadi Pengantara bagi kita di hadapan Bapa. Maka dalam semua liturgi Katolik doa syafaat selalu menjadi bagian yang penting, kita orang Latin mengenal oratio fidelium (doa orang beriman, atau terjemahan Indonesia doa umat) dalam Misa, sementara dalam Liturgi Byzantine dikenal Litani Doa Yang Mendesak (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Litany of pervent supplication&lt;/span&gt;). Nah, masalahnya adalah seringkali kita mengalami sedikit kebingungan mengenai apa yang harus kita doakan dalam doa syafaat. Berikut ini adalah contoh doa syafaat dari tradisi Timur, yang banyak bagian teksnya saya ubah sehingga menurut saya lebih cocok digunakan dalam situasi kebanyakan kita. Akhirnya, selamat berdoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* Kebiasaan yang umum dilakukan dalam mendoakan doa ini, adalah membungkuk setiap selesai satu permohonan atau satu alinea&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah, ya Tuhan Yesus Kristus, Allah kami, akan belasihkasih dan kebaikan-Mu yang berasal dari keabadian, dan yang melaluinya Engkau menjadi manusia dan berkehendak menderita penyaliban dan kematian bagi mereka yang sungguh benar percaya kepada-Mu, dan Engkau telah bangkit dari kematian dan naik ke surga, dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa dan mengakui semua yang dengan rendah hati datang menghampiri-Mu dengan segenap hati mereka; bukalah telinga-Mu, dan dengarkanlah doa-doa sederhana hamba-Mu yang tidak pantas ini, sebagai dupa rohani yang harum, yang kupersembahkan bagi semua orang. Pertama-tama ingatlah akan Gereja-Mu yang Katolik dan Apostolik, yang telah Kau dirikan dengan Darah-Mu yang berharga. Teguhkanlah, kuatkanlah, luaskanlah, dan kembangkanlah dia, dan peliharalah ia dalam damai, agar selamanya ia teguh menentang kuasa-kuasa neraka. Redakanlah perselisihan dalam Gereja dan tekanan dari tanaman kuasa kegelapan, enyahkanlah prasangka di antara bangsa-bangsa, dan dengan segera singkirkanlah dan buanglah akar-akar ajaran sesat, dan hancurkanlah mereka dengan kuasa Roh Kudus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamatkanlah dan berbelaskasihanlah, ya Tuhan, presiden kami dan semua otoritas pemerintahan di seluruh dunia, para panglima angkatan bersenjata, para gubernur dan walikota, dan kekuatan keamanan yang mencintai Kristus; lindungilah kekuatan mereka dengan damai, dan rendahkanlah setiap musuh dan lawan mereka pada kaki mereka; dan wartakanlah damai dan berkat dalam hati mereka bagi Gereja Kudus-Mu, dan bagi semua umat-Mu, dan berilah agar dalam ketenangan mereka kami pun dibawa kepada hidup yang damai dan tenteram dalam iman sejati, dalam semua kesalehan dan kejujuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamatkanlah dan berbelaskasihlah, ya Tuhan, kepada para Patriarkh Gereja Katolik, teristimewa bagi Patriarkh Oikumene kami Benediktus yang juga adalah Patriarkh Gereja Latin kami, dan bagi semua Metropolitan, Uskup Agung, Uskup, Imam dan Diakon, dan semua yang melayani dalam Gereja, dan yang telah Engkau tahbiskan untuk memberi makanan bagi kawanan rohani-Mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamatkanlah dan berbelaskasihlah, ya Tuhan, bagi para bapa kami (sebutkan nama Pastor Paroki atau Abbas dari sebuah biara), dan semua saudaranya dalam Kristus, dan karena doa-doa mereka kasihanilah aku, karena betapa celanya diriku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamatkanlah dan berbelaskasihlah, ya Tuhan, Bapa Rohaniku (sebutkan nama pembimbing rohani atau bapa pengakuan) dan karena doa-doanya ampunilah dosaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamatkanlah dan berbelaskasihlah, ya Tuhan, atas semua pekerja di masyarakat kami, yang bekerja untuk mencari nafkahnya. Penuhilah kebutuhan jasmani mereka, agar mereka pun dapat memuji Engkau dengan gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamatkanlah dan berbelaskasihlah, ya Tuhan, akan orang tuaku (nama orang tua), dan saudara-saudariku dan semua kerabatku, serta semua tetanggaku, dan teman-temanku- dan berilah mereka rahmat jasmani dan rohani.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selamatkanlah dan berbelaskasihlah, ya Tuhan, menurut besarnya belaskasih-Mu, atas semua Imam, Biarawan dan Biarawati, dan semua yang hidup dalam keperawanan, doa, dan puasa, di biara-biara, di padang gurun, di gua-gua, di gunung-gunung, di tebing-tebing, di pertapaan, di batu-batu karang, dengan iman yang benar di semua tempat kekuasaan-Mu, dan yang dengan penuh kasih dan kesetiaan melayani Engkau, dan berdoa kepada-Mu. Ringankanlah beban mereka, hiburlah mereka dalam kesusahan, dan berilah mereka kekuatan, kuasa, dan pemeliharaan-Mu dalam setiap perjuangan hidup, dan karena doa-doa mereka berilah kepadaku pengampunan dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamatkanlah dan berbelaskasihlah, ya Tuhan, dan kasihanilah mereka yang tua dan yang muda, yang miskin dan tertindas, para janda dan yatim piatu, mereka yang menderita sakit dan kesedihan, kemalangan dan kesulitan, yang ditawan dan dibuang, teristimewa mereka yang dianiaya karena nama-Mu dan karena iman Katolik mereka oleh orang-orang kafir, murtad, dan bidat, dengan kuasa-Mu bersegeralah menyelamatkan mereka, berilah mereka kebebasan dan kelepasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamatkanlah dan berbelaskasihlah, ya Tuhan, kepada semua orang yang berbuat baik kepada kami, memberi derma kepada kami, yang telah menggaji kami atau menjadi mitra usaha kami, atau yang bekerja kepada kami, kepada mereka yang membeli dagangan kami dan yang menjual barang-barang kebutuhan kami, kami yang hina ini tidak cukup layak untuk mendoakan mereka; berilah mereka semua damai-Mu, dan kabulkanlah permohonan mereka yang mengamankan jalan mereka kepada keselamatan, dan semoga mereka memperoleh sukacita kekal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamatkanlah dan berbelaskasihlah, ya Tuhan, kepada semua orang Katolik yang diutus dan menjadi misionaris dalam pelayanan kepada-Mu, serta semua orang yang karena pekerjaan atau liburan sedang berada dalam perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamatkanlah dan berbelaskasihanlah, ya Tuhan, kepada semua orang telah ku sakiti atau yang tersakiti oleh rasa marah dan kelalaianku, dan yang karena pikiran, perkataan, dan perbuatanku telah berpaling dari jalan keselamatan, dan yang telah kuarahkan kepada kejahatan dan perbuatan merugikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamatkanlah dan berbelaskasihanlah, ya Tuhan, kepada mereka yang membenci dan menyakiti diriku, yang telah merugikan aku, dan semoga mereka tidak mengalami suatu kerugian apapun dan tidak mengalami kebinasaan abadi karena aku orang berdosa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terngilah dengan cahaya rahmat-Mu semua orang yang telah berpaling dari iman Katolik, dan mereka yang terbutakan oleh berbagai ajaran sesat, tariklah mereka kepada-Mu dan satukanlah mereka kepada Gereja-Mu yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena bagi-Mu lah kuasa, kemuliaan, dan kerajaan, bersama Bapa-Mu dan Roh Kudus yang memberi hidup, sekarang dan selama-lamanya, dari masa ke masa. Amin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-7106057149396369545?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/7106057149396369545/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/doa-syafaat.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/7106057149396369545'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/7106057149396369545'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/doa-syafaat.html' title='Doa Syafaat'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-3624161719266787765</id><published>2009-10-16T15:03:00.003+07:00</published><updated>2009-10-16T15:18:56.743+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hal-hal lain'/><title type='text'>Forum Diskusi Katolik: Byzantine Catholic Forum</title><content type='html'>Ada banyak forum diskusi Katolik di internet dan kali ini saya ingin memperkenalkan forum yang secara rutin saya baca belakangan ini yaitu Forum Diskusi Byzantine Katolik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silakan melihat-lihat di&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.byzcath.org/forums/ubbthreads.php?ubb=cfrm"&gt;Byzantine Catholic Forum (klik)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Forum ini memiliki banyak sub-forum, dan sebagai orang Katolik Latin, sub-forum yang paling saya gemari dan sering saya kunjungi adalah sub-forum &lt;a href="http://www.byzcath.org/forums/ubbthreads.php/forums/4/1/4.%20East-N-West"&gt;East-n-West (klik)&lt;/a&gt; yang membahas hubungan antara ritus Latin dan ritus-ritus Timur. Sebagai orang Katolik Latin saya menerima banyak informasi yang berharga seputar teologi, liturgi dan spiritualitas Timur. Kesimpulannya adalah forum ini sangat membantu saya untuk memahami ke-katolik-an yang sebenarnya dimana menjadi Katolik &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;berarti menerima seluruh ajaran Kristus sesuai yang diajarkan oleh Para Rasul&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harap jangan mengelirukan saudara-saudara Katolik Timur ini dengan saudara-saudara Ortodoks Timur. Katolik Timur adalah bagian dari Gereja Katolik, bersatu dengan Paus yang adalah pengganti Rasul Petrus sebagaimana semua Rasul lainnya bersatu dengan Rasul Petrus. Memang dalam hal tradisi (kebiasaan) mereka lebih dekat dengan Gereja-gereja Ortodoks Timur, perbedaannya hanya satu namun mendasar yaitu Gereja-gereja Katolik Timur berada dalam persatuan dengan Uskup Roma. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan lain yang perlu disampaikan adalah, walaupun namanya Byzantine dan memang nuansa Byzantine lebih kental di forum ini, namun forum ini tidaklah semata-mata menampilkan tradisi Byzantine. Ada beberapa member aktif, dan diantaranya banyak yang sungguh berpengetahuan berasal dari tradisi-tradisi Timur non-Byzantine salah satunya adalah member &lt;a href="http://www.byzcath.org/forums/ubbthreads.php/users/1073"&gt;mardukm &lt;/a&gt;yang berasal dari tradisi Koptik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kita, dan saya, yang adalah orang Latin membaca forum ini juga efektif untuk membantu saya menghargai tradisi (kebiasaan) Latin sendiri. Akhirnya tradisi Latin dan tradisi-tradisi Timur ini, semuanya merupakan ungkapan otentik dari Tradisi (T besar) yaitu ajaran yang berasal dari Tuhan Yesus sendiri ( 2Tes 2:15; Yud 3). Dan tentu saja kita akan mendapatkan banyak bantuan untuk meneguhkan iman akan Kristus dan Gereja-Nya dan untuk menghayatinya lebih baik dan lebih setia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk info lebih jauh tentang Gereja-gereja Timur Anda bisa membaca artikel di blog ini yang merupakan terjemahan dari atikel Colin B. Donovan, STL yang berjudul &lt;a href="http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/ritus-dan-gereja-gereja-otonom-sui.html"&gt;Ritus dan Gereja-gereja Otonom (Sui-iuris)&lt;/a&gt;. Saya kira artikel ini cukup bagus dan lengkap sebagai pemahaman awal mengenal saudara-saudara Timur kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-3624161719266787765?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/3624161719266787765/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/forum-diskusi-katolik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/3624161719266787765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/3624161719266787765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/forum-diskusi-katolik.html' title='Forum Diskusi Katolik: Byzantine Catholic Forum'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-7580097038729433069</id><published>2009-10-16T13:47:00.001+07:00</published><updated>2009-10-16T13:49:18.747+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ajaran Iman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gereja (Ekklesiologi)'/><title type='text'>Surat Dari Biara St. Maron Kepada Paus Hormisdas</title><content type='html'>Pada tahun 517 AD, sejumlah besar biarawan meninggalkan biara St. Maron, dan pergi ke Biara St. Simon sang Stylite murid St. Maron dekat Alepo. Dalam perjalanan menuju biara itu mereka diangkap oleh sejumlah tentara pendukung bidaah ‘satu kodrat’ Kristus. Tiga ratus lima puluh biarawan dibunuh. Hanya sedikit yang selamat dan terluka dan berhasil melarikan diri. Kemudian Alexander pemimpin biara St. Maron dan pemimpin biara-biara di sekitarnya menulis kepada Paus Hormisdas dan memberitakan kepada Paus mengenai pembantaian oleh kaum Monofisit ini. Mereka juga mengatakan bahwa banyak biara dibakar dan meyakinkan Paus bahwa para biarawan tetap setia kepada Gereja Katolik dan tidak takut menderita kematian karena iman mereka. Surat Alexander ini sedikit banyak menunjukkan kepada otoritas yang dimiliki Paus dalam Gereja-gereja Timur, di masa ketika Gereja Antiokhia sedang berada dalam krisis besar otoritas Paus sebagai Patriarkh Gereja Universal nampak semakin jelas. Para biarawan dari St. Maron inilah yang kemudian berkembang menjadi suatu tradisi tersendiri yang kita kenal sebagai Gereja Maronite, satu-satunya Gereja Timur yang tidak memiliki badan Ortodoks yang terpisah dari Roma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kepada Yang Tersuci dengan kekudusan yang mendalam, Hormisdas, Patriarkh Universal, yang duduk di Tahta Petrus, Pangeran Para Rasul. Kami menyampaikan permintaan penuh doa dari hamba yang hina pemimpin biara-biara di wilayah Syria II dan semua biarawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena rahmat Kristus, Penyelamat kita, mendorong kami berlari kepadamu Yang Terberkati [sapaan khas Gereja-gereja Timur kepada seorang Uskup], seperti orang yang berlindung dari hujan badai di pelabuhan yang aman, kami percaya, bahwa engkau adalah perlindungan kami, walaupun kami menderita kesusahan yang teramat berat, kami menanggungnya dengan sukacita, karena kami percaya, bahwa penderitaan dunia ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kemuliaan abadi yang akan disingkapkan bagi kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Kristus, Allah kita, telah menetapkan engkau sebagai Pemimpin dan Gembala dan Tabib bagi jiwa-jiwa, adalah tugas kami untuk menyampaikan kepadamu penganiayaan yang telah kami derita, agar engkau menyadari bahwa ada serigala yang tanpa belas kasih, yang memecah belah kawanan domba Kristus dan kami memohon kepadamu agar engkau dengan tongkatmu mengusir para serigala ini dari kawanan domva, dan untuk menyembuhkan jiwa dengan pengajaran Sabda Tuhan, dan rawatlah mereka dengan doa-doamu… baik Severus [Patriarkh Antiokhia] dan Petrus [Uskup Apamea]…karena mereka berusaha memaksa kami untuk menolak ajaran yang benar dari Konsili Chalcedon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kami sedang dalam perjalanan menuju Biara St. Simon untuk kepentingan Gereja, kami diserang oleh orang-orang jahat yang membunuh 350 orang dari antara kami dan melukai banyak lainnya. Bahkan ada diantara kami yang melarikan diri ke gereja-gereja untuk berlindung, tetap dibunuh di hadapan Altar. Maka kami memohon kepadamu Bapa Suci bangkitlah dengan kekuatan dan ketekunan dan berbelaskasihlah atas tubuh kami yang terluka ini; karena engkau adalah kepala dari semua…karena engkau adalah gembala sejati dan tabib yang merawat domba-domba dan keselamatan mereka: “Aku mengenal domba-domba-Ku, dan domba-dombaku mengenal Aku..”[Yoh10:14-16]. Jadi janganlah mengabaikan kami Yang Tersuci, karena setiap hari kami berhadapan dengan luka-luka yang mematikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertanda&lt;br /&gt;Saya, Alexander, karena rahmat Allah, Imam, Pimpinan Biara St. Maron.&lt;br /&gt;[Menyusul tanda tangan semua biarawan di Biara itu dan para Imam lainnya] &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Dau, B 1984. History of the Maronites- Religious, Cultural and Political. London: Lebanese Maronite Order. p.172-175&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat ini sedikit banyak mengingatkan kita kepada Konsili Chalcedon sendiri dimana surat Paus Leo dibacakan dan para Bapa Konsili berseru: &lt;br /&gt;“Inilah iman para bapa, inilah iman Para Rasul. Kami semua mempercayainya, inilah kepercayaan ortodoks. Terkutuklah mereka yang menolaknya. Petrus telah berbicara melalui Leo. Begitulah ajaran Para Rasul. Dengan saleh dan benar Leo mengajarkannya, begitu juga Cyril. Kenangan abadi akan Cyril. Leo dan Cyril mengajarkan hal yang sama, terkutuklah mereka yang tidak mempercayainya. Inilah iman yang benar. Kami yang ortodoks mempercayainya. Inilah iman para bapa.” (Ekstrak dari Akta sesudah pembacaan surat St. Leo)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-7580097038729433069?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/7580097038729433069/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/surat-dari-biara-st-maron-kepada-paus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/7580097038729433069'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/7580097038729433069'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/surat-dari-biara-st-maron-kepada-paus.html' title='Surat Dari Biara St. Maron Kepada Paus Hormisdas'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-3192845424493438740</id><published>2009-10-16T13:39:00.003+07:00</published><updated>2009-10-16T13:51:03.743+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gereja (Ekklesiologi)'/><title type='text'>Patriarkh Maximos IV: Katolisisme Tidak Sama Dengan Latinisme</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_NuP-XeCvjVo/SZStywXFXeI/AAAAAAAAAGU/L_QxuuY5z2c/s200/Maximos.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 140px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_NuP-XeCvjVo/SZStywXFXeI/AAAAAAAAAGU/L_QxuuY5z2c/s200/Maximos.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Kita harus berjuang untuk memastikan bahwa Latinisme dan Katolisisme tidak lagi bersifat sinonim, bahwa Kekatolikan harus terbuka kepada setiap kebudayaan, setiap semangat, dan setiap bentuk organisasi yang selaras dengan kesatuan iman dan cinta kasih. Pada saat yang sama, dengan teladan kita sendiri, kita harus mendesak Gereja Ortodoks untuk mengakui bahwa persatuan […] dengan Tahta Petrus dapat dicapai tanpa membuat mereka meninggalkan Ortodoksi- &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yang Terberkati Maximos IV&lt;br /&gt;Patriarkh Antiokhia, Alexandria dan Yerusalem untuk Gereja Katolik Melkite&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan ini saya telah membaca buku “Gereja Melkite Dalam Konsili Vatikan II” yang berisi berbagai pidato, intervensi, dan catatan Patriarkh Maximos sejak masa persiapan Konsili sampai pada penutupannya. Dalam masa-masa itu Maximos menunjukkan visinya yang tegas bahwa Katolisisme harus universal, Gereja Katolik tidak identik dengan Gereja Latin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar bahwa dari 1,1 Milyar umat Katolik, hampir seluruhnya adalah anggota Gereja Latin, dan Pengganti St. Petrus menggembalakan sebuah keuskupan ritus Latin dan pada umumnya ia menggunakan ritus Latin untuk merayakan Liturgi Suci yang dipimpinnya. Tetapi ini samasekali tidak berarti bahwa ritus Latin adalah ritus utama Gereja, hal itu juga tidak berarti bahwa Gereja Latin adalah “Gereja utama” dalam Gereja Katolik. Sebaliknya, yang benar ialah Gereja Latin adalah satu dari 22 Gereja sui-iuris (otonom) yang membentuk Gereja Katolik dengan Uskup Roma sebagai kepala persekutuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak berakhirnya Konsili Fireze (Florence) telah terjadi ketidakadilan dalam Gereja Katolik yang dimulai dengan penempatan para Kardinal Romawi secara lebih terhormat daripada para Patriarkh dalam Konsili-konsili dan dalam upacara-upacara resmi Gereja Katolik (pada Konsili Firence sendiri para Patriarkh masih diberi kehormatan lebih tinggi, namun sesudahnya barulah kekacauan itu dimulai). Kekacauan ini kemudian merambat dari atas ke bawah dan berakhir pada Latinisasi besar-besaran terhadap Gereja-gereja Timur yang bersekutu dengan Roma. Seringkali Latinisasi ini terjadi karena sebagian Uskup dan Imam yang menjadi misionaris di daerah-daerah Timur secara salah menganggap bahwa Katolisisme identik dengan Latinisme dan mencurigai apa saja yang berbau Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bersyukur bahwa Roh Kudus tidak tinggal diam, perlahan-lahan para Paus bertindak menghentikan Latinisasi. Saat yang paling menentukan adalah Paus Leo XIII dengan ensiklik Orientalium Dignitas yang menjadi awal titik balik yang mencapai puncaknya pada Konsili Vatikan II yang memberi mandat kepada Gereja-gereja Timur untuk kembali kepada tradisinya yang asli dan memeliharanya. Semua Paus pasca-Vatikan II menunjukkan penghormatan dan pengakuan terhadap tradisi-tradisi Timur; Paulus VI mengizinkan untuk tidak menggunakan “filiouqe” (dan Putera) pada Pengakuan Iman Nicaea-Konstantinopel yang dinyanyikan di Gereja-gereja Timur, Yohanes Paulus II menulis ensiklik Orientale Lumen yang mengakui kekayaan warisan rohani Gereja-gereja Timur dimana sebagai orang Polandia ia cukup dekat dengan Gereja-gereja Katolik ritus Byzantine yang ada di negaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Konsili Vatikan II, pada masa Konsili itu para Patriarkh Timur masih juga ditempatkan dalam urutan kehormatan sesudah para Kardinal Romawi. Patriarkh Maximos menentang urutan ini dan meminta agar tatanan kehormatan yang tradisional dan kuno dikembalikan. Sejumlah Uskup Latin menentangnya dan mengatakan bahwa Gereja Katolik Timur adalah ‘buatan’ Paus dan karenanya para Patriarkhnya tidak layak diperlakukan seperti yang diatur dalam Konsili-konsili kuno. Patriarkh Maximos menjawab mereka (dengan perkataan yang merupakan perkataan favorit saya):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“5. Akhirnya, keberatan yang diajukan adalah saat yang wajar untuk mengakui keutamaan para Patriarkh Timur sebagaimana mereka miliki sebelum skisma adalah saat para Patriarkh “sejati” yaitu para Patriarkh Ortodoks menyetujui untuk membicarakan persatuan. Tetapi para Patriarkh Timur yang sekarang hadir di Konsili ini adalah buatan baru dari Tahta Suci, dan karenanya memberikan tingkatan dan kuasa itu tidaklah tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Konsep ini, yang menyangkal bahwa para Patriarkh Katolik Timur adalah pengganti yang legitim dari para pendahulu mereka di tahta masing-masing, adalah senjata baru para “latinis” yang digunakan untuk menentang para Katolik dari Ritus-ritus Timur. Malang bagi mereka, karena walaupun konsep ini mungkin akan diterima oleh para Ortodoks yang terpisah dari Roma, namun tidak dapat diterima oleh orang Katolik dan secara mutlak bertentangan dengan pemikiran para Paus sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kami tidak dapat menyajikan begitu banyak teks-teks kepausan yang mendukung pandangan kami, kami hanya membatasi dengan mengajukan teks-teks yang berkaitan dengan Kepatriarkhan Antiokhia kami sendiri, yang saat dijabat oleh Cyril VI Tanas menyatakan persatuan dengan Roma tahun 1724. Saat utusan Paus menahtakannya pada tanggal 25 April 1730, utusan Paus mengakui dia sebagai “Patriarkh Antiokhia yang legitim.” (Masi, Vol 46. col, 189) Sementara itu Paus Benediktus XIV, dalam pidatonya pada konsistori 3 februari 1744, mengakui Cyril VI sebagai satu-satunya pejabat Tahta Ortodoks yang sejati di Antiokhia, dan mengatakan tentang Patriarkh tandingganya Sylvester “ia telah merampas tahta patriarchal” dan megatakan kepada para Melkite bahwa didalam mereka “sisa-sia terhormat dari Gereja Antiokhia, yang sebelumnya terkubur, telah bangkit kembali kepada kehidupan” (Ibid., col. 340)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam surat tanggal 29 Februari 1744, yang ditujukan juga kepada Patriarkh Cyril, Benediktus XIV mengungkapkan dirinya dengan cara ini: “Sementara kami mengakui bahwa Gerea Antiokhia Yunani yang terhormat, telah terpisah dari tahta Roma untuk waktu yang lama karena sksma yang mengerikan dan dikendalikan oleh para Patariakh yang terjangkit wabah skisma, sekarang akhirnya telah diserahkan kepadamu hai saudara, untuk kau jaga sebagai gembalanya yang sah.” (Ibid. col. 341) Dan Paus melanjutkan dengan menyatakan bahwa ia sungguh bergembira karena ia kini dapat sekali lagi memasukkan nama Patriarkh Antiokhia ke dalam diptychs Gereja Roma. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dari semua ini, jelaslah bahwa, bagi para Paus, Kepatriarkan Katolik Melkite Yunani adalah kelanjutan yang sah dari suksesi Tahta Antiokhia. &lt;/span&gt;Karenanya hak dan keistimewaan yang sama adalah hak bagi para Patriarkhnya sebagaimana para pendahulu kuno mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberatan lain dapat diajukan, dan akan mudah untuk menjawabnya. Jantung utama dari permasalahan ini adalah: haruskah Gereja Katolik pada masa kita secara murni dan sederhana mengakui perkembangan yang hanya terjadi dalam lingkungan Latin Barat yang memunculkan Kekardinalan, atau harusnya sekali lagi diadakan penyelarasan berbagai institusi modern Barat dengan institusi yang lebih kuno di Timur? Dengan kata lain, apakah Katolisisme adalah perluasan Latinisme yang bersifat menaklukkan? Ataukah Katolisime adalah institusi ilahi, supra-regional, supra-nasional dimana tradisi Timur dan Barat memiliki hak yang pada dasarnya sama? &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Masalah tingkatan para Patriarkh Timur bukanlah masalah keutamaan dan kemuliaan kosong. Tetapi, menunjukkan suatu pengembalian kepada konsep eklesiologi yang lebih otentik dan apostolik.&lt;/span&gt;” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sesi-sesi Konsili selanjutnya urutan kehormatan para Patriarkh dipulihkan dan terjadi perkembangan yang positif. Namun, sesudah Vatikan II terjadilah suatu perkembangan yang sangat negatif yaitu diangkatnya para Patriarkh Timur menjadi Kardinal. Pengangkatan ini pada umumnya disambut dengan ketidakpuasan dan kekecewaan di kalangan Timur, walaupun jalan tengah dapat diambil yaitu para Kardinal Patriakh tidak menerima gelar berupa dekanat, Paroki, atau Keuskupan di sekitar Roma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tradisional para Kardinal adalah pembantu Paus sebagai Patriarkh Gereja Latin. Dewan Kardinal terdiri terutama dari 6 orang Uskup yang menangani keuskupan-keuskupan pinggiran kota Roma yang pada awal abad pertengahan memiliki banyak penduduk dan para Uskupnya memiliki peranan penting namun pada masa ini enam keuskupan itu hanya menjadi daerah pinggiran yang sepi dan secara nyata tidak memiliki peran apa-apa. Selebihnya para Kardinal terdiri dari para Pastor di Paroki-paroki besar di kota Roma, dan para Diakon yang memimpin diskateri-diskateri (komisi-komisi) Keuskupan. Sementara saya tidak keberatan seorang Patriarkh Timur mengikuti konklaf (sementara beberapa orang Katolik Timur merasa aneh jika Patriarkh mereka harus terlibat dalam pemilihan Patriarkh Gereja Roma) dan bahkan merasa sangat perlu para Patriarkh Timur mengikuti konklaf, sangatlah tidak tepat jika mereka diangkat menjadi Kardinal Romawi. Tampaknya jauh lebih tepat dan lebih baik jika aturan konklaf (pemilihan Paus) diubah menjadi konklaf diikuti oleh para Kardinal Romawi dan semua kepala Gereja-gereja sui iuris dalam Gereja Katolik. Dibalik persoalan Kardinal ini, masalah sebenarnya adalah sama seperti yang diungkapkan Patriarkh Maximos yaitu eklesiologi yang terlalu berorientasi kepada Gereja Latin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pidato Maximos IV dan pengangkatan para Patriarkh sebagai Kardinal menunjukkan bahwa kesetaraan antara Gereja Latin dan Gereja-gereja Timur sebagai sesama Gereja otonom dalam persekutuan Gereja Katolik belum dicapai sepenuhnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-3192845424493438740?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/3192845424493438740/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/patriarkh-maximos-iv-katolisisme-tidak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/3192845424493438740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/3192845424493438740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/patriarkh-maximos-iv-katolisisme-tidak.html' title='Patriarkh Maximos IV: Katolisisme Tidak Sama Dengan Latinisme'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_NuP-XeCvjVo/SZStywXFXeI/AAAAAAAAAGU/L_QxuuY5z2c/s72-c/Maximos.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-4523911150557012551</id><published>2009-10-15T12:13:00.000+07:00</published><updated>2009-10-15T12:21:49.920+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Liturgi'/><title type='text'>Tata Perayaan Ekaristi Ritus Maronite: Qurbono (Part 4-Anafora dan Komuni)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ritus Damai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doksologi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Umat berdiri. Imam membuat tanda salib:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam:   Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus sekarang dan selama-lamanya.&lt;br /&gt;Umat:   Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Doa Damai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam:  Allah yang kudus dan berbelas kasih, melalui Putera-Mu yang Tunggal, Engkau telah mempersiapkan perjamuan rohani ini untuk kami. Berkenanlah atas persembahan Kurban yang tak berdarah ini, dan berilah kami anugerah Roh Kudus-Mu. Jadikanlah kami layak untuk menyampaikan salam damai satu sama lain dengan hati yang murni dan cinta kasih ilahi. Kemudian kami akan memuji Engkau, Putera Tunggal-Mu, dan Roh Kudus-Mu yang menghidupkan, sekarang dan selama-lamanya.&lt;br /&gt;Umat:   Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Salam Damai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Imam mencium Altar, menempatkan tangannya di atas persembahan, dan kemudian menyampaikan damai:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam:   Damai bagimu, ya Altar Allah yang kudus. Damai atas misteri-misteri yang ditempatkan atasmu.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Ajakan Salam Damai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Diakon:   Marilah kita saling menyampaikan salam damai kepada sesama kita, dengan cinta kasih dan kesetiaan yang menyenangkan Tuhan kita.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Umat saling menyampaikan salam damai dengan tangan terkatup.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Madah Damai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Selama salam damai semua menyanyikan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Semua:   Saudara-saudari, damai, cinta kasih, dan iman dari Allah Bapa dan dari Tuhan Yesus Kristus. Semoga Allah, sang Damai, bersama kamu semua. Amin.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Doa Penumpangan Tangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam:   Kami membungkuk di hadapan-Mu, ya Raja segala raja dan Tuhan segala tuhan, dan memohon kepada-Mu pandanglah kami dengan murah hati. Buatlah kami layak menghampiri Altar kudus-Mu dengan hati murni dan jiwa raga yang kudus, dan kami akan menyampaikan kemuliaan dan syukur bagi-Mu, sekarang dan selama-lamanya.&lt;br /&gt;Umat:   Amin.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Doa Selubung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam:   Ya Tuhan, semoga damai-Mu, kasih sejati dan rahmat kekal dan ilahi bersama kami dan tinggal di tengah kami sepanjang hidup kami, dan kami akan memuliakan Engkau dan bersyukur kepada-Mu, sekarang dan selama-lamanya. &lt;br /&gt;Umat:   Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DOA SYUKUR AGUNG&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dialog&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam:   Semoga cinta kasih Allah + Bapa, rahmat Putera-Nya yang + Tunggal, dan persatuan serta persekutuan Roh + Kudus bersamamu selamanya.&lt;br /&gt;Umat:   Dan bersama rohmu.&lt;br /&gt;Imam:   Marilah mengangkat hati, pikiran, dan kehendak kita kepada Allah.&lt;br /&gt;Umat:   Sudah kami angkat kepada-Mu, ya Allah.&lt;br /&gt;Imam:   Marilah bersyukur kepada Allah dengan takut akan Dia dan menyembah-Nya dengan kerendahan hati.&lt;br /&gt;Umat:   Sudah layak dan sepantasnya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Pujian dan Syukur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam:   Sungguh kemuliaan dan pujian layak bagi-Mu, karena Engkaulah kudus, ya Allah Bapa kami, dan Engkaulah sang pemberi hidup. Terpujilah Engkau bersama Putera-Mu yang Tunggal dan Roh Kudus-Mu yang menghidupkan. Kau dikelilingi oleh kerubim dan seraphim, yang dengan suara murni dan melodi surgawi, menyanyikan pujian dan mewartakan kemuliaan-Mu dengan bernyanyi kudus, kudus, kudus:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat:  . Kudus, kudus, kuduslah Tuhan yang berbala tentara. Surga dan bumi penuh kemuliaan-Mu yang besar. Hosanna di tempat tinggi. Terpujilah Dia yang telah datang dan akan datang dalam nama Tuhan. Hosanna di tempat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam:  .Kudus, kudus, kuduslah Engkau, ya Allah yang penuh belas kasih. Kuduslah Putera-Mu yang Tunggal Yesus Kristus, Tuhan dan Allah kami. Kuduslah Roh Kudus-Mu yang memberi hidup. Engkaulah sumber segala kekudusan dan berkat. Bagi keselamatan kami, Putera-Mu yang Tunggal mengambil daging dari Perawam Maria yang murni, Bunda Allah, dan dengan rencana keselamatan ilahi-Nya Ia menebus dan menyelamatkan kami.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Kisah Institusi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kisah Institusi selalu dinyanyikan dalam bahasa Aram&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam:   Byow-mo how daq-dom ha-sho-dee-leh ma'-bed hy-eh&lt;br /&gt;nsa-bel-lah-mo be-dow qa-dee-sho-to.&lt;br /&gt;Ou-ba-rekh&lt;br /&gt;ou-qa-desh&lt;br /&gt;waq-so&lt;br /&gt;ou-ya-bel-tal-mee-dow kad o-mar:&lt;br /&gt;Sab a-khool meh-neh kul-khoon:&lt;br /&gt;Ho-no den ee-tow faghro deel&lt;br /&gt;dah-lo-fy-koun wah-lof sagee-yeh&lt;br /&gt;meh-teq-seh ou-meh-tee-heb&lt;br /&gt;lhoo-so-yo dhow-beh wal-ha-yeh dal-'o-lam 'olmeen.&lt;br /&gt;[Pada hari sebelum sengsara-Nya yang menghidupkan, Yesus mengambil roti dengan tangan-Nya. Ia memberkati dan menguduskan-Nya lalu memecah-mecahkannya, memberikan-Nya kepada para murid-Nya sambil berkata: Terimalah dan makanlah, hai kamu semua, karena inilah Tubuh-Ku yang dipecahkan dan diserahkan bagimu dan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa dan kehidupan kekal.]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat:   Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam:   Ho-kha-no 'al ko-so dam-zeegh wo&lt;br /&gt;men ham-ro ou-men ma-yo&lt;br /&gt;ba-rekh&lt;br /&gt;ouqa-desh&lt;br /&gt;ou-ya-be-tal-me-dow kad o-mar:&lt;br /&gt;Sab esh-tow meh-neh kul-khoon:&lt;br /&gt;Ho-no den ee-tow dmo deel&lt;br /&gt;dee-ya-tee-qee hda-to&lt;br /&gt;dah-lo-fy-koon wah-lof sa-gee-yeh&lt;br /&gt;meh-teh-shed ou-meh-tee-heb&lt;br /&gt;lhoo-so-yo dhow-beh wal-ha-yeh dal-o'-lam 'ol-meen.&lt;br /&gt;[Kemudian Ia mengambil piala berisi anggur bercampur air, memberkati dan menguduskannya, lalu memberikannya kepada para murid-Nya sambil berkata: Terimalah dan minumlah, hai kamu semua, karena inilah Piala Darah-Ku, Darah Perjanjian Baru, yang ditumpahkan dan diserahkan bagimu dan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa dan kehidupan kekal.]&lt;br /&gt;Umat:   Amen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anamnesis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam:   Setiap kali kamu makan Roti ini dan minum dari Piala ini, kamu mengenangkan Aku sampai Aku datang kembali.&lt;br /&gt;Umat:   Ya Tuhan, kami kenangkan wafat-Mu, kami memberi kesaksian atas kebangkitan-Mu, kami menantikan kedatangan-Mu kedua kali, kami memohon belas kasih-Mu dan pengampunan dosa kami. Semoga belas kasih-Mu turun atas kami.&lt;br /&gt;Imam:   Ya Allah, sang Pencinta semua manusia, kami hamba-hamba-Mu yang berdosa ini mengenangkan rencana keselamatan-Mu dan kami memohon agar Engkau berbelas kasih kepada kami. Kasihanilah mereka yang menyembah-Mu dan selamatkanlah para ahli waris-Mu saat Engkau datang di akhir zaman untuk mengganjar semua orang dengan adil menurut perbuatannya. Melalui Engkau Gereja-Mu memohon kepada Bapa-Mu dan berdoa:&lt;br /&gt;Umat:   Kasihanilah kami, ya Bapa yang mahakuasa, kasihanilah kami.&lt;br /&gt;Imam:   Ya Tuhan, kami para hamba-Mu yang berdosa dan malang ini menyadari rahmat yang telah kami terima dari-Mu dan bersyukur kepada-Mu untuk dan karena rahmat itu.&lt;br /&gt;Umat:   Kami memuji-Mu, mengagungkan-Mu, menyembah-Mu, kami mengaku dan memohon kepada-Mu: kasihanilah kami, ya Tuhan, dan dengarkanlah kami.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Seruan Kepada Roh Kudus (Epiklesis)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Diakon:   Betapa agung saat ini, ya kekasihku. Roh Kudus akan turun dari surga dan menaungi persembahan ini, yang disiapkan untuk pengudusan kita. Marilah kita berdiri dan berdoa dan tiga kali menyerukan:&lt;br /&gt;Imam:   Kasihanilah kami, ya Tuhan, kasihanilah kami. Utuslah Roh-Mu yang menghidupkan dari surga untuk menaungi persembahan  ini dan menjadikannya Tubuh dan Darah pemberi hidup untuk memurnikan dan menguduskan kami.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Imam berlutut dengan kedua kaki, merentangkan tangan dan menyanyikan dalam bahasa Aram (A) atau bahasa lokal (B):&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;A&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam:   `A-neen mor-yo; `A-neen mor-yo; `A-neen mor-yo.&lt;br /&gt;Ou-nee-teh mor roo-hokh ha-yo ou-qa-dee-sho&lt;br /&gt; ou-na-gen `a-lyn ou-`al qur-bo-no-hono.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Atau:&lt;br /&gt;B&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam:   Dengarkanlah kami Tuhan, dengarkanlah kami Tuhan, dengarkanlah kami Tuhan. Curahkanlah Roh-Mu yang kudus dan menghidupkan menaungi kami dan persembahan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat:   Kyrie eleison, Kyrie eleison, Kyrie eleison.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Atau&lt;/span&gt;   &lt;br /&gt;Tuhan kasihanilah kami, Tuhan kasihanilah kami, Tuhan kasihanilah kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam:   Berkat naungan-Nya, Roh menjadikan roti ini + Tubuh Kristus Allah kami.&lt;br /&gt;Umat:   Amin.&lt;br /&gt;Imam:   Dan menjadikan campuran dalam piala ini + Darah Kristus Allah kami.&lt;br /&gt;Umat:   Amin.&lt;br /&gt;Imam:   Semoga Misteri suci ini menjadi pengampunan dosa kami, penyembuhan jiwa dan raga kami, dan menguatkan hati nurani kami, sehingga tak satupun dari umat beriman-Mu yang akan musnah. Sebaliknya, semoga kami hidup oleh Roh-Mu, menjalani hidup yang murni, dan memuliakan-Mu, sekarang dan selama-lamanya.&lt;br /&gt;Umat:   Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Doa Syafaat&lt;br /&gt;Semua duduk. Imam berdoa:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam:   Ya Tuhan Allah, kami mempersembahkan Kurban Ilahi ini bagi Gereja-Mu, terutama bagi Bapa Suci Benediktus &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(nama Paus)&lt;/span&gt;, Boutros Nasrallah Sfeir &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(nama Patriarkh&lt;/span&gt;), Patriarkh kami, dan …(nama Uskup) Uskup kami dan semua Uskup yang mengakui iman yang benar. Semoga mereka hidup tidak bercela agar dengan kemurnian dan kekudusan mereka dapat menggembalakan kawanan-Mu dan menyampaikan kepada-Mu suatu umat yang diperbarui dalam Roh dan berkenan bagi kemuliaan nama-Mu. &lt;br /&gt;Umat:   Tuhan kasihanilah kami.&lt;br /&gt;Diakon:   Ingatlah, ya Tuhan, kawanan-Mu, terutama mereka yang telah menyampaikan persembahan ini. Berilah pengampunan kepada mereka yang berkumpul di sini di hadapan-Mu, semoga kami selalu hidup tak bercela di hadirat-Mu, dan menyadari rahmat yang telah Kau curahkan atas kami. Karena Engkau baik dan berbelas kasih, dan kami berdoa kepada-Mu Tuhan.&lt;br /&gt;Umat:   Tuhan kasihanilah kami.&lt;br /&gt;Diakon:   Ingatlah, ya Tuhan, para pemimpin negara kami, yang menjaga umat-Mu, kawanan yang diselamatkan oleh nama-Mu. Dalam belas kasihan-Mu ampunilah mereka, bantulah mereka, dan utuslah malaikat-Mu untuk menjaga mereka. Supaya dalam damai, keselarasan, dan dengan penuh kepercayaan kami akan memuliakan, bersyukur dan berdoa kepada-Mu.&lt;br /&gt;Umat:   Tuhan kasihanilah kami.&lt;br /&gt;Diakon:   Ingatlah, ya Tuhan, semua orang yang berkenan kepada-Mu sejak awal mula, terutama Maria, Bunda Allah yang terberkati, para Rasul, Nabi, Martir, Pengaku Iman, Yohanes Pembaptis, Stefanus diakon pertama, Santo/a..(pelindung Paroki), santo/a…(yang dipestakan), dan semua yang seperti mereka yang dikenal karena kesempurnaan hidup mereka dan perbuatan-perbuatannya. Semoga kami diingat dalam doa-doa mereka dan menjadi layak untuk bersukacita bersama mereka dalam kerajaan-Mu dan kami berdoa kepada-Mu, ya Tuhan.&lt;br /&gt;Umat:   Tuhan kasihanilah kami.&lt;br /&gt;Diakon:   Ingatlah, ya Tuhan, akan para leluhur dan guru kami yang mengimani iman sejati dan menjaga kebenaran-Mu, dan yang telah menanggung derita karena Gereja-Mu. Biarlah kami memelihara kebenaran yang mereka imani dengan bibir kami, agar kami mengikuti jejak mereka, berjalan dalam kepolosan dan kesederhanaan dalam jalan-Mu yang adil.&lt;br /&gt;Umat:   Tuhan kasihanilah kami.&lt;br /&gt;Diakon:   Ingatlah, ya Tuhan, orang beriman yang telah meninggal dunia. Terimalah persembahan ini untuk mereka. Mereka telah menaruh kepercayaan kepada belas kasih dan pengampunan-Mu dan menantikan rahmat-Mu, berilah mereka istirahat di pangkuan Abraham, dan panggilan mereka menjadi tamu dalam kerajaan-Mu. Berilah juga kepada kami, kematian yang penuh damai, dan hapuskanlah pelanggaran kami, karena tak ada satupun di bumi yang tak berdosa kecuali Putera-Mu yang Tunggal, yang melalui Dia kami berharap, agar bersama mereka kami menerima pengampunan dosa.  &lt;br /&gt;Umat:   Berilah mereka istirahat, ya Tuhan, dan ampunilah semua dosa dan kejatuhan kami: dosa-dosa yang kami lakukan dengan sadar dan tanpa sadar.&lt;br /&gt;Imam:   Bebaskanlah kami semua, ya Tuhan, dari sengatan dosa, ampunilah pelanggaran kami, dan dalam belas kasih-Mu tebuslah kami, agar nama-M yang suci dapat dimuliakan, dipuji, dan dihormati dalam kami, untuk kami, dan karena kamim dengan nama Yesus Kristus Tuhan kami, dan Roh Kudus-Mu yang menghidupkan, sekarang dan selama-lamanya.&lt;br /&gt;Umat:   Sebagaimana telah terjadi, sekarang terjadi, dan selamanya akan terjadi.  Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;RITUS KOMUNI&lt;br /&gt;Berkat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam:  . Semoga berkat Allah + Bapa, dan Penyelamat kita Yesus Kristus dan persekutuan Roh Kudus bersamamu.&lt;br /&gt;Umat:   Dan bersama rohmu.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pemecahan Roti, Penandaan, Pencelupan, Pencampuran dan Pengangkatan&lt;br /&gt;Umat menyanyikan nyanyian yang cocok atau korozooto hari yang bersangkutan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Pemecahan Roti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam:   Kami telah percaya, dan telah mempersembahkan, dan sekarang kami memateraikan + dan memecahkan persembahan ini, Roti Surgawi, Tubuh sang Sabda, yang adalah Allah yang hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pencelupan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam:   Kami menandai Piala Keselamatan dan Syukur ini dengan abu pemurnian yang mengalir bersama misteri surgawi dalam nama +Bapa, untuk semua yang hidup; dalam nama Putera + Tunggal-Nya untuk semua yang berasal dari-Nya, dan seperti Dia, yang hidup bagi semua yang hidup; dalam nama Roh + Kudus, yang adalah awal, akhir, dan kesempurnaan segala yang telah ada, ada, dan aka nada di surga dan bumi: Allah yang satu-tak terpisah, sejati, benar, terpuji, dan tertinggi, yang dari-Nya datang hidup abadi.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Penandaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam:   Darah Tuhan kita Yesus Kristus dipercikan atas Tubuh-Nya yang suci, dalam nama + Bapa, dan + Putera, dan Roh + Kudus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pencampuran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam:   Ya Tuhan, Engkau telah menyatukan keilahian-Mu dengan kemanusian kami dan kemanusiaan kami dengan kehidupan ilahi-Mu dengan kefanaan kami dan kefanaan kami dengan hidup-Mu. Kau telah mengambil apa yang menjadi milik kami, dan memberikan kepada kami apa yang menjadi milik-Mu, untuk hidup dan keselamatan jiwa kami.. Bagi-Mu, ya Tuhan, kemuliaan selama-lamanya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Pengangkatan&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Umat berdiri. Imam mengangkat patena dengan Roti atas Piala dan mengangkat keduanya, sambil diam-diam berdoa:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam:   Ya Tuhan Engkaulah persembahan yang berkenan kepada Bapa, yang telah dipersembahkan untuk kami; Engkaulah kurban penghapus salah, yang mempersembahkan diri-Mu untuk kami kepada Bapa-Mu. Engkaulah Anak Domba Kurban,dan juga Imam yang mempersembahkan diri-Mu sendiri untuk kami. Semoga doa-doa kami menjadi seperti dupa di mata-Mu seperti kami mempersembahkan-Nya melalui Engkau dan bersama Engkau kepada Bapa-Mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bapa Kami&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam:  Allah yang maha pengasih dan pengampun, yang kami hormati diatas segalanya, berilah kami kemurnian dan kekudusan untuk berkata:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Imam dan umat merentangkan tangan dan berdoa:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;SEMUA:   Bapa kami, yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu..etc&lt;br /&gt;Imam:   Ya Tuhan, Pencinta segala sesuatu, jangan tinggalkan kami, jangan biarkan kami jatuh dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari si jahat dan jalannya yang menyesatkan, karena Kerajaan adalah milik-Mu, milik Putera Tunggal-Mu, dan milik Roh Kudus-Mu yang menghidupkan, sekarang dan selama-lamanya&lt;br /&gt;Umat:   Amin.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Ritus Tobat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam:   Damai bersamamu.&lt;br /&gt;Umat:   Dan bersama rohmu.&lt;br /&gt;Diakon:   Tundukanlah kepalamu di hadapan Allah yang berbelas kasih, di hadapan Altar pengampunan-Nya, dan di hadapan Tubuh dan Darah Penyelamat kita, yang memberikan hidup kepada mereka yang ambil bagian dalam Dia, dan terimlahan berkat Tuhan.&lt;br /&gt;Imam:   Ya Tuhan, berkatilah umat-Mu yang tunduk di hadapan-Mu. Selamatkanlah kami dari segala bencana dan buatlah kami layak ambil bagian dalam Misteri Ilahi ini dengan kemurnian dan kekudusan, agar melaluinya kami diampuni dan dikuduskan. Dan kami akan memuliakan Dikau, sekarang dan selama-lamanya.&lt;br /&gt;Umat:   Amin.&lt;br /&gt;Imam:   Semoga rahmat Tritunggal + Mahakudus yang kekal dan setara dalam hakekat, bersamamu saudara dan saudariku.&lt;br /&gt;Umat:   Dan bersama rohmu.&lt;br /&gt;Diakon:   Marilah kita memandang Allah dengan kagum dan hormat dan memohon kepada-Nya belas kasih dan pengampunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ajakan Komuni&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam:   Yang Kudus bagi yang kudus, dengan kesempurnaan, kemurnian dan kekudusan.&lt;br /&gt;Umat:   Satu Bapa yang Kudus, Satu Putera Tunggal, Satu Roh Kudus. Terpujilah nama Tuhan Dialah Yang Satu di surga dan bumi. Kemuliaan bagi Allah selama-lamanya.&lt;br /&gt;Imam dan umat bersiap menerima Komuni. Semua merentangkan tangan dan berdoa:&lt;br /&gt;SEMUA:   Jadikanlah kami ya Tuhan Allah, untuk menguduskan tubuh kami dengan Tubuh Suci-Mu dan untuk memurnikan jiwa kami dengan Darah Pengampunan-Mu. Semoga Komuni kami menjadi pengampunan dosa kami dan mendatangkan hidup abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Komuni Imam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Umat menyanyikan salah satu madah ini:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Melalui Kebangkitan Kristus Imam: Melalui Kebangkitan Kristus sang Raja, dengan iman yang benar, marilah memohon pengampunan dosa bagi jiwa kita. Marilah kita semua mewartakan Putera yang menebus kita dengan salib-Nya: “Terpujilah Juruselamat: Kuduslah Engkau, Kuduslah Engkau, Kuduslah Engkau.” Semoga kenangan akan Bunda Kristus, Para Kudus, dan semua orang beriman yang telah wafat, dihormati di seluruh dunia. Alleluia!&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ATAU:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bala tentara surga berdiri bersama kita di tempat kudus. Dalam perarakan mereka membawa Tubuh dan Darah Putera Allah, yang disembelih untuk kita. Marilah kita menghampiri Dia dan menerima-Nya untuk pengampunan dosa dan kesalahan kita. Alleluia! Semoga orang tua kami, saudara dan saudari, dan guru-guru yang kami kenangkan di Altar-Mu, ya Tuhan. Dapat berdiri di sisi kanan-Mu pada hari penghakiman, ya Kristus sang Raja, Alleluia! Terpujilah Tuhan yang memberi Tubuh dan Darah-Nya yang menghidupkan agar kami menemukan pengampunan didalamnya. Pujilah dan tinggikanlah Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Kemuliaan bagi-Nya selama-lamanya. Alleluia!&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara umat bernyanyi imam menyantap Tubuh Tuhan dengan diam-diam berdoa:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam:   Tubuh Tuhan kita Yesus Kristus diberikan kepadaku untuk pengampunan dosa-dosaku dan untuk hidup kekal.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Imam meminum Darah Tuhan dengan diam-diam berdoa:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam:   Darah Tuhan kita Yesus Kristus diberikan kepadaku untuk pengampunan dosa-dosaku dan untuk hidup kekal.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Para konselebran menyambut Komuni, dengan makan dan minum sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Komuni Umat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sebelum Komuni dibagikan Imam mengangkat Patena dan semua bernyanyi:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tuhan kita berkata: “Akulah Roti hidup. Siapapun yang memakan Aku dengan iman memiliki hidup.”&lt;br /&gt;Imam:   Inilah Piala yang disiapkan Tuhan kita di salib. Datanglah kalian, yang fana, dan minumlah untuk pengampunan dosa.&lt;br /&gt;Umat:   Gereja mewartakan: “Datanglah, ya saudara dan saudari, ambilah Tubuh Putera, minumlah Darah-Nya dalam iman dan nyanyikanlah kemuliaan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Ayat berikut juga dapat dinyanyikan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gereja mewartakan: “Kudus, kudus, kuduslah Engkau Tuhan; terpujilah Dia yang memberikan Tubuh dan Darah-Nya untuk keselamatanku.” Alleluia! Alleluia! Kemuliaan bagi Kristus, karena Dia memberikan Tubuh dan Darah-Nya yang menghidupkan untuk keselamatan kita. Semoga persembahan ini menolong kita di hari penghakiman, saat kita berdiri di hadapan Tahta Allah yang mengagumkan. Alleluia! Alleluia! Kemuliaan bagi Kristus, karena dari Piala-Nya Bunda Gereja dan putera-puterinya minum, dan menyanyikan pujian bagi-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Imam membagikan Komuni kepada para Diakon, sub-Diakon (Putera Altar) dan umat dengan mengatakan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam:  Tubuh dan Darah Tuhan kita Yesus Kristus diberikan kepadamu untuk pengampunan dosa dan kehidupan kekal.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Selama Komuni dinyanyikan Roti kehidupan atau  Bapa Kebenaran atau madah dan mazmur yang cocok untuk Komuni. Juga dapat dinyanyikan madah tradisional Syria untuk mengenang orang yang telah meninggal:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhan yang berbelas kasih, terimalah persembahan ini dari para penyembah-Mu. Dalam kebaikan-Mu, berilah pengampunan bagi orang beriman yang sudah wafat. Pandanglah persembahan yang telah dipersembahkan dan jiwa yang telah ditebus. Berilah istirahat bagi jiwa yang untuknya Kurban ini dipersembahkan. Semoga persembahan ini, yang dipersembahkan oleh yang hidup untuk yang mati, memperoleh belas kasih bagi jiwa mereka dan pengampunan untuk kesalahan mereka. Semoga Tuhan, yang menghidupkan Lazarus dan anak si janda, merecikan belas kasih-Nya atas orang beriman yang telah meninggal. Ya Tuhan kami merayakan kenangan atas mereka yang untuknya Kurban ini kami persembahkan bersama Abraham, Ishak dan Yakub. Ya Raja Surgawi, terimalah persembahan hamba-Mu, dan rayakanlah kenangan mereka dalam Yerusalem surgawi-Mu. Di Yerusalem yang di atas, dan dalam Gereja di bumi juga, semoga mereka berada dalam kenangan terhormat pada Altar-Mu di surga. Ya Anak Domba Allah, ya Gembala yang mati untuk kawanan-Nya: dalam kebaikan-Mu, berilah istirahat kepada orang beriman yang telah meninggal. Jiwaku menantikan Tubuh-Mu, walaupun aku takut mendekat, karena aku gemetar karena dosa-dosaku. Dalam kebaikan-Mu Tuhan, berilah aku pengampunan. Semoga Tubuh dan Darah-Mu yang kami sambut menjadikan kami, pengantin-Mu, dan menjadikan kami dengan selamat melintas dari kegelapan kepada terang. Semoga makhluk surgawi bersukacita dan yang fana berharap, karena persembahan dari yang hidup untuk yang mati.&lt;br /&gt;Pemberkatan Dengan Misteri&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Sesudah Komuni Imam memberkati umat dengan Tubuh dan Darah Tuhan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam:  selalu memuliakan dan bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, karena Engkau memberikan kepada kami Tubuh-Mu untuk dimakan dan Darah-Mu untuk diminum. Ya Pencinta segalanya, kasihanilah kami.&lt;br /&gt;Umat:  Ya Pencinta segala, kasihanilah kami.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Ucapan Syukur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sementara imam membersihkan Patena dan Piala, umat duduk dan menyanyikan madah syukur misalnya: Ya Tuhan aku telah menyantap Tubuh-Mu, atau Mazmur 134. Dan sambil membersihkan Imam berdoa:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam:   Kami bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan Allah, dan kami mohon agar Komuni Ilahi ini menjadi pengampunan dosa, dan kemuliaan bagi nama-Mu yang kudus, dan bagi Putera-Mu yang Tunggal, dan bagi Roh Kudus-Mu, sekarang dan selama-lamanya.&lt;br /&gt;Umat:   Amin.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Berkat Dan Pengutusan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam:   Damai bersamamu.&lt;br /&gt;Umat:   Dan bersama rohmu.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Imam menumpangkan tangan kanannya atas umat dan menyanyikan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam:   Ya Tuhan Penyelamat kami, Engkau telah menjadi daging dan mengurbankan diri-Mu untuk kami Engkau telah menyelamatkan kami. Tebuslah kami sekarang dari hukuman abadi, jadikan kami Bait bagi nama-Mu yang kudus, karena kami adalah umat-Mu dan ahli waris-Mu. Bagi-Mu, Kristus, dan bagi Bapa-Mu, dan bagi Roh Kudus-Mu, kemuliaan, hormat, dan kuasa, sekarang dan selama-lamanya.&lt;br /&gt;Umat:   Amin.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Umat berdiri dan Imam melanjutkan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam:   Pergilah dalam damai, saudara-saudari terkasih, dengan ditemani oleh kekuatan dan rahmat yang kalian terima dari Altar pengampunan Tuhan. Semoga berkat dari Tritunggal Mahakudus tetap bersamamu: + Bapa dan + Putera dan Roh + Kudus, Allah yang Satu, bagi-Nya lah kemuliaan sekarang dan selama-lamanya.&lt;br /&gt;Umat:   Amin.&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Imam mencium Altar dan diam-diam berdoa:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam:   Tinggalah dalam damai, ya Altar Allah yang kudus, aku berharap dapat kembali kepadamu dengan damai. Semoga persembahan yang kuterima darimu mengampuni dosa-dosaku dan mempersiapkan aku berdiri tak bercela di hadapan Tahta Kristus. Aku tidak tahu apakah aku akan dapat kembali kepadamu lagi untuk mempersembahkan Kurban ini. Jagalah aku, ya Tuhan, dan lindungilah Gereja Kudus-Mu, semoga ia menjadi jalan keselamatan dan cahaya dunia. Amin.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Imam dan para pelayan meninggalkan panti imam dan tempat ibadat.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-4523911150557012551?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/4523911150557012551/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/tata-perayaan-ekaristi-ritus-maronite_14.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/4523911150557012551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/4523911150557012551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/tata-perayaan-ekaristi-ritus-maronite_14.html' title='Tata Perayaan Ekaristi Ritus Maronite: Qurbono (Part 4-Anafora dan Komuni)'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-5783300739448615087</id><published>2009-10-14T19:41:00.000+07:00</published><updated>2009-10-14T19:46:02.548+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Para Kudus'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Liturgi'/><title type='text'>15 Oktober: St. Theresia dari Avila, Pelindung Blog ini</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Berikut ini adalah teks dari bacaan pertama dan bacaan kedua Ibadat Bacaan pada Pesta St. Theresia Avila menurut buku Ibadat Harian Ordo ketiga OCD (walaupun saya bukan anggotanya, tetapi hanya merekalah yang menyediakan buku ibadat harian dan misa dalam bahasa inggris secara online dan gratisan walaupun di-protect)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pengetahuan Akan Kristus Melampaui Segala Sesuatu&lt;br /&gt;Dari Surat Santo Paulus Kepada Gereja Filipi (3:8-21)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menganggap segala sesuatu rugi karena pengenalanku akan Kristus Yesus Tuhanku, yang lebih mulia daripada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan. Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dengan penderitaan-Nya, di mana aku menajdi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengenjarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah ada di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu. Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu. Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan keapdamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara-perkara duniawi. Karena kewargaan kita adalah di dalam surga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Respons&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;V.  Hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus dalam Allah.&lt;br /&gt;R.  Saat Kristus yang adalah hidupmu menyatakan diri kelak, kamu pun akan &lt;br /&gt;        menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.&lt;br /&gt;V. Baik maut ataupun hidup, ataupun sesuatu makhluk lain tidak dapat memisahkan &lt;br /&gt;        kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus Tuhan kita.&lt;br /&gt;R.  Saat Kristus yang adalah hidupmu menyatakan diri kelak, kamu pun akan  &lt;br /&gt;        menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kami Selalu Mengingat Cinta Kristus&lt;br /&gt;Dari Autobiografi St. Teresa dari Avila ( Bab 22:6-7,14)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapapun yang hidup dalam hadirat sahabat yang begitu baik dan pemimpin yang sempurna, yang pergi mendahului kita untuk menjadi yang pertama menderita, akan dapat menanggung segalanya. Tuhan menolong kita, menguatkan kita, dan tidak pernah gagal; Ia adalah sahabat sejati. Dan aku melihat dengan jelas dan aku melihat kedepan, bahwa Allah mengehendaki bahwa jika kita hendak menyenangkan Dia dan menerima banyak rahmat-Nya, kita harus melakukannya melalui kemanusiaan Kristus yang teramat suci, yang didalam-Nya Bapa bersukacita. Banyak dan banyak kali aku menerima hal ini melalui pengalamanku. Tuhan telah mengatakannya kepadaku. Saya telah melihat dengan pasti bahwa kita harus memasuki gerbang ini jika kita ingin agar Kemuliaan-Nya yang Kuasa menunjukkan kepada kita rahasia-rahasia besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Yang Terhormat dan Yang Mulia harus tidak menginginkan jalan lain, bahkan jika kalian berada di puncak kontemplasi; di jalan ini kalian berjalan dengan aman. Tuhan kita ini adalah satu-satunya yang melaluinya semua berkat datang kepada kita. Dia akan mengajar kita hal-hal ini. Dalam menanggung hidup ini, kita menemukan Ia adalah teladan terbaik. Apakah yang lebih kita inginkan selain memiliki seorang sahabat yang baik di sisi kita, yang tidak akan meninggalkan kita dalam pekerjaan dan kesulitan, sebagaimana sahabat-sahabat duniawi melakukannya? Terberkatilah ia yang sungguh mencintai-Nya dan selalu membawa-Nya di sisinya! Marilah kita mengingat Santo Paulus: kelihatannya tidak ada nama lain yang meluncur dari bibirnya selain nama Yesus, seperti seorang yang selalu membawa Tuhan dekat dengan hatinya. Sekali saya memahami kebenaran ini, saya dengan hati-hati menimbang kehidupan para kudus, para kontemplatif besar, dan menemukan bahwa mereka tidak mengambil jalan lain: Santo Fransiskus dengan stigmata, Santo Antonius dari Padua dengan Kanak-kanak Yesus; Santo Bernards menemukan sukacitanya dalam Kemanusiaan Kristus; Santa Catharina dari Siena- dan banyak lagi yang tentunya Yang Terhormat lebih tahu daripada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Doa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Allah yang bersemayam di istana mulia, atas dorongan Roh Kudus santa Teresia telah menunjukkan kepada umat-Mu jalan menuju kesempurnaan. Semoga budi kami selalu dibimbing oleh ajarannya yang luhur, dan hati kami dikobarkan oleh keinginan akan kesucian sejati. Demi Yesus Kristus, Putera-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Santa Theresia dari Avila, doakanlah kami!&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-5783300739448615087?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/5783300739448615087/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/15-oktober-st-theresia-dari-avila.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/5783300739448615087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/5783300739448615087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/15-oktober-st-theresia-dari-avila.html' title='15 Oktober: St. Theresia dari Avila, Pelindung Blog ini'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-6770814250251375608</id><published>2009-10-14T19:35:00.000+07:00</published><updated>2009-10-14T19:41:16.018+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Spiritualitas'/><title type='text'>Karismatik dan Kontemplatif: Apa Kata Yohanes Salib?</title><content type='html'>Oleh Ralph Martin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi asli dapat dibaca di &lt;a href="http://renewalministries.net/pdfs/Char_Cont..pdf"&gt;sini (klik)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontak pertamaku dengan Yohanes Salib terjadi sesaat setelah tahun terakhir saya di Notre Dame. Mengikuti gerakan Cursillo beberapa bulan sebelum kelulusan membawa dampak besar dalam hidupku. Dari mengalami berbagai kebingungan sampai karena rahmat Allah dibawa kepada perjumpaan yang mendalam dengan realitas Tuhan yang bangkit, dan dicurahi keinginan yang begitu kuat untuk menjadi satu dengan-Nya dan melayani Dia. Saya sebenarnya berpikir bahwa saya diperkenalkan kepada dimensi iman yang karismatik dan kontemplatif walaupun saat itu saya tidak memiliki suatu istilah atau konsep untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu bahwa Yohanes Salib adalah tokoh yang sungguh “dalam” dan saya memutuskan bahwa saya harus membaca karya-karyanya. Saya mulai dengan “Mendaki Gunung Karmel” dan membaca sekitar 100 halaman sebelum memutuskan bahwa karya itu terlalu “gelap” dan negatif, jadi saya meletakkannya dan berhenti membacanya tanpa selesai. Kemudian saya melanjutkan sekolah dengan belajar filsafat di Princeton dan Tuhan menyediakan sarana lain untuk membantu pertumbuhan rohani saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun pertama di sekolah itu saya diminta oleh seorang Uskup untuk membantu pendirian kantor nasional pertama bagi gerakan Cursillo di Lansing, Michigan. Saat itu gerakan pembaruan karismatik dalam Gereja Katolik muncul dan saya segera terlibat dengannya, membantu mendirikan penerbitannya yang pertama, kantor internasionalnya yang pertama, struktur kepemimpinannya dan komunitas-komunitas awalnya. Selama empat tahun saya dan istri saya tinggal di Belgia sebagai sebuah keluarga muda yang membantu Kardinal Suenens memenuhi perintah dari Paus Paulus VI dan kemudian dari Yohanes Paulus II untuk membantu gerakan karismatik berkembang dengan benar dalam Gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir tahun 1989 dan awal 1990-an banyak komunitas Katolik karismatik mengalami pemurnian dan pembaruan yang sulit tetapi sungguh perlu. Pada waktu ini saya memutuskan untuk mengambil gelar teologi lanjutan dalam bidang Eklesiologi di Seminari Hati Kudus di Keuskupan Agung Detroit karena banyak masalah yang muncul dalam komunitas-komunitas ini berkaitan dengan eklesiologi. Dekan di fakultas itu kemudian mendorong saya untuk mengambil gelar master teologi dan memberi saya banyak kredit dari tulisan-tulisan yang telah saya kerjakan sebagai suatu insentif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu mempelajari Sejarah Spiritualitas saya berjumpa lagi dengan Yohanes Salib. Tugas bacaan dalam pelajaran itu adalah “Madah Rohani”. Saya ingat bagaimana saya duduk di bandara Zurich, Switzerland menunggu penerbangan pulang ke US (sekolah teologi saya bersifat paruh waktu dan saya terus menerus bepergian untuk pelayanan) dan melakukan tugas bacaan saya. Saat saya membaca “Madah Rohani” rasanya seperti dibanjiri dengan iluminasi (penerangan). Segala hal yang telah saya alami, harapkan, inginkan, dan berani saya impikan, baik dalam hidup duniawi dan rohani saya, diungkapkan dalam tulisan Yohanes Salib dengan kejelasan dan kedalaman yang secara harfiah membuat saya sulit bernafas. Saya tidak bisa membuka mata saya; saya sulit berbicara, cahaya yang membanjiri keberadaan saya terlalu kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman ini membuat saya memiliki keinginan besar untuk membaca semua karya Yohanes Salib, semua karya Theresia dari Avila, semua karya dari Theresia dari Liseaux dan untuk memahami apa yang mereka terima dari Allah untuk diajarkan. Begitu kerinduan ini muncul mereka menjadi pembimbing hidup rohani saya yang paling penting. Dan kemudian, tanpa diduga-duga, saya menerima telefon dari Universitas Fransiskan di Steubenville yang menanyakan apakah saya mau mengajar kursus musim panas lanjutan dalam bidang penginjilan dalam program MA musim panas. Saya mengatakan bahwa saya tertarik tetapi saya lebih berminat untuk mengajarkan tentang Yohanes Salib dan Theresia dari Avila. Mereka mengatakan ya dan dimulailah suatu fase yang sungguh tidak terduga dalam hidup saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil melanjutkan pelayanan saya dengan Renewal Ministries dimana saya adalah pemimpinnya (sebuah organisasi yang didedikasikan bagi pembaruan Katolik dan penginjilan, yang terlibat terutama dalam pelayanan media dan karya misi di lebih dari 20 negara; &lt;a href="http://www.renewalministries.net"&gt;www.renewalministries.net&lt;/a&gt;) saya mulai mengajar dalam bidang teologi spiritual dengan cara yang regular. Selama 4 tahun terakhir di Universitas Fransiskan untuk program musim panas mereka, kemudian dalam kursus Spiritualitas Katolik yang disyaratkan untuk gelar teologi di Ave Maria College di sini di Michigan, dan untuk beberapa tahun terakhir mengajar Pengantar Spiritualitas untuk kursus bagi para seminaris setingkat college dan pelayan pastoral awam di Seminari Hati Kudus di Detroit, dan baru-baru ini mengajar kursus tingkat lanjutan di seminari dalam bidang Penginjilan dan Spiritualitas. Sejumlah tokoh Karmelit menonjol dalam beberapa kursus ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa-masa ini saya tetap melanjutkan aktifitas saya berbicara di banyak acara yang berorientasi keapda pembaruan karismatik di berbagai tempat di dunia, tetapi juga dalam acara-acara lain, termasuk retret-retret dan konferensi-konferensi Karmelit. Saya secara rutin bertemu seseorang yang mengatakan kepada saya begini: “Dulu saya karismatik tetapi sekarang saya kontemplatif.” Atau, dari sudut lain, “Saya lebih menyukai doa kontemplatif yang tenang dan tidak akan pernah menjadi karismatik.” Atau: “Bagaimana Anda dapat mendorong pelaksanaan (ungkapan) karunia-karunia karismatik? Tidakkah Anda sadari apa yang Yohanes Salib katakan tentang pengalaman-pengalaman rohani semacam ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya ada kesan umum bahwa karismatik dan kontemplatif itu bertentangan satu sama lain, dan bukannya saling melengkapi, dan bahwa Yohanes Salib mengecam penggunaan karunia-karunia karismatik. Saya ingin menyampaikan beberapa refleksi tentang masalah ini yang harapannya bisa menjadi pertimbangan ulang dari asumsi-asumsi semacam ini, yang saya percaya, bahwa asumsi semacam itu salah, dan tidak benar-benar menggambarkan posisi Yohanes Salib yang sebenarnya atau kebeanran sebagaimana disampaikan oleh Kitab Suci dan Kuasa Mengajar Gereja. Ada banyak masalah yang harus dibahas, tetapi marilah kita fokus kepada salah satunya saja dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Yohanes Salib Mengecam Penggunaan Karunia Karismatik?&lt;br /&gt;Dengan membaca Yohanes Salib, kita tahu bahwa perhatian utamanya adalah menunjukkan bagaimana segala yang lain daripada Allah sendiri dapat menjadi suatu kesulitan-suatu halangan, yang memperlambat, atau mengalihkan kita dari kemajuan kea rah tujuan akhir persatuan seperti dalam Beatific Vision (Pandangan Terberkati, atau dalam sejumlah bentuk komunikasi spiritual yang juga merupakan partisipasi aktual dari persatuan semacam itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kontribusi Yohanes Salib yang paling penting adalah pandangannya yang seperti laser yang menunjukkan kepada kita bahwa pengalaman yang paling rohani sekalipun dapat berfungsi sebagai halangan untuk bersatu dengan Allah jika kita mencarinya atau terikat dengannya. Yohanes mengakui bahwa Allah memberikan pengalaman-pengalaman ini karena berbagai macam alasan, termasuk kelemahan manusiawi kita, tetapi ia mendorong kita agar tidak terikat dengannya, tetapi untuk membiarkan rahmat dari pengalaman itu memperdalam iman, harapan, dan kasih dalam hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penting sekali untuk memperhatikan pembedaan kritis antara pengalaman rohani dimana kita adalah penerimanya atau pengalaman yang diberikan untuk pertumbuhan rohani kita (penghiburan dalam doa, sukacita rohani, berbagai macam visiun/pengelihatan, lokusi, rapture/levitasi, dll) dan pengalaman rohani, dimana kita menjadi penyalur darinya, untuk pertumbuhan Gereja atau karya evangelisasi (sabda pengetahuan atau kebijaksanaan bagi orang lain, karunia penyembuhan, mukjizat, kata-kata nubuat, bahasa roh dan penafsirannya, karunia kemurahan hati, karunia memerintah, karunia pengajaran dan berkhotbah, karunia “membantu” dst). Sementara memang ada suatu wilayah dimana dua jenis pengalaman rohani menjadi tumpang tindih pembedaan diantara keduanya tetaplah penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman rohani jenis kedua ini disebut sebagai “karisma” atau anugerah dalam Perjanjian Baru. Perjanjian Baru tidak mencoba untuk membuat daftar lengkap dari karisma semacam itu atau karya-karya Roh Kudus  bagi kepentingan yang lain, tetapi menyediakan beberapa daftar untuk menunjukkan kekayaan dan keragaman karya Roh Kudus bagi orang Kristen untuk kepentingan sesama. Beberapa daftar utama- dan pengajaran alkitabiah tentang karisma- dapat ditemukan di 1 Korintus 12-14 dan Roma 12:1-8.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yohanes Salib tidak berniat untuk menulis suatu teologi positif yang menyeluruh dan seimbang mengenai karya karismatik Roh Kudus untuk kepentingan sesama Yohanes Salib membahas mereka dalam bukunya “Mendaki Gunung Karmel” III bab 30-32. Dalam buku ini Yohanes Salib membahas tentang bagaiman kehendak menjadi tertarik dengan karunia-karunia yang asli (sungguh berasal dari Allah) namun dalam suatu cara yang menghalangi kemajuan untuk bersatu dengan Allah. Dalam bab-bab ini ia embahas realitas anugerah-anugerah rohani dan bagaimana kehendak bisa tertarik dengannya, lima dari enam kelompok anugerah dibahasnya. Jadi walaupun tulisannya secara khusus membahas kemungkinan bahaya yang timbul dari karunia karismatik namun ia meyakini realitasnya dan juga kegunaanya (mengikuti terminology Thomistik ia menyebut mereka gratiae gratis datae/rahmat yang diberikan dengan percuma, dalam arti tidak menguduskan dan tidak mensyaratkan kekudusan) dan secara spesifik mengutip karunia karismatik dari 1 Kor 12:9-10 sebagai bentuk karya Roh Kudus yang hendak dibahasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Contoh dari karunia-karunia ini adalah karunia kebijaksanaan dan pengetahuan yang diberikan Allah kepada Salomo (1 Raj13:7-12) dan rahmat yang diurutkan oleh Santo Paulus: iman, karunia penyembuhan, melakukan mukjizat, nubuat, pengetahuan dan pembedaan roh, penafsiran kata-kata, dan juga bahasa roh (1 Kor 12:9-10).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yohanes Salib mengakui pengajaran alkitabah tentang karunia-karunia ini. “Pengunaan karunia-karunia ini secara langsung berkaitan demi kebaikan sesama, dan Allah mencurahkan mereka untuk tujuan itu, seperti dikatakan oleh St. Paulus: “roh dikaruniakan untuk kepentingan sesama(1Kor 12:7). Pernyataan ini dimengerti dalam acuan kepada karunia-karunia ini.” (Mendaki Gunung Karmel, III, 30, 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia membahas dua macam manfaat yang diberikan Allah melalui penganugerahan karunia-karunia ini.&lt;br /&gt;“Manfaat sementara termasuk penyembuhan bagi yang sakit, memulihkan pengelihatan bagi yang buta, membangkitkan yang mati, pengusiran setan, menubuatkan masa depan agar orang dapat berhati-hati, dan hal-hal lain serupa itu.&lt;br /&gt;Manfaat kekal dan spiritual termasuk pengetahuan dan cinta akan Allah yang disebabkan oleh karya-karya ini baik dalam diri mereka yang menjalankannya atau dalam diri mereka yang baginya karunia ini dijalankan, atau bagi yang menyaksikan karunia ini dijalankan.” (Mendaki Gunung Karmel, III, 30,3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan orang yang menggunakan karunia-karunia semacam itu, Yohanes Salib menasehati mereka untuk jangan bersukacita karena mereka memiliki dan menggunakan karunia semacam itu, tetapi hendaknya bersukacita hanya karena mereka melakukan kehendak Allah dengan didorong oleh kasih sejati. Dia mengutip peringatan Alkitab yang penting dan umum; 1 Kor 13:1-2 dengan peringatannya untuk tetap mengutakan kasih atas semua hal ini, dan Luk 10:20 bersamaan dengan nasehat Yesus agar  bersukacita karena hal-hal yang penting, bukan hanya karena setan-setan tunduk kepada kita dalam karya penginjilan tetapi karena “namamu tertulis di kitab kehidupan.” (Mendaki Gunung Karmel, III, 30, 4-5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan orang yang memperoleh manfaat dari pelaksanaan karunia-karunia ini, Yohanes Salib menekankan bahwa walaupun baik tubuh kita ini disembuhkan, setan diusir dan keaslian nubuat mengilhami dan memperingatkan orang, sukacita karena pemberian sementara ini janganlah terlalu besar (“manfaat sementara dari karya supranatural dan mukjizat hanya sedikit atau bahkan tidak mendatangkan sukacita bagi jiwa”), kecuali jiwa yang mengalami manfaat ini, berbalik kepada Allah dan menjadi dipersatukan atau dipersatukan lebih dalam dengan-Nya. Sebagaimana dinyatakan Yesus, ada sukacita besar di surga jika ada satu orang bertobat. Ungkapan sukacita yang lebih penuh sepatutnya dikhususkan bagi apa yang memiliki nilai abadi seperti pertobatan sejati dan berbalik kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yohanes Salib secara cerdas menunjuk bahasa bagi jiwa yang menggunakan karunia-karunia ini dengan sukacita yang berlebihan semata karena manfaat sementara dari pemberian-pemberian ini. Dia menujuk bahwa ketertarikan yang berlebihan atau sukacita karena memiliki karunia-karunia ini dapat dengan sangat mudah menuntun orang kepada penggunaannya yang tidak pantas dan bahkan tidak otentik. Yohanes Salib mengatakan: “Orang, yang bersukacita karena karunia-karunia ini, tidak hanya menginginkan untuk mempercayainya lebih lagi, tetapi merasa berbeban untuk menggunakannya diluar waktu yang tepat.” (Mendaki Gunung Karmel, III, 31,2) Yohanes Salib menekankan bahwa hal semacam ini dapat membuat orang untuk menjadikan hal itu dibuat-buat, karena mereka begitu terikat dengan penampilan lahiriah memiliki karunia-karunia tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu bahkan dapat membuka bahaya bagi pemalsuan karunia oleh setan dalam penggunaan karunia-karunia. “Saat iblis mengenali keterikatan mereka terhadap keajaiban-keajaiban ini, iblis membuka lahan yang luas, menyediakan bahan-bahan untuk usaha, dan iblis pun campur tangan secara luas.” (Mendaki Gunung Karmel, III, 31, 4) Ketertarikan yang berlebihan ini bahkan dapat menuntun orang kepada kerjasama yang eksplisit dengan setan dan mengubah seseorang menjadi penyihir atau dukun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat buruk lain dari penggunaan karunia terpisah dari cinta kasih dan ketaatan kepada kehendak Allah dan dorongan Roh Kudus adalah mendatangkan nama jelek bagi sesuatu yang sungguh supranatural. Pelaksanaan karunia yang gagal, karena terpisah dari kehendak Allah, menuntun kepada munculnya ketidakpercayaan dan kurangnya rasa hormat akan hal-hal yang dari Allah dalam hati mereka yang melihatnya. Iman dilemahkan dengan berbagai cara dalam hati mereka yang secara berlebihan terikat dengan karunia-karunia ini dan dalam hati mereka yang menyaksikan pelaksanaan karunia yang tidak otentik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yohanes salib juga menyebutkan godaan besar kepada kekosongan atau kemuliaan kosong dalam penggunaan secara tidak dewasa dari karunia-karunia ini, hal itu akan menghasilkan dalam diri mereka yang menjalankan karunia-karunia ini suatu motif selain daripada kemuliaan Allah dan kebaikan jiwa-jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan secara cerdas menunjukkan bahaya-bahaya penggunaan karunia-karunia karismatik- yang adalah tujuan utama pengajarannya- Yohanes Salib juga, secara tanpa sengaja, memberi banyak instruksi positif mengenai bagaimana karunia karismatik ini digunakan. Yohanes menunjukkan pentingnya penggunaan karunia-karunia ini dalam suatu cara yang tepat menurut “waktu dan caranya”.&lt;br /&gt;“Benar bahwa saat Allah memberikan karunia-karunia dan rahmat-rahmat ini, Ia memberikan suatu cahaya bagi mereka dan suatu dorongan sesuai waktu dan cara pelaksanaannya.” (Mendaki Gunung Karmel, III, 31,2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yohanes juga menunjuk agar karunia-karunia dapat bekerja secara cocok dibutuhkan suatu penyangkalan akan ide-ide dan keinginan kita mengenai bagaimana hal itu harus bekerja dan kepercayaan mendalam akan Allah, serta ketaatan sejati kepada gerakan Roh-Nya.&lt;br /&gt;“Jadi mereka yang memiliki karunia-karunia supranatural ini harus tidak menginginkan atau bersukacita dalam penggunaanya, juga mereka harus tidak perhatian akan cara pelaksanaanya. Karena Allah, yang memberikan rahmat secara supranatural untuk kebaikan Gereja atau anggota-anggotanya, juga akan memberikan secara supranatural, cara dan waktu dimana karunia-karunia ini harus digunakan. Karena Tuhan memerintahkan para murid-Nya untuk jangan khawatir mengenai apa dan bagaimana harus berbicara, karena urusan ini adalah masalah iman yang supranatural, dan karena karya-karya ini juga termasuk urusan supranatural maka Ia juga mau agar orang-orang yang diberi karunia ini menunggu sampai Dia sendiri menjadi pekerjanya dengan menggerakan hati mereka (Mat 10:19; Mrk 13:11). Karena melalui kuasa Allah-lah setiap kuasa lain harus dijalankan. Dalam Kisah Para Rasul para murid memohon kepada-Nya dalam doa untuk mengulurkan tangan-Nya bagi pelaksanaan mukjizat dan penyembuhan melalui mereka, agar iman akan Tuhan kita Yesus Kristus akan diperkenalkan ke dalam hati [mereka yang menerima mukjizat dan penyembuhan] (Kis4: 29-30).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam semua uraiannya Yohanes Salib tidak digerakkan oleh keinginan untuk “memadamkan” karunia-karunia karismatik Roh Kudus tetapi untuk menjamin penggunaannya yang otentik, agar karunia-karunia ini sungguh mencapai tujuannya, baik di dalam diri yang menggunakan, dan dalam diri yang menerima manfaat dari penggunaannya, dan dalam diri semua orang yang Allah kehendaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban apa yang sekarang dapat kita berikan kepada pertanyaan awal kita? Apakah Yohanes Salib mengecam penggunaan karunia-karunia karismatik? Tidak, ia tidak mengecamnya. Sebaliknya, ia memberi banyak saran yang berguna agar karunia-karunia ini dapat digunakan secara efektif untuk memenuhi tujuan Allah memberikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas bahwa pengajaran Yohanes Salib tentang pengalaman rohani dalam bagian-bagian lain tulisan-tulisannya dan lebih lagi secara khusus pengajarannya tentang karunia-karunia karismatik dalam bagian Mendaki Gunung Karmel yang telah kita bahas dalam artikel ini, akan sangat bermanfaat bagi mereka yang terlibat dalam gerakan pembaruan karismatik. saya telah melakukan yang terbaik dari diri saya selama beberapa tahun terakhir untuk memperkenalkan kebijaksanaan Karmelit kepada gerakan pembaruan karismatik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain tidakkah dikotomi (pemisahan) yang dianut di sejumlah lingkungan Karmelit antara dimensi kontemplatif dan karismatik karya Roh Kudus perlu ditinjau kembali? Dan hal ini, secara khusus dalam terang- bukan hanya ajaran Yohanes Salib sendiri yang telah kita bahas- tetapi juga dari dia yang oleh banyak orang secara tepat disebut sebagai Paus “Karmelit” yaitu Yohanes Paulus II yang secara tekun memanggil keterbukaan seluruh Gereja terhadap karya karismatik Roh Kudus (sebagaimana juga kepada kedalaman doa kontemplatif!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Pesta Pentakosta tahun 1998, Paus meminta kepada perwakilan dari semua gerakan pembaruan dalam Gereja untuk bergabung dengannya merayakan pesta ini. Lebih dari 500 ribu orang dari berbagai gerakan datang. Apa yang Paus lakukan adalah untuk mengumpulkan bersama pengajaran Kitab Suci dan Vatikan II tentang karunia Roh Kudus dan menyatakan kepada mereka dengan mendesak dan penuh hasrat. Ia memulainya dengan:&lt;br /&gt;“Kesadaran diri Gereja didasarkan pada kepastian bahwa Yesus Kristus hidup, ia bekerja saat ini dan mengubah hidup…Dengan Konsili Vatikan II, Sang Penghibur baru-baru ini memberikan kepada Gereja… suatu Pentakosta yang diperbarui, Ia mengilhami suatu dinamisme yang tidak dapat diramalkan.&lt;br /&gt;Kapanpun Roh Kudus campur tangan, Ia membuat orang-orang terpesona. Ia membawa peristiwa yang kebaruannya mengagumkan; Ia mengubah orang dan sejarah secara radikal. Ini adalah pengalaman tak terlupakan dalam Konsili Oikumene Vatikan II yang didalmnya, dibawah bimbingan Roh yang sama, Gereja menemukan kembali dimensi karismatiknya sebagai salah satu unsur dasarnya: “Tidak hanya melalui sakramen-sakramen dan pelayanan Gereja Roh Kudus menguduskan umat, memimpin mereka dan memperkaya mereka dengan anugerah-anugerah. Dalam membagikan rahmat-Nya menurut kehendak-Nya (cf. 1Kor 12:11), Dia juga membagikan rahmat istimewa kepada umat beriman dari segala tingkatan… Ia menjadikan mereka mampu dan siap untuk menjalankan berbagai tugas dan jabatan bagi pembaruan dan pembangunan Gereja” (Lumen Gentium 12).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata-kata ini Paus Yohanes Paulus II secara jujur mengakui apa yang telah ditunjukkan oleh banyak teolog, pakar Kitab Suci, dan sejarawan Gereja dalam penelitian-penelitian mereka, yaitu bahwa karya karismatik Roh Kudus adalah esensial dan melengkapi realitas sakramental dan dimensi hierarkis keberadaan Gereja. Paus juga secara jujur mengakui bahwa dimensi karismatik yang penting ini dengan suatu cara pernah terlupakan, tertutup oleh penekanan yang terlalu ekslusif akan dimensi sakramental dan hierarkis, dan diperlukan suatu tindakan khusus Roh Kudus dalam Konsili Vatikan II untuk membawa Gereja kembali sadar akan pentingnya dimensi yang “mendasar” ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pidatonya ini Paus melanjutkan dengan menyatakan secara eksplisit: “Aspek institusional dan karismatik adalah sama mendasarnya bagi pembentukan Gereja. Keduanya berkontribusi, walaupun secara berbeda, bagi hidup, pembaruan dan pengudusan umat Allah. Dari penyelenggaraan ilahi inilah penemuan kembali dimensi karismatik Gereja baik sebelum dan sesudah Konsili, meninggalkan suatu pola pertumbuhan yang dapat dikenali dan telah menghasilkan terbentuknya gerakan-gerakan gerejani dan komunitas-komunitas baru… Kalian yang hadir disini, adalah bukti yang terlihat dari ‘pencurahan’ Roh Kudus ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paus kemudian membuat permohonan luar biasa ini kepada semua orang Kristen dengan susah payah berdiri dari tahtanya, sambil berkata: “Hari ini, saya ingin berseru kepada kalian semua yang berkumpul di sini, di Lapangan Santo Petrus dan kepada semua orang Kristen: Bukalah dirimu dengan sikap ketaatan kepada karunia-karunia Roh Kudus! Terimalah dengan penuh syukur dan ketaatan karisma yang tanpa henti diberikan oleh Roh kepada kita! (L’Observatore Romano, English Language Edition, June 3, 1998; This is the day the Lord has made! Holy Father holds historic meeting with ecclesial movements and new communities; pp. 1-2.)  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menarik manfaat dari kebijaksanaan Yohanes Salib tentang bagaimana karunia-karunia ini dapat bekerja secara murni dan otentik, semoga kita juga menanggapi panggilan dari Paus dan Roh Kudus untuk membuka diri kepada karunia-karunia ini, bukan untuk kepentingan diri kita sendiri tetapi untuk kepentingan Gereja dan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ralph Martin&lt;br /&gt;Presiden, Renewal Ministries&lt;br /&gt;Pengajar Teologi&lt;br /&gt;Seminari Tinggi Hati Kudus&lt;br /&gt;&lt;a href="rcpmartin@earthlink.net"&gt;rcpmartin@earthlink.net&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-6770814250251375608?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/6770814250251375608/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/karismatik-dan-kontemplatif-apa-kata.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/6770814250251375608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/6770814250251375608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/karismatik-dan-kontemplatif-apa-kata.html' title='Karismatik dan Kontemplatif: Apa Kata Yohanes Salib?'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-7737207550214041230</id><published>2009-10-14T10:58:00.000+07:00</published><updated>2009-10-14T11:07:59.836+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Spiritualitas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kitab Suci'/><title type='text'>Bagaimana Membaca Kitab Suci</title><content type='html'>Oleh Uskup Agung Ortodoks Kalistos Ware&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dalam artikel ini Uskup Agung Kalistos Ware dari Gereja Ortodoks menguraikan bagaimana hendaknya kita membaca Kitab Suci. Uraiannya juga berlaku bagi orang Katolik dan mencerminkan prinsip-prinsip yang juga dianut oleh Gereja Katolik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks bahasa inggris dapat dibaca di:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://orthodoxeurope.org/page/11/1/4.aspx"&gt;Bishop Kallistos Ware: How To Read The Bible&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita percaya bahwa Kitab Suci adalah seluruhnya selaras. Dalam Kitab Suci pada yang sama diwahyukan secara ilahi dan diungkapkan secara manusiawi. Kitab Suci membawa kesaksian otoritatif akan pewahyuan diri Allah- dalam penciptaan, dalam Penjelmaan Sabda menjadi daging, dan dalam seluruh sejarah keselamatan. Dan dengan demikian Kitab Suci mengungkapkan Sabda Allah dalam bahasa manusia. Kita mengetahui, meenrima dan menafsirkan Kitab Suci melalui Gereja dan dalam Gereja. Pendekatan kita terhadap Kitab Suci pertama-tama adalah ketaatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita dapat membedakan empat kunci yang menandai pembacaan Ortodoks akan Kitab Suci yaitu:&lt;br /&gt;-Pembacaan kita harus ditandai dengan ketaatan&lt;br /&gt;-Pembacaan kita harus bersifat Gerejani, yaitu bersama dan dalam Gereja&lt;br /&gt;-Pembacaan kita harus berpusat pada Kristus, dan;&lt;br /&gt;-Pembacaan kita harus bersifat pribadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Membaca Kitab Suci Dengan Ketaatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama, saat membaca Kitab Suci, hendaknya kita mendengarnya dengan semangat ketaatan. Gereja Ortodoks percaya akan inspirasi ilahi Kitab Suci. Kitab Suci adalah “surat” dari Allah, dimana Kristus sendiri berbicara. Kitab-kitab Suci adalah kesaksian berwibawa dari Allah tentang diri-Nya sendiri. Kitab-Kitab Suci mengungkapkan Firman Allah dalam bahasa manusia. Karena Allah sendiri berbicara kepada kita dalam Kitab Suci, maka tanggapan kita yang sepatutnya adalah kepatuhan, penerimaan, dan mendengarkan. Saat kita membaca, kita menantikan Roh Kudus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, sementara diinspirasikan secara ilahi, Kitab Suci juga diungkapkan secara manusiawi. Kitab Suci adalah sebuah perpustakaan dengan buku-buku berbeda yang ditulis oleh pengarang yang berbeda pada masa yang berbeda. Setiap buku Kitab Suci mereleksikan cara pandang pada masa ia ditulis dan sudut pandang yang khas pengarang. Allah tidak melakukan apapun sendirian, sebaliknya rahmat ilahi bekerja sama dengan kebebasan manusia. Allah tidak menghapuskan individualitas kita tetapi memperkayanya. Dan itulah yang terjadi dalam penulisan Kitab Suci. Pengarang bukan sekedar alat yang pasif, bukan sebuah mesin dikte yang merekam pesan-pesan. Setiap pengarang Kitab Suci menyumbangkan bakat pribadinya yang khas. Bersamaan dengan sisi ilahi, juga ada unsur manusiawi dalam Kitab Suci. Kita menghargai keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing dari empat buku Injil, misalnya, memiliki pendekatannya sendiri-sendiri. Matius menampilkan suatu pendekatan yang lebih khas Yahudi terhadap Kristus, dengan penekanan akan kerajaan surga. markus memuat gambaran yang spesifik dan hidup akan pelayanan Kristus yang tidak muncul di tempat lain. Lukas mengungkapkan universalitas cinta Kristus, belas kasihan-Nya yang menjangkau semua baik kepada orang Yahudi ataupun kepada bangsa-bangsa lain. Dalam Injil Yohanes kita menemukan suatu pendekatan yang batin dan mistik terhadap Kristus, dengan penekanan akan cahaya ilahi dan diamnya keilahian dalam diri Kristus. Kita menikmati dan mendalami sampai kepada kepenuhan variasi yang memberi hidup ini di dalam Kitab Suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui cara ini Kitab Suci adalah ungkapan Firman Allah dalam bahasa manusia, maka juga tersedia ruang untuk suatu penelitian yang jujur dan sulit saat mendalami Kitab Suci. Mendalami sisi manusiawi dari Kitab Suci, kita menggunakan secara penuh akal budi yang diberikan Allah kepada manusia. Gereja Ortodoks tidak menolak penelitian akademis tentang asal mula, waktu, dan kepengarangan buku-buku Kitab Suci.&lt;br /&gt;Bersamaan dengan unsur manusiawi ini, bagaimanapun kita selalu melihat unsur ilahi. Kitab Suci bukan sekedar buku yang ditulis oleh individu-individu pengarangnya. Dalam Kitab Suci kita tidak hanya mendengar kata-kata manusia, yang ditandai dengan kemampuan dan kepekaan yang lebih atau kurang, tetapi juga kita mendengar Sabda Allah sendiri yang abadi dan tidak diciptakan yaitu Sabda keselamatan ilahi. Ketika kita membaca Kitab Suci, maka kita tidak membaca semata-mata karena rasa ingin tahu untuk memperoleh keselamatan. Kita datang kepada Kitab Suci dengan suatu pertanyan yang sangat pribadi: “Bagaimana saya dapat diselamatkan?’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai Sabda keselamatan ilahi dalam bahasa manusia, Kitab Suci harus membangkitkan dalam diri kita suatu rasa takjub. Pernahkan kamu merasakan, selama kamu membaca atau mendengarkan, bahwa ini semua telah menjadi terlalu biasa? Apakah pembacaan Kitab Suci menjadi berkembang atau malahan membosankan? Maka kita perlu terus menerus membersihkan gerbang persepsi kita dan melihatnya dalam kekaguman dengan cara pandang baru akan apa yang Tuhan tempatkan di hadapan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita hendaknya menghampiri Kitab Suci dengan rasa kagum, dengan penuh harapan akan suatu kejutan. Ada begitu banyak ruang dalam Kitab Suci yang belum kita masuki. Ada begitu banyak kedalaman dan kemuliaan yang dapat kita temukan. Jika ketaatan berarti kekaguman, maka hal itu juga berarti mendengarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita umumnya lebih baik dalam berbicara daripada mendengarkan. Kita kerap mendengar suara kita sendiri, tetapi seringkali tidak mau berhenti mendengarkan suara orang lain yang berbicara kepada kita. Jadi persyaratan pertama dalam membaca Kitab Suci adalah berhenti berbicara dan mulai mendengarkan- mendengarkan dengan ketaatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kita memasuki sebuah Gereja Ortodoks (hal yang sama berlaku untuk Gereja Katolik Byzantine) yang ditata secara tradisional, dan memandang ke panti imam (sanctuary) yang terletak di ujung timur, kita melihat, di dalam apsis (panti imam), sebuah ikon Perawan Maria mengangkat tangan ke surga- sebuah sikap doa ala Kitab Suci yang masih digunakan banyak orang sanat ini. Ikon ini melambangkan sikap yang harus kita miliki saat kita membaca Kitab Suci- suatu sikap penerimaan, dari tangan yang secara tidak terlihat diarahkan ke surga. Dalam membaca Kitab Suci, kita menata diri kita menurut model Santa Perawan Maria, karena dialah yang paling unggul dalam hal mendengarkan. Saat mendengarkan pewartaan dari malaikat Gabriel ia mendengarkan dengan ketaatan dan menanggapi warta malaikat “Jadilah kepadaku menurut perkataanmu”(Luk1:38). Ia tidak dapat mengandung Sabda Allah dalam tubuhnya, jika ia tidak terlebih dahulu mendengarkan Sabda Allah dalam hatinya. Setelah para gembala menyembah Kristus yang baru lahir, dikatakan tentang dia: “Maria menyimpan segala perkara ini dan merenungkannya dalam hatinya” (Luk2:19). Lagi, saat Maria menemukan Yesus di Bait Allah, kita diberi tahu: “Ibu-Nya menyimpan segala perkara ini dalam hatinya”(Luk2:51). Kebutuhan mendengarkan yang sama ditekankan juga dalam kata-kata terakhir yang dikenakan kepada Bunda Allah dalam Kitab Suci dalam pesta perkawinan di Kana: “Apapun yang dikatakan-Nya kepadamu, buatlah itu”{Yoh2:5), katanya kepada pelayan pesta- dan kepada kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam semua hal ini Santa Perawan Maria menjadi suatu cermin, suatu gambaran hidup dari orang Kristen Alkitabiah. Kita hendaknya menjadi seperti dia dalam mendengarkan Sabda Allah: merenungkan, menyimpan semua hal ini dalam hati kita, dan melakukan apapun yang dikatakan-Nya kepada kita. Kita mendengarkan dengan ketaatan saat Allah berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Memahami Kitab Suci Melalui Gereja &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di tempat kedua, kita harus menerima dan menafsirkan Kitab Suci melalui Gereja dan di dalam Gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerejalah yang memberi tahu kita apa itu Kitab Suci. Sebuah buku tidak menjadi Kitab Suci karena teori-teori tertentu mengenai kapan ditulisnya atau siapa pengarangnya.Bahkan jika hal itu dapat dibuktikan, misalnya, bahwa Injil keempat sebenarnya tidak ditulis oleh Yohanes sang murid terkasih dari Kristus, hal ini tidak akan mengubah kenyataan bahwa kita orang Ortodoks (dan juga kita orang Katolik) menerima Injil keempat sebagai Kitab Suci. Mengapa? Karena Injil Yohanes diterima oleh Gereja dan di dalam Gereja. Adalah Gereja yang mengatakan kepada kita apa itu Kitab Suci, dan Gereja jugalah yang mengatakan kepada kita bagaimana Kitab Suci harus dipahami. Marilah kita melihat kisah orang Ethiopia yang membaca Perjanjian Lama di kereta kudanya, Rasul Filipus menanyainya “Apakah kamu mengerti apa yang kamu baca?” Dan orang Ethiopia itu menjawab “Bagaimana saya dapat mengerti kecuali ada seseorang yang membimbing saya?”(Kis8:30-31). Kita Semua ada dalam posisi orang Ethiopia itu. Kata-kata Kitab Suci tidak selalu menjelaskan dirinya sendiri. Allah berbicara secara langsung kepada setiap kita saat kita membaca Kitab suci. Pembacaan Kitab Suci adalah dialog pribadi antara setiap kita dengan Kristus- tetapi kita juga membutuhkan bimbingan. Dan pembimbing kita adalah Gereja. Kita menggunakan secar apenuh pemahaman pribadi kita sendiri dengan dibantu oleh Roh Kudus, kita menggunakan secara penuh penemuan-penemuan dari penelitian Kitab Suci yang modern, tetapi kita selalu menundukkan pandangan pribadi kita- entah pendapat kita sendiri atau para ahli- kepada keseluruhan pengalaman Gereja selama berabad-abad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan Ortodoks ini diringkaskan dalam pertanyaan yang ditanyakan kepada orang yang masuk agama Ortodoks pada upacara penerimaan yang digunakan oleh Gereja Rusia: “Apakah kamu mengakui bahwa Kitab Suci harus diterima dan ditafsirkan sesuai kepercayaan yang telah diturunkan oleh para Bapa-bapa Suci, dan yang masih dan selalu dipegang oleh Gereja Ortodoks Kudus, Bunda kita?” (pandangan yang sama juga dinyatakan dalam berbagai ajaran Gereja Katolik, yang saya ingat Konsili Trente mengungkapkan hal yang sama)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita membaca Kitab Suci secara pribadi, tetapi tidak sebagai individu yang terisolasi. Kita membaca Kitab Suci sebagai anggota suatu keluarga, keluarga Gereja Ortodoks yang Universal. Saat membaca Kitab Suci, kita tidak mengatakan “aku” tetapi “kita”. Kita membaca dalam persekutuan dengan semua anggota Tubuh Kristus di seluruh belahan bumi dan di segala masa dan generasi. Batu uji dan kriteria pemahaman kita akan apa yang dimaksudkan Kitab Suci adalah pikiran Gereja karena Kitab Suci adalah buku Gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menemukan “pikiran Gereja” darimanakah kita harus memulai? Langkah pertama kita adalah melihat bagaimana Kitab Suci digunakan dalam ibadat. bagaimana, secara khusus, Bacaan Kitab Suci dipilih untuk dibacakan pada berbagai pesta? Kita juga harus berkonsultasi dengan tulisan-tulisan para Bapa-bapa Gereja, dan melihat bagaimana mereka menafsirkan Kitab Suci. Cara Ortodoks dalam membaca Kitab Suci bersifat liturgis dan patristik. Kita semua menyadari, bahwa dalam kenyataannya, sulit untuk melakukan hal ini dalam kenyataan karena kita memiliki hanya sedikit tafsiran Ortodoks tentang Kitab Suci yang tersedia dalam bahasa Inggris, dan kebanyakan tafsiran Barat tidak menggunakan pendekatan liturgis dan patristik ini. (Pendekatan yang sama juga ideal bagi kita orang Katolik, walaupun pada kenyataannya kerap kali pendekatan ini ditinggalkan pada masa modern. Namun, ada beberapa pengarang yang mencoba kembali menghidupkan metode ini, di antara pengarang-pengarang tersebut yang cukup ringan dan enak dibaca adalah Scott Hahn, sementara dalam khazanah klasik Catena Aurea karya St. Thomas Aquinas tetap yang terdepan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh dari cara menafsirkan Kitab Suci dengan cara liturgis, yaitu dibimbing oleh penggunaanya pada pesta-pesta Gereja, marilah kita melihat bacaan-bacaan Perjanjian Lama yang digunakan untuk Ibadat Sore pada pesta Anunsiasi (Maria dikunjungi oleh Malaikat Gabriel). Jumlah bacaan itu ada 3, yaitu: Kejadian 28: 10-17 tentang mimpi Yakub melihat tangga yang menghubungkan surga dan bumi; Yehezkiel 43:27-44:4 mengenai visi sang nabi tentang tempat kudus di Yerusalem, dengan gerbang tertutup yang tidak dapat dilalui siapapun kecuali oleh Tuhan sendiri; Amsal 9:1-11 salah satu tulisan Kebijaksanaan paling agung dalam Perjanjian Lama yang dimulai dengan kata-kata “Hikmat telah mendirikan rumahnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks-teks Perjanjian Lama ini, kemudian, sebagaimana mereka dipilih untuk Pesta Perawan Maria, menunjukkan bahwa teks-teks ini harus dimengerti sebagai nubuat mengenai Penjelmaan Tuhan melalui Sang Perawan. Maria adalah tangga Yakub, yang menyediakan daging yang digunakan dalam Penjelmaan Tuhan untuk memasuki dunia manusia kita. Maria adalah gerbang tertutup dan merupakan satu-satunya wanita yang melahirkan anak sementara ia tetap perawan. Maria menyediakan rumah yang didalamnya Kristus sang Hikmat Allah (1Kor 1:24) mengambilnya sebagai tempat kediaman. Mendalami Kitab Suci dengan mengacu kepada pemilihan bacaan untuk berbagai pesta, kita menemukan suatu bentangan penafsiran Alkitab yang sulit menjadi jelas bagi kita dalam pembacaan pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari mengambil contoh lain dari Ibadat Sore pada hari Sabtu Suci, bagian pertama dari Vigili (tuguran) Paskah kuno. Di sini kita memiliki tidak kurang dari 15 bacaan Perjanjian Lama. Rangkaian bacaan disampaikan kepada kita dalam keseluruhan skema sejarah suci, sementara pada saat yang sama menggarisbawahi makna yang lebih mendalam dari Kebangkitan Kristus. Bacaan pertama diambil dari Kejadian 1:1-13, kisah penciptaan, maka Kebangkitan Kristus adalah pencipaan baru. Bacaan keempat adlaah seluruh kitab Yunus, dengan tinggalnya sang nabi di dalam perut ikan paus selama tiga hari sebagai pratanda dari kebangkitan Kristus setelah tiga hari dalam kubur (cf. Mat12:40). Bacaan keenam mengisahkan penyeberangan laut merah oleh orang-orang Israel (Kel13:20-15:29) yang mengantisipasi peralihan baru dari Paskah saat Kristus beralih dari kematian kepada hidup (cf. 1Kor 5:7-10:1-4). Bacaan terakhir adalah kisah tiga pemuda dalam api yang membara (Daniel 3) sekali lagi suatu “type” atau nubuat dari kebangkitan Kristus dari kubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah dampak dari membaca Kitab Suci secara gerejani, di dalam Gereja dan bersama Gereja. Mempelajari Kitab Suci dengan cara liturgis ini dan menggunakan para Bapa Gereja untuk membantu kita, dimana-mana kita akan membuka tanda-tanda yang mengarah kepada misteri Kristus dan Bunda-Nya. Membaca Perjanjian Lama dalam terang yang Baru, dan yang baru dalam terang yang Lama- sebagaimana disarankan oleh kalender Gereja- kita menemukan kesatuan Kitab Suci. Salah satu cara terbaik mengenali kesinambungan antara Perjanjian Lama dan Baru adalah menggunakan konkordansi Kitab Suci yang baik. Kadang-kadang ini bisa mengatakan kepada kita arti Kitab Suci lebih dari yang dilakukan tafsiran manapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kelompok-kelompok pendalaman Alkitab di paroki-paroki kita, akan berguna untuk memberikan suatu tugas khusus untuk mencermati bacaan-bacaan tertentu dari Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru yang digunakan untuk suatu pesta atau hari peringatan orang-orang kudus. Sementara itu seorang lain dalam kelompok bisa diserahi tugas untuk melakukan hal yang sama berkaitan dengan Bapa-bapa Gerea misalnya menggunakan homili-homili Santo Yohanes Krisostomus (yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris). Orang-orang Kristen sungguh perlu memiliki pemikiran yang patristik.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Kristus, Jantung Kitab Suci&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Unsur ketiga dalam pembacaan Kitab Suci adalah harus berpusat pada Kristus. Kitab Suci membentuk suatu harmoni yang utuh karena kitab-kitab itu semuanya berpusat pada Kristus. Keselamatan melalui Mesias adalah topik utama yang menyatukan. Itu adalah topik yang berjalan di keseluruhan Kitab Suci, dari kalimat pertama sampai kalimat terakhir. Kami sudah menyebutkan cara dimana Kristus dapat dilihat dipratandakan dalam halaman-halaman Perjanjian Lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan studi Kitab Suci yang kritis dan modern di barat telah mengambil suatu pendekatan analitis yang memecahkan setiap buku menurut sumber-sumbernya yang berbeda. Jaringan yang menghubungkan diputuskan, dan Alkitab direduksi menjadi sekedar rangkaian unit-unit. Tentu ada nilai-nilai positif tertentu dalam metode ini. Tetapi kita perlu melihat kesatuan Kitab Suci sebagaimana melihat keragamannya, suatu akhir yang menyatukan semua sebagaimana awal mula yang tersebar. Ortodoksi lebih memilih untuk memandang keseluruhan Kitab Suci sebagai sebuah sintesis daripada pendekatan analitis ini, lebih memilih untuk melihat Kitab Suci sebagai suatu kesatuan yang menyeluruh dengan Kristus dimana-mana sebagai ikatan kesatuan. (Katolisisme juga melakukan hal yang sama walaupun di kalangan para ekseget kita mungkin penilaian terhadap metode historis kristis masih lebih positif dibandingkan penilaian Uskup Kalistos. Bagaimanapun saya kira pandangan Kalistos sangat serupa dengan seorang ahli Katolik yang berpengaruh yaitu Joseph Ratzinger yang misalnya dalam bukunya Yesus dari Nazareth menafsirkan Kitab Suci menggunakan Bapa-bapa Gereja dan memadukannya juga dengan pendekatan historis kristis sembari sesekali mengkritisi metode ini)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita menemukan titik sambung antara Perjanjian Lama dan Baru dalam diri Yesus Kristus. Ortodoksi mengenakan signifikansi khusus kepada metode penafsiran “tipologis”, dimana “type” Kristus, tanda dan lambang akan karya-Nya, dikenali di sepanjang Perjanjian Lama. Contoh yang menonjol akan ini adalah Melkisedek, raja dan imam dari Salem, yang mempersembahkan roti dan anggur kepada Abraham (Kej14:18), dan yang dipandang sebagai type Kristus bukan hanya oleh para Bapa Gereja tetapi juga oleh Perjanjian Baru sendiri (Ibrani5;6, 7:1). Contoh lain sebagaimana telah kita lihat adalah Paskah Lama melambangkan Paskah Baru; pembebasan Israel dari Firaun di laut merah menandakan pembebasan kita dari dosa melalui wafat dan Kebangkitan Sang Juruselamat. Ini adalah metode penafsiran yang kita kenakan kepada seluruh Kitab Suci. Mengapa, misalnya, dalam separuh masa Prapaskah bacaan Perjanjian Lama dari kitab Kejadian didominasi oleh figure Yusuf? Mengapa dalam Pekan Suci kita membaca dari kitab Ayub? Karena Yusuf dan Ayub adalah orang-orang yang menderita tanpa bersalah, dan mereka adalah type atau pratanda dari Yesus Kristus, yang menderita tanpa salah di Salib dan yang menjadi pusat perayaan Gereja. Ini semua saling berkaitan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Kristen Alkitabiah adalah dia yang, ke manapun ia memandang, di setiap halaman Kitab Suci, menemukan Kristus di mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Kitab Suci Sebagai Sesuatu Yang Pribadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam kata-kata seorang penulis asketis dalam Kekristenan Timur, Santo Markus sang Rahib: “Dia yang rendah hai dan bertekun dalam karya rohani, saat ia membaca Kitab Suci, ia menerapkan segala sesuatu kepada dirinya dan bukan kepada sesamanya.” Sebagai orang Kristen Ortodoks kita juga melihat dalam Kitab Suci sesuatu untuk diterapkan secara pribadi. Kita tidak hanya bertanya “Apa artinya?” tetapi juga “Apa artinya untukku?” Kitab Suci adalah dialog pribadi antara sang Juruselamat dan diriku- Kristus berbicara kepadaku, dan aku menjawab. Inilah kriteria keempat dalam pembacaan Kitab Suci kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hendak melihat seluruh kisah Kitab Suci sebagai bagian dari kisah pribadiku sendiri. Siapakah Adam? Nama Adam berarti “manusia”, maka kisah kitab Kejadian mengenai kejatuhan Ada, juga adalah kisah kejatuhan saya. Akulah Adam. Ketika Allah berkata kepada Adam, “Di mana engkau?”(Kej3:9). Kita sering bertanya “Dimana Allah?” Tetapi pertanyaa sebenarnya adalah yang ditanyakan Allah kepada Adam dalam setiap kita: “Dimana engkau?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kisah Kain dan Habel, kita membaca kata-kata Allah kepada Kain, “Dimana Habel saudaramu?” (Kej4:9), kata-kata ini juga dialamatkan kepada setiap kita. Siapa Kain? Ia adalah diriku sendiri. Dan Allah bertanya kepada Kain dalam diri setiap kita, “Dimana saudaramu?” Jalan kepada Allah terletak pada cinta kasih kepada sesama, dan tidak ada jalan lain. Jika aku menindas saudaraku, maka aku menggantikan gambar Allah dengan gambar Kain, dan menyangkal sisi kemanusiaanku sendiri yang mendasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam membaca Kitab Suci, kita dapat mengambil tiga langkah ini. Pertama, apa yang kita miliki dalam Kitab Suci adalah sejarah suci: sejarah dunia sejak saat Penciptaan, sejarah umat terpilih, sejarah Allah yang menjadi daging di Palestina, dan “perbuatan ajaib” setelah Pentakosta. Kekristenan yang kita temukan dalam Alkitab bukanlah ideologi, bukan teori filsafat, tetapi iman yang menyejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kita masuk ke langkah kedua. Sejarah yang disampaikan di Kitab Suci adalah sejarah pribadi. Kita melihat Allah campur tangan pada waktu dan tempat yang khusus, dimana Ia berdialog dengan orang-orang secara pribadi. Ia menyapa setiap orang dengan namanya masing-masing. Kita melihat dalam Kitab Suci suatu panggilan yang secara khusus disampaikan Allah kepada Abraham, Musa dan Daud, Ribka dan Ruth, Yesaya dan para nabi, dan kemudian kepada Maria dan para Rasul. Kita melihat selektifitas dari tindakan ilahi dalam sejarah, bukan sebagai skandal tetapi sebagai berkat. Cinta Allah universal ruang lingkupnya, tetapi Ia memilih menjadi daging di sudut tertentu bumi, di suatu waktu tertentu dan dari seorang Ibu tertentu. Dengan cara ini kita menikmati keunikan tindakan Allah sebagaimana tercatat dalam Kitab Suci. Orang yang mencintai Alkitab mencintai detail sejarah dan geografi Kitab Suci. Itulah sebabnya Ortodoksi memiliki devosi yang kental kepada Tanah Suci, tempat di mana Kristus hidup dan mengajar, mati dan hidup kembali. Sebuah cara gemilang untuk memperdalam pembacaan Kitab Suci kita adalah melakukan peziarahan ke Yerusalem dan Galilea. Berjalan di mana Kristus berjalan. Turun ke Laut Mati, duduk sendirian di batu karang, merasakan apa yang dirasakan Kristus selama 40 hari dicobai di padang gurun. Minum dari sumur dimana Ia berbicara kepada wanita Samaria. Pergi dimalam hari ke taman Getsemani, duduk di kegelapan dibawah pohon zitun kuno dan kemudian memandang lembah melihat cahaya kota. Mengalami secara penuh kenyataan latar belakang sejarah ini, dan mengembalikan pengalaman itu kepada pembacaan Kitab Suci pribadi harianmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kita mengambil langkha ketiga. Menghidupkan kembali sejarah Kitab Suci dengan segala kekhususannya dengan menerapkannya secara langsung kepada diri kita sendiri. Kita hendaknya berkata kepada diri kita, “Semua tempat dan peristiwa ini bukan saja berlangsung jauh di sana dan pada waktu lampau, tetapi juga bagian dari hubungan pribadiku dengan Kristus. Aku adalah bagian dari cerita ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengkhianatan, misalnya, adalah bagian dari kisah hidup semua orang. Apakah kita tidak pernah dikhianati seseorang pada masa hidup kita, dan apakah kita tidak mengalami sama sekali apa artinya berkhianat, dan tidakkah kenangan ini meninggalkan luka dalam jiwa kita? Kemudian bacalah kisah pengkhianatan Santo Petrus kepada Kristus dan pemulihannya sesudah Kebangkitan, kita bisa melihat diri kita sebagai pemeran dalam kisah ini. Bayangkanlah apa yang dialami Yesus dan Petrus segera sesudah pengkhianatan, masuklah ke perasaan mereka dan jadikanlah itu perasaanmu. Sayalah Petrus; atau dalam situasi ini bisakah saya adalah Kristus? Renungkanlah juga proses perdamaiannya- bertanyalah kepada diri sendiri: Bagaimana Kristus- seperti aku melakukan sesuatu terhadap orang yang mengkhianati aku? Dan, setelah tindakan pengkhianatanku sendiri, beranikah aku menerima permintaan maaf dari orang yang telah mengkhianati aku- apakah aku mau memaafkan diriku sendiri? Atau apakah aku enggan memaafkan, selalu membuang muka, tidak pernah siap memberikan diriku secara sepenuhnya untuk apapun entah itu baik atau jahat? Seperti yang dikatakan oleh para Bapa Padang Gurun “Jauh lebih baik orang yang telah berdosa, jika dia tahu dirinya berdosa dan berobat, daripada orang yang tidak berbuat dosa dan berpikir bahwa dirinya adalah orang benar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkah aku memiliki keberanian Santa Maria Magdalena, ketekunan dan kesetiaannya, ketika ia pergi hendak meminyaki tubuh Kristus di makam (Yoh20:1)? Apakah aku mendengar Juruselamat yang Bangkit memanggil namaku, sebagaimana Ia memanggil dia, dan apakah aku menjawab Dia Rabbuni (Guru) bersamanya dengan segala kesederhanaan dan ketulusannya (Yoh20:16)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca Kitab Suci dengan cara ini- dalam ketaatan, sebagai anggota Gereja, menemukan Kristus, dimana-mana, melihat semua hal dalam Kitab Suci sebagai bagian dari kisah pribadiku sendiri- kita akan merasakan sesuatu pada keragaman dan kedalaman yang dapat kita temukan dalam Alkitab. Namun kita juga akan selalu merasa bahwa pendalaman Kitab Suci kita selalu berada pada tahap awal. Kita bagaikan seorang dengan perahu kecil di tengah lautan tak terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Firman-Mu adalah pelita bagi kakiku, dan terang bagi jalanku” (Mazmur 119:105).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-7737207550214041230?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/7737207550214041230/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/bagaimana-membaca-kitab-suci.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/7737207550214041230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/7737207550214041230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/bagaimana-membaca-kitab-suci.html' title='Bagaimana Membaca Kitab Suci'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-810349219732174057</id><published>2009-10-12T20:40:00.000+07:00</published><updated>2009-10-12T20:44:25.162+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ajaran Iman'/><title type='text'>Purgatory Dalam Pandangan Timur</title><content type='html'>Oleh Anthony Dragani&lt;br /&gt;Versi asli silahkan dibaca di &lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.east2west.org/doctrine.htm#Purgatory"&gt;http://www.east2west.org/doctrine.htm#Purgatory&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dapatkah Anda menjelaskan perbedaan antara teologi Latin mengenai Dogma Api Penyucian dengan berbagai Gereja-gereja Timur?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, semua orang Kristen Timur tidak menggunakan kata “Api Penyucian”. Hal ini berlaku baik orang Katolik Timur maupun Ortodoks Timur. Kata “Api penyucian” sendiri merupakan suatu hal yang khusus bagi tradisi Latin, dan memiliki sejumlah muatan historis yang tidak nyaman bagi orang-orang Kristen Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lingkungan Barat pada abad pertengahan, banyak teolog ternama yang mendefinisikan Api Penyucian sebagai suatu tempa khusus, di mana orang-orang pada dasarnya ditempatkan didalamnya dan mengalami penderitaan. Sejumlah teolog bahkan melangkah lebih jauh hendak mengatakan bahwa secara literal memang ada api yang membakar mereka yang menderita di Api Penyucian. Juga merupakan suatu hal yang populer untuk mengaitkan sejumlah periode waktu yang akan dijalani seseorang di Api Penyucian untuk berbagai pelanggaran. Perlu diperhatikan bahwa teologi Latin sekarang ini (syukurlah) telah meninggalkan pendekatan semacam itu, dan beralih kepada pendekatan yang lebih berakar pada ajaran para Bapa Gereja mengenai Api Penyucian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pemahaman Katolik, hanya dua hal yang dogmatis berkenaan dengan Api Penyucian ini: 1) Bahwa ada tempat (atau keadaan) peralihan/transformasi bagi mereka yang akan masuk Surga, dan 2) Doa-doa berguna bagi arwah yang berada dalam keadaan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gereja-gereja Katolik Timur dan Ortodoks Timur sepenuhnya sepakat dengan Gereja Latin mengenai hal-hal ini. Praktisnya, kami secara rutin merayakan Liturgi Ilahi bagi mereka yang telah meninggal, dan mempersembahkan sejumlah doa bagi arwah-arwah itu. Kami tidak akan berbuat demikian jika kami tidak setuju dengan dua poin dogmatis di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sekali lagi kami sampaikan bahwa kami tidak menggunakan istilah Api Penyucian karena dua alasan. Pertama, hal itu adalah sebuah kata Latin yang pertama kali digunakan di Barat pada abad pertengahan, dan kami menggunakan bahasa Yunani untuk menggambarkan teologi kami. Kedua, kata Api Penyucian masih membawa muatan abad pertengahan yang kami merasa tidak nyaman dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penting untuk diperhaikan bahwa Gereja Katolik Byzantine saya sendiri tidak pernah disyaratkan untuk menggunakan kata Api Penyucian. Piagam persatuan kami dengan Roma, “Traktar Brest: yang secara resmi diterima oleh Paus Klemens VII, tidak mewajibkan kami untuk menerima pengertian Barat tentang Api Penyucian.&lt;br /&gt;Pasal V dari Traktat Brest menyatakan “Kita tidak boleh berdebat mengenai Api Penyucian…” menandakan bahwa kedua pihak dapat sepakat untuk tidak sepakat mengenai detail dari apa yang oleh orang-orang Barat disebut sebagai Api Penyucian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Timur, kami memiliki kecenderungan untuk memandang secara lebih positif peralihan dari kematian ke Surga. Daripada menyebutnya “Api Penyucian” kami memilih menyebutnya “Pengilahian Terakhir” (Final Theosis). Hal ini mengacu kepada proses pengilahian dimana sisa-sisa kodrat manusiawi kita diubah sehingga kita dapat berbagai hidup dengan Tritunggal Mahakudus. Ketimbang memandangnya sebagai tempat untuk “menanti dan menderita”, para Bapa Gereja Timur mendefiniskan Pengilahian Terakhir ini sebagai suatu perjalanan. dan sekalipun perjalanan ini dapat mengandung kesulitan, namun juga ada secercah sukacita yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik adalah Muder Angelica (seorang biarawati pendiri stasiun televisi Katolik EWTN) telah berulangkali mengungkapkan pengertian yang sangat positif akan Api Penyucian sebagai keadaan yang penuh sukacita daripada sebagai tempat penderitaan. Dalam arti tertentu pengertiannya sungguh sejalan dengan pemahaman Timur mengenai Pengilahian Terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun kami tidak menggunakan kata-kata yang sama, orang Ortodoks Timur dan Katolik Timur serta Latin secara mendasar mempercayai hal yang sama dalam hal yang penting ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harap diperhatikan juga bahwa teologi Timur mengajarkan bahwa pengilahian adalah proses tidak terbatas (infinite), dan tidak berhenti saat orang memasuki surga. Istilah “Pengilahian Terakhir” tidak dimaksudkan untuk menunjukkan hal yang sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Penerjemah:&lt;br /&gt;Pandangan Dr. Dragani mewakili tradisi teologi Byzantine, sementara tradisi Alexandria (Koptik) dan Antiokhia (Syria) tampak seperti suatu jalan tengah antara pandangan Latin dan Byzantine. Tradisi Oriental (Syria dan Koptik) misalnya meskipun secara dominan masih menekankan aspek sukacita dari “Api Penyucian” namun memiliki tekanan yang lebih akan penderitaan dan hukuman dibandingkan tradisi Byzantine, dan karena itu juga lebih mendekati tradisi Latin walaupun secara umum mereka tetap lebih dekat dengan tradisi Byzantine.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-810349219732174057?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/810349219732174057/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/oleh-anthony-dragani-versi-asli.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/810349219732174057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/810349219732174057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/oleh-anthony-dragani-versi-asli.html' title='Purgatory Dalam Pandangan Timur'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-3497357337581668163</id><published>2009-10-12T10:45:00.000+07:00</published><updated>2009-10-12T10:48:28.665+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Para Kudus'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Spiritualitas'/><title type='text'>Audiensi Umum Paus Benediktus XVI: St. Syemon Sang Teolog Baru</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://saintsandblesseds.files.wordpress.com/2009/09/symeon1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 256px;" src="http://saintsandblesseds.files.wordpress.com/2009/09/symeon1.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Audiensi Umum Benediktus XVI&lt;br /&gt;Aula Paulus VI&lt;br /&gt;Rabu, 16 September 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara-saudari terkasih,&lt;br /&gt;Hari ini kita berhenti sejenak untuk merefleksikan seorang rahib Timur, Syemon sang Teolog baru, yang tulisan-tulisannya memiliki pengaruh sangat besar dalam teologi dan spiritualitas Timur, secara khusus berkaitan dengan persatuan mistik dengan Allah. Syemon sang Teolog baru lahir tahun 949 di Galatai, Paphlagonia, di Asia Kecil, dalam sebuah keluarga bangsawan provinsial. Ketika masih muda ia pindah ke Konstantinopel untuk menyelesaikan pendidikannya dan memasuki birokrasi Kekaisaran. Akhirnya, ia tidak tertarik dengan karier pemerintahan yang menantinya. Dibawah pengaruh penerangan batin yang dialaminya, dia bersiap mencari seseorang yang dapat membimbingnya dalam periode kebingungan dan ketidakjelasan. Ia menemukan pembimbing rohaninya dalam diri Syemon si saleh (Eulabes), seorang biarawan sederhana di Studios di Konstantinopel yang menyarankannya membaca traktat dari Markus sang rahib, Hukum Rohani. Syemon sang Teolog baru menemukan dalam teks ini ajaran yang memberikan kesan mendalam baginya: “Jika kamu mencari penyembuhan rohani, dengarkanlah suara hatimu,” ia membaca di dalamnya. “Lakukan semua yang ia katakan kepadamu dank au akan mendapati bahwa ia melayanimu”. Sejak saat itu, ia sendiri mengatakan bahwa ia tidak pernah pergi tidur tanpa terlebih dulu bertanya kepada dirinya sendiri apakah hati nuraninya memiliki suatu kritikan terhadap dirinya atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syemon memasuki biara Studite dan di sana ia mendapatkan sejumlah kesulitan karena pengalaman-pengalaman mistik dan devosinya yang luar biasa kepada pembimbing rohaninya. Ia lalu pindahk ke sebuah biara kecil yaitu St. Mamas, juga di Konstantinopel., dimana tiga tahun kemudian ia menjadi abbas, hegumen. Disana ia mengalami suatu pencarian intensif akan persatuan rohani dengan Kristus yang memberikan bagi dirinya suatu kuasa yang besar. Menarik juga untuk mencatat bahwa ia diberi gelar “Teolog baru” dalam suatu tradisi yang mengkhususkan gelar ini bagi dua orang yaitu Yohanes pengarang Injil dan Gregorius dari Nazianze. Syemon menderita beberapa kesalahpahaman dan pengucilan tetapi direhabilitasi oleh Patriarkh Sergius II dari Konstantinopel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syemon sang Teolog baru menghabiskan masa-masa akhir hidupnya di Biara St. Marina dimana ia menulis sebagian besar karyanya dan menjadi lebih dikenal karena pengajaran dan mukjizat-mukjizatnya. Ia meninggal pada 12 Maret 1022.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muridnya yang paling terkenal, Niceta Stethatos, yang mengumpulkan dan menyalin tulisan-tulisan Syemon, mengkompilasi suatu edisi yang lengkap dan selanjutnya menulis biografinya. Karya Syemon terdiri dari 9 volume yang terbagi menjadi karya teologis, gnostik dan hal-hal praktis, tiga buku berupa katekese bagi para rahib, dua buku tentang traktat teologi dan etika serta sebuah buku madah. Lebih lagi sejumlah besar Surat-Surat-nya tidak boleh dilupakan. Semua karya ini memiliki tempat penting dalam tradisi monastik Timur sampai pada zaman kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syemon memusatkan refleksinya pada kehadiran Roh Kudus dalam diri orang terbaptis dan pada kesadaran yang harus dimiliki umat terbaptis akan kenyataan rohani ini. “Hidup Kristen”, ia memberi penekanan, “adalah hubungan intim dan pribadi dengan Allah, dimana rahmat Ilahi menerangi hati umat beriman dan menuntunnya kepada visiun mistik Tuhan”. Bersamaan dengan ini, Syemon sang Teolog baru berkeras bahwa pengetahuan sejati akan Allah tidak datang melalui buku-buku tetapi dari pengalaman rohani, dari hidup rohani. Pengetahuan akan Allah lahir dari suatu proses penerangan batin yang dimulai dengan pertobatan hati melalui kuasa iman dan kasih. Proses ini berjalan melalui penyesalan yang mendalam akan dosa-dosa dan kerinduan untuk memperoleh persatuan dengan Kristus, sumber kedamaian dan sukacita yang disinari oleh cahaya kehadiran-Nya dalam diri kita. Bagi Syemon pengalaman rahmat Ilahi buknalah suatu anugerah khusus bagi para mistikus saja tetapi merupakan buah Pembaptisan dalam hidup setiap orang beriman yang memiliki komitmen akan imannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang perlu direnungkan, saudara-saudari terkasih! Rahib Timur ini memanggil kita untuk memberi perhatian kepada hidup rohani kita, kepada kehadiran Allah yang tersembunyi dalam kita, kepada ketulusan hati nurani dan pemurnian, kepada pertobatan hati, sehingga kehadiran Roh Kudus menjadi lebih nyata dalam diri kita dan membimbing kita. Jika kita sungguh memberi perhatian kepada perkembangan fisik, manusiawi dan intelektual kita, juga lebih penting untuk tidak mengabaikan perkembangan batin kita. Hal ini terdapat dalam pengetahuan akan Allah, dalam pengetahuan yang sejati, bukan hanya dengan belajar dari buku-buku tetapi dari dan dalam persekutuan dengan Allah, untuk mengalami pertolongan-Nya dalam setiap saat dan setiap keadaan. Pada dasarnya inilah yang digambarkan oleh Syemon saa ia membahas pengalaman mistiknya sendiri. Sebagai seorang muda sebelum ia masuk biara, ia mengalami di rumahnya sendiri pada malam ia bertekun dalam doa dan berseru kepada Tuhan agar membantu-Nya memerangi godaan, ia melihat ruangannya dipenuhi dengan cahaya. Kemudian, saat ia masuk biara, ia diberi buku-buku rohani untuk pengajaran bagi dirinya namun membaca buku-buku itu tidak memberinya damai yang ia cari. Ia merasa, seperti ia sendiri katakan, bagaikan burung kecil malang yang tidak memiliki sayap. Maka ia menerima situasi ini dengan rendah hati tanpa memberontak dan suatu saat ia menerima visiun cahaya sekali lagi dan hal itu mulai berkembang. Ketika ia ingin memastikan keaslian dari pengalaman ini, ia bertanya kepada Kristus seara langsung: “Tuhan, apakah itu sungguh Engkau yang ada di sini?” Dan ia mendengar jawaban yang meneguhkan bergema dalam hatinya dan jawaban itu sungguh menentramkannya. “Tuhan, saat itu”, tulisnya kemudian “adalah saat pertama dimana Engkau menganggap aku, anak yang hilang ini, layak mendengar suara-Mu”. Meskipun begitu pewahyuan ini tidak memberinya rasa damai yang penuh. Ia bertanya, atau lebih tepat, ia mempertimbangkan bahwa pengalaman itu adalah suatu ilusi atau bukan. Akhirnya, pada suatu hari terjadilah pengalaman yang menentukan dalam pengalaman-pengalaman mistiknya. Ia mulai merasa seperti “orang miskin yang mencintai saudara-saudaranya” (ptochos philadelphos). Saat itu ia melihat dirinya dikelilingi musuh yang berusaha mengancam dia dan melukainya, namun ia merasa dalam dirinya adalah dorongan cinta yang besar kepada mereka. Bagaimana hal ini dapat dijelaskan? Sesungguhnya, cinta sebesar itu tidak dapat datang dari dirinya sendiri tetapi harus berasal dari sumber lain. Syemon menyadari bahwa hal itu daang dari Kristus yang hadir dalam dirinya dan segalanya menajdi jelas: ia memiliki bukti yang pasti bahwa sumber cinta dalam dirinya adalah kehadiran Kristus. Dia yakin bahwa dengan memiliki cinta yang melampaui pemikiran dan kehendak manusiawi menyatakan kepada kita bahwa Sumber Cinta ada dalam diri kita. Maka di satu sisi kita dapat mengatakan bahwa jika kita tidak memiliki suatu keterbukaan kepada cinta, Kristus tidak memasuki diri kita, dan di sisi lain menjadi jelas bahwa Kristus adalah sumber dari cinta yang mengubah kita. Teman-teman terkasih, pengalaman ini tetap penting bagi kita saat ini jika kita hendak mencari kriteria yang menolong kita untuk mengetahui apakah kita sungguh dekat kepada Allah, apakah Allah hadir dan berdiam dalam diri kita. Cinta Allah berkembang dalam diri kita jika tetap bersatu dengan Dia dalam doa dan dengan mendengarkan sabda-Nya dengan hati terbuka. Hanya cinta Ilahi saja yang memampukan kita untuk membuka hati kita kepada sesama dan membuat kita peka terhadap kebutuhan mereka, membawa kita untuk mengakui semua orang sebagai saudara dan saudari dan mengundang kita untuk menanggapi kebencian dengan cinta dan pelanggaran dengan pengampunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berpikir tentang sosok Syemon sang Teolog baru, kita dapat menambahkan suatu catatan khusus mengenai spiritualitasnya. Jalan hidup asketiks yang dipilih dan diatempuhnya, sang rahib memberi perhatian kepada pengalaman batin dan menekankan pentingnya peranan pembimbing rohani dalam kehidupan biara. Sewatu masih muda, Syemon, seperti dikatakannya sendiri, telah menemukan pembimbing rohani yang memberinya bantuan yang mendasar dan yang selalu dipegangnya dengan rasa hormat yang tinggi dan memberi penghormatan kepadanya, bahkan di hadapan umum. Dan saya ingin mengatakan bahwa undangan Syemon untuk memiliki seorang pembimbing rohani yang baik, yang dapa membantu setiap individu untuk memiliki pengetahuan yang mendalam tentang dirinya sendiri dan untuk membantunya memiliki persatuan dengan Allah sehingga dalam hidupnya dia dapat hidup lebih selaras dengan Injil masih berlaku bagi setiap imam, biarawan-biarawati dan awam. Untuk menuju kepada Allah kita selalu membutuhkan bimbingan, sebuah dialog. Kita tidak dapat melakukannya dengan pemikiran kita sendiri. Hal ini juga merupakan makna dari sifat gerejani iman kita, yaitu untuk menemukan suatu bimbingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menutupnya kita dapat meringkaskan ajaran dan pengalaman Syemon sang Teolog baru dengan kata-kata ini: dalam pencarian tanpa henti akan Allah, bahkan ditengah segala kesulitan yang ia hadapi dan kritikan yang bernada keberatan terhadap dirinya, pada akhirnya ia membiarkan dirinya dibimbing oleh cinta. Ia sendiri mampu untuk hidup dan mengajar para rahibnya bahwa bagi setiap murid Yesus adalah sangat mendasar untuk bertumbuh dalam cinta; maka kita bertumbuh dalam pengetahuan akan Kristus sendiri, agar bersama Santo Paulus kita dapat mengatakan: “Bukan lagi Kristus yang hidup dalam aku, tetapi Kristus yang hidup dalam aku” (Gal 2:20).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-3497357337581668163?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/3497357337581668163/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/audiensi-umum-paus-benediktus-xvi-st.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/3497357337581668163'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/3497357337581668163'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/audiensi-umum-paus-benediktus-xvi-st.html' title='Audiensi Umum Paus Benediktus XVI: St. Syemon Sang Teolog Baru'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-5201872926858162476</id><published>2009-10-12T10:40:00.000+07:00</published><updated>2009-10-12T10:45:37.321+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Liturgi'/><title type='text'>Tata Perayaan Ekaristi Ritus Maronite: Qurbono (Part 3- Pra Anafora)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Naik Ke Altar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sambil berjalan naik ke Altar selebran menyanyikan atau berdoa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;I : Aku hendak melangkah ke Altar Allah, kepada Allah yang &lt;br /&gt;                menggembirakan  masa mudaku. Dalam kelimpahan kebaikan-Mu, aku &lt;br /&gt;                hendak masuk ke rumah- Mu, ya Tuhan, dan menyembah-Mu di Bait-Mu.&lt;br /&gt;U : Bimbinglah aku Tuhan, dalam rasa takut akan Engkau dan ajarlah &lt;br /&gt;                aku keadilan-Mu.&lt;br /&gt;I : Berdoalah pada Tuhan untukku.&lt;br /&gt;U : Semoga Tuhan menerima persembahanmu dan berbelaskasihan pada &lt;br /&gt;                kita karena doa-doamu.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kemudian ia menghampiri Altar dan menciumnya pada bagian tengah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pemindahan Persembahan dan Persembahannya&lt;br /&gt;Madah (Qolo)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mengiringi pemindahan persembahan jemaat bernyanyi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tuhan bertahta dengan berpakaian kemuliaan. Alleluia! Akulah Roti Hidup sabda Tuhan kita; dari tempat tinggi Aku datang ke bumi, agar semua dapat hidup dalam Aku. Sebagai Sabda murni tanpa daging Aku diutus oleh Bapa. Rahim Maria menerima Aku seperti sejumput gandum yang baik dari bumi. Lihatlah! Imam mengangkat Aku di Altar. Alleluia! Terimalah persembahan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Penerimaan Persembahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sambil menerima bahan-bahan persembahan dari umat Imam berdoa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Allah yang mahakuasa, sebagaimana Engkau menerima persembahan orang-orang benar Perjanjian Lama, kini kami meminta Dikau untuk menerima persembahan ini, yang disampaikan kepada-Mu oleh umat beriman-Mu sebagai ungkapan cinta mereka akan Dikau dan akan nama-Mu yang kudus. Siramilah mereka dengan berkat-berkat rohani-Mu, dan sebagai ganti persembahan mereka yang dapat musnah ini, berikanlah kepada mereka kehidupan kekal dan agar mereka dapat masuk ke dalam kerajaan-Mu.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dan jemaat menjawab&lt;/span&gt; “Amin”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Komemorasi (Peringatan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita mengenang Tuhan Allah dan Penyelamat kita Yesus Kristus dan rencana keselamatan-Nya bagi kita. Melalui persembahan yang kini ditempatkan di hadapan kita, marilah kita mengingat semua yang berkenan kepada Allah dari Adam sampai zaman sekarang, teristimewa Santa Perawan Maria, Bunda Allah, dan Santo/a ... [nama pelindung gereja], dan Santo/a …[yang dipesatakan pada hari yang bersangkutan]. Ya Tuhan. ingatlah akan saudara-saudari kami, yang masih hidup dan yang telah meninggal, putera-puteri Bunda Gereja Kudus, khususnya baginya kami mempersembahkan kurban ini … (disebutkan nama-nama orang yang meminta intensi Misa).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Pendupaan dan Madah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sementara Imam mendupai bahan-bahan persembahan, jemaat menyanyikan madah ini.&lt;br /&gt;Alleluia! Kami mengenang Maria, Bunda Allah, para Nabi, para Rasul, para Martir, para Kudus, para Imam, dan semua putera-puteri Gereja, dari satu generasi ke yang lainnya, sampai akhir zaman. Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-5201872926858162476?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/5201872926858162476/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/tata-perayaan-ekaristi-ritus-maronite_11.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/5201872926858162476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/5201872926858162476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/tata-perayaan-ekaristi-ritus-maronite_11.html' title='Tata Perayaan Ekaristi Ritus Maronite: Qurbono (Part 3- Pra Anafora)'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-2710148923897396058</id><published>2009-10-11T20:08:00.000+07:00</published><updated>2009-10-11T20:18:54.939+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gereja (Ekklesiologi)'/><title type='text'>Eklesiologi Antiokhia</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Artikel ini ditulis oleh seorang Uskup Agung Ortodoks bernama Georges Khodr dari Keuskupan Agung Gunung Libanon dan dimuat di koran Libanon bernama an-Nahar. Saya menerjemahkannya dari versi bahasa inggris karya seorang blogger yang blognya bernama "Notes on Arab Orthodoxy dan diberi judul Eklesiologi Antiohia. Seorang Romo Katolik Melkite (Byzantine ramblings) menyatakan bahwa artikel ini berlaku baik untuk Katolik maupun Ortodoks yang menggunakan ritus Byzantine. Saya menerjemahkan dari bahasa inggris dan beberapa kali menambahkan keterangan dalam tanda kurung untuk membuatnya tampak lebih Katolik dan lebih bisa mudah dimengerti oleh orang Kristen Latin (seperti saya sendiri juga adalah orang Latin). Selamat membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi bahasa Inggris dari artikel ini (acuan terjemahan saya):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://araborthodoxy.blogspot.com/2009/10/antiochian-ecclesiology.html"&gt;Notes on Arab Orthodoxy: Anthiochian Ecclesiology&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Blog seorang Romo Katolik membahas artikel ini:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://byzantineramblings.blogspot.com/2009/10/eastern-ecclesiology.html"&gt;Byzantine Ramblings: Eastern Ecclesiology&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Versi asli artikel dalam bahasa Arab:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.annahar.com/content.php?table=makalat&amp;type=makalat&amp;priority=16&amp;day=Wed"&gt;النظام المجمعي في الكنيسة الشرقيّة&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Dan sekarang terjemahan saya:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem pemerintahan dalam Gereja Ortodoks adalah penguatan dari suatu ajaran teologis. Bagi kita, umat sebagai keseluruhan memelihara ajaran Gereja. Hal ini berarti, visi dari seluruh kehidupan Gereja adalah visi seluruh umat beriman, yang tampak melalui para uskup di antara mereka. Sejalan dengan pentingnya kedudukan uskup, ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada seluruh kawanannya. Hal ini tidak berarti bahwa ia bergantung kepada kelompok mayoritas kawanannya, tetapi bergantung kepada mereka yang saleh dan secara aktif menjalankan imannya diantara kawanan. Merekalah yang sesungguhnya adalah Tubuh Kristus sejauh mereka menghadirkan Kristus di bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun, uskup tidak hanya berhubungan dengan seluruh kawanan yang dipercayakan kepadanya. Dia juga berhubungan dengan para metropolitan yang memerintah gereja yang kita sebut ‘lokal’ atau ‘regional’ sebagaimana ia juga dipersatukan dengan para uskup yang beriman lurus di seluruh dunia. Bagaimanapun juga, peristiwa yang kini, terjadi dari hari ke hari, juga menentukan tindakan-tindakan gereja lokal, seperti Gereja Antiokhia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gereja ini diperintah oleh Sinode Suci, yang teridiri dari semua uskup di wilayah ini dan dipimpin oleh sang patriarch sebagai yang pertama diantara yang setara. Misteri tunggal imamat menjadikan mereka satu kumpulan, dan diharapkan juga satu pikiran, yang diimani sebagai pikiran Kristus. Inilah kebersamaan yang mereka bentuk, dan yang kepadanya kita berharap Roh Kudus berhembus dan meluas, agar mereka dalam melayani dengan satu spiritualitas semua umat beriman melalui satu unit spiritual yang kita sebut keuskupan. Karena kesatuan anggota-anggotanya, suatu sinode, seperti Sinode Suci Antiokhia, mengawasi semua wilayah karena kita mengandaikan bahwa para uskup menyatukan pikiran mereka dengan pikiran Kristus dan tidak berbicara menurut kehendak-Nya, dan bahwa mereka berjuang untuk Kristus, dengan Injil sebagai titik acuan mereka. Karena alasan inilah mereka menempatkan kitab Injil di aula tempat mereka berkumpul untuk mengingatkan mereka bahwa mereka menyampaikan sabda-Nya dan bahwa mereka tidak menyampaikan apapun selain Dia ketika mereka membuat keputusan atau secara bersama-sama merencanakan sesuatu atau bertindak atau memilih uskup baru atau mengadili seorang uskup yang melanggar hukum Gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kita, patriarkh adalah penjamin kesatuan karena dia telah mencapai suatu kelepasan. Melalui kebajikan kemurnian ini mereka mengakui dia sebagai yang pertama diantara mereka dan mereka tetap bersemangat untuk menghormati kedudukannya, sama seperti patriarkh juga bersemangat untuk membangun kedudukan para uskupnya. Karena itu mereka tidak berkumpul tanpa dia dan jika Allah memanggil ia untuk diri-Nya sendiri (meninggal), mereka tidak berkumpul kecuali untuk memilih penggantinya. Tidak ada sinode tanpa patriarkh dan tidak ada patriarkh. Dalam hal terjadi skisma, mereka yang memisahkan diri tidak membentuk sinode, tidak perduli apakah dari segi jumlah mereka adalah minoritas, perhimpunan yang dipimpin oleh patriarkh-lah yang merupakan suatu sinode.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya sistem ini tidak memiliki pembanding dalam sistem pemerintahan duniawi apapun, entah itu parlemen atau lainnya. Maka, tidaklah benar untuk mengatakan bahwa Ortodoksi adalah demokrasi. Ortodoksi adalah harmoni Roh Kudus. Sama seperti kalian mematuhi uskup kalian karena Allah mengangkatnya melalui penumpangan tangan (tahbisan), maka kalian juga mematuhi Sinode Suci bukan karena institusi ini adalah otoritas yang berkuasa atas kalian menurut suatu cara legalistis, tetapi lebih karena penumpangan tangan yang telah diletakkan pada kepala tiap uskup pada hari pentahbisannya. “Uskup adalah gambaran (ikon) Kristus”, begitulah kata St. Ignatius dari Antiokhia. Dalam mematuhi seorang uskup, kalian mematuhi Kristus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+ + +&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun juga, uskup adalah manusia dan mereka bisa melakukan kesalahan. Jika suatu kesalahan datang dan merusak ajaran Gereja, kalian bertanggung jawab untuk tidak mematuhi uskup, dan dalam hal ini sinode akan membuat pengaduan kepada sinode Ortodoks lain. Jika uskup lokalmu menentang ajaran Gereja dan mengajarkan sesuatu yang baru (diluar Tradisi Suci) maka kalian harus berhenti mendoakannya dan membawa masalahnya kepada rekan-rekan uskupnya yang lain, khususnya kepada patriarkh. Bagaimanapun juga, hal ini jarang sekali terjadi dan dalam beberapa ratus tahun terakhir kita tidak mengalami masalah semacam itu, karena pendefinisian ajaran Gereja adalah hal yang khusus dilakukan oleh Konsili Oikumenis (dalam Gereja Katolik bukan hanya Konsili Oikumenis tetapi juga Paus yang berbicara secara ex-cathedra) dan bukan oleh sinode lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat terjadi bahwa sinode bertindak tidak bijak dalam suatu masalah pastoral atau administratif. Hal ini didiskusikan dalam sesi yang berkaitan dengan keluhan atau keberatan yang dapat dipertanggungjawabkan dan masalah ini akan diselesaikan secara lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masalah semacam ini para imam yang saleh, yang ahli dalam tradisi gereja serta orang awam yang bijak memainkan peranan yang besar. Semangat kebapakan yang umum  akan menentukan bagaimana menyelesaikan masalah ini secara benar, terutama karena ajaran Gereja mengatakan bahwa para klerus dan umat beriman adalah satu tubuh yang berkaitan satu sama lain sebagai anggota dalam Sabda keselamatan yang dipertahankan dengan niat baik dan hati yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Gereja, jumlah tidak berarti. Kalian tidak mematuhi Sinode karena alasan ini. Kalian menerimanya karena Sinode adalah wujud nyata dari Gereja yang berjuang dalam pemurnian, yaitu keseleuruhan dari mereka yang berdoa. Pada abad-abad pertama, Gereja menolak sinode yang terdiri dari lebih dari 400 orang uskup dan menyebut mereka sebagai sinode perampok (istilah sinode perampok berasal dari Paus St. Leo Agung terhadap sinode Efesus pada tahun 449 berkaitan bidaah monofisit, dalam sinode itu utusan Paus dipukuli oleh sejumlah biarawan dan surat Paus dilarang untuk dibacakan. Akhirnya diadakan Konsili Chalcedon yang diakui sebagai sinode yang benar), waaupun mereka hanya memutuskan apa yang mereka anggap telah diinspirasikan oleh Roh Allah. Sinode bukanlah tuan atas dirinya sendiri dan bukan suatu perkumpulan biasa, tetapi karena kita yakin bahwa ada ikatan antara sinode dengan Tuhan. Ketika Allah memerintah sinode melalui rahmat, ini adalah sinode yang lurus dan kalian hanya terikat kepada apa yang lurus. Uskup adalah mereka yang dipercayai misteri ilahi, seperti kata St. Paulus. Jika mereka bertindak melawan kepercayaan itu, maka mereka menjadi bukan apa-apa, karena tidak ada penguasa dalam Gereja selain Allah sendiri. Dalam Gereja 7 Konsili Oikumenis pertama (yaitu sebelum skisma besar tahun 1054), konsili yang kemudian meneguhkan kebenaran dari konsili sebelumnya dan dengan cara ini membawa kita semakin mendekat kepada kebenaran tertentu dalam hal iman yang sebelumnya tidak begitu jelas. Kebenaran tertentu diteguhkan oleh penerimaan seluruh umat beriman saat para uskup menyampaikan hal itu ketika mereka berkumpul dalam Konsili. Konsili-konsili besar ini tidak hanya dikenal karena teologinya yang hebat dan kebijaksanaannya (tetapi juga karena kekudusan para bapa konsili), dan karena itu kita menghormati para bapa suci yang berkumpul di Nicaea atau di Konstantinopel. Kekudusan dari mereka yang berkumpul menegakkan kebenaran iman mereka karena tidak ada pemisahan antara kepercayaan dan kemurnian hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+ + +&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang kemurniannya kita jadikan acuan juga terpanggil ke dalam suatu pemilihan ketika suatu keuskupan kosong karena uskupnya meninggal. Di beberapa Gereja, seperti di Rusia misalnya, para klerus dan awam berpartisipasi dalam pemilihan secara langsung. Di Gereja-gereja lain, ada suatu komisi yang terdiri dari iman dan awam yang mengurusi nama-nama kandidat dan menyampaikan sejumlah nama kandidat kepada Sinode Suci, yang satu di antara kandidat itu akan dipilih oleh sinode. Di negara kita, komisi nominasi itu adalah perhimpunan keuskupan (diocesan assembly). Jika melalui cara ini belum dapat dicapai keputusan, maka sinode sendiri akan mulai mengajukan kandidat-kandidat dan kemudian memilihnya melalui cara nominasi. Pada dasarnya, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh kandidat, pertama-tama adalah hidup rohani dan moralnya, kemudian pencapaiannya akan suatu tingkat (gelar) dalam teologi, kemudian persyaratan umur dan kemajuan pelayanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun semua syarat ini dipenuhi, hal itu adalah suatu kedekatan dengan ideal yang diharapkan dan bukan suatu jaminan. Kita bisa memilih, misalnya, seorang yang tampak murni dan rendah hati tetapi kemudian kekuasaan membuatnya korup dan menindas kalian. Jika kita melihat pencapaian studi teologi kita dapat saja berpikir dia itu berpengetahuan, tetapi kemudian menjadi jelas bahwa dia lemah dalam penerapan pengetahuan teologisnya. Kualitas baik yang ada dalam diri seorang imam bisa jadi tidak memadai untuk menentukan kecocokannya dengan tugas-tugas uskup. Suatu karunia baru dapat muncul dalam diri seseorang berkaitan dengan panggilan barunya, jadi bukanlah tidak mungkin anggota sinode akan berbeda dalam pilihan mereka. Satu orang mungkin akan berfokus dalam kemampuan teologis seorang kandidat dan yang lain dalam karunia-karunia pastoralnya jika hal itu memang diketahui. Yang lain mungkin akan menekankan kemampuan administratifnya. Tetapi apakah itu kemampuan administratif?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidka perlu terkejut jika para pemimpin kita berbeda-beda dalam hal kriteria ini. Seorang mungkin akan tertarik dengan kecerdasan dan pengetahuan seorang kandidat. Yang lain tertarik dengan pengalamannya. karena masalah ini berkaitan dengan penilaian individu, maka kesepakatan bulat pada dasarnya akan sulit dicari. Bagaimanapun jika hal yang akan membebaskan kita dari ketidakjelasan ini adalah mencari seseorang yang terpanggil kepada jabatan uskup dan memiliki cinta yang teguh dan mendalam kepada Tuhan. Pembelajaran harus ditambahan karena apa yang kita cari dalam diri orang ini adalah pengetahuan tentang masalah iman agar ia dapat berkhotbah dan mengajar. Berkaitan dengan apa yang kita sebut sebagai manajemen harta benda Gereja serta pendapatan dan kekayaan materialnya, Gereja perdana merasa adalah baik bagi uskup untuk menunjuk seorang administrator berkaitan dengan hal ini, karena orang yang mendalami pengetahuan teologis pada umumnya tidak memiliki pengalaman berkaitan dengan hal itu. Sementara bagi orang yang berpengalaman dalam masalah-masalah itu namun tidak memiliki pengetahuan akan Allah dan Sabda-Nya, akan sulit baginya untuk menjalankan tugas utama uskup yaitu berkhotbah dan mengajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kehendak baik dan opini-opini yang mencerahkan dapat menghasilkan terpilihnya seseorang yang penuh kebijaksanaan Allah dan dia akan dilengkapi dengan berbagai anugerah kebijaksanaan yang diterimanya dari orang lain dan dari seiring berjalannya waktu sepanjang dia bersandar kepada mereka yang saleh dan bijak dalam kawanan yang digembalakannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah utama kita adalah Injil Kristus diberikan kepada manusia-manusia yang penuh kelemahan karena kodrat manusiawinya dan mereka yang memiliki tingkat kerohanian tinggi sedikitlah jumlahnya. Gereja di dunia ini belum mencapai kerajaan dan kita tahu, sebagaimana dikatakan oleh Paulus “kita memiliki harta dalam bejana tanah liat”. Untuk menjaga apa yang dipercayakan kepada kita tetap aman sampai kedatangan Tuhan, kita harus selalu berjaga dan menanggung segala kesulitan dengan penghiburan yang kita terima dari atas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-2710148923897396058?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/2710148923897396058/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/eklesiologi-antiokhia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/2710148923897396058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/2710148923897396058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/eklesiologi-antiokhia.html' title='Eklesiologi Antiokhia'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-3607109292802167027</id><published>2009-10-10T07:09:00.000+07:00</published><updated>2009-10-10T07:11:36.347+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gereja (Ekklesiologi)'/><title type='text'>Ritus dan Gereja-gereja Otonom (sui-iuris)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ritus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Suatu ritus menyatakan suatu tradisi gerejani mengenai bagaimana sakramen-sakramen dirayakan. Setiap sakramen memiliki suatu unsur mendasar yang harus dipenuhi agar sakramen dapat dilayankan atau direalisasikan. Materi, bentuk, dan kehendak yang mendasar ini berasal dari hakekat setiap sakramen sebagaimana diwahyukan kepada kita, dan karenanya tidak dapat diubah oleh Gereja. Kitab Suci dan Tradisi, sebagaimana dijelaskan oleh Magisterium, mengatakan kepada kita apa yang mendasar dalam setiap sakramen. Ketika para Rasul membawa Injil kepada pusat-pusat kebudayaan yang besar praktek iman yang mendasar diinkulturasikan kepada mereka, hal yang esensial ditampakkan dengan simbol dan hal-hal lain yang memuat arti spiritual yang sesuai dengan budaa tersebut. Hal ini juga berkenaan dengan sakramen-sakramen. Ada tiga kelompok utama ritus berdasarkan penyebaran iman yang pertama, yaitu: Roma, Antiokhia (Syria), dan Alexandria (Mesir). Kemudian Byzantine muncul sebagai kelompok ritus utama yang sebenarnya berasal dari Antiokhia, terutama dibawah pengaruh St. Basilius dan St. Yohanes Krisostomus. Dari empat kelompok utama ini mengalirlah lebih dari 20 ritus liturgi yang ada dalam Gereja zaman sekarang ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Gereja-gereja Lokal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Suatu Gereja adalah persekutuan umat beriman yang ditata secara hierarkis, baik di seluruh dunia (Gereja Katolik) atau di wilayah tertentu (Gereja lokal). Agar Gereja tanda menjadi tanda (sakramen) Tubuh Mistik Kristus di dunia ini Gereja harus memiliki kepala dan anggota. Tanda sakramental dari Kristus sang Kepala Tubuh Mistik adalah hierarki, yaitu: uskup, imam, dan diakon. Secara khusus, adalah uskup, bersama dengan para imam dan diakon yang menyertainya dan membantu dia dalam tugasnya mengajar, menguduskan dan memerintah. Tanda sakramental dari Tubuh Mistik adalah umat awam, kawanan domba Kristus. Jadi Gereja Kristus sungguh hadir secara sakramental (melalui suatu tanda) dimana ada gembala utama (uskup dan para pembantunya) dan orang-orang Kristen yang dipercayakan kepada kegembalaannya. Keuskupan Birmingham, contohnya, adalah suatu Gereja lokal.&lt;br /&gt;Gereja Kristus juga hadir sepenuhnya secara sakramental dalam Gereja-gereja ritual yang mewakili suatu tradisi gerejani dalam merayakan sakramen-sakramen dan yang ditata dibawah seorang Patriarkh, yang bersama dnegan para uskup dan klerus lainnya dalam Gereja ritual tersebut menampilkan Kristus sang kepala dari umat dalam tradisi tersebut. Dalam sejumlah kasus suatu ritus secara erat berkaitan dengan satu Gereja. Misalnya Gereja Maronite, yang dipimpin oleh seorang Patriarkh memiliki suatu ritus yang tidak dapat ditemukan dalam Gereja-gereja lain. Dalam kasus lainnya, seperti ritus Byzantine, digunakan oleh beberapa Gereja yang memiliki ritus yang sama atau serupa. Misalnya Gereja Katolik Ukraina menggunakan ritus Byzantine, begitu juga Gereja Katolik Melkite Yunani, juga menggunakan ritus Byzantine, tetapi ritus ini juga ditemukan di luar Gereja Katolik, misalnya dalam Gereja-gereja Ortodoks Timur yang tidak bersekutu dengan Roma.&lt;br /&gt;Akhirnya Gereja Kristus hadir secara sakramental dalam Gereja Katolik yang tersebar di seluruh dunia dan bersatu dengan Gembala Tertinggi Gereja Kristus, yaitu uskup Roma. Untuk menjadi Katolik, Gereja lokal dan Gereja ritual harus berada dalam persekutuan dengan Pengganti St. Petrus, sebagaimana para Rasul berada dalam persekutuan dengan Petrus dalam mendirikan Gereja-gereja di wilayah-wilayah yang mereka injili.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Berbagai Ritus dan Gereja-gereja Dalam Gereja Katolik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ritus-ritus dan Gereja-gereja Barat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Secara langsung berada dibawah Imam Agung (Pontifex Maximus) sebagai Patriarkh Barat&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Gereja Roma (juga disebut Latin)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gereja Roma adalah Tahta Utama di dunia dan Tahta Patriarkal dari Kekristenan Barat. Didirikan oleh St. Petrus tahun 42 AD dan dikuduskan dengan darah St. Petrus dan St. Paulus dalam masa penganiayaan oleh Nero (63-67 AD). Sejak saat itu Gereja ini terus-menerus memelihara eksistensinya sebagai sumber keluarga ritus di barat. Sejumlah penelitian para ahli (seperti Rm. Louis Boyer dalam Eucharist) menyatakan bahwa ada kedekatan luar biasa antara ritus romawi yang mula-mula dengan ibadat Yahudi di Sinagoga, yang juga menyertai kurban di Bait Allah. Sementara asal mula dari ritus yang sekarang, bahkan dalam pembaruan Vatikan II, dapat dilacak hanya sampai abad ke 4, hubungan ini menunjukkan bahwa tradisi apostolic kuno yang dibawa ke kota Roma pada dasarnya bersifat Yahudi.&lt;br /&gt;Setelah Konsili Trente dirasakan perlu untuk mengkonsolidasikan ajaran dan praktek dalam kaitan dengan Reformasi Protestan. Maka, Paus St. Pius V membakukan ritus roma kepada Gereja Latin (yang merupakan bawahannya dalam kapasitasnya sebagai Patriarkh Barat) dan hanya mengizikan ritus-ritus barat yang lebih kecil dan berusia ratusan tahun dapat dipertahankan. Banyak ritus yang lebih muda dari sejumlah keuskupan atau wilayah berhenti eksis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Roma - Mayoritas mutlak Katolik Latin dan Gereja Katolik secara keseluruhan. Patriarkh dari ritus ini dan ritus-ritus latin lainnya adalah uskup roma.&lt;br /&gt;• Mozarabic - Ritus dari semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal) yang dikenal sejak abad ke 6, tetapi mungkin juga berakar dari penginjilan mula-mula. Sejak awal abad 11 mulai digantikan oleh ritus roma, walaupun tetap dipertahankan sebagai ritus katedral Keuskupan Agung Toledo,dan 6 paroki yang meminta izin untuk menggunakannya. Pada saat ini perayaannya secara umum bersifat semi-privat.&lt;br /&gt;• Ambrosian - Ritus dari Keuskupan Agung Milan, diperkirakan bahwa asal-mulanya dan mungkin dikonsolidasikan oleh St. Ambrosius walapun jelas tidak dikarang olehnya. Paus Paulus VI berasal dari ritus latin Ambrosian ini. Ritus ini tetap digunakan di Milan, meskipun tidak oleh semua Paroki.&lt;br /&gt;• Bragan - Ritus Keuskupan Agung Braga, Tahta Utama di Portugal, berasal dari abad 12 atau lebih awal. Ritus ini tetap digunakan hanya sekali-sekali pada kesempatan tertentu.&lt;br /&gt;• Dominican -. Ritus dari Ordo Saudara Pengkhotbah (OP) yang didirikan oleh St. Dominikus tahun 1215.&lt;br /&gt;• Carmelite - Ritus dari Ordo Karmel, yang pendirian modernnya dilakukan oleh St. Berthold sekitar tahun 1154.&lt;br /&gt;• Carthusian - Ritus dari Ordo Carthusian yang didirikan oleh St. Bruno di tahun 1084.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ritus dan Gereja-gereja Timur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mereka memiliki hierarkinya dan sistem pemerintahan (sinode) yang berbeda dari ritus latin dan memiliki hukum kanonnya sendiri yaitu Hukum Kanon untuk Gereja-gereja Timur (CCEO). Paus menjalankan otoritasnya atas mereka melalui Konggregasi untuk Gereja-gereja Timur.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Antiokhia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gereja di Antiokhia di Syria (di pantai Mediterania) dianggap sebagai tahta apostolic karena pada awalnya didirikan oleh St. Petrus. Antiokhia adalah satu dari pusat kuno Gereja, sebagaimana dinyatakan juga oleh Perjanjian Baru, dan merupakan sumber dari keluarga berbagai ritus serupa yang menggunakan bahasa Syriac kuno (dialek Semitik yang digunakan Yesus dan pada zaman-Nya dikenal sebagai bahasa Aram). Liturginya berasal dari St. Yakobus dan Gereja Yerusalem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Syria Barat&lt;br /&gt;• Maronite - Tak pernah berpisah dari Roma. Pemimpinnya adalah Patriarkh Antiokhia untuk Gereja Maronite. Bahasa liturgisnya adalah Aram, walaupun dalam perayaan umumnya digunakan bahasa lokal kecuali pada bagian tertentu yang harus menggunakan bahasa Aram. Ada sekitar 3 juta orang Maronite di Libanon (daerah asal), Cyprus, Mesir, Syria, Israel, Kanada, US, Mexico, Brazil, Argentina dan Australia.&lt;br /&gt;• Syriac - Katolik Syriac kembali ke pangkuan Roma tahun 1781 dari bidaah monofisit. Pemimpinnya adalah Patriarkh Antiokhia untuk Gereja Syriac. Ada sekitar 110 ribu Katolik Syriac yang terdapat di Syria, Libanon, Iraq, Mesir, Kanada dan US.&lt;br /&gt;• Malankara - Orang Katolik dari India selatan yang diinjili oleh St. Thomas, dan menggunakan liturgi syria barat. Disatukan kembali dengan Roma tahun 1930. Bahasa liturginya adalah Syriac Barat dan Malayalam dan bahasa lokal. Ada sekitar 350 ribu Katolik Malankara yang terdapat di India dan Amerika Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Syria Timur&lt;br /&gt;• Chaldean - Orang Katolik Babylonia yang kembali ke Roma tahun 1692 dari bidaah Nestorian. Pemimpinnya adalah Patriarkh Babylonia dari Chaldea. Bahasa liturgi adalah Syriac dan Arab. Ada sekitar 310 ribu orang Katolik Kaldea yang tersebar di Iraq, Iran, Syria, Libanon, Mesir, Turki dan US.&lt;br /&gt;• Syro-Malabar - Orang Katolik dari India selatan yang menggunakan liturgi Syria Timur. Kembali ke Roma di abad 16 dari bidaah Nestorian. Bahasa liturgisnya adalah Syriac dan Malayalam. Ada lebih dari 3 juta Katolik Syro-Malabar di negara bagian Kerela, Malayalam di India selatan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; &lt;br /&gt;Byzantine&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gereja Konstaninopel menjadi pusat politik dan keagamaan dari Kekaisaran Romawi Timur setelah Kaisar Konstantine membangun ibukota baru di atas kota kuno Byzantium (324-330). Konstantinopel mengembangkan ritus liturginya sendiri berakar dari Liturgi St. Yakobus, dalam satu bentuk yang telah dimodifikasi oleh St. Basilius, dan dalam bentuk yang lebih umum dipakai, dimodifikasi oleh St. Yohanes Krisostomus. Setelah 1054 kecuali untuk sejumlah masa persatuan kembali yang singkat, kebanyakan orang Kristen Byzantine tidak bersekutu dengan Roma. Mereka membentuk Gereja-gereja Ortodoks Timur, yang kepala titulernya adalah Patriarkh Konstantinopel. Gereja-gereja Ortodoks sebagian besarnya bersifat auto-cephalous, artinya mengepalai diri sendiri, dan dipersatukan satu sama lain oleh persekutuan dengan Konstantinople, yang tidak menjalankan otoritas apapun secara nyata atas mereka. Pada umumnya Gereja-gereja Ortodoks terbagi menurut garis batas nasional. Mereka yang kembali kepada persekutuan dengan Roma dinampakkan dalam Gereja-gereja dan ritus-ritus Gereja Katolik. &lt;br /&gt;1. Armenian&lt;br /&gt;Gereja Armenia menganggap ritusnya sendiri sebagai ritus Byzantine yang lebih kuno. Bentuk kuno yang tidak lagi digunakan oleh kelompok Byzantine lainnya. Mereka adalah orang-orang Katolik pertama yang bertobat sebagai suatu bangsa, yaitu bangsa Armenia (penduduk asli Turki), dan yang kembali ke pangkuan Roma saat perang salib. Pemimpinnya adalah Partiarkh Cilicia untuk Gereja Armenia. Bahasa liturgisnya adalah Armenia klasik. Ada sekitar 350 ribu orang Katolik Armenia yang tersebar di Armenia, Syria, Iran,Iraq, Libanon, Turki, Mesir, Yunani, Ukraina, Perancis, Rumania, US dan Argentina. Kebanyakan orang Armenia adalah Ortodoks dan tidak bersekutu dengan Roma.&lt;br /&gt;2. Byzantine&lt;br /&gt;• Albanian - Orang Kristen Albania yang sejak 1628 bersekutu dengan Roma kini hanya ada 1400 orang. Bahasa liturgisnya adalah Albania. Kebanyakan orang Kristen Albania adalah Ortodoks.&lt;br /&gt;• Belorussian/Byelorussian -Tidak diketahui jumlah orang Kristen Belarusia yang kembali ke pangkuan Roma pada abad ke 17. Bahasa liturgisnya adalah Slavonik. Mereka dapat ditemukan di Belarusia dan di Eropa, juga di Amerika dan Australia.&lt;br /&gt;• Bulgarian - Orang Kristen Bulgaria kembali ke pangkuan Roma tahun 1861. Bahasa liturgisnya adalah Slavonic kuno. Jumlahnya 20 ribu orang dan dapat ditemukan di Bulgaria. Kebanyakan orang Kristen Bulgaria adalah Ortodoks.&lt;br /&gt;• Czech - Orang-orang Katolik Ceko yang menggunakan ritus Byzantine ditata menjadi sebuah yurisdiksi tahun 1996. Kebanyakan orang Kristen Ceko adalah Katolik ritus Latin.&lt;br /&gt;• Krizevci - Orang-orang Katolik Kroasia yang menggunakan ritus Byzantine memperoleh persekutuan dengan Roma di tahun 1611. Bahasa liturgisnya adalah Slavonic Kuno. Ada 50 ribu orang Katolik Kroasia yang menggunakan ritus Byzantine dapat ditemui di Kroasia dan Amerika. Kebanyakan orang Kristen Kroasia adalah Katolik ritus Latin.&lt;br /&gt;• Greek - Orang Katolik Yunani ritus Byzantine kembali ke pangkuan Roma tahun 1829. Bahasa liturgisnya adalah Yunani. Jumlah mereka hanya sekitar 2500 orang di Yunani, Asia Kecil, dan Eropa. Kebanyakan orang Kristen Yunani adalah Ortodoks, mereka dipimpin oleh Uskup Agung Athena sebagai Primat dan Patriarkh mereka adalah Patriarkh Ortodoks di Konstantinopel.&lt;br /&gt;• Hungarian - Keturunan orang-orang Ruthenia yang kembali ke pangkuan Roma tahun 1646. Bahasa liturgisnya adalah Yunani, Hungaria, dan bahasa lokal. Ada sekitar 300 ribu orang beriman yang terdapat di Hungaria, Eropa dan Amerika.&lt;br /&gt;• Italo-Albanian - Mereka tidak pernah berpisah dari Roma, jumlahnya ada sekitar 60 ribu dan terdapat di Italia, Sicila, dan Amerika. Bahasa liturgisnya adalah Yunani dan Italo-Albanian.&lt;br /&gt;• Melkite - Orang-orang katolik yang berasal dari mereka yang memisahkan diri dari Roma di Syria dan Mesir dan kemudian bersatu kembali dengan Roma saat perang salib. Bagaimanapun, persekutuan yang definitive baru terjadi di abad ke 18. Pemimpinnya adalah Patriarkh Antiokhia untuk Gereja Melkite Yunani dan berkedudukan di Damaskus. Bahasa liturgisnya adalah Yunani, Arab dan berbagai bahasa lokal. Jumlahnya adalah sekitar 1,3 juta orang yang tersebar di Syria, Libanon, Yordania, Israel, Kanada, US, Mexico, Brazil, Venezuela dan Australia. &lt;br /&gt;• Romanian - Orang-orang Rumania yang kembali ke pangkuan Roma tahun 1697. Bahasa liturgisnya adalah Rumania. Ada sekitar 1 juta orang Katolik Rumania yang terdapat di Rumania, Eropa dan Amerika. Kebanyakan orang Kristen Rumania adalah Ortodoks Rumania.&lt;br /&gt;• Russian - Orang-orang Rusia yang kembali ke pangkuan Roma tahun 1905. Bahasa liturgisnya adalah Slavonik kuno. Jumlahnya tidak diketahui namun mereka tersebar di Rusia, Cina, serta Amerika dan Australia. Sebagian besar orang Kristen Rusia adalah Ortodoks Rusia dan Patriarkh mereka adalah Patriarkh Ortodoks di Moskow.&lt;br /&gt;• Ruthenian - Orang Katolik yang terpisah dari Roma di Rusia, Hungaria dan Kroasia yang kemudian bersatu kembali dengan Roma di tahun 1596 (Brest-Litovsk) dan 1646 (Uzhorod).&lt;br /&gt;• Slovak - Katolik ritus Byzantine dari Slovakia berjumlah sekitar 225 ribu dan tersebar di Slovakia dan Kanada.&lt;br /&gt;• Ukrainian - Orang Katolik yang terpisah dari Roma melalui Skisma Yunani dan bersatu kembali tahun 1595. Pemimpinnya adalah Uskup Agung Utama Lviv (sekarang pindah ke Kiev dan disebut sebagai Uskup Agung Utama Kiev). Bahasa liturgisnya adalah Slavonik kuno dan Ukraina. Jumlahnya sekitar 5,5 juta dan tersebar di Ukraina, Polandia, Inggris, Jerman, Perancis, Kanada, US, Brazil, Argentina dan Australia. Pada zaman Soviet orang-orang Katolik Ukraina dipaksa bergabung dengan Gereja Ortodoks Ukraina. Namun, hierarki mereka tetap ada di luar Ukraina, dan kemudian didirikan kembali di Ukraina setelah kejatuhan Soviet.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Alexandria&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gereja Alexandria di Mesir merupakan satu dari pusat Kekristenan kuno, karena seperti halnya Roma dan Antiokhia yang memiliki banyak penduduk Yahudi maka kota itu juga menjadi sasaran awal dari penginjilan apostolic. Liturginya berasal dari St. Markus pengarang Injil, dan kemudian menunjukkan adanya pengaruh dari liturgi Byzantine, sebagai tambahan dari unsur-unsurnya yang khas.&lt;br /&gt;• Coptic - Orang-orang Katolik Mesir yang kembali bersekutu dengan Roma tahun 1741. Patriarkh Alexandria menjadi pemimpin dari sekitar 200 ribu umat beriman Gereja ritual ini yang tersebar di seluruh Mesir dan Timur Dekat. Bahasa liturgisnya adalah Koptik (bahasa asli Mesir) dan Arab serta bahasa lokal lainnya. Kebanyakan orang Koptik adalah Ortodoks Koptik yang dipimpin oleh Patriarkh Koptik Alexandria yang umum dipanggil “Baba” (Paus).&lt;br /&gt;• Ethiopian/Abyssinian - Orang Katolik Koptik Etiopia yang kembali ke pangkuan Roma tahun 1846. Bahasa liturgisnya adalah Geez. Jumlahnya sekitar 200 ribu orang yang tersebar di Ethiopia, Eritrea, Somalia dan Yerusalem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini ditulis oleh Colin B. Donovan, STL untuk website ewtn.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-3607109292802167027?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/3607109292802167027/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/ritus-dan-gereja-gereja-otonom-sui.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/3607109292802167027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/3607109292802167027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/ritus-dan-gereja-gereja-otonom-sui.html' title='Ritus dan Gereja-gereja Otonom (sui-iuris)'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-6953160673943962731</id><published>2009-10-10T07:08:00.000+07:00</published><updated>2009-10-10T07:09:33.226+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Spiritualitas'/><title type='text'>Gerakan Karismatik Dalam Gereja-gereja Katolik Timur</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Berikut ini adalah tanya jawab dengan Dr. Anthony Dragani seorang Katolik ritus Byzantine (Ruthenian) dan salah seorang apologist di Catholic Answers.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Q: Apakah gerakan karismatik hadir dalam Gereja-gereja Timur?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A: Hal itu bergantung pada bagaimana seseorang mendefinisikan Gerakan Karismatik. Dalam pikiran sejumlah orang Gerakan Karismatik (secara salah) dihubungan hanya dengan musik praise and worship. Tentu, saja kami tidak memiliki yang seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun, aspek yang lebih mendalam dari Pembaruan ini, termasuk keintiman pribadi dengan Roh Kudus dan karunia-karunia karismatik, dapat ditemukan dalam Kekristenan Timur. Spiritualitas Kristen Timur selalu menempatkan penekanan yang luar biasa akan karya Roh Kudus. Sebliknya, beberapa orang akan berargumen bahwa Gerakan Karismatik dibutuhkan di Barat karena peranan Roh Kudus kurang nampak dalam kesalehan populer. Sementara itu kesalehan Timur selalu berpusat pada Roh Kudus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaruan ini, sebagai suatu gerakan, memiliki dampak dalam Gereja-gereja Katolik Timur. Saya mendengar bahwa dalam Gereja Maronite (khususnya di Libanon) ada banyak kelompok doa karismatik. Saya juga mengenal sekurangnya satu orang imam Katolik Byzantine yang terlibat dalam Gerakan Karismatik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-6953160673943962731?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/6953160673943962731/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/gerakan-karismatik-dalam-gereja-gereja.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/6953160673943962731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/6953160673943962731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/gerakan-karismatik-dalam-gereja-gereja.html' title='Gerakan Karismatik Dalam Gereja-gereja Katolik Timur'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-6575521428177647950</id><published>2009-10-10T07:05:00.000+07:00</published><updated>2009-10-10T07:08:35.421+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Liturgi'/><title type='text'>Penjelasan Qurbono (Part 4)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PENJELASAN TIAP RITUS QURBONO&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Judulnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Judul dituliskan dalam bahasa Syriac dan Arab. Kata Syriac, Qurbono, diterjemahan menjadi kata Arab Quddas, walaupun terjemahan ini tidaklah literal. Dua kata ini dipertahankan karena penggunaannya yang sudah umum dalam kedua bahasa itu. Untuk melengkapi judul ini, ditambahkanlah sub-judul: “Menurut Ritus Gereja Maronite Syriac Antiokhia”. Gereja Maronite, pada kenyataannya bukanlah suatu kelompok gerejani yang berdiri sendiri, melainkan termasuk ke dalam Gereja Antiokhia dalam tradisi Syriac. Penerbitan buku ini oleh “Bkerke” (Tahta Patriarkal) memiliki keistimewaan tersendiri: selain buklet “Ritus Sederhana” tahun 1973, ini adalah satu-satunya buku Qurbono yang secara resmi diterbitkan oleh Kepatriarkan Maronite). Selain itu, tahun 1992 memiliki arti tersendiri: hal itu mengingatkan kita bahwa tepat 400 tahun sebelumnya, edisi pertama Buku Qurbono diterbitkan di Roma (1592-1594). Edisi pertama ini kemudian ditolak karena mengubah sejumlah tradisi Gereja Syriac Antiokhia Maronite (kenyataannya, judul dari edisi ini adlaah: Buku Qurbono Chaldean). Setelah 400 tahun, edisi kita yang sekarang ini, telah membuat koreksi yang diperlukan dan membawa kembali Ibadat Qurbono ke tradisi Maronite yang otentik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Persiapan Persembahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada masa sekarang ini, ritus ini hanya tindakan rutin tanpa arti liturgis apapun. Roti ditempatkan di atas patena, lalu diselubungi; anggur dan air dicampur ke dalam piala lalu ditutup, dan menunggu dibawa ke Altar untuk dikonsekrasi. Pada masa yang lebih awal, ketika persembahan terdiri dari pengumpulan persembahan dari umat yang dikumpulkan oleh jemaat kepada Diakon, ritus ini memiliki banyak makna. Diakon kemudian akan memisahkan persembahan menjadi duga bagian, satu dikhususkan untuk konsekrasi, dan yang lainnya dibagikan kepada umat diakhir Qurbono. Bagian yang dikhususkan untuk konsekrasi disebut Furshono dalam bahasa Syriac (begitu juga kata dalam bahasa Arab Burshan) yang berarti: yang dipisahkan untuk dikuduskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ritus sederhana ini, kami menyisakan unsur-unsur yang mendasar; untuk menyertai tiap tindakan kami menyediakan ayat-ayat yang menyertainya, satu ayat untuk roti, ayat lain untuk penutupan dengan selubung, dst. Kami menyerahkan ritus ini kepada Diakon menurut tradisi yang lebih awal sebagaimana terlihat dalam Buku Bimbingan (Kitab al-Hoda - abad 11). Karena itu, kami mendorong kehadiran seorang Diakon di setiap paroki untuk mendampingi selebran dalam ritus ini. Jika tidak ada Diakon, maka seorang pelayan dengan tahbisan rendah dapat menggantikannya. Ritus ini berlangsung di Altar samping atau di sisi kanan Altar utama (sisi kanan selebran jika ia berdiri di Altar). Pada hari-hari biasa, persiapan persembahan dapat berlangsung di Altar utama, yaitu di sisi kanan Altar. Hal ini menampilkan perubahan praktis untuk hari-hari biasa karena sekarang ini Qurbono dirayakan setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pengenaan Pakaian Liturgis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selebran mengenakan pakaian yang khusus sesuai tradisi Maronite Syriac, sebagaimana hal itu dinyatakan dalam dokumen-dokumen Maronite yang kuno. Untuk kembali kepada tradisi itu merupakan suatu hal yang perlu untuk memelihara identitas Maronite dari semua unsur asing (Latin dan non-Latin). Pakaian ini akan menunjukkan jejak Maronite Syriac “Timur”/ Doa-doa dan mazmur-mazmur yang menyertai penggenaan pakaian ini bersifat optional. Mereka sudah dikenal baik dalam buku-buku liturgi kita. Doa “Ya Tuhan, buatlah aku layak…” yang diucapkan di kaki Altar sebelum memulai Qurbono adalah hal baru dalam tradisi kita yan dipinjam dari ritus Ortodoks Syriac Barat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Penerangan Gereja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tindakan liturgis pertama yang dapat di-indera adalah penyalaan. Kristus adalah terang kita; cahaya melambangkan diri-Nya. Maka, penerangan gereja (lilin dan lampu) berlangsung sebelum selebran masuk, sementara lilin-lilin dinyalakan jemaat menyanyikan madah kepada Kristus sang Terang yang menerangi kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perarakan Masuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perarakan masuk menandai perarakan selebran dan para pelayan pembantunya. Seorang pembawa salib memimpin perarakan diikuti oleh pembawa lilin, pembawa dupa, dan pembawa buku-buku yang diperlukan untuk perayaan. Perarakan dimulai dari sakristi, atau lebih baik lagi dari pintu masuk utama gereja. Perarakan diiringi dengan sebuah madah atau mazmur yang cocok dengan peristiwa liturgis, dan menempatkan semua dalam suasana yang cocok berdasarkan liturgi hari itu. Perarakan masuk berakhir di muka panti imam: semua beridri di hadapan Altar, membungkuk di hadapannya, dan menyanyikan madah, “Aku memasuki Bait-Mu, ya Tuhan..” dalam bahasa Syriac. Madah ini harus dinyanyikan dalam bahasa Syriac di seluruh gereja-gereja Maronite di seluruh dunia. Orang Maronite, di manapun mereka berada, akan dapat mendengar madah yang sama, dengan melodi yang sama, dan dalam bahasa yang sama di semua gereja-gereja mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan persetujuan dari otoritas gerejani yang berwenang, kami memutuskan untuk mewajibkan penggunaan bahasa Syriac dalam menyanyikan tiga madah berikut ini; dialgo pembukaan pada permulaan ibadat (dan saat naik ke Altar pada permulaan anaphora), Qadeeshat Aloho, dan narasi kisah penetapan Ekaristi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ibadat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; “Ibadat” (dalam bahasa Arab Khidmat) adalah terjemahan dari kata Syriac teshmesto. Ibadat ini adalah ritus khusus untuk tindakan liturgis yang khusus. Kenyataannya, dalam tradisi Maronite kita, nama Teshmeshto diberikan kepada buku yang memuat doa-doa Gereja untuk berbagai pesta. Khidmat (ibadat) juga berarti buku yang memuat bagian-bagian jemaat dan Diakon. Saat kami mengatakan Buku Ibadat, kami mengacu kepada buku yang memuat tugas pelayanan Diakon dalam Qurbono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitannya dengan Qurbono, “Ibadat” berarti doa-doa untuk hari pesta sepanjang seluruh masa liturgi. Ibadat adalah unsur dalam Qurbono yang berubah hampir setiap minggu. Dalam bingkai masa-masa liturgi, Ibadat menampilkan kedalaman dan keindahan liturgi. Karena itu, orang yang melayani “Ibadat Pesta” harus menyadari aturan dasar tahun liturgi dan pergantian pesta-pesta dan hari-hari biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tahun Liturgi Maronite&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tahun liturgi dimulai pada minggu pertama bulan November dan berakhir pada minggu terakhir bulan Oktober. Tahun liturgi berpusat pada misteri Tuhan Yesus mulai dari kelahiran-Nya, pembaptisan-Nya, ajaran-Nya yang menyelamatkan, sampai kepada kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya serta turun-Nya Roh Kudus atas para murid-Nya, dan penantian akan kedatangan-Nya yang kedua. Semua perayaan Tuhan ini dianggap sebagai batu penjuru yang penting dalam tahun liturgi dan disebut sebagai “masa liturgi”. Masa-masa liturgi itu adalah: Kelahiran Tuhan, Epifani, Prapaskah, Sengsara, Kebangkitan, Pentakosta, dan Salib Suci. Masa-masa liturgi ini penuh makna dan mengandung banyak berkat, dihayati oleh umat Gereja dari minggu ke minggu, sebagai persiapan dari pesta tertentu atau sebagai bagian dari kelanjutannya. Keseluruhan masa ini dikenal sebagai tahun liturgi atau lingkaran liturgi. Dalam Buku Qurbono yang baru ini, kami memuat serangkaian doa-doa dan madah-mada, yang disebar kesemua pekan sepanjang tahun menyertai semua pesta-pesta Tuhan. Keseluruhan ini membentuk “Ritus Ibadat” yang membentuk bagian Qurbono. Dalam Buku Qurbono disediakan sekitar 50 Ibadat, sama seperti jumlah pekan sepanjang tahun. Ibadat ini memungkinkan komunitas untuk menghayati “peristiwa besar” Tuhan Yesus dan misteri keselamatan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siklus ini mencerminkan suatu hal yang baru dan unik dalam Qurbono Gereja Maronite. Pada saat yang sama, ia menampilkan suatu gerakan kembali kepada kekayaan warisan Syriac Maronite kita, yang memasukkan sejumlah besar “Ibadat”, terutama diantara masa liturgi antara Pentakosta dan dua pesta Rasul-rasul (Santo Petrus dan Paulus, dan Para Rasul secara umum), dalam Pesta Maria diangkat ke surga, dan peringaan-peringatan mingguan, bagi para kudus secara umum. Umat beriman sebagai individu dan komunitas dapat mengalami setiap minggu dalam tahun, dan lebih lagi, setiap hari dalam pekan, sebagai suatu peristiwa istimewa yang berhubungan dengan kehidupan Tuhan Yesus. Dengan cara ini liturgi menjadi peristiwa yang hidup, bukan pengulangan doa-doa yang sama dan madah yang secara rutin diucapkan setiap hari, minggu, dan tahun. Setiap individu beriman dan seluruh komunitas patut bersyukur atas ritus baru yang hidup ini, dengan menghayati suatu hidup yang baru dan menciptakan suatu gerakan yang terberkati dalam pembaruan iman dan hidup Kristen mereka.&lt;br /&gt;Teks dari berbagai Ibadat ini diambil dari berbagai buku liturgi Syriac Maronite. Referensinya dicatat secara detail dalam penelitian-penelitian yang menyertai proyek Qurbono baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Susunan Ibadat Baru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Doa-doa, madah dan tindakan dari tiap ibadat mengikuti suatu urutan yang berlaku untuk semua ibadat:&lt;br /&gt;• Doksologi (Kemuliaan kepada Bapa) &lt;br /&gt;• Doa Pembukaan (Pujian dan Kemuliaan)&lt;br /&gt;• Madah Malaikat (Kemuliaan kepada Allah di tempat mahatinggi)&lt;br /&gt;• Doa Mohon Belaskasih (Hoosoyo)&lt;br /&gt;• Proemion (Pengantar Doksologi)&lt;br /&gt;• Sedro (Susunan Doa)&lt;br /&gt;• Qolo (Madah)&lt;br /&gt;• Etro (Doa Pendupaan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susunan ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok. Pertama, adalah bagian yang dikhususkan untuk memuji dan memuliakan Allah pada awal Ibadat. Kedua, adalah permohonan pengampunan melalui pengenangan akan tindakan Allah yang menyelamatkan yang dikenangkan dalam ibadat hari yang bersangkutan. Dalam kelompok kedua ini, sedro memiliki unsur yang dominan: pada dasarnya sedro adalah pengenangan akan tindakan Allah yang menyelamatkan dimasa lalu dan juga sebagai meditasi teologis dari peristiwa yang sama dalam kaitannya dengan zaman sekarang yang diikuti dengan rangkaian permohonan yang diilhami oleh peristiwa itu sendiri dan oleh kebutuhan komunitas. Doa mohon belaskasihan disertai dengan pembakaran dupa dan pendupaan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Makna Dupa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Liturgi menggunakan dupa untuk berbagai makna.Tiga yang paling penting adalah sebagai berikut: &lt;br /&gt;• Persembahan “kurban dupa” yang terbakar kepada Allah untuk dosa-dosa kita,  &lt;br /&gt;        memohon agar Dia berkenan dengan persembahan kita dan mengasihani kita; &lt;br /&gt;• Pemurnian dari dosa dan pengusiran roh jahat yang menyebabkan dosa. Maka &lt;br /&gt;        selebran mendupai komunitas dan tempat sekitarnya, untuk memurnikan mereka &lt;br /&gt;        dan mempersiapkan mereka menyambut Tuhan Allah segala kemuliaan;&lt;br /&gt;• Untuk menghormati Allah yang bagi-Nya dupa dipersembahkan dan menghormati &lt;br /&gt;        orang-orang benar dan suci yang merupakan Bait Roh Kudus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ritus pembakaran dupa dan pendupaan sendiri adalah bagian dari ritus kuno dalam liturgi Maronite kita. Pendupaan secara umum memberikan karakteristik yang membedakan dalam ritus-ritus Timur. Karakteristik ini sebenarnya lahir dalam liturgi yang dipahami sebagai gerakan simbolik dan menyentuh selain perasaan kagum yang mendalam dan penghormatan. Ritus ini harus dipelihara. Semua yang ambil bagian dalam ritus itu memiliki peranannya sendiri-sendiri: selebran membakar dupa, Diakon melakukan pendupaan, seorang konselebran mengucapkan proemion dan sedro, serta komunitas ambil bagian dengan berdoa dan memohon belaskasihan. Para Putera Altar sendiri memiliki peranan mereka: mereka membawa pendupaan dan menyerahkannya kepada selebran. Ketika selebran merayakan Qurbono sendirian, ia sendiri membakar dupa, mendupai, dan mengucapkan hoosoyo. Dia dapat menyerahkannya kepada orang lain untuk menyanyikannya dengan suara yang merdu dan melodi yang indah; bagaimanapun, ia harus mengkhususkan bagi dirinya sendiri proemion dan sedro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Qadeeshat Aloho&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah madah Trisagion yang umum untuk semua ritus dalam Qurbono dan dalam ritus-ritus liturgis lain. Dalam Gereja Byzantine dan Gereja-gereja Syriac Timur, madah ini ditujukan kepada Tritunggal Mahakudus. Namun, dalam Gereja-gereja Syriac Barat, termasuk Gereja Maronite, dalam dalam Gereja-gereja Armenian, Koptik, dan Ethiopia (Geez), madah ini hanya ditujukan kepada Tuhan Yesus. Gereja Latin, secara teologis menganggap madah ini bersifat Trinitarian; namun, dari sudut pandang liturgis, yaitu dalam ritus penghormatan salib pada Jumat Agung, madah ini ditujukan hanya kepada Tuhan Yesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut tradisi yang cukup dihormati, diceritakan bahwa Yusuf dari Arimatea adalah orang pertama yang mengucapkan madah ini di kaki Kristus saat ia memindahkan-Nya dari salib dan menguburkannya. Tanggapan umum terhadap seruan Qadeeshat Aloho adalah “Kasihanilah kami”. Namun, dalam pesta-pesta besar dan masa liturgi yang mengikutinya, bait-bait khusus ditambahkan kepada tanggapan ini, seperti: “yang lahir dari puteri Daud…kasihanilah kami” (Kelahiran Tuhan), “yang dibaptis oleh Yohanes…kasihanilah kami” (Epifani), “yang disalibkan bagi kami….kasihanilah kami (Minggu Sengsara), “yang bangkit dari kematian….kasihanilah kami” (Kebangkitan). Kebiasaan berakar dalam tradisi Syriac Maronite kita. Kami mempertahankan variasi ini walaupun ada yang menentangnya dan menuduh penggunaannya sebagai berbau bidaah karena mereka menganggap madah ini sebagai bersifat Trinitarian dan meyakini bahwa saat kita menyanyikan ”yang disalibkan untuk kita” dalam madah ini berarti kita mengenakan penyaliban kepada ketiga pribadi Tritunggal Mahakudus, dan bukan hanya kepada Tuhan Yesus. Kami memilih untuk tetap mempertahankan berbagai tanggapan ini sesuai dengan masa-masa liturgi karena mereka menambah kekayaan ritus dan memperdalam iman kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madah ini beserta tanggapannya harus selalu dinyanyikan dalam bahasa Syriac di seluruh gereja-gereja Maronite di seluruh dunia, sebagai tanda kesatuan diantara semua Maronite.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Doa Sesudah Qadeeshat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Doa ini adalah doa tradisional khusus Maronite dalam semua ritual mereka. Kami memilih teksnya sebagai titik peralihan antara penutupan Qadeeshat Aloho dan persiapan mendengarkan Sabda Tuhan melalui pembacaan Kitab-kitab Suci yang akan segera dilangsungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bacaan-bacaan Kitab Suci&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pembacaan Kitab Suci, Sabda Tuhan, menampilkan jantung dari bagian pertama Qurbono ini. Yang mendahuluinya adalah persiapan kepada Sabda yang hidup ini: untuk mewartakannya, mendengarkannya, dan menghidupinya. Gereja menunjukkan pentingnya hal ini dengan menyertainya dengan madah, pengajaran, dan prosesi untuk menunjukkan kepenuhan maknyanya. Teks-teks bacaan Kitab Suci bervariasi sesuai perayaan dan masa liturgi. Kami sedang memeprsiapkan buku yang detail dan lengkap untuk bacaan-bacaan, termasuk teks-teks dari Perjanjian Lama sebagaimana Perjanjian Baru. Untuk sekarang ini kami membatasi bacaan hanya dua saja: Surat-surat Paulus dan Injil untuk hari minggu dan pesta, serta Surat-Surat Paulus dan Surat-Surat lain untuk hari-hari biasa. Sebentar lagi pilihan akan menjadi lebih luas dan kita akan memiliki daftar yang lebih menyeluruh yang mencakup semua buku Kitab Suci. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mazmoroo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mazmur disini adalah suatu madah khusus dalam tradisi Maronite. Sekarang ini, Mazmur ini terdiri dari tiga bait puitis yang dilagukan menurut melodi Ephremic. Madah ini menggabungkan ayat dari kitab Mazmur dengan ayat-ayat madah yang diinspirasi oleh peristiwa keselamatan yang menandai tema pesta ini. Struktur khusus ini merupakan bagian kuno dari tradisi Antiokhia. Dalam ritus lain, Mazmooro ini serupa dengan menyanyikan ayat-ayat mazmur sebelum Epistel atau bacaan dari buku lain dalam Kitab Suci, dengan pengecualian bacaan Injil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sudah kami sampaikan sebelumnya, dimasa datang kami akan memilih bacaan dari semua buku-buku dalam Kitab Suci. Setiap bacaan akan didahului dengan penjelasan singkat untuk pemahaman yang lebih baik akan bacaan Kitab Suci. Pemilihan bacaan akan sulit dan memakan waktu. Pada saat ini, para pakar dari Komisi Liturgi dan Komisi Kitab Suci sedang menggabungkan usaha untuk tujuan itu. Mereka akan menetapkan teks Kitab Suci yang cocok untuk setiap hari menurut pesta dan masa liturgi.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Prosesi Injil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pewartaan Injil, dilangsungkan suatu prosesi di Panti Imam untuk menghormati Sabda Allah. Menurut Patriarkh Duwaihy, pada zaman dulu prosesi dilangsungkan di tengah jemaat. Sekarang ini, kami membatasinya hanya di Panti Imam. Prosesi diawali dan diakhiri di tempat Kitab Injil diletakkan, dengan ini kami memelihara ritus prosesi dan disisi lain menyingkat perayaan liturgi. Sebagai tambahan, kami juga mempertahankan pembakaran dupa sebelum Injil, untuk menghormati Sabda Allah dan juga sebagai undangan bagi jemaat untuk berdiri. Peringatan Diakon seperti “Tetaplah tenang…”, mengarahkan jemaat kepada suasana keagamaan yang cocok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pewartaan Injil &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pembacaan Injil bukan sekedar pembacaan yang asal-asalan; tetapi merupakan pewartaan indah yang dilakukan tidak dengan terburu-buru; di sejumlah gereja dan dalam beberapa kesempatan, pembacaan ini berubah menjadi menyanyikan teks. Sebelumnya, teks Injil bahasa Syriac akan dinyanyikan dalam melodi sederhana, dan kemudian disusul terjemahan bahasa Arab. Menyanyikan Injil dalam perayaan meriah memiliki banyak manfaat. Kami ingin kembali kepada kebiasaan itu. Kami juga tidak perlu mengulang bahwa pembacaan Injil berpusat pada tema pesta, yaitu peristiwa keselamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks liturgi harus cukup sederhana dan mudah dimengerti. Tradisi Maronite kita memilih versi bahasa Syriac yang disebut Peshitta. Ini adalah teks Alkitab kuno yang dekat dengan bahasa Aram yang digunakan oleh Tuhan kita dan juga para Rasul-Nya untuk mewartakan kabar baik pada mulanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pewartaan (Korozooto)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pewartaan ini dikenal sebagai “yang sederhana”. Yang merupakan satu dari tiga pewartaan dalam Ibadat Qurbono. Pewartaan ini diucapkan setelah homili dengan partisipasi jemaat. Diilhami oleh tema pesta, pewartaan ini dianggap sebagai meditasi teologis dan puitis dari pewartaan. Kompilasi dari pewartaan ini dimuat dalam buku yang khusus bagi para Diakon. Mereka sekarang sedang dipersiapkan dan ditambahkan ke dalam daftar seluruh buku untuk Qurbono (daftar seluruhnya ini termasuk buku untuk selebran, asisten, pembaca, dan jemaat). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pewartaan ini, bagian pertama Qurbono ditutup. Pada zaman dulu mereka yang akan dibaptis atau katekumen diperbolehkan ambil bagian didalamnya dan setelahnya mereka dipersilakan pulang. Kemudian bagian kedua, yang dikhususkan bagi umat berimana akan dimulai. Bagian kedua ini adalah bagian ekaristis, didahului dengan penyerahan persembahan, persembahannya, dan penempatannya di Altar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-6575521428177647950?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/6575521428177647950/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/penjelasan-qurbono-part-4.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/6575521428177647950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/6575521428177647950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/penjelasan-qurbono-part-4.html' title='Penjelasan Qurbono (Part 4)'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-7114777392016803818</id><published>2009-10-09T15:42:00.000+07:00</published><updated>2009-10-09T16:03:55.120+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Para Kudus'/><title type='text'>St. Rafqa Boutrossie al-Choubouq al-Rais</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.rafca.org/i/saint/rafca/rafca10.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 398px;" src="http://www.rafca.org/i/saint/rafca/rafca10.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Riwayat Hidup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Rafqa lahir pada tanggal 29 Juni 1832, bertepatan dengan Hari Raya St. Petrus dan Paulus, disebuah desa di wilayah Metn Utara, Libanon. Ia adalah puteri tunggal dari pasangan Mourad Saber al-Chobouq al-Rais dan Rafqa Gemayel. Ia dibaptis pada tanggal 7 Juni 1832 oleh Abouna (=Pater, dalam bahasa Aram) Hanna al-Rais di gereja Mar Jergyes (St.George) dan diberi nama Boutrossie (bentuk feminin dari Boutros/Petrus). Masa kecil Boutrossie berlangsung bahagia, ia dibesarkan dalam keluarga Katolik ritus Maronite yang saleh, ketika ia berusia tiga tahun orang tuanya mulai mengajarkan doa-doa dasar seperti Tanda Salib, Bapa Kami, dan Salam Maria serta mengajaknya untuk terlibat aktif dalam kehidupan Paroki di desa mereka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rafqa Gemayel meninggal ketika Boutrossie berusia 7 tahun. Setelah ibunya meninggal, Boutrossie tinggal bersama ayahnya, namun kesulitan ekonomi yang melanda seluruh Libanon dan juga keluarga itu memaksa sang ayah untuk pergi merantau ke Damaskus. Selama sang ayah berada di Damaskus, Rafqa dititipkan kepada keluarga Assaad Badawi, yang merupakan keluarga kaya dan terpandang di wilayah itu. Meskipun dititipkan untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga, namun keluarga Assaad Badawi sangat menyayangi Boutrossie, istri Assad yang bernama Heleneh memperlakukan Boutrossie sebagai puterinya sendiri dan menyebut Boutroussie sebagai teladan kejujuran, kesalehan, dan kemurnian.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah empat tahun tinggal bersama keluarga Badawi, Rafqa kembali kepada ayahnya. Keadaan keluarga mereka kini mengalami perubahan karena sang ayah telah menikah kembali dengan seorang perempuan bernama Kafa. Boutrossie sangat disayang oleh ibu tirinya, namun rasa sayang ini justru menimbulkan konflik dalam keluarga besar. Kafa rupanya berniat menjodohkan Boutrossie dengan adik laki-lakinya, sementara itu bibinya, yang merupakan saudari ibu kandungnya berniat menjodohkan Boutroussie dengan puteranya. Kemudian timbullah pertengkaran antara ibu tiri dan bibi Boutroussie, mereka berdua berebut menjodohkan Boutroussie dengan pilihan masing-masing.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di tengah-tengah keributan mengenai perjodohan itu, Boutroussie justru merasakan adanya panggilan untuk suatu cara hidup yang lain. Didalam hatinya ia merasa bahwa Allah memanggilnya untuk hidup membiara. Dalam kebingungannya ini Boutroussie menemukan sosok pembimbing rohani pada diri Abouna Youseff Gemayel. Abouna Youseff masih kerabat almarhum ibunya dan merupakan pembimbing rohani yang baik. Boutroussie sering mengunjungi Abouna Youseff di Paroki St. Mikael di Bifkaya dan di sana ia mengenal Konggregasi Mariamite yang didirikan oleh Abouna Youseff bersama para misionaris Yesuit.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada tahun 1859 Boutroussie memutuskan untuk masuk Konggregasi Mariamite setelah ia diteguhkan lewat sebuah suara yang mengatakan kepadanya “kamu akan menjadi biarawati” saat ia dan 2 orang temannya berdoa di hadapan ikon Bunda Maria Pembebasan. Keluarga Boutroussie rupanya tidak begitu setuju dengan keputusannya untuk menjadi biarawati, ayah dan ibu tirinya datang ke biara meminta ia pulang, namun Boutroussie menolaknya, ia memilih untuk tetap menjadi biarawati. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di biara Boutroussie mulanya bertugas di dapur untuk mempersiapkan makanan bagi para seminaris dan menggunakan waktu luangnya untuk memperdalam bahasa Arab, kaligrafi, dan matematika. Diantara para seminaris yang sempat ia layani banyak diantaranya akan menjadi tokoh penting dalam Gereja Maronite antara lain Patriarkh Elias al-Houwayek dan Uskup Agung Boutros al-Zoghbi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1860 Boutroussie mulai ditugaskan untuk mengajar, tugas pertamanya adalah di Deir al Kamar, dan di tempat ini pula ia menyaksikan suatu kerusuhan berdarah yang dipicu oleh serangan orang-orang Druze terhadap warga Maronite, kerusuhan itu menewaskan sekitar 7000 orang, menghancurkan 360 desa, 560 gereja, 28 sekolah dan 42 biara. Dalam kerusuhan itu Boutroussie sempat menyelamatkan seorang anak dengan cara yang unik, yaitu menyembunyikannya di balik jubah sehingga anak itu lolos dari kejaran para perusuh.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kemudian Boutroussie dipindahkan ke Byblos dan akhirnya ke sebuah desa bernama Maad. Kedatangan para suster Mariamite ke Maad difasilitasi oleh seorang kaya bernama Antoun Issa. Antoun Issa menghendaki agar di desanya didirikan sebuah sekolah bagi anak-anak perempuan, ia meminta agar Patriarkh Masaad bersedia memberi izin kepada para suster Mariamite untuk berkarya di desanya. Lebih jauh lagi ia menyumbangkan segala yang diperlukan untuk mendirikan sekolah, dan menyerahkan separuh rumahnya untuk dijadikan rumah para suster.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Para suster cepat diterima di Maad dan sekolah yang mereka dirikan berkembang pesat, tetapi kesulitan ekonomi lagi-lagi mendatangkan masalah bagi para suster. Kesulitan ekonomi membuat para Yesuit memutuskan untuk menggabungkan Konggregasi Mariamite dan Hati Kudus dari Zahle. Para suster yang tidak setuju dengan penggabungan itu dipersilakan meninggalkan biara. Situasi kembali menjadi sulit bagi Boutroussie.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tuan Antoun Issa yang senang dengan pekerjaan para suster menawarkan agar jika para suster memilih meninggalkan biara mereka tetap tinggal di desanya dan ia akan menggaji mereka sebagai guru. Boutroussie menolak permintaan ini, dan menceritakan pengalaman rohaninya kepada Tuan Antoun bahwa ia ingin menjadi pertapa. Boutroussie menceritakan bagaimana ia mendapat mimpi bertemu St. Antonius Agung, St. George, dan St. Simon pertapa dan St. Simon memintanya bergabung dengan para pertapa Maronite yang dikenal dengan sebutan Baladite. Boutroussie menceritakan bahwa mimpi ini memberinya kebahagiaan dan menghapuskan semua kekhawatirannya. Tuan Antoun dan Boutroussie sama-sama yakin bahwa mimpi ini adalah jawaban dari Allah atas pergumulan hidup Boutroussie. Selanjutnya Tuan Antoun membantu Boutroussie masuk biara Baladite dengan meminta rekomendasi bagi Boutroussie dari sejumlah imam dan uskup yang dikenalnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Boutroussie kemudian menjadi biarawati di Pertapaan St. Simon al-Qarn di Aito dan tetap setia sampai akhir hayatnya. Ia mengganti namanya dari Boutroussie menjadi Rafqa, sesuai dengan nama ibunya, orang pertama yang memperkenalkan Kristus dan menanamkan rasa cinta kepada Allah dalam dirinya. Pada minggu pertama bulan Oktober 1885, Rafqa meminta agar Yesus memberinya penyakit dan penderitaan sehingga ia dapat menemani Yesus menanggung penderitaan dan sengsara-Nya. Doa Rafqa ini dijawab dengan cepat, ia menderita penyakit pada mata yang berakhir dengan kebutaan dan juga menderita lumpuh. Rafqa melewati tahun-tahun penderitaannya dengan penuh syukur karena  diberi kesempatan untuk menemani Yesus dalam sengsara-Nya. Akhirnya setelah melewati penderitaan panjang Rafqa meninggal pada tanggal 23 Maret 1914, bertepatan pada hari Senin Abu (permulaan masa Prapaskah menurut kalender liturgi Maronite), ia meninggal sekitar 4 menit setelah menerima absolusi dan berkat terakhir. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada anggal 11 Februari 1982 Paus Yohanes Paulus II menyatakan Rafqa sebagai Venerabilis, dan kemudian pada tanggal 17 November 1985 menyatakan Rafqa sebagai Beata, dan akhirnya pada tanggal 10 Juni 2001 menyatakannya sebagai Santa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menderita Bersama Yesus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Salah satu hal yang paling menonjol dalam kehidupan rohani Rafqa adalah kerelaannya untuk menderita bersama Yesus. Kesadaran ini muncul setelah ia melihat penderitaan para saudari sebiaranya yang sedang sakit, penderitaan masyarakat di Deir al Kamar dan kemudian dengan penyakitnya sendiri. Melalui semua penderitaan ini Rafqa semakin mencintai Salib dan ingin memanggulnya bersama sang Penebus. Rafqa menghayati benar kata-kata Kitab Suci “sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikianlah pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah” (2Kor 1:5),  “bersukacita karena boleh menderita dan menggenapkan apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu Gereja” (Kol 1: 24), “bersukacitalah sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya” (1 Ptr 4: 13). Bagi Rafqa semua penderitaan tidaklah sia-sia karena melaluinya Tuhan bekerja sehingga “penderitaan kami menjadi penghiburan dan keselamatan bagi kamu; jika kami dihibur, maka hal itu adalah untuk penghiburan kamu, sehingga kamu beroleh kekuatan untuk dengan sabar menderita kesengsaraan yang sama seperti yang kami derita juga” (2Kor 1:6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerinduan ini membawa Rafqa untuk meminta penderitaan dari Tuhan, ia rindu untuk membawa tanda-tanda kesengsaraan Kristus dalam dirinya (Gal 6: 17). Kerinduan inilah yang akhirnya mendorong Rafqa untuk berdoa secara khusus memohon agar Tuhan berkenan memberinya suatu penderitaan. Doa Rafqa ini dijawab dengan cepat dan segera oleh Tuhan, tak lama setelahnya Rafqa mendapatkan rasa sakit yang luar biasa pada matanya, kedua matanya membengkak dan tampak seperti terbakar. Para rekan susternya berusaha mengobati penyakit ini dengan mengirimkan Rafqa ke sejumlah dokter, namun upaya ini tampak sia-sia. Setelah pengobatan ke dokter-dokter lokal tidak membuahkan hasil. Suatu ketika seorang imam meminta agar Rafqa dibawa kepada seorang dokter Amerika yang sedang berada di Libanon, dokter Amerika ini kemudian mengoperasi Rafqa. Operasi ini berakhir dengan kegagalan dan Rafqa kehilangan mata kanannya, sehingga para suster terpaksa membawa Rafqa ke dokter lain lagi untuk menghentikan pendarahan yang masih berlangsung akibat operasi. Dua tahun setelah operasi Rafqa mata kirinya juga menjadi buta, dan Rafqa mengalami kebutaan total. Selain buta dan tetap mengalami rasa sakit pada matanya, Rafqa juga menderita kelumpuhan dan kerap kali mengalami pendarahan dari hidungnya. Ia menjadi kurus kering dan kondisinya sangat lemah. Secara khusus ia sangat tersiksa dengan rasa sakit pada kedua bahunya, rasa sakit yang membuatnya berkali-kali berdoa “bagi kemuliaan Allah, dalam partisipasi dengan luka Yesus pada bahu-Nya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun sakit parah, Rafqa selalu berusaha untuk menjalankan semua kewajiban hidup membiaranya. Sejauh mungkin ia berusaha agar dapat mengikuti ibadat bersama di kapel, dan ketika ia tidak mampu maka ia mengisinya dengan berdoa sendirian di tempat tidurnya. Sekalipun ia buta dan lumpuh namun ia tetap bekerja dengan menjahit dan menyulam. Rafqa yakin bahwa Allah sengaja tidak memberikan rasa sakit pada kedua tangannya agar ia tetap dapat bekerja dengan tangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafqa mengalami penderitaan ini selama sekitar 20 tahun, dan kesaksian dari mereka yang pernah mengenalnya mengatakan kepada kita bahwa mereka tidak pernah melihat ia mengeluh. Dari diri Rafqa sendiri terlihat jelas bahwa ia menyadari benar bahwa penderitaannya adalah “bagi kemuliaan Allah, dengan ambil bagian dalam luka Yesus dan mahkota duri-Nya”.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Kecintaan Kepada Ekaristi Kudus Dan Perawan Maria&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2000, bertepatan dengan Yubileum Agung, Paus Yohanes Paulus II menetapkan Rafqa sebagai teladan dalam melakukan Adorasi kepada Sakramen Mahakudus. Selama hidupnya Rafqa menunjukkan betapa ia mencintai Tuhan dalam Ekaristi dan berusaha agar orang lain juga memiliki cinta kepada Yesus dalam Ekaristi. Sewaktu ia masih menjadi guru ia kerap kali mengatakan kepada para muridnya “Kalian hendaknya mengerti bahwa Yesus turun ke Altar saat imam mengucapkan Kata-kata Suci (konsekrasi), pada saa itu, tundukkanlah kepala kalian dan renungkanlah Tuhan yang tersembunyi dalam Roti dan Anggur”. Ia juga mendorong agar para muridnya kerap menerima Sakramen Tobat dan sering menyambut Komuni. Rafqa juga adalah orang yang diduga mendorong kebiasaan Penahtaan Sakramen Mahakudus di gereja St. Yohanes Markus di Byblos dan menyebarkan devosi ini di kota itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafqa menyadari benar bahwa Ekaristi adalah suatu Kurban sebagaimana orang-orang Maronite menyebut Misa dengan nama Qurbono, sebuah kata dalam bahasa Aramaik yang berarti Kurban. Maka Ekaristi adalah suatu Kurban yang dipersembahkan kepada Allah dan pada saat yang sama adalah santapan yang menguduskan jiwa kita sebagaimana dalam bahasa Arab mereka menyebutnya Quddas (Kudus). Pemahaman ini mendorong Rafqa untuk bertekun dalam menjaga kekudusan dan mempersembahkan hidupnya sebagai kurban bagi Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafqa menunjukkan cintanya kepada Ekaristi dengan cara yang luar biasa. Pada suatu Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus antara tahun 1905-1914, ia begitu ingin mengikuti Misa di kapel sekalipun tubuhnya lumpuh dan sangat lemah. Para suster berusaha memindahkan dia ke kapel namun gagal karena Rafqa yang selain lumpuh juga sudah sangat kurus kering itu terlalu lemah untuk beranjak dari tempat tidurnya, sehingga suster pemimpin biara hanya menjanjikan bahwa sesudah Misa, imam akan mengantarkan Komuni untuknya. Namun, kemudian dengan bantuan rahmat Allah, Rafqa meminta agar Yesus membawanya ke kapel. Ia memperoleh sedikit tenaga untuk menjatuhkan dirinya ke lantai dan kemudian merangkak ke kapel. Dengan perjuangan yang luar biasa Rafqa tiba di kapel dan menyambut Komuni. Tindakan ini menunjukkan betapa besarnya cinta Rafqa kepada Yesus dalam Ekaristi dan menegaskan bahwa Ekaristi adalah sumber kekuatan dan penghiburan di tengah segala penyakit dan kelemahan tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafqa juga memiliki cinta yang besar kepada Perawan Maria, devosi kepada Perawan Maria adalah warisan yang sangat berharga yang ia terima dari ibunya. Sedari kecil Rafqa memiliki ikatan yang istimewa dengan Bunda Maria, khususnya dengan ikon Bunda Maria Pembebasan yang populer di Libanon ketika itu. Tradisi rohani orang-orang Libanon secara umum memiliki hubungan erat dengan Santa Perawan, di negara itu Bunda Maria populer dengan nama “Bunda kita dari Libanon” dan devosi kepada Maria tumbuh sangat subur dalam lingkungan ritus Maronite dan semua orang Kristen Libanon entah mereka itu Katolik (Maronite, Syriac, Chaldean, Yunani, Latin dst), Ortodoks Yunani, ataupun Ortodoks Syria (Monofisit).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Garam dan terang dunia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah kematiannya, tepatlah jika kata-kata Kitab Suci ini dikenakan kepada Rafqa “Yang mati dibunuhnya pada waktu matinya itu lebih banyak dari pada yang dibunuhnya pada waktu hidupnya” (Hakim 16: 30b). Begitulah setelah kematiannya Rafqa telah membuat banyak orang mati terhadap dosa dan hidup bagi Kristus jauh lebih banyak daripada yang telah ia lakukan selama hidupnya. Rafqa telah menjadi sumber kekuatan bagi mereka yang menderita khususnya karena penyakit yang amat parah. Ia menunjukkan bahwa penderitaan kita tidaklah tanpa arti dan di tangan Tuhan penderitaan kita menjadi sesuatu yang berharga untuk keselamatan kita dan juga orang lain. Penderitaan Rafqa juga telah menjadi sumber penghiburan bagi banyak orang lain yang menderita, yang dengan menatap penderitaannya telah memperoleh kekuatan dan penghiburan dari Tuhan. Rafqa juga telah menjadi perantara bagi banyak mukjizat penyembuhan dan pertobatan sehingga nama Tuhan semakin dimuliakan melaluinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu tepatlah Paus Yohanes Paulus II pada saat ia menyatakan Rafqa sebagai Beata mengatakan hal ini tentang dirinya: “Beata Rafqa dari Himlaya adalah “garam dan terang dunia”. Dan inilah perutusan dari semua murid-murid Yesus. Setelah ia menerima banyak dari harta Gereja dan hidup membiara, Beata yang baru ini memberikan kepada Gereja dan tanah airnya, secercah rahasia keberadaan, yang sepenuhnya diperkaya oleh Jiwa sang Penebus. Rafqa bagaikan lampu yang menyala di puncak gunung. Kita dapat menggambarkan dia dengan kata-kata indah dari Mazmur 92 (ayat 12): Orang benar akan bertunas seperti pohon kurma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tulisan ini dibuat dengan mengacu pada riwayat hidup St. Rafqa yang dimuat di saintrafqa.org, wikipedia, dan vatican.va&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-7114777392016803818?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/7114777392016803818/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/st-rafqa-boutrossie-al-choubouq-al-rais.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/7114777392016803818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/7114777392016803818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/st-rafqa-boutrossie-al-choubouq-al-rais.html' title='St. Rafqa Boutrossie al-Choubouq al-Rais'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-4676518843196514978</id><published>2009-10-06T21:26:00.000+07:00</published><updated>2009-10-06T21:30:50.581+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Spiritualitas'/><title type='text'>Bertumbuh Dalam Pengenalan Akan Allah</title><content type='html'>Buat bahan pengajaran sel gabungan KTM MM Bdg&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita masuk ke dalam komunitas ini, kita tentu memiliki suatu tujuan. Tujuan ini mengungkapkan apa yang sebenarnya kita harapkan dari komunitas ini. Tujuan itu bisa bermacam-macam seperti ingin mendapat teman-teman baru, ingin punya pacar, sekedar mengisi waktu luang dengan kegiatan yang menurut kita baik, atau hal-hal lain, namun yang utama dan paling dalam tentunya tujuan kita bergabung dalam komunitas ini adalah agar kita bisa mengenal Allah secara lebih dalam lagi. Semua tujuan yang lain itu tidak seluruhnya salah sepanjang kita menempatkannya secara proporsional, tetapi tujuan yang utama yaitu untuk semakin mengenal Allah harus ada, dan jika hal itu tidak lagi menjadi motivasi yang utama maka kita tidak akan lama bertahan di sini. Hanya kerinduan untuk semakin mengenal Allah yang akhirnya akan membuat kita betah dan memiliki rasa cinta terhadap komunitas ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hari ini kita akan merenungkan bagaimana kita dapat semakin bertumbuh mengenal Allah dan melihat bagaiman komunitas ini bisa membantu kita mencapai hal itu. Pertama-tama marilah kita mendefinisikan dulu apa itu mengenal Allah. Mengenal Allah dalam pandangan Kristen berarti memiliki relasi dengan Allah. Sama seperti halnya dengan relasi antar manusia, relasi dengan Allah juga dapat berkembang dan menjadi semakin mendalam, begitu mendalam sehingga kita tiba pada persatuan cintakasih yang memperbarui diri kita secara radikal sehingga menjadi serupa dengan Kristus Tuhan kita. Sama seperti halnya relasi dengan sesama manusia membutuhkan waktu dan komitmen untuk menjadi semakin berkembang dan mendalam begitu juga relasi dengan Allah membutuhkan waktu dan komitmen untuk mencapai kedalamannya. Santo Paulus menggambarkan proses pertumbuhan hidup rohani kita dalam suatu perbandingan dengan pertumbuhan fisik kita dari bayi sampai menjadi dewasa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lalu, apa yang harus kita lakukan agar kita dapat bertumbuh dalam relasi ini? St. Simeon seorang mistik Byzantine mendapatkan nasehat dari buku Hukum Rohani karangan Markus sang Pertapa “Jika engkau mencari penyembuhan rohani, dengarkanlah suara hatimu. Lakukan apa yang ia katakan padamu dan kau akan melihat bagaimana ia melayanimu”. St. Simeon menuruti bimbingan ini dan sejak itu ia tidak pernah lalai untuk mendengarkan suara hatinya, ia memeriksa segala pikiran dan perbuatannya dengan hati nuraninya dan mendengarkannya. Mendengarkan suara hati adalah suatu hal yang sangat penting dalam pertumbuhan rohani kita karena Allah berbicara dengan kita secara pribadi melalui suara hati (Katekismus no. 1776-1777, Rom 2:15-16). Senada dengan itu Paus Leo XIII mengatributkan bicara Allah dalam suara hati kepada Roh Kudus, ia mengatakan “Diantara anugerah-anugerah ini adalah peringatan-peringatan dan ajakan rahasia, yang dari waktu ke waktu dibisikkan dalam hati dan pikiran kita melalui inspirasi Roh Kudus. Tanpa hal-hal ini tidak ada permulaan hidup yang baik, tidak ada kemajuan, dan orang tidak dapat tiba pada keselamatan abadi” (Divinum Illud Munus no. 9). Bagaimanapun juga perlu diperhatikan bahwa mendengarkan bicara Allah dalam suara hati kadang tidaklah mudah, dan karena itu kita perlu menyiapkan diri kita agar dapat mendengarkan Ia berbicara, dan dalam hal ini pembacaan Kitab Suci, doa, dan penerimaan Sakramen yang dilakukan secara teratur adalah hal yang mutlak harus dilakukan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;St. Simeon secara khusus merenungkan mengenai kehadiran Roh Kudus dalam diri orang yang terbaptis dan bahwa mereka yang sudah dibaptis harus memiliki kesadaran akan kenyataan rohani ini. Ia menekankan bahwa persekutuan pribadi dan intim dengan Allah, memberikan begitu banyak rahmat yang menerangi hati orang beriman dan menuntunnya kepada persatuan dengan Allah. Sampai disini kita dapat menyimpulkan bahwa pengalaman rohani memiliki tempat yang penting dalam kehidupan rohani kita. Pengetahuan akan Allah bukanlah suatu pengetahuan intelektual yang dapat dipelajari dengan membaca buku-buku, tetapi merupakan suatu pengetahuan yang lahir dari pengalaman. Pengetahuan itu datang dari suatu proses pemurnian batin yang dimulai dari pertobatan akan dosa-dosa dan terus berkembang dalam kerinduan untuk memperoleh persatuan dengan Kristus dengan disirami oleh cahaya kehadiran-Nya dalam diri kita. Pengetahuan intelektual akan ajaran agama memang membantu kita untuk mengenal Allah, tetapi itu hanya alat yang menunjukkan jalan, sementara kita baru mulai berjalan di jalan itu jika kita memiliki pengalaman akan Allah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Apa yang dikatakan oleh St. Simeon memiliki kesamaan dengan visi misi komunitas kita, “Dalam kuasa Roh Kudus mengalami dan menghayati sendiri kehadiran Allah yang penuh kasih dan menyelamatkan sampai pada persatuan cinta kasih serta membawa orang lain kepada pengalaman yang sama”. Visi misi ini meminta kita untuk bersandar pada kuasa Roh Kudus dan harus membuka diri terhadap pengalaman kehadiran Allah yang ditawarkan kepada kita, serta diperdalam sampai pada persatuan dengan Allah di mana kita hanya menghendaki apa yang dikehendaki Allah dan mengasihi apa dan siapa yang dikasihi-Nya. Bagi Simeon salah satu titik penting pengalaman rohaninya adalah ketika ia merasa dirinya adalah “seorang miskin yang mencintai saudara-saudaranya” dalam pengelihatannya ia melihat ada begitu banyak musuh mengelilingi, membenci dan hendak melukainya tetapi hatinya dipenuhi rasa cinta kepada musuh-musuhnya. Simeon menyadari bahwa dirinya sendiri tidak memiliki rasa cinta sebesar itu, ia adalah manusia normal yang seperti kita sulit untuk mengasihi mereka yang membenci kita, jadi Simeon tiba pada keyakinan penuh bahwa cinta itu pastilah berasal dari sumber lain, yaitu dari Kristus yang meminta kita mencintai musuh. Adalah Kristus yang memberi kita rahmat yang cukup untuk melaksanakan perintah-Nya, pengalaman ini merupakan bukti baginya bahwa Kristus hadir dalam dirinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sekarang mari kita membandingkan pengalaman Simeon dengan pengalaman rohani kita. Sebagian besar dari kita, katakanlah begitu, memiliki pengalaman kesadaran akan kehadiran Roh Kudus dalam diri kita, pertama-tama saat kita mengalami Pencurahan Roh Kudus. Kita tahu bahwa sejak dibaptis kita telah menerima Dia dan diperkuat dalam Dia saat menerima Sakramen Krisma, kita juga tahu bahwa Allah hadir dalam Ekaristi, dan seterusnya. Tetapi, pengetahuan ini seringkali datang hanya sekedar sebagai informasi dari orang tua atau dari guru agama atau dari buku rohani atau dari Kitab Suci. Kita tahu, tetapi kurang menyadari dan seringkali tidak mengalami, dan karena itu seperti kata St. Simeon pengetahuan ini bukanlah pengetahuan yang sejati. Pencurahan Roh Kudus membawa kita kepada kesadaran bahwa Allah hadir dalam diri kita, saat-saat itu seringkali dipenuhi kerinduan untuk meninggalkan dosa-dosa dan untuk hidup bagi Allah, untuk menjalin relasi lebih mendalam dengan-Nya dan untuk bertumbuh dalam segala hal yang baik. Ini adalah awal yang baik, tetapi dapat berakhir dengan tidak baik jika kita tidak mengembangkannya karena anggota-anggota Gereja yang tidak bertumbuh dalam cintakasih bukan hanya tidak dapat diselamatkan tetapi malahan akan diadili dengan lebih keras (Lumen Gentium 14).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sekarang, kita akan melihat bagaimana komunitas ini dapat membantu kita bertumbuh mengenal Allah. Pertama, komunitas ini memiliki spiritualitas karmelit. Tradisi Karmel, seperti diungkapkan oleh Teresia dari Avila, dapat diringkas dengan dua pernyataan “Aku ingin melihat Allah” dan “Aku adalah puteri Gereja”. Pernyataan pertama menekankan unsur pengalaman pribadi, aku ingin melihat Allah berarti memiliki hubungan yang intim dengan-Nya. Pernyataan kedua menekankan unsur pengalaman bersama, hubungan pribadi dengan Allah dihayati komunitas beriman yang berasal dari Yesus yaitu Gereja yang didirikan-Nya di atas Kefas, dan yang diperolehnya dengan menumpahkan darah di kayu salib. Kedua, komunitas ini memiliki spiritualitas karismatik, yaitu keterbukaan akan bimbingan Roh Kudus dan karunia-karunia-Nya. Hal ini sedikit banyak berhubungan dengan pernyataan yang pertama dan memberi beberapa unsur baru didalamnya. Karismatik disini terutama dipahami secara teologis, yaitu melalui pengalaman Pencurahan Roh Kudus seseorang menyadari kehadiran Allah dalam diri-Nya yang secara tradisional dalam teologi Katolik (sebagaimana ditunjukkan oleh St. Simeon, Paus Leo XIII dan banyak lainnya) selalu diatributkan sebagai karya Roh Kudus. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Secara konkret komunitas memiliki komitmen-komitmen, yang disini akan kita lihat saja secara sepintas. Sejumlah komitmen berkenaan dengan hidup pribadi kita seperti mendoakan doa penyerahan dan meluangkan waktu satu jam dalam doa dan bacaan Kitab Suci. Kehadiran dalam pertemuan sel dan acara komunitas berkaitan dengan unsur kebersamaan dalam komunitas. Mengikuti Misa sekurangnya sekali selain pada hari minggu dan hari raya wajib serta menerima Sakramen Tobat secara teratur berkaitan dengan hidup rohani pribadi kita dan kebersaman dengan seluruh Gereja. Pelayanan dan persembahan kasih merupakan tanda nyata dari komitmen dan hendaknya dihayati sebagai kesediaan berbagi dengan sesama. Komitmen ini penting karena menunjukkan bahwa pengalaman relasi dengan Allah bukanlah hanya soal perasaan saya merasa dekat dengan Allah yang dapat datang dan pergi kapan saja, tetapi merupakan keputusan yang melibatkan seluruh diri kita; pikiran, perasaan, kehendak, dan perbuatan yang harus ditumbuhkan dari hari ke hari sampai akhirnya kita tiba pada persatuan dengan-Nya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akhirnya kita dapat mengingat kata-kata dari Paus Benediktus XVI ini “Teman-teman terkasih, jika kita ingin mengetahui kriteria apakah kita sungguh dekat dengan Allah, atau apakah Allah hadir dan berdiam dalam kita maka kita akan mengalami dalam diri kita suatu cinta yang melampaui kehendak pribadi kita maka kita dapat yakin bahwa cinta itu berasal dari luar diri kita yaitu berasal dari Kristus. Cintakasih Allah bertumbuh dalam diri kita jika kita tetap bersatu dengan Dia dalam doa dan mendengarkan sabda-Nya dengan hati terbuka. Hanya cinta Ilahi saja yang memampukan hati kita menjadi terbuka kepada sesama dan membuat kita peka akan kebutuhan mereka dan menganggap mereka sebagai saudara dan saudari serta mengundang kita untuk menanggapi kebencian dengan cinta dan pelanggaran atau tindakan yang menyakiti dengan pengampunan”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-4676518843196514978?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/4676518843196514978/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/bertumbuh-dalam-pengenalan-akan-allah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/4676518843196514978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/4676518843196514978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/bertumbuh-dalam-pengenalan-akan-allah.html' title='Bertumbuh Dalam Pengenalan Akan Allah'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-8210461892898746499</id><published>2009-10-06T21:07:00.000+07:00</published><updated>2009-10-06T21:22:59.548+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Liturgi'/><title type='text'>Tata Perayaan Ekaristi Ritus Maronite: Qurbono (Part 2- Ibadat Sabda)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perarakan Masuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Imam dan para pelayan memasuki ruang Ibadat, diiringi mazmur atau madah sesuai hari yang bersangkutan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dialog Pembukaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dialog ini selalu dinyanyikan atau diucapkan dalam bahasa Syriac, di sini hanya dicantumkan terjemahan Indonesianya saja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;I : Aku memasuki rumah-Mu, ya Tuhan, dan menyembah-Mu di hadapan &lt;br /&gt;                Tahta-Mu. Ya Raja Surgawi, ampunilah segala dosaku.&lt;br /&gt;U : Ya Raja Surgawi, ampunilah segala dosa kami.&lt;br /&gt;I : Berdoalah pada Tuhan untukku.&lt;br /&gt;U : Semoga Tuhan menerima persembahanmu dan berbelaskasihan kepada &lt;br /&gt;                kita karena doa-doamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Doksologi dan Doa Pembukaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;I : Kemuliaan kepada Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, sekarang dan &lt;br /&gt;                selama-lamanya.&lt;br /&gt;U : Amin.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kemudian Imam mengucapkan doa pembukaan untuk hari yang bersangkutan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Salam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;I : Damai bagi Bunda Gereja dan semua putera-puterinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Madah Malaikat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;U : Kemuliaan bagi Allah di tempat mahatinggi, dan damai di bumi kepada &lt;br /&gt;                semua orang yang berkenan kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Hoosoyo (Doa Mohon Belaskasih)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hoosoyo terdiri dari empat bagian Proemion (ajakan memuji Allah), Sedro (bagian agak panjang berisi pujian yang menjelaskan misteri hari yang bersangkutan dan permohonan-permohonan, agak serupa dengan Exsultet Gereja Latin pada malam Paskah), Qolo (madah yang dinyanyikan umat), dan Etro (doa pendupaan).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Trisagion&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kemudian Trisagion dinyanyikan sebanyak tiga kali dalam bahasa Syriac.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;I : Qadeeshat aloho; Qadeeshat hyeltono; Qadeeshat lomoyouto.&lt;br /&gt;U : Itraham alein. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Allah kudus, kudus dan berkuasa, kudus dan kekal, kasihanilah kami)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Doa Sebelum Pembacaan Kitab Suci&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;I : Tuhan yang kudus dan kekal, kuduskanlah pikiran kami dan murnikanlah &lt;br /&gt;                nurani kami, agar kami dapat memuji Engkau dengan hati yang murni &lt;br /&gt;                dan mendengarkan Kitab Suci-Mu. Bagi-Mu kemuliaan, selama-lamanya.&lt;br /&gt;U : Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mazmooro&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jemaat dan koor bergantian menyanyikan ayat-ayat mazmur sebagai persiapan mendengarkan Kitab Suci.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bacaan Pertama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;L : Bacaan diambil dari&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kemudian ia mohon berkat Imam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Abouna mohon berkat&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lalu ia mulai membaca, dan bacaan ditutup dengan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Terpujilah Tuhan selalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Fetgomo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Koor dan jemaat menyanyikan Alleluia dan ayat yang menyertainya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bacaan Injil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;D : Sebelum kabar baik Tuhan kita yang mewartakan hidup kepada kita &lt;br /&gt;                semua diwartakan, marilah kita mempersembahkan dupa ini. Ya Tuhan, &lt;br /&gt;                kami memohon belas kasih-Mu.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sementara itu Imam membakar dupa dan kemudian ia berkata&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;I : Damai bersamamu.&lt;br /&gt;U : Dan bersama rohmu.&lt;br /&gt;I : Marilah kita menyimak Injil kehidupan dan keselamatan Tuhan Yesus    &lt;br /&gt;                Kristus sebagai dicatat (Penginjil Markus/ Lukas) (Rasul &lt;br /&gt;                Matius/Yohanes).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Imam mendupai buku Injil, sementara itu Diakon mengucapkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;D : Tetaplah diam, para pendengar, karena Injil akan diwartakan &lt;br /&gt;                kepada-Mu.Dengarkanlah, dan muliakanlah, dan bersyukurlah kepada &lt;br /&gt;                Firman Allah Yang Hidup.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Diakon membacakan Injil, dan setelah selesai ditutup dengan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;I : Inilah kebenaran. Damai bagimu.&lt;br /&gt;U : Pujian dan hormat kepada Yesus Kristus dan firman-Nya yang hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Homili&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Credo&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-8210461892898746499?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/8210461892898746499/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/tata-perayaan-ekaristi-ritus-maronite_06.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/8210461892898746499'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/8210461892898746499'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/tata-perayaan-ekaristi-ritus-maronite_06.html' title='Tata Perayaan Ekaristi Ritus Maronite: Qurbono (Part 2- Ibadat Sabda)'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-4070525603535946066</id><published>2009-10-06T21:05:00.000+07:00</published><updated>2009-10-06T21:07:52.909+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Liturgi'/><title type='text'>Tata Perayaan Ekaristi Ritus Maronite: Qurbono ( Part 1- Persiapan Pra Liturgi)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Persiapan Persembahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pelayan mempersiapkan roti dengan berdoa:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian;&lt;br /&gt;seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya&lt;br /&gt;demikianlah Kristus diam dan tidak membuka mulut-Nya&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia mencampur air dan anggur ke dalam piala dengan berdoa:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Aku mencampur air dan anggur ke dalam piala ini,&lt;br /&gt;sebagai lambang darah dan air&lt;br /&gt;yang mengalir dari lambung Tuhan Yesus Kristus di Salib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kemudian ia menyelubungi persembahan dengan kain kecil dan kemudian dengan kain besar sambil berdoa:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keagungan Tuhan menutupi langit&lt;br /&gt;dan kemuliaan-Nya memenuhi bumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Penyalaan Lilin Gereja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Penyalaan lilin diiringi madah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Alleluia!&lt;br /&gt;Dalam terang-Mu kami melihat terang,&lt;br /&gt;ya Kristus Sumber Terang.&lt;br /&gt;Kaulah terang sejati&lt;br /&gt;yang menyinari alam kami.&lt;br /&gt;Terangilah kami dengan terang sukacita-Mu&lt;br /&gt;dan gembirakanlah kami pada fajar hari-Mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alleluia!&lt;br /&gt;Kau yang maha suci dan pengampun,&lt;br /&gt;Kau yang berdiam dalam terang.&lt;br /&gt;Enyahkanlah dari kami kegelapan pikiran jahat&lt;br /&gt;dan buatlah kami melakukan keadilan&lt;br /&gt;dengan hati murni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alleluia!&lt;br /&gt;Di hadapan para hakim mereka&lt;br /&gt;para marir berdiri dan berseru:&lt;br /&gt;kami tidak menyangkal Kristus&lt;br /&gt;yang mati di Salib.&lt;br /&gt;Karena cinta-Nya lah&lt;br /&gt;kami menerima penderitaan dan aniaya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alleluia!&lt;br /&gt;Ya Putera Allah yang hidup,&lt;br /&gt;Kau mati, bangkit, dan membangkitkan yang mati.&lt;br /&gt;Kau membawa sukacita bagi mereka yang di dalam kubur.&lt;br /&gt;Maka semoga orang beriman yang telah wafat,&lt;br /&gt;yang mengakui Tritunggal,&lt;br /&gt;menemukan istirahat dalam Dikau.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-4070525603535946066?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/4070525603535946066/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/tata-perayaan-ekaristi-ritus-maronite.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/4070525603535946066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/4070525603535946066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/tata-perayaan-ekaristi-ritus-maronite.html' title='Tata Perayaan Ekaristi Ritus Maronite: Qurbono ( Part 1- Persiapan Pra Liturgi)'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-8172523225003634546</id><published>2009-10-06T21:02:00.000+07:00</published><updated>2009-10-06T21:04:40.217+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Liturgi'/><title type='text'>Penjelasan Qurbono (Part 3)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;STRUKTUR QURBONO MARONITE YANG BARU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibadat Qurbono Yang Baru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ibadat Qurbono yang baru dibagi dalam dua bagian utama: Ibadat Sabda dan Ibadat Ekaristi atau Qurbono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ibadat Sabda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dengan istilah “Sabda” yang kami maksudkan adalah sabda Injil Suci yang mewartakan peristiwa liturgis yang menyelamatkan. Sabda ini didahului oleh ibadat hari yang bersangkutan, yaitu, rangkaian doa-doa dan madah yang sesuai dengan pesta khusus atau peringatan yang diwartakan oleh Injil itu sendiri.  &lt;br /&gt;Ibadat Sabda adalah ritus liturgis yang memiliki kesatuan dan berdiri sendiri, terdiri dari:&lt;br /&gt;• Doa Pembukaan&lt;br /&gt;• Ibadat hari yang bersangkutan&lt;br /&gt;• Bacaan-bacaan&lt;br /&gt;• Homili&lt;br /&gt;Di masa lalu, perayaan ritus ini dilakukan di tengah gereja di suatu tempat yang disebut “bema”. Biasanya tempat ini terletak di antara tempat pria dan wanita, dan bukan di Altar seperti pada zaman sekarang ini. Sesungguhnya, Altar bukanlah tempat untuk Ibadat Sabda melainkan tempat untuk kurban dan Ekaristi/Qurbono.&lt;br /&gt;Karena alasan itu, kami memilih tempat yang khusus untuk ritus ini: yaitu dip anti imam, tetapi di luar Altar; di sisi kanan atau sebelum mimbar bacaan, atau di mana saja yang dianggap cocok.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Ibadat Ekaristi/Qurbono&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ibadat ini berpuncak pada konsekrasi Qurbono, yaitu, dalam persembahannya di Altar; dalam kenangan akan Perjamuan Terakhir, wafat, dan kebangkitan Kristus; dalam penyeruan Roh Kudus; dan, akhirnya, dalam komuni yang dibagi antara selebran dan jemaat.&lt;br /&gt;Tempat yang cocok untuk merayakan Qurbono dalam gedung gereja adalah di Altar, karena Qurbono adalah kurban. Maka, selebran beranjak dari tempat di mana Ibadat Sabda dirayakan ke tempat Ibadat Qurbono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Persiapan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ibadat Sabda dan Qurbono didahului oleh ritus-ritus yang lebih kecil sebagai persiapan. Iabdat Sabda didahului dengan pemakaian pakaian liturgis para pelayan, penyalaan lilin, dan perarakan masuk. Ibadat Qurbono, didahului dengan naik ke Altar, penyerahan persembahan, persembahan dan penempatannya di Altar. Penyerahan persembahan didahului dengan persiapan fisik di altar kecil (proskomidia, credens), atau di sisi Altar utama dalam hari-hari biasa, sebelum permulaan ritus-ritus lain dan tanpa partisipasi umat.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Struktur Teks Qurbono Yang Baru&lt;br /&gt;Bagian Umum Dari Persiapan:&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;• Persiapan persembahan di Altar kecil&lt;br /&gt;• Memakai pakaian liturgis&lt;br /&gt;• Penerangan gereja (penyalaan lilin)&lt;br /&gt;• Perarakan masuk (dengan madah yang khusus)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Ibadat Hari Yang Bersangkutan (Sesuai Pesta Yang Dirayakan) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Doksologi&lt;br /&gt; Doa Pembukaan&lt;br /&gt; Kemuliaan (Madah Malaikat)&lt;br /&gt; Doa Mohon Belaskasihan Dengan Pendupaan(Hoosoyo)&lt;br /&gt; Madah/Qolo&lt;br /&gt; Doa Pendupaan (Etro)&lt;br /&gt; Qadeeshat Aloho (Trisagion)&lt;br /&gt; Doa Trisagion&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Bacaan-bacaan: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Mazmur Bacaan-bacaan (Mazmooro)&lt;br /&gt; Bacaan Pertama &lt;br /&gt; Fetgomo dengan prosesi Injil dan dupa&lt;br /&gt; Injil-Homili-Pewartaan (Korozooto)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pra-Anaphora: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Credo (Pengakuan Iman)&lt;br /&gt; Naik ke Altar&lt;br /&gt; Penyerahan Persembahan&lt;br /&gt; Penerimaan Persembahan dan Penempatannya di Altar&lt;br /&gt; Pendupaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anaphora: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Ritus Damai&lt;br /&gt; Doa Syukur Agung&lt;br /&gt; Pengenangan-pengenangan (doa syafaat)&lt;br /&gt; Pemecahan, Penandaan, Pencelupan, Pencampuran dan Pengangkatan Tubuh      &lt;br /&gt;        dan Darah Tuhan&lt;br /&gt; Doa Bapa Kami dan Ritus Tobat (persiapan Komuni)&lt;br /&gt; Ajakan Komuni: “Yang Kudus bagi Orang-orang kudus"&lt;br /&gt; Komuni&lt;br /&gt; Ucapan Syukur dan Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Susunan Internal Qurbono&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kami telah menyusun semua bagian-bagian ini secara terpisah dalam buku Qurbono yang baru tanpa membaginya dengan penomoran untuk memelihara alur ritus. Bagaimanapun, kami menempatkan judul dan rubric dalam teks dan pengantarnya untuk membantu memperoleh pemahaman yang jelas akan setiap bagian ritus. Bagaimanapun, liturgi bukan hanya sekedar teks; tetapi juga tindakan dan gerakan yang menyertai teks dan doa untuk mengungkapkan maknanya. Yang terpenting diantaranya adalah: Injil, Ekaristi/Qurbono, Kenangan (anamnesis), Ritus Damai, Ritus Tobat, dan Komuni…Ini adalah tindakan-tindakan liturgis yang berkaitan dengan berbagai bacaan, doa, dan madah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-8172523225003634546?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/8172523225003634546/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/penjelasan-qurbono-part-3.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/8172523225003634546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/8172523225003634546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/penjelasan-qurbono-part-3.html' title='Penjelasan Qurbono (Part 3)'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-1485997265108390439</id><published>2009-10-06T20:58:00.000+07:00</published><updated>2009-10-06T21:01:58.870+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Liturgi'/><title type='text'>Penjelasan Qurbono (Part 2)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;REALITAS LITURGIS GEREJA MARONITE DAN NORMA-NORMA PEMBARUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitasnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Realitas liturgis yang aktual dalam Gereja Maronite merupakan hasil dari berbagai rangkaian dan akumulasi sejarah, hasil interaksi dengan berbagai trend intelektual, budaya, dan sosial. Semua ini terefleksikan dalam status quo liturgis.&lt;br /&gt;Kita telah melihat suatu gerakan liturgis yang aktif, secara khusus berkaitan dengan doa-doa dan madah. Para “pembaru” meningkat jumlahnya, dan juga meningkat jumlah mereka yang mengikuti inspirasi dari para “pembaru” ini. Ritus Qurbono itu sendiri, berasal dari berbagai teks ritus yang berbeda, sebagiannya lama, baru dan bahkan lebih baru lagi. Sekalipun banyak nilai positif dari gerakan liturgis, namun tidak jarang gerakan itu menghasilkan kebingungan dan kekacauan. Fakta menunjukkan bahwa baik para klerus maupun awam tidak lagi mampu mengenali ritus manakah yang harus diikuti. Lebih jauh lagi, sejumlah pendukung gerakan liturgis ini ingin membuat suatu ritus liturgi yang baru, dengan meniru gerakan pembaruan serupa dalam ritus Latin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi semacam ini menimbulkan perpecahan dalam komunitas Maronite. Karena itu suatu pembaruan liturgi yang sejati menjadi amat perlu untuk memelihara disiplin dan kesatuan. Para pemimpin Gereja dengan pengertian dan kebijaksanaannya, menyadari bahwa sudah waktunya menerbitkan satu buku untuk pelaksanaan Qurbono, sebuah buku yang mampu menyatukan semua orang Maronite baik di Lebanon atau di negara-negara lain: satu Qurbono untuk semua, digunakan oleh semua Maronite di seluruh tempat ibadat Maronite yang mereka hadiri.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;PRINSIP-PRINSIP PEMBARUAN LITURGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip-prinsip Untuk Pembaruan Qurbono&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperbarui ritus Qurbono Maronite, Komisi Liturgi terikat oleh sejumlah norma dan peraturan: &lt;br /&gt;•Setia kepada sumber-sumber otentik dari Liturgi Maronite Syriac dan  memelihara identitasnya dari pengaruh unsur asing entah itu Barat ataupun  Timur;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•Menentang semua inovasi, kecuali hal itu dituntut bagi kebaikan Gereja  dengan yang cara yang tegas dan sesuai hukum;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•Menentang sikap kembali ke masa lalu, kecuali hal itu dapat memelihara  identitas Maronite;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•Menjadikan ritus Qurbono mudah digunakan dari sudut pandang pastoral,  sehingga setiap alur perayaan dan berbagai doa serta madahnya dapat menuntun kepada partisipasi secara penuh dan sadar; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•Kembali kepada kalender liturgi Maronite, menempatkan siklus ini pada pusat  seluruh tahun: tiap hari Minggu dan sepanjang pekannya, akan memiliki doa-doa dan madah-madahnya sendiri, agar cocok sepenuhnya dengan bingkai tahun liturgis dan berpusat pada misteri Kristus dan pada misteri-misteri  utama agama Kristen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•Memberi ruang, sesuai dengan tanda-tanda zaman, bagi kemungkinan perubahan dalam syafaat pada liturgi, doa dan gerakan, agar dapat menanggapi kebutuhan berbagai kelompok dalam masyarakat seperti anak- anak, pelajar, dan orang muda, dst., dan memampukan mereka untuk ambil bagian didalamnya, dengan memastikan bahwa hal itu tidak mengganggu struktur liturgi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tradisi dan Pembaruan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pembaruan liturgi bukan sekedar kembali kepada tradisi; tetapi, sebaliknya, merupakan kebutuhan pastoral yang mengalir dari prinsip-prinsip dasar liturgi dan menuntut kepada partisipasi yang baru dan aktif dari komunitas, sejalan dengan semangat ritus dan kebutuhan umum. Di sini kita tidak menciptakan doa-doa dan madah-madah baru; sebaliknya, kita kembali kepada doa-doa dan madah-madah yang dipilih dari sumber-sumber dan akar Syriac kita. Seringkali kita menggunakan teks Syriac sebagai dasar dari teks-teks terjemahan. Jelas, bahwa teks Syriac yang kita warisi memiliki suatu kedalaman dan otentisitas, yang juga memungkinkannya untuk menjaga kehidupan liturgis, yaitu suatu hal terhormat yang diabadikan oleh generasi yang lampau, dan pada saat yang sama, untuk mengungkapkan kebutuhan dan manfaat yang diperlukan oleh setiap generasi secara khusus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami harus menyatakan bahwa kami tidak menyampaikan suatu teks liturgi yang akan bertahan selamanya; tetapi hanya teks liturgi yang otentik. Kami harus mengacu kepada mereka dalam setiap perubahan gerejani yang dipandang perlu, dalam isi juga dalam bentuknya yang berdasarkan penyelidikan kami diperlukan oleh kebutuhan pastoral. Kenyataannya, praktek liturgis dan pastoral Gereja dimasa datang akan menunjukkan kebutuhan untuk suatu arahan yang baru. Gereja sendiri, melalui Komisi Liturginya, akan mengikuti arahan ini dan akan menemukan solusi untuk setiap masalah dengan tetap mengacu kepada dua prinsip dasar: di satu sisi identitas dan di sisi lain evolusi. Disini terbentang norma yang berlaku dalam setiap aspek hidup itu sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-1485997265108390439?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/1485997265108390439/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/penjelasan-qurbono-part-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/1485997265108390439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/1485997265108390439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/penjelasan-qurbono-part-2.html' title='Penjelasan Qurbono (Part 2)'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-4950216153489880147</id><published>2009-10-06T20:52:00.000+07:00</published><updated>2009-10-06T20:58:00.228+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Liturgi'/><title type='text'>Penjelasan Qurbono (Part 1)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PENGANTAR DAN PENJELASAN UMUM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber-sumber Kuno&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama, kita perlu melihat kembali kepada sumber-sumber liturgi Gereja Antiokhia dimana Gereja Syriac Maronite merupakan bagian darinya. Sejak zaman para Rasul, Antiokhia telah menjadi titik penting bagi agama Kristen. Disanalah Kabar Baik agama Kristen berasal, dan dari sana menyebar melewati lautan dan daratan, sampai ke pantai dan puncak gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah zaman kekuasaan Byzantine, Antiokhia dihubungkan dengan kota Yerusalem dan gerakan liturgi yang bersemi pada dua gereja yaitu gereja Nativitas dan Kebangkitan (orang Kristen Latin biasa menyebutnya gereja Makam Suci), ritus dari Gereja Yerusalem menjadi pusat perhatian para pziarah dan menjadi sumber bagi perkembangan liturgi di seluruh wilayah Oriental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika para Maronite muncul sebagai komunitas Kristen Syriac Antiokhia sekitar abad ke 5, ritus Antiokhia berada dibawah pengaruh Yerusalem, dan secara khusus dipengaruhi oleh liturgi yang umum disebut berasal dari St. Yakobus saudara Tuhan, Uskup pertama Yerusalem. Bagaimanapun, para Maronite juga memiliki ikatan liturgis dengan titik penting lainnya, yaitu titik Syriac di Edessa. Edessa, adalah negara mayoritas Kristen pertama dan pusat kebudayaan serta politik di Syria. Edessa tidak terpengaruh oleh unsur Hellenistik Yunani, sebagaimana ritus Antiokhia di Yerusalem; sebaliknya, mereka memelihara unsur dan ungkapan mereka sendiri yang lebih dekat dengan Kitab Suci dan teologi Kristen yang awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sejumlah kecil dokumen yang masih kita miliki, ritus Maronite lebih dekat kepada ritus Syriac Semitic dari Edessa daripada ritus Antiokhia yang Hellenistik dari Yerusalem. Bagaimanapun, pada abad kelima, perbedaan antara kedua ritus amat mudah dikenali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Evolusi Liturgi Maronite Sampai Abad Ke 10&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Karena langkanya jumlah dokumen yang masih tersisa, tidak mudah untuk memastikan bagaimana persisnya evolusi liturgis yang dijalankan oleh Gereja Maronite sejak permulaan sampai abad ke sepuluh. Bagaimanapun, kita dapat mengenali evolusi itu melalui doa-doa liturgis kita, terutama Anaphora dari Sharar dan doa serta himne ibadat harian yang dikenal dengan nama Shimto (yaitu, ibadat harian sederhana):: dalam kedua doa ini tampak bahwa ritus Maronite lebih dekat kepada sumber-sumber Antiokhia daripada Yerusalem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ritus Maronite Abad 10-16&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Manuskrip liturgi Maronite paling tua yang kita miliki sekarang berasal dari periode antara abad 12 dan 16. Manuskrip tertua Buku Qurbono berasal dari pertengahan abad 15 (1454) dan memiliki sejumlah halaman yang berasal dari abad 12 (Vat. 309). Manuskrip ini menunjukkan bahwa ritus Maronite telah menjadi sangat dekat dengan ritus Antiokhia dari Yerusalem (yang dikenal sebagai Syria Barat) dan menjadi lebih, bahkan mungkin secara tegas, menjauhkan diri dari tradisi Syriac Timur dari Edessa.&lt;br /&gt;Kami tidak ingin membahas masalah ini lebih jauh di sini, tetapi kami mengajak siapapun, sekalipun jumlahnya sedikit, untuk mempelajari lebih jauh masalah ini. Faktanya, manuskrip dari Qurbono Maronite pada saat itu telah menjadi sama dengan ritus Syriac Barat meskipun Anaphora Para Rasul atau Sharar yang berasal dari Syriac Timur masih dipertahankan. Anaphora ini sangat mirip dengan anaphora yang digunakan dalam Gereja-gereja Syria Timur baik Katolik maupun non-Katolik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Edisi Pertama Buku Qurbono Maronite&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Edisi pertama Buku Qurbono Maronite diterbitkan di Roma atara 1592 dan 1594. Para mahasiswa Kolese Maronite di Roma meng-edit edisi ini dibawah bimbingan pimpinan kolese. Edisi ini berasal dari manuskrip yang ditulis tahun 1566 di Biara Qozhaya, Lebanon oleh pertapa Mikhail al-Razzi, yang kemudian terpilih sebagai Patriarkh (1567-1581), beliau adalah saudara dari Sarkis al-Razzi, yang kemudian menggantikannya sebagai Patriarkh (1581-1596).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerbit dari edisi ini mengubah doa pada kisah institusi Ekaristi dari manuskrip tulisan al-Razzi dimana mereka menerjemahkan kata-kata konsekrasi dari bahasa Latin ke bahasa Aram. Ketika edisi ini diterima oleh Patriarkh, ia menolak dan melarang penggunaannya. Tekanan yang dilakukan oleh utusan Paus, Dandini, membuat Patriarkh menerimanya untuk digunakan sementara waktu (1596) sementara sejumlah akan diperbaiki menurut sumber-sumber Maronite.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Edisi-edisi Selanjutnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seratus dua puluh tahun kemudian, terlepas dari sejumlah keberatan yang tertuang dalam tulisan dari sejumlah pakar Maronite pada abad ke 17, edisi kedua Buku Qurbono diterbitkan (1716). Edisi ini terbukti lebih terlatinisasi daripada yang pertama. Doa Syukur Agung ritus Latin, yang diterjemahkan dalam bahasa Arab dan Aram, dimasukkan, sementara Anaphora dari Sharar dipindahkan. Bagaimanapun, edisi ini, yang dikerjakan oleh para mahasiswa Kolese Maronite, tidak menerima pertentangan apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edisi-edisi selanjutnya merupakan sekedar salinan dari edisi kedua ini, dengan perkecualian beberapa pengurangan yang dilakukan karena alasan ekonomi, yaitu untuk membuat harga buku menjadi lebih murah: misalnya, dalam edisi ketiga (1763) memuat hanya delapan anaphora dan tidak empat belas seperti edisi sebelumnya. Hal yang sama terjadi dalam empat edisi yang diterbitkan oleh Biara Qozhaya pada tahun 1816, 1838, 1855, dan 1872. Dua edisi terakhir diterbitkan di Beirut pada tahun 1888 dan 1908 dibawah pengawasan Uskup Youssef Dibs, Uskup Agung Beirut. Uskup Dibs menempatkan anaphora ritus Latin sebelum semua anaphora dan mengubah gaya bahasa dari doa-doa dan madah. Edisi pertama dalam huruf Arab diterbitkan pertama kali di Jounieh tahun 1959 (edisi sebelumnya ditulis dalam huruf Syriac) oleh Serikat Misionaris Lebanon. Akhirnya, sebuah edisi singkat, yang disebut “Ritus Sederhana” diterbitkan dalam sebuah booklet tahun 1973 dan hanya memuat satu anaphora. Edisi ini hanya digunakan secara eksperimental dalam periode satu tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua edisi ini, kecuali “Ritus Sederhana” (1973) diterbitkan tanpa cap atau tanda tangan Patriarkh, tetapi diterbitkan “dengan sepengetahuan beliau” atau “setelah mendengarkan nasehat beliau”, atau tanpa menyebutkan apapun mengenai Patriarkh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Proyek Pembaruan Qurbono Maronite&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Proyek pertama untuk pembaruan Qurbono direncanakan oleh sejumlah mahasiswa Kolose Maronite di Roma pada permulaan abad 17. Mereka ingin mengembalikan Qurbono Maronite ke sumber-sumber Syriac Antiokhia-nya yang telah hilang pada edisi pertama. Bagaimanapun, proyek ini gagal menemui titik terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinode Gunung Lebanon (1736), menetapkan bahwa sebuah komisi hendaknya didirikan untuk memperbarui semua ritus, tetapi terutama Qurbono. Proyek ini tidak pernah terwujud. Sebelum itu Patriarkh Stephanus Duwaihy, dalam kenangan terberkati (1670-1704), bersusah payah mengumpulkan manuskrip-manuskrip liturgi, mempelajarinya dan mempersiapkan proyek pembaruan Qurbono dan banyak ritus liturgi lainnya. Dia sendiri menulis bahwa ia “berharap dapat menyenangkan matanya dengan memandang penerbitan buku-buku liturgi”. Namun, dia meninggal sebelum harapannya terwujud.&lt;br /&gt;Pada tahun 40an dan 50an di abad ke dua puluh, ada sejumlah upaya untuk memperbarui Qurbono Maronite, namun upaya ini tidak berhasil. Kemudian datanglah Konsili Vatikan II (1963-1965) dengan panggilan kepada pembaruan, khususnya dalam bidang liturgi. Sejumlah proyek baru diadakan untuk memperbarui Qurbono. Antara tahun 1963 dan 1982 ada 40 proyek yang diadakan untuk itu. Kemudian, Komisi Liturgi Kepatriarkhan dan Sinode para Uskup memusatkan perhatian mereka pada proyek yang sekarang ini. Sebenarnya sejak 1980 proyek ini telah melewati banyak penelitian dan revisi melalui perhatian dan bimbingan Komisi Liturgi Kepatriarkhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Proyek Yang Sekarang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Proyek ini disampaikan kepada Sinode Patiarkat bersama para Uskup tahun 1980; kemudian diperbarui dan disampaikan kembali pada tahun 1982. Semua teks-teks hasil proyek ini bersama semua detailnya diterima secara definitif pada sidang terakhir Sinode baik oleh Sinode itu sendiri dan juga Konggregasi Romawi untuk Gereja-gereja Timur. Proyek ini kemudian diterbitkan, untuk pertama kalinya, dengan sebuah dekrit resmi yang disertai tanda tangan Patriarkh dan imprimatur (izin terbit) darinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-4950216153489880147?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/4950216153489880147/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/penjelasan-qurbono-part-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/4950216153489880147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/4950216153489880147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/10/penjelasan-qurbono-part-1.html' title='Penjelasan Qurbono (Part 1)'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-7328990985713378034</id><published>2009-06-03T13:48:00.000+07:00</published><updated>2009-06-03T13:55:06.988+07:00</updated><title type='text'>Katolisisme dan Selibat</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5CUSER02%7E1%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CUsers%5CUSER02%7E1%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CUsers%5CUSER02%7E1%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	line-height:150%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-US; 	mso-fareast-language:EN-US;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; line-height: normal;" align="left"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"    lang="EN-US"&gt;Oleh Abouna Paul Mooradd&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; line-height: normal;" align="left"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"    lang="EN-US"&gt;Pastor Paroki Gereja Katolik Ritus Maronite&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"    lang="EN-US"&gt;*&lt;i&gt; St. Antonius&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; line-height: normal;" align="left"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"    lang="EN-US"&gt;Danbury, Connecticut&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; line-height: normal;" align="left"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"    lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"    lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"    lang="EN-US"&gt;Jika Anda seorang Muslim, maka Anda ingin menjadi hamba Allah. Karena kata Islam berarti tunduk kepada kehendak Allah. Jika Anda mengikuti Hukum Musa dan menyebut diri Anda Yahudi, maka Anda ingin menjadi bagian dari bangsa suci Allah, atau, sebagaimana Perjanjian Lama menyebutnya, umat pilihan Allah. Jika Anda seorang Protestan, maka Anda ingin menjadi aristokrat atau bangsawan dalam Kerajaan Allah, menjadi seorang warga, hamba dan sahabat Raja dalam Kerajaan Allah, karena pada abad pertengahan para bangsawan di istana dipilih diantara penduduk suatu negara semata-mata berdasarkan perkenanan Raja, sama seperti yang diklaim oleh para Protestan berlaku dalam Kristus. Jika Anda seorang Ortodoks Timur, maka Anda ingin menjadi kekasih Kristus, karena kerinduan Anda adalah untuk berbagai keintiman cinta Allah dalam sakramen-sakramen, walaupun karena penyalahgunaan kebebasan Anda sendiri, Anda kerap kali menghambat persekutuan penuh dengan Keluarga Allah secara utuh. Dan, jika Anda seorang Katolik, maka Anda ingin menjadi mempelai Yesus dan keluarga-Nya. Anda mencari persekutuan intim dengan Allah dalam sakramen-sakramen dan merindukan Gereja yang adalah keseluruhan urusan cinta, keluarga dan warisan. Maka, Gereja Katolik menggambarkan dirinya sebagai Pengantin Wanita Kristus, dan kita, umat beriman, tidak hanya sebagai saudara dan saudari Yesus tetapi juga anggota Tubuh Mistik-Nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"    lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"    lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Hanya orang beriman Katolik dan Ortodoks saja yang memandang hubungan mereka dengan Kristus dengan cara yang sama, yaitu sebagai kekasih yang intim, dan karenanya memberi nilai spiritual bagi anugerah selibat. Karena selibat menandai keutamaan dan sifat ekslusif dari cinta seseorang kepada Allah. Hal ini, tentu saja, tidak mengurangi pentingnya pernikahan, tetapi mengangkat pilihan untuk tetap melajang ke tingkat spiritual yang sama dengan pernikahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"    lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"    lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Orang Katolik percaya bahwa Allah merancang semua ciptaan untuk menarik kita kepada pernikahan mistik dengan-Nya. Dia menciptakan kita dengan jenis kelamin yang berbeda, pria dan wanita, sehingga kita, sebagai individu, dapat mengetahui bahwa dari kedalamannya sendiri diri kita ini tidak lengkap. Maka kita ditarik oleh dorongan kodrat kita untuk mencari cinta dan mencari persekutuan dengan yang lain. Saling berbagi hidup dengan satu yang lain dalam perkawinan ini melambangkan bagaimana kita hendaknya hidup dalam persekutuan dengan dan melalui Allah sebagaimana, suatu perkawinan diyakini bersifat sakramental jika persekutuan dibagi oleh seorang pria dan wanita sebagai keluarga menjadi dasar bagi persekutuan mereka dengan Allah. Dengan cara ini, ciptaan berfungsi sebagai pengajaran non-formal (oleh hukum alam) kepada manusia tentang bagaimana mencari persekutuan dengan Pencipta mereka sebagaimana mereka menemukan persekutuan dengan sesama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"    lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"    lang="EN-US"&gt;Bagaimanapun, juga ada, mereka yang setelah merasakan persekutuan dengan Allah diluar hubungan manusiawi apapun, memilih untuk mencari persekutuan ini saja. Mereka menjadikan diri mereka ‘kasim’ bagi Kerajaan Allah dan mengambil hidup selibat entah karena mereka memilih untuk tidak menikah karena mereka tidak mau ‘asal menikah’ yang pada gilirannya nanti tidak dapat menuntun kepada persekutuan dengan Allah, atau mereka yang secara bebas melepaskan segala bentuk persekutuan seksual apapun agar mencapai keintiman yang lebih dalam pada pernikahan rohani mereka dengan Kristus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"    lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"    lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Selibat jenis pertama ini berlaku bagi setiap lajang Katolik yang setia kepada Tuhan kita, sehingga meskipun mereka ingin menikah, namun mereka memilih untuk hidup selibat daripada menikah dengan orang yang tidak tepat, atau memasuki persekutuan seksual yang tidak mendorong kepada persekutuan dengan Allah. Dengan memilih hidup lajang daripada ‘asal menikah’ mereka berbagi keintiman dengan Kristus sebagai martir rohani. Mereka mengorbankan tubuh mereka bersama Kristus di Salib untuk mewartakan bahwa hanya pernikahan yang benar atau hanya hubungan seksual yang sehat yang mendorong persekutuan dengan Allah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"    lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"    lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Selibat jenis kedua adalah para biarawan, biarawati, rahib dan Imam, yang mengkhususkan diri mereka bagi Allah melalui kaul-kaul kebiaraan mereka. Mereka memasuki pernikahan sakramental, dimana selibat mereka dihidupi sebagai pelayanan bagi Gereja. Bagi mereka persekutuan dengan Allah menjadi sangat nyata melalui tindakan cinta kasih dalam lingkup tubuh umat beriman yang disebut Gereja. Melalui kehidupan selibat mereka, para Imam, biarawan dan biarawati memberikan kesaksian yang terlihat bagi pengurbanan Allah sendiri dan kelimpahan cinta kasih-Nya yang memberikan anugerah persekutuan umat beriman dengan-Nya. Kehidupan selibat mereka bersifat sakramental karena tubuh mereka menjadi suatu tindakan cinta yang mengurbankan diri bagi kehadiran cinta Kristus kepada Gereja-Nya yang memberikan anugerah penuh keberadaan-Nya sebagai rahmat dan kepenuhan Persekutuan Kudus. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"    lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"    lang="EN-US"&gt;Setiap kali para Imam, biarawan atau biarawati menyingkirkan kebutuhan fisik atau emosional mereka bagi kebaikan komunitas atau paroki mereka memberikan ungkapan terlihat dari sifat cinta Kristus yang mengurbankan diri. Para biarawati kita di Ohio meninggalkan ayah dan ibu mereka di Lebanon, untuk merawat orang-orang tua kita di Amerika ini, hal ini menunjukkan kepada kita kehendak mereka untuk menghadirkan kedalaman cinta Bapa, yang merelakan Putera Tunggal-Nya mati untuk menebus dosa kita, kepada orang-orang asing. Pastor Paroki Anda, yang berkehendak mengurbankan kebutuhan manusiawinya untuk suatu persekutuan keluarga agar kesendiriannya memberinya kebebasan untuk bekerja dalam waktu yang lama dengan gaji yang kecil dan hadir di sini bagi Anda, karena dia tidak memiliki ikatan keluarganya sendiri, dan dapat menghidupi selibatnya sebagai tanda terlihat dari cinta Kristus. Dia mengosongkan kehendak dan keinginannya sendiri melalui selibat, agar Kristus mengisi kekosongannya dengan Kehadiran Ilahi-Nya sendiri, sehingga Anda bisa secara nyata mengalami kehadiran Kristus dalam masalah-masalahmu. Anugerah selibat memungkinkan para Imam menjadi tanda sakramental yang terlihat dari cinta Kristus kepada Gereja-Nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"    lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"    lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Dalam Gereja, para Imam dan Diakon yang menikah dan berkeluarga**, juga menjadi tanda sakramental dari kehadiran Kristus, tapi sifat kesaksian mereka berbeda karena mereka tidak berselibat. Mereka telah masuk ke dalam persekutuan dengan Allah melalui anugerah sakramental perkawinan; dan menemukan dalam persekutuan manusiawi mereka dengan isteri mereka suatu gerbang kepada persekutuan suci dengan Kristus yang memanggil mereka melayani sebagai Imam dan Diakon sebagai tanda dari Persekutuan Suci itu. Mereka mempersembahkan kesaksian terlihat melalui perkawinan mereka bahwa sebagaimana seorang suami dan seorang istri memasuki persekutuan dengan Kristus dan menjadi satu daging (Gereja) dalam Tubuh Mistik-Nya. Para Imam dan Diakon yang berkeluarga adalah tanda kehadiran sakramental Kristus sebagai persekutuan, Tubuh Mistik, sementara para Imam dan Diakon yang berselibat adalah tanda sakramental kehadiran Kristus dalam Gereja sebagai sebagai seorang Pengantin Pria bagi Pengantin Wanita-Nya. Dengan ini, yang satu menjadi tanda persekutuan semua menjadi satu, dan yang lain adalah Kristus sebagai pengurbanan diri yang menyeluruh untuk semuanya demi kesatuan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"    lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"    lang="EN-US"&gt;Dalam Gereja Katolik, selibat dalam diri seorang lajang dan panggilan membiara menguatkan seluruh Gereja dengan anugerah cinta Kristus yang mengurbankan diri. Para lajang adalah tanda rohani dari cinta Allah, yang menjaga Gereja tetap berpusat pada kodrat sejati perkawinan dan panggilan tertinggi semua manusia kepada persekutuan dengan Allah. Selibat menyempurnakan persekutuan cinta yang kita miliki sebagai orang Katolik dengan Kristus, yang membawa kita kepada persekutuan yang lebih intin di dalam dan bersama Allah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"    lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"    lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;Akhirnya, &lt;/span&gt;menjadi Katolik berarti bahwa seseorang memiliki hubungan mempelai dengan Allah entah dia menikah atau tidak dan kita adalah anggota keluarga Yesus Kristus. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"    lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"    lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"    lang="EN-US"&gt;*&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ritus Maronite adalah salah satu dari 22 keluarga ritus dalam Gereja Katolik (satu yang paling besar dan familiar dengan kita adalah ritus Latin). Gereja ini berakar pada tradisi Kekristenan di Antiokhia (Syria) dan memiliki persekutuan penuh dengan Paus Roma.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"    lang="EN-US"&gt;** Berbeda dengan ritus Latin yang mewajibkan semua Imamnya untuk berselibat, ritus Maronite dan hampir semua keluarga ritus Timur menahbiskan para pria yang sudah berkeluarga untuk menjadi Diakon dan Imam Diosesan. Sejak Konsili Vatikan II ritus Latin telah menghidupkan kembali kebiasaan kuno untuk menahbiskan pria yang berkeluarga sebagai Diakon (bukan &lt;i style=""&gt;pro-diakon&lt;/i&gt;!) namun tetap mewajibkan seluruh Imam berselibat, kecuali bagi para Pendeta Protestan yang telah menikah dan kemudian menjadi Katolik maka ada kemungkinan untuk menerima dispensasi dan ditahbiskan sesudah menikah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"    lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;Artikel ini dimuat pada &lt;i style=""&gt;“The Maronite Voice: A Publication of the Maronite Eparchies in the USA” Volume 3, Issue no. IV, April 2007, p. 12 and 20&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-7328990985713378034?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/7328990985713378034/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/06/katolisisme-dan-selibat.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/7328990985713378034'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/7328990985713378034'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/06/katolisisme-dan-selibat.html' title='Katolisisme dan Selibat'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-7735589794754350469</id><published>2009-05-19T14:08:00.000+07:00</published><updated>2009-05-19T14:18:20.868+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hal-hal lain'/><title type='text'>Carmelia.net</title><content type='html'>Tulisan gue di &lt;a href="http://www.carmelia.net/"&gt;carmelia.net&lt;/a&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://carmelia.net/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=328:gereja-yang-katolik&amp;amp;catid=35:bahasa-indonesia&amp;amp;Itemid=97"&gt;Gereja yang Katolik&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://carmelia.net/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=149:kontroversi-pentahbisan-wanita&amp;amp;catid=35:bahasa-indonesia&amp;amp;Itemid=97"&gt;Kontroversi Pentahbisan Wanita&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://carmelia.net/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=147:evolusi-dan-iman&amp;amp;catid=35:bahasa-indonesia&amp;amp;Itemid=97"&gt;Evolusi dan Iman&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://carmelia.net/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=186:terbuka-kepada-allah-dalam-doa&amp;amp;catid=39:spiritualitas&amp;amp;Itemid=96"&gt;Terbuka Kepada Allah Dalam Doa&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://carmelia.net/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=340:saya-tidak-mengerti-apa-yang-saya-baca&amp;amp;catid=45:pendalaman-kitab-suci&amp;amp;Itemid=95"&gt;Saya Tidak Mengerti Apa Yang Saya Baca&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://carmelia.net/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=323:arti-doa-permohonan&amp;amp;catid=41:tulisan-lepas&amp;amp;Itemid=98"&gt;Arti Doa Permohonan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://carmelia.net/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=187:seni-meninggal-dunia&amp;amp;catid=41:tulisan-lepas&amp;amp;Itemid=98"&gt;Seni Meninggal Dunia&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-7735589794754350469?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/7735589794754350469/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/05/carmelianet.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/7735589794754350469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/7735589794754350469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/05/carmelianet.html' title='Carmelia.net'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-134356100279257296</id><published>2009-05-19T14:06:00.000+07:00</published><updated>2009-05-19T20:01:48.943+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ajaran Iman'/><title type='text'>Kebajikan Iman</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;font-size:78%;"  &gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:14;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Pengertian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Menurut Kitab Suci tanpa iman tidak seorangpun dapat berkenan kepada Allah, sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia (Ibr 11: 6). Penjelasan Kitab Suci ini menunjukkan bahwa iman tidak hanya merupakan kunci bagi penyelamatan tetapi juga kunci untuk menerima karunia-karunia Allah. Namun, apakah iman itu? Surat kepada orang Ibrani menggambarkannya sebagai dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibr 11:1). Melengkapi penjelasan ini Katekismus Santo Pius X mendefiniskan iman sebagai “kebajikan supranatural, yang dicurahkan Allah ke dalam jiwa manusia, dan yang dengan mendasarkan diri kepada otoritas Allah sendiri, kita percaya kepada apa yang Allah wahyukan dan disampaikan oleh GerejaNya untuk dipercayai (&lt;i style=""&gt;On Virtues and Vices: Question &lt;/i&gt;9)”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Iman, sama seperti kebajikan harapan dan kasih, dicurahkan Allah ke dalam diri kita saat Dia menghiasi kita dengan rahmat pengudus dan melalui penerimaan sakramen (terutama pembaptisan) kita semakin diperkaya tidak hanya dengan kebajikan-kebajikan ini tetapi juga dengan tujuh karunia Roh Kudus. Namun, peneriman kebajikan teologal ini pada waktu pembaptisan tidaklah cukup untuk keselamatan bagi orang-orang Kristen yang mencapai usia mampu untuk menimbang (&lt;i style=""&gt;age of reason&lt;/i&gt;), kita juga perlu untuk melaksanakannya sebaik mungkin dalam seluruh hidup kita (&lt;i style=""&gt;On Vrtues and Vices: Question&lt;/i&gt; 6-8). Karena alasan ini iman, merupakan suatu hal yang sangat penting bagi semua orang Kristen, tidak hanya bagi mereka yang baru bertobat tetapi juga bagi yang sudah lama menjadi Kristen, sebab iman menentukan hubungannya tidak hanya dengan Allah tetapi juga dengan sesamanya, karena semua kebajikan moral yang menata hubungan kita dengan sesama didasarkan kepada iman kita akan Allah (KGK. 2087).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Seorang Kristen diharapkan untuk memiliki iman yang dewasa sebagai bagian dari jawaban kita terhadap perintah Allah untuk mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa dan budi kita. Iman kita hendaknya ditandai dengan kepercayaan yang utuh, bebas dari keraguan, dan tanpa kecurigaan atau ketakutan. Iman kita hendaknya mencerminkan hubungan kita dengan Allah sebagaimana digambarkan oleh Kitab Suci yaitu kedekatan seorang anak dengan Bapanya yang teramat baik dan setia serta ketaatan seorang hamba kepada Tuannya. Karena cinta kepada Allah hendaknya kita selalu memperkuat dan melindungi iman kita dengan bijak dan tekun dan menolak segala sesuatu yang melemahkan atau bertentangan dengannya (KGK. 2088). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Dasar-dasar Iman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Beberapa orang beranggapan iman itu seperti sebuah takhyul karena menurut mereka sedikit saja dasarnya. Iman Kristen adalah tanggapan kepada Allah yang mewahyukan diriNya kepada manusia melalui Kitab Suci, Tradisi dan ajaran GerejaNya, ketiga hal ini kerap disebut sebagai wahyu umum yaitu yang mengikat semua orang beriman. Mereka yang mengaku dirinya Kristen dengan sendirinya wajib menerima ketiga hal ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Allah juga berbicara kepada kita secara pribadi melalui dorongan hati kita atau melalui orang lain. Kita dapat saja keliru mengenali dorongan Roh dalam diri kita, maka yang penting disini adalah keterbukaan terhadap dorongan Roh yang disertai dengan kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita dapat saja keliru mengenali dorongan Allah. Hal-hal yang lebih khusus mengenai ini akan dibahas dalam topik discernment. Selain itu kita juga dapat mengenali Allah dengan pengertian akan kodratNya, hal ini berlaku terutama ketika berhadapan dengan situasi yang tidak spesifik disebut dalam Kitab Suci dan tanpa dorongan-dorongan yang istimewa, misalnya kita memohon penyembuhan bagi seorang yang sakit, padahal dalam Kitab Suci Allah tidak pernah berkata bahwa Ia akan menyembuhkan semua orang dari penyakit fisiknya dan juga tidak ada dorongan istimewa untuk berbuat demikian, namun dengan mendasarkan iman kepada belaskasihan Allah dan bahwa Allah akan memberi yang terbaik bagi si sakit, kita dapat memohon penyembuhan karena menurut kita itulah yang baik bagi si sakit dan menyerahkan kerinduan kita itu kepada Dia yang penuh belaskasihan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Beberapa orang sering mempertentangkan iman dan akal budi. Bagi seorang Kristen iman dan akal budi tidak bertentangan. Iman memang melampaui akal budi namun iman tidak dapat bertentangan dengan akal budi, karena keduanya bersumber kepada Allah yang satu dan sama, dan kebenaran tidak dapat berkontradiksi. Karena itu iman Kristen yang sehat dan dewasa akan selalu memiliki unsur rasio.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Iman penuh pengharapan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Iman dapat kita bedakan menjadi tiga jenis: iman persetujuan, iman kepercayaan, dan iman penuh pengharapan. Iman persetujuan berarti menerima kebenaran-kebenaran ajaran Kristen, sementara iman kepercayaan berarti selain menerima kebenaran-kebenaran ajaran Kristen juga mempercayakan hidup kita kepada Tuhan, dan akhirnya iman penuh pengharapan berarti selain kedua jenis iman yang telah disebut sebelumnya juga melibatkan keberanian kita untuk mengharapkan pemenuhan janji-janji Allah dalam hidup kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pada prinsipnya dari setiap orang Kristen diharapkan untuk memiliki iman pengharapan. Sekedar iman kepercayaan tidaklah cukup, sebab kata St. Yakobus setan-setan pun demikian (Yak 2:19). Iman kepercayaan membuat orang mampu melangkah lebih jauh lagi, yakni dengan mempercayakan seluruh hidup kepada Tuhan, namun sekedar mempercayakan tanpa adanya keberanian untuk berharap seringkali membawa orang kepada penyerahan yang pasif dan bahkan fatalis, maksudnya segala sesuatu yang terjadi dalam diterima begitu saja sebagai kehendak Allah tanpa pemeriksaan yang lebih mendalam baik kepada janji-janji Allah maupun kepada kehidupannya sendiri. Kedua jenis iman ini belumlah “iman” dalam arti yang sepenuhnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Iman penuh pengharapan merupakan penyerahan diri yang aktif. Maksudnya orang berani terbuka, mempercayakan segala keinginan dan harapannya kepada Allah karena Allah itu baik dan pasti akan memberi yang terbaik (Mat 7: 7-11) dan karena Allah ingin menyatakan kelimpahan rahmatNya di dalam dan melalui kita (Yoh 15:7-8). Memiliki iman yang penuh pengharapan akan menjadikan hidup kita penuh sukacita (Yoh 16: 24) karena kebaikan Allah menjadi pengalaman hidup kita sehari-hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Hampir pasti kita akan merasa gambaran di atas ini terlalu ideal dan terlampau lebar jarak antara iman penuh pengharapan dengan kehidupan iman kita sehari-hari. Iman semacam itu memang pada umumnya tidak muncul dalam semalam tetapi merupakan hasil pergumulan hidup rohani yang panjang dan penuh jatuh bangun. Untungnya Allah mengerti keadaan kita itu, gambaran Kitab Suci mengenai tokoh-tokoh iman mencatat dengan jelas pergumulan hidup dan iman mereka. Masalah mereka kerap kali sama dengan masalah kita. Kadang kita seperti Abraham merasa bahwa Allah bertindak kurang adil atau keadilanNya terlalu keras, dan bersama Abraham juga kita pernah merasa bahwa Allah menuntut terlalu banyak dari diri kita. Kita yang mengalami keluarga kita bagaikan neraka tentu mendapatkan ‘teman senasib’ dalam diri Daud yang keluarganya berantakan luar biasa, anak-anaknya saling bunuh dan Daud sendiri pernah hendak dibunuh oleh anak kesayangannya yaitu Absalom yang menghendaki kekuasaan ayahnya. Kita juga seperti Ayub pernah merasakan ditinggalkan oleh Allah dan diperlakukanNya secara tidak adil ketika kemalangan bertubi-tubi menghantam diri kita. Bersama Petrus dan seorang ayah yang kehilangan anak perempuannya kita juga sering merasa kesulitan untuk percaya kepada Kristus. Dan bersama Tuhan kita juga bisa terkejut karena melihat orang yang dianggap tidak beriman malah lebih mudah percaya dibandingkan kita yang sudah lebih mengenal Allah. Contoh-contoh semacam ini dapat diperpanjang meliputi hampir semua tokoh Kitab Suci.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kitab Suci secara umum tidak menyediakan dasar teori atau saran-saran praktis tentang bagaimana kita mengatasi kesulitan-kesulitan dalam beriman tetapi menawarkan suatu sharing pengalaman dari pribadi-pribadi yang telah mendahului kita dalam menempuh jalan ini. Dari sharing mereka inilah kita mengenal suatu ‘seni’ untuk menjalani hidup bersama Allah, suatu cara hidup yang sebagai orang Kristen kita pandang sebagai hidup ideal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Iman: jawaban yang menyeluruh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kita beriman dengan seluruh diri kita, maksudnya dengan seluruh kemampuan inderawi kita. Iman selalu melibatkan intelek, kehendak, perasaan, dan tindakan kita. Dengan beriman berarti kita menyetujui apa yang Allah wahyukan dan kita berkehendak untuk menata hidup kita sesuai wahyuNya, mewujudkannya dalam tindakan kita. Proses ini berlangsung seumur hidup dan karenanya iman merupakan suatu jawaban yang terus-menerus. Iman merupakan suatu cara hidup yang dengannya kita berpikir, berbicara, bertindak selama hidup kita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Biasanya terdapat dua ekstrim, yaitu ada beberapa orang yang sangat menekankan sisi intelektualitas dalam iman dan yang lainnya menekankan kepada perasaan. Baik perasaan dan intelek adalah bagian dari diri kita, tentu saja beriman juga melibatkan kedua unsur ini, namun sewajarnya saja. Perasaan kadang datang dan pergi tanpa diduga, kadang orang dapat saja meluap-meluap dalam perasaan-perasaan seperti sedih, senang atau terharu yang muncul sebagai semacam ‘hadiah’ dari Tuhan, namun hal ini tidak terjadi setiap hari. Dengan intelek juga begitu, kadang pertambahan pengetahuan tentang agama atau Kitab Suci dianggap begitu saja sebagai pertumbuhan iman, menambah pengetahuan itu baik tetapi itu tidak merupakan ukuran pertumbuhan iman, bertambahnya pengetahuan hanya menunjukkan bahwa yang bersangkutan belajar lebih baik dan tidak berhubungan secara langsung dengan pertumbuhan imannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Bertumbuh dalam Iman &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;a. Yang menghalangi:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 1in; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;Ketakutan bahwa apa yang kita harapkan tidak sejalan dengan yang Allah inginkan. Hal ini muncul dari ketidakpastian pribadi, takut gagal, serta pendekatan iman yang tegang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 1in; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;Penekanan yang berlebih-lebihan pada perasaan (emosionalisme).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 1in; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;Tidak percaya diri dimana kita seringkali merasa ragu bahwa Allah menggunakan kita yang kecil, lemah dan berdosa ini. Pada hari pemilihannya Paus Benediktus XVI mengatakan bahwa dirinya berada diantara perasaan takut menghadapi beratnya tugas namun pada saat yang sama ia juga percaya bahwa Allah sanggup mengerjakan hal-hal besar dengan menggunakan alat-alat yang sederhana. Kesadaran akan kelemahan diri hendaknya jangan menghalangi berkaryanya Allah dalam diri kita melainkan menambah kepercayaan dan penyerahan diri kita kepadaNya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 1in; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;Setan yang memang selalu ingin menjauhkan kita dari Allah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;b. Langkah positif kepada iman:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 1in; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;Sabda Allah dan Sakramen.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 1in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;St. Paulus menegaskan bahwa iman timbul dari pendengaran akan sabda Kristus (Rom 10:7) dan surat kepada orang Ibrani meminta kita agar jangan menjauh dari pertemuan ibadat (Ibr 10: 25). Kitab Suci dibaca baik secara bersama dalam ibadat ataupun secara pribadi. Pewartaan Kitab Suci secara umum (publik) memiliki kaitan yang erat dengan sakramen-sakramen yang menyalurkan rahmat dan menumbuhkan iman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 1in; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;Bacaan rohani.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 1in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;Manusia memiliki pikiran dan pikiran kita sangat mempengaruhi cara hidup dan tindakan kita. Pikiran kita menjadi maju kalau dibina dengan baik, salah satunya adalah dengan membaca bacaan-bacaan yang bermutu. Karena iman melibatkan seluruh diri dan termasuk pikiran kita, maka dalam menumbuhkan iman kita juga perlu membinanya dengan bacaan-bacaan yang isinya menguatkan kita dalam iman. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 1in; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;Doa pribadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 1in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;Doa adalah ungkapan iman yang paling langsung, sederhana, dan mudah. Doa seorang Kristen merupakan komunikasi antara kita dengan Allah. Banyak hal bisa dibahas tentang doa dan ini membutuhkan bahasan tersendiri yang lebih mendalam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 1in; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;Doa iman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 1in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;Langkah ini secara langsung memohon kepada Tuhan tambahan iman. Akhirnya perlu ditekankan kembali bahwa tidak ada cara lain untuk memiliki iman selain diberi oleh Allah, karena itulah kita perlu meminta iman secara khusus. Kitab Suci memberi contoh doa iman yang sangat polos, sederhana namun menggugah, “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini” (Mrk 9: 24). Doa sederhana ini menggambarkan dengan jelas iman sebagai suatu anugerah, manusia hanya dapat membuka hati dan Allah-lah yang memberi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;  (artikel ini dipersiapkan untuk pengajaran di pertemuan ktm bdg)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-134356100279257296?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/134356100279257296/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/05/kebajikan-iman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/134356100279257296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/134356100279257296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/05/kebajikan-iman.html' title='Kebajikan Iman'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-7141788619519452041</id><published>2009-05-19T14:03:00.000+07:00</published><updated>2009-05-19T14:18:44.942+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Doa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Liturgi'/><title type='text'>Doa-doa Roh Kudus dari Missale Romanum</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;Ya Allah, PuteraMu menjanjikan Roh Kudus kepada para Rasul dan memenuhi janjiNya sesudah naik ke surga semoga kami pun Kaulimpahi Roh Kudus. Demi Yesus Kristus…..&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Allah yang mahakuasa dan kekal, semoga kekuatan RohMu turun, agar kami mematuhi kehendakMu dengan setia dan mengamalkannya dalam cara hidup kami. Demi Yesus Kristus….&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Allah yang mahakuasa dan kekal, perkenankanlah semua yang dihimpun Roh Kudus dalam GerejaMu, mengabdi Engkau dengan tulus ikhlas dan bersatu padu dalam cinta kasih. Demi Yesus Kristus…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ya Allah, kami telah merayakan ibadat ini. Semoga SabdaMu menyemangati kami, dan karunia perjamuanMu membarui hidup kami, agar kami layak menerima karunia Roh Kudus. Demi Kristus… &lt;span style="color:red;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Allah sumber cahaya abadi, Engkau telah membukakan jalan menuju hidup kekal bagi kami dengan memuliakan PuteraMu dan mengutus Roh Kudus. Semoga cinta bakti dan iman kami selalu bertambah. Demi Yesus Kristus…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ya Allah, Engkau telah memindahkan kami dari dunia lama yang menuju kematian ke dunia baru yang membawa kehidupan. Semoga kami meninggalkan cara hidup yang lama dan membarui diri dalam terang Roh Kudus. Demi Kristus….&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Allah yang mahakuasa dan kekal, Engkau menghendaki kami merayakan peristiwa mulia Paskah selama lima puluh hari. Semoga bangsa-bangsa yang masih tercerai-berai Kausatukan karena karunia Roh Kudus, sehingga di seluruh bumi berkumandanglah satu pujian bagi namaMu dalam pelbagai bahasa. Demi Yesus Kristus….&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Allah yang membarui segala sesuatu, pada hari raya ini Engkau menguduskan umatMu di semua negara dan bangsa. Semoga mukjizat Pentaksota yang Kauadakan pada awal Gereja, kini Kaukerjakan juga dalam diri kami. Demi Yesus Kristus….&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kami mohon kepadaMu, Allah yang mahakuasa, berilah supaya kegemilangan cahayaMu menyinari kami, dan supaya berkat penerangan Roh Kudus, terangMu menguatkan hati mereka yang telah dilahirkan kembali karena rahmatMu. Demi Yesus Kristus….&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ya Allah yang pada hari ini mengajar hati umatMu dengan penerangan Roh Kudus; berkat Roh itu berilah kami kebijaksanaan yang sejati, dan karunia untuk selalu bergembira karena penghiburanNya. Demi Yesus Kristus.......&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kami mohon kepadaMu, ya Tuhan, sudilah menguduskan persembahan-persembahan ini, dan setelah menerima persembahan rohani ini, jadikanlah diri kami persembahan kurban kekal bagiMu. Demi Kristus…. &lt;span style="color:red;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kami mohon kepadaMu, ya Allah, semoga kekuatan Roh Kudus menyertai kami dan membersihkan hati kami serta melindunginya dari segala malapetaka. Demi Yesus Kristus.....&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tuhan, kami mohon kepadaMu, semoga persembahan kurban ini memurnikan diri kami dan melayakkan diri kami untuk ambil bagian dalam rahasia-rahasia kudus ini. Demi Kristus.....&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kami mohon kepadaMu, ya Tuhan, semoga Roh Kudus memulihkan kami dengan sakramen-sakramen ilahi, karena Ia sendiri adalah pengampunan dosa. Demi Kristus .....&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kami mohon kepadaMu, ya Tuhan, semoga Penghibur, yang berasal daripadaMu, menerangi budi kami dan mengantar kami kepada kepenuhan kebenaran, sebagaimana telah dijanjikan PuteraMu. Demi Kristus.... &lt;span style="color:red;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Allah yang mahakuasa dan maharahim, kami mohon kepadaMu, berkenanlah memberikan Roh Kudus, supaya Ia datang kepada kami dan tinggal dalam diri kami dan menjadikan kami bait kemuliaanMu. Demi Kristus.....&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kami mohon kepadaMu, ya Tuhan, curahkanlah dengan rela Roh Kudus ke dalam jiwa kami, sebab Roh itu juga yang telah menjadikan kami dengan kebijaksanaanNya dan memimpin kami dengan penyelenggaraanNya. Demi Yesus Kristus....&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kami mohon kepadaMu, ya Tuhan, semoga Roh Kudus membakar kami dengan api yang telah dibawa masuk ke dalam dunia oleh Tuhan kami Yesus Kristus dan yang dikehendakiNya berkobar dengan hebat. Dia yang hidup dan berkuasa.....&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tuhan, semoga rahasia-rahasiaMu yang kudus memberi kami kehangatan Ilahi, supaya kami sekaligus menikmati perayaan dan buah-buahnya. Demi Kristus.....&lt;span style="color:red;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ya Allah, bagiMu setiap hati terbuka, setiap keinginan terkatakan, dan tak ada rahasia yang tersembunyi; murnikanlah hati dan pikiran kami dengan pencurahan Roh Kudus, supaya kami dapat mencintai Engkau dengan sempurna dan memuji Engkau dengan sepantasnya. Demi Yesus Kristus&lt;span style=""&gt;...  &lt;/span&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-7141788619519452041?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/7141788619519452041/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/05/doa-doa-roh-kudus-dari-missale-romanum.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/7141788619519452041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/7141788619519452041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/05/doa-doa-roh-kudus-dari-missale-romanum.html' title='Doa-doa Roh Kudus dari Missale Romanum'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-4382902242705111535</id><published>2009-05-19T14:01:00.000+07:00</published><updated>2009-05-19T14:02:46.326+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ajaran Iman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Liturgi'/><title type='text'>Daripada Pergi Kepaksa Mending Gak Usah?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;Itu adalah alasan paling ‘suci’ yang bisa dikemukakan kalau orang tidak pergi ke Misa pada hari minggu atau hari raya wajib sementara dia tidak punya alasan-alasan berat yang sah untuk melalaikan kewajiban hari minggu atau hari rayanya. Kalau diperhatikan alasan ini ada sedikit benarnya daripada pergi ke Misa dengan terpaksa, di Gereja juga hanya ngobrol sana-sini atau sms-an yah lebih baik tidak pergi, toh di Gereja juga kehadiran kita yang tidak niat mungkin malahan akan menganggu orang lain yang ingin mengikuti Misa dengan khusyuk. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Untuk hari-hari biasa atau hari yang tidak termasuk hari raya wajib dan minggu alasan semacam ini sah-sah saja, bahkan kalau Anda malas ke Misa harian karena alasan-alasan tidak penting seperti ingin menonton siaran langsung Copa America sampai selesai (yang kadang pertandingannya baru selesai jam 6.30 WIB) atau karena ingin tidur sebentar sebelum ke kantor setelah jatah istirahat malam terbuang karena ada siaran langsung pertandingan Liga Champion atau malah sekedar malas tanpa alasan yang jelas sekalipun, itu sah-sah saja. Tidak perlu memaksakan diri untuk sesuatu yang tidak wajib. Mengikuti Misa harian itu baik dan dianjurkan, tetapi tidak harus, hal ini sifatnya sukarela dan sesuka hati Anda.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tetapi, untuk hari minggu dan hari raya wajib apakah alasan ini bisa diterima? Tidak. Mengikuti Misa pada hari minggu dan hari raya wajib adalah harus kecuali ada alasan-alasan berat seperti mengurus orang sakit, atau sakit yang memang membuat orang tidak mampu ikut Misa, atau mengurus anak atau orang lanjut usia yang tidak dapat ditinggal sendirian di rumah, atau pekerjaan yang secara langsung berkaitan dengan kepentingan umum, atau berada di tempat asing yang tidak diketahui dimana ada tempat ibadat Katolik dan untuk alasan-alasan lain yang disetujui oleh imam (percayalah, kebanyakan imam di Indonesia akan sangat murah hati untuk soal ini). Sementara itu, jika orang dengan sengaja melalaikan diri dari kewajiban untuk mengikuti Misa pada hari minggu dan hari raya wajib tanpa alasan-alasan berat maka ia jatuh ke dalam dosa berat (KGK no. 2181). Konsekuensinya orang ini tidak boleh menerima Komuni sebelum ia menerima Sakramen Tobat terlebih dahulu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Kewajiban hari minggu dan hari raya ini memang cukup dipenuhi dengan menghadiri salah satu entah Misa pada hari raya yang bersangkutan atau pada sore hari menjelang hari raya yang bersangkutan, sehingga cukuplah menghadiri Misa malam Natal saja dan Misa pada pagi harinya tidak usah kalau memang tidak niat, begitu juga pada saat Paskah cukup menghadiri salah satu dari malam Paskah atau Misa pada hari raya Paskah saja, sama seperti Misa sabtu sore sudah memenuhi kewajiban untuk ke Misa pada hari minggu. Sementara pada Tri Hari Suci kalau memang malas, tidak usah memaksakan diri mengikuti Misa Mengenang Perjamuan Terakhir (yang umum disebut Kamis Putih) atau mengikuti Peringatan Sengsara Tuhan (yang umum disebut Jumat Agung) karena keduanya bukanlah hari raya wajib! Kedua hari itu tidak muncul di daftar hari raya wajib Gereja universal yang ada di KGK no.2177, dan yang oleh Gereja Indonesia sebagian dihapuskan sifat wajibnya, sehingga hanya ada dua hari raya wajib yang jatuh di luar hari minggu yaitu Natal dan Kenaikan Tuhan, sementara sisanya menjadi tidak wajib atau digeser ke hari minggu. Kamis Putih adalah Misa harian dengan acara yang sedikit spesial, sementara Jumat Agung tidak ada Misa jadi memang bukan hari raya dan tidak mungkin wajib. Tentu dianjurkan untuk pada hari-hari spesial itu mengikuti seluruh rangkaian ritual seperti kalau malam Natal sudah Misa maka paginya Misa lagi, dan untuk mengikuti Kamis Putih, Jumat Agung, Vigili Paskah, dan Paskah, tetapi ini tidaklah wajib, bagi yang malas atau capek silahkan mengambil batas minimal saja yaitu mengikuti salah satu dari Misa Vigili Paskah atau Misa hari raya Paskah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tapi bagaimana dengan soal ikut Misa secara terpaksa atau malas-malasan dan akhirnya datang hanya karena merasa wajib datang? Itu memang tidak ideal, tetapi setidaknya kita bisa melakukan beberapa hal untuk memastikan kita memenuhi batas minimum mengikuti Misa. Gereja meminta kita untuk berpartisipasi aktif dalam Misa, jadi pertama kita akan melihat apa dulu artinya partisipasi. Kata part-isipasi artinya setiap orang melakukan bagiannya dalam satu tindakan (&lt;i style=""&gt;actio&lt;/i&gt;) bersama yang dalam konteks liturgi mengacu kepada “Doa Syukur Agung” tindakan liturgis yang sejati dan puncak dari Perayaan Ekaristi (Joseph Ratzinger, &lt;i style=""&gt;The Spirit of The Liturgy&lt;/i&gt;, p. 171-172). Jadi kalaupun sedang tidak niat sekalipun, paksakanlah diri untuk berkonsentrasi pada bagian Doa Syukur Agung (mulai dari dialog sebelum Prefasi sampai “Amin” meriah yang mengakhirinya) dan terutama pada saat “Terimalah makanlah, inilah Tubuh-Ku” dan “Terimalah minumlah, inilah Piala Darah-Ku”. Tidak terlalu sulit kan memenuhi ini? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Selanjutnya kita berpartisipasi dalam Misa dengan cara yang lebih penuh dengan menyambut Komuni. Bagaimanapun hanya mereka yang dalam keadaan rahmat (tidak berdosa berat) yang boleh menyambut Komuni. Mereka yang minggu lalu tidak pergi ke Misa tanpa alasan berat, yang menikah tidak secara Katolik dan belum dibereskan, mereka yang bercerai dan kawin lagi, yang habis menonton film porno, bermasturbasi, memakai kontrasepsi buatan, berhubungan badan dengan yang bukan istri sahnya, memarahi orang secara tidak proporsional dengan kesalahannya, melakukan kebohongan serius, mencuri dengan akibat kerugian serius pada yang dicuri atau dosa-dosa berat lainnya jangan menyambut Komuni sebelum menerima Sakramen Tobat terlebih dahulu. Tidak ada perbuatan yang lebih mengacaukan keagungan Misa selain dari menyambut Komuni dalam keadaan berdosa berat. Dan juga harap diingat bahwa mereka yang menyambut Komuni dalam keadaan berdosa berat melakukan dosa berat baru yaitu pelecehan terhadap Tubuh dan Darah Tuhan. Namun tidak bisa menerima Komuni bukanlah alasan untuk tidak ikut Misa, mereka yang terhalang untuk menyambut Komuni tetap terikat kewajiban untuk mengikuti Misa dan tidak menyambut Komuni.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Saat pembagian Komuni, itu adalah saat doa, daripada ribut lebih baik berlutut dan memandang Tubuh Tuhan yang dibagikan kepada mereka yang sedang menerima, atau sekedar memandang Altar yang adalah meja perjamuan Tuhan dan tempat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kurban-Nya dihadirkan, tidak perlu pusing memikirkan apa yang mau didoakan, pandanglah saja, memandang wajah Allah adalah aktifitas surgawi kita (Wahyu 22: 4). Pandanglah Dia, itu lebih berarti daripada banyak kata-kata yang dapat kita ucapkan. Juga perlu diperhatikan sikap tubuh saat berjalan dalam antrian Komuni dan menerima Tubuh (dan Darah) Tuhan, lakukanlah dengan sikap lahir yang menunjukkan sikap batin yang tepat sesuai iman kita yaitu yang menunjukkan rasa hormat dan cinta kepada Tuhan yang hadir dalam rupa Roti dan Anggur.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Secara lahiriah partisipasi aktif itu ditunjukkan dengan mengikuti semua petunjuk mengenai sikap badan dan ucapan yang harus dilakukan dalam Misa. Sepanjang pengamatan saya mereka yang kelihatannya pergi ke Misa secara tidak niat sekalipun akan tetap berdiri, duduk, atau berlutut sesuai tata cara. Yang harus diperbaiki hanya mulut dan tangan yang terlalu sibuk dengan sms, dan biasanya hal ini mulai berlangsung saat homili selain dari saat pembagian Komuni yang telah dibahas diatas. Kalau merasa bosan dengan homili dan ingin mengobrol atau ber-sms ria, lebih baik ambil buku TPE dan ucapkan dalam hati mazmur-mazmur yang ada disana, atau sekedar membaca bacaan-bacaan Misa yang ada di teks yang disediakan. Ini lebih baik daripada ngobrol atau ber-sms ria. Jika masih bosan maka persembahkanlah semua rasa bosan dan ngantuk itu kepada Allah, ini bisa dilakukan dengan doa sederhana seperti, “kupersembahkan kepada-Mu Tuhan semua rasa bosan dan ngantuk ini sebagai silih (&lt;i style=""&gt;satisfaction&lt;/i&gt;) atas dosa-dosaku dan untuk dosa-dosa imam yang membawakan homili. Terimalah persembahan sederhana ini dalam persatuan dengan persembahan Kurban Tubuh dan Darah Putera-Mu yang sebentar lagi akan dihadirkan diatas Altar”. Doa sederhana ini tentunya tidak akan menghilangkan rasa bosan dan ngantuk tetapi dapat membuat rasa bosan dan ngantuk itu menjadi bermanfaat untuk kesejahteraan rohani kita sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Satu lagi, ucapkanlah bagian-bagian Misa yang memang diperuntukkan bagi umat seperti “Amin”, “dan bersama rohmu”, “syukur kepada Allah”, dan bagian-bagian lain yang biasa disebut ordinarium (kecuali kalau koor menyanyikannya dalam melodi yang susah dinyanyikan apa boleh buat). Mungkin Anda bertanya, apa gunanya mengucapkan kalau tidak mengerti&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;maknanya? Ekaristi adalah misteri yang tidak terkatakan, jadi pengertian kita hanyalah dangkal saja, tidak usah terlalu pusing soal mengerti atau tidak. Di masa lalu Misa diselenggarakan hanya dalam bahasa latin dan telah menghasilkan ribuan orang kudus yang dikanonisasi resmi oleh Gereja (dan entah berapa puluh atau ratus juta orang kudus lain yang tidak dikanonisasi resmi), dan banyak (bahkan mungkin kebanyakan) santo-santa ini tidak mengerti dengan pikiran mereka apa yang diucapkan di Misa karena mereka memang tidak bisa bahasa latin. Jadi kalau Anda merasa kesulitan mengerti apa &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;maksudnya teks-teks Misa itu, berbahagialah, Anda punya banyak teman di surga dan mungkin Anda berbakat menjadi salah satu dari mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Partisipasi yang paling mendasar adalah sikap batin. Dan sikap batin yang diminta ada dalam Misa adalah; penyembahan, penyesalan, syukur, permohonan dan terutama adalah ketaatan kepada Allah (Fr. William Most, &lt;i style=""&gt;A Basic Catholic Catechism&lt;/i&gt;, Part 12) karena ketaatan kepada Bapa lah Kristus mempersembahkan diri-Nya sebagai Kurban (Ibr&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;10: 5-7). Jadi jelaslah kalau orang datang ke Misa dengan motifasi yang seringkali dianggap sebagai motifasi yang paling ‘miskin’ yaitu datang karena kewajiban sebenarnya dia sudah memenuhi sikap batin yang paling mendasar, yaitu datang untuk melakukan kehendak Allah yang melalui Gereja memerintahkan dia hadir di Misa. Tentunya semua sikap batin itu harus ada dan tidak cukup hanya salah satunya saja, tetapi tidaklah harus dalam bentuk yang sempurna meskipun semakin baik semakin intimlah partisipasi kita. Bagaimanapun, mereka yang datang ke Misa sekedar karena kewajiban jelas tidak sama dengan mereka yang memilih tidak ke Misa daripada datang juga karena terpaksa. Mereka yang datang dengan terpaksa namun tetap datang karena wajib sekurangnya telah menunjukkan ketaatan mereka kepada Allah yang melalui Gereja-Nya telah mewajibkan mereka untuk mengikuti Misa, inilah persembahan terbaik yang bisa kita bawa ke dalam Misa untuk dipersembahkan kepada Allah dalam persatuan dengan persembahan Kurban Tubuh dan Darah Kristus, yaitu ketaatan kita.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2977100862786255600-4382902242705111535?l=way-perfection.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://way-perfection.blogspot.com/feeds/4382902242705111535/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/05/daripada-pergi-kepaksa-mending-gak-usah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/4382902242705111535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2977100862786255600/posts/default/4382902242705111535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://way-perfection.blogspot.com/2009/05/daripada-pergi-kepaksa-mending-gak-usah.html' title='Daripada Pergi Kepaksa Mending Gak Usah?'/><author><name>Daniel Pane</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2977100862786255600.post-7409862114405499930</id><published>2009-05-19T13:57:00.000+07:00</published><updated>2009-05-19T20:02:32.428+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ajaran Iman'/><title type='text'>Ensiklik Leo XIII Tentang Kehadiran dan Kuasa Roh Kudus "Divinum Illud Munus"</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kepada Saudara-saudara Kami yang terhormat, Patriarkh, Primat, Uskupagung, Uskup dan Ordinaris Lokal lainnya yang berada dalam Damai dan Persekutuan dengan Tahta Suci.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: left; line-height: normal;font-family:arial;" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Saudara Terhormat, Kesehatan dan Berkat Apostolik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1. Tugas perutusan ilahi yang diterima Yesus Kristus dari BapaNya untuk kesejahteraan seluruh umat manusia, yang dipenuhiNya dengan sempurna, memiliki tujuan akhir untuk menempatkan manusia kepada kehidupan abadi dan kemuliaan, dan sepanjang peredaran zaman menjaga mereka tetap dekat pada kehidupan rahmat ilahi, yang ditentukan untuk pada akhirnya berbuah dalam kehidupan surgawi. Karenanya, Penyelamat kita tak pernah berhenti untuk mengundang, dengan perhatian yang tak terbatas, semua manusia, dari setiap suku dan bahasa, ke dalam pangkuan GerejaNya: “Datanglah kalian semua kepadaKu,” “Akulah Kehidupan,” Akulah Gembala Baik.” Walaupun begitu, menurut kebijaksanaanNya yang tak terpahami, Ia tidak berkehendak untuk menyelesaikan dan memenuhi semua tugas ini sendiri sementara Ia masih di dunia, tetapi sebagaimana Ia terima dari Bapa, Ia menyerahkan pemenuhannya kepada Roh Kudus. Adalah menghibur untuk mengingat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jaminan yang diberikan Kristus kepada tubuh para muridNya sesaat sebelum Ia meninggalkan dunia: “Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Paraclete itu tidak akan datang kepadaMu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu (Yohanes 16:7). Dalam kata-kata ini Ia memberikan alasan utama kepergian dan kembalinya Dia kepada Bapa, manfaat yang paling jelas bagi para muridNya dari kepergian itu adalah kedatangan Roh Kudus, dan pada saat yang sama, Ia membuat jelas bahwa Roh Kudus secara setara diutus- dan karena itu berasal- dari diriNya dan Bapa; dan Roh itu akan memenuhi, tugasNya sebagai Pengantara, Penghibur, dan Guru, karya yang telah dimulai oleh Kristus sendiri dalam hidup duniawiNya. Karena, dalam penebusan dunia ini, penyempurnaan karya itu oleh Penyelenggaraan Ilahi dikhususkan kepada bermacam-macam kuasa yang dimiliki Roh itu, yang dalam penciptaan, “menghiasi langit” (Ayub 26:13) dan “memenuhi seluruh dunia” (Kebijaksanaan 1:7)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;2. Sampai sekarang Kami telah berjuang sekuat tenaga, dengan pertolongan rahmatNya, untuk mengikuti teladan Kristus, Penyelamat kami, Gembala Utama, dan Penilik Jiwa kami, dengan menjalankan tugas dariNya yang Ia percayakan kepada Para Rasul dan terutama kepada Petrus “yang kewibawaannya tidak jatuh, bahkan dalam diri para penggantinya yang tak pantas” (St. Leo Agung, Sermon ii, Pada Ulangtahun Terpilihnya). Untuk mencapai tujuan ini Kami telah berketetapan untuk mengarahkan semua usaha Kami dan melakukannya terus-menerus selama masa kepausan Kami yang panjang kepada dua tujuan utama; pada tempat pertama, untuk memulihkan, dalam diri penguasa dan rakyat, prinsip-prinsip hidup Kristen dalam masyarakat sipil dan domestik, karena tidak ada kehidupan sejati untuk manusia kecuali dari Kristus; dan, kedua, untuk mendukung persatuan kembali dari mereka yang telah meninggalkan Gereja Katolik entah karena bidaah atau skisma, karena tanpa diragukan lagi adalah kehendak Kristus bahwa semua harus disatukan dalam satu kawanan dibawah satu Gembala. Tetapi sekarang Kami mendekati hari-hari terakhir hidup Kami, jiwa Kami secara mendalam tergerak untuk mempersembahkan kepada Roh Kudus, yang adalah Cinta yang memberi hidup, semua karya yang telah Kami kerjakan selama masa kepausan Kami, semoga Dia membawanya kepada kesempurnaan dan menghasilkan buahnya. Dan agar kehendak Kami ini dijalankan lebih baik dan lebih sempurna, Kami memutuskan untuk menjelaskan kepada kalian di saat menjelang Pentakosta ini mengenai kehadiran dan kuasa yang menakjubkan dari Roh Kudus; dan cara serta dayaguna tindakanNya baik dalam seluruh tubuh Gereja dan dalam jiwa setiap individu anggotanya, melalui kelimpahan rahmat ilahiNya yang mulia. Dengan tulus kami mengharapkan, sebagai hasil pengajaran kami ini, meningkatnya iman dalam budimu tentang misteri Tritunggal yang terpuji, dan khususnya agar semakin meningkat dan membara kesalehan kepada Roh Kudus, yang kepadaNya secara khusus kita semua berhutang rahmat untuk mengikuti jalan kebenaran dan kebajikan; karena seperti yang dikatakan St. Basilius, “Siapa yang menyangkal bahwa segala keistimewaan berkaitan dengan manusia, yang telah dibuat oleh Allah dan Penyelamat kita yang besar, Yesus Kristus, menurut kebaikan Allah, telah dipenuhi melalui rahmat Roh?” (Tentang Roh Kudus, c. xvi, v. 39).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;3. Sebelum Kami masuk ke dalam topik ini, adalah berguna dan sesuai dengan keinginan Kami untuk menyampaikan beberapa kata tentang Misteri Tritunggal Mahakudus. Dogma ini disebut oleh para doktor Gereja sebagai “substansi Perjanjian Baru” maksudnya ialah, yang terbesar dari semua misteri karena misteri ini adalah sumber dan dasar dari semuanya. Untuk mengetahui dan merenungkan misteri ini, diciptakan malaikat di surga dan manusia di bumi. Untuk mengajarkan misteri ini secara lebih penuh, yang ada namun tersamar dalam Perjanjian Lama, Allah sendiri datang dari antara para malaikat untuk manusia: “ Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakanNya” (Yohanes 1 :18). Siapapun yang menulis atau berbicara tentang Tritunggal harus memperhatikan peringatan yang tepat dari Doktor Para Malaikat: “Saat kita berbicara tentang Tritunggal kita harus melakukannya dengan teliti dan rendah hati, karena seperti yang dikatakan oleh St. Agustinus “, tidak ada lagi kesalahan berbahaya dibuat, atau penelitian menjadi lebih sulit, atau penemuan lebih berbuah” (Summ. Th. 1a., q. xxxi. De Trin. 1 1., c.3). Bahaya yang muncul tidak kurang adalah Pribadi Ilahi yang satu dicampurkan dengan yang lain dalam iman atau ibadat, atau satu Hakekat dalam mereka dipisahkan: karena “Inilah Iman Katolik bahwa kita harus menyembah satu Allah dalam Tritunggal dan Tritunggal dalam Kesatuan”. Karenanya pendahulu Kami Innocentius XII, secara tegas menolak petisi dari mereka yang menginginkan pesta khusus untuk menghormati Allah Bapa. Karena, walaupun sejumlah misteri berbeda yang terhubung dengan Sabda yang menjadi daging dirayakan pada hari-hari tertentu, tidak ada pesta khusus apapun dimana Sabda dihormati menurut Kodrat IlahiNya semata. Dan walaupun Pesta Pentakosta telah ditetapkan sejak masa-masa paling awal, namun tidak ditujukan semata untuk menghormati Roh Kudus sendiri, tetapi untuk mengenangkan kedatanganNya, atau misi eksternalNya. Dan semua ini telah ditetapkan dengan bijaksana, agar dalam membedakan Pribadi orang tidak terpancing untuk membedakan Hakekat Ilahi. Lebih lagi Gereja, dengan tujuan memelihara anak-anaknya dalam kemurnian iman, menetapkan Pesta Tritunggal Mahakudus, yang oleh Yohanes XXII diperluas bagi Gereja Universal untuk seterusnya. Dia juga mengizinkan altar-altar dan gereja-gereja didedikasikan kepada Tritunggal Mahakudus, dan dengan persetujuan ilahi, mengakui Ordo untuk Pemeliharaan para Tawanan, yang secara khusus didedikasikan kepada Tritunggal Mahakudus dan memakai namaNya. Banyak fakta meneguhkan kebenaran ini. Penghormatan kepada para malaikat dan para kudus, kepada Bunda Allah, dan kepada Kristus sendiri, akhirnya terarah kepada kehormatan Tritunggal Mahakudus. Dalam doa ditujukan kepada Yang Satu melalui Putera, juga disebutkan yang lainnya; dalam litani-litani setelah Pribadi Ilahi disebut secara khusus dan terpisah, seruan bersama kepada seluruhnya ditambahka: semua mazmur dan himne ditutup dengan doksologi kepada Bapa, Putera dan Roh Kudus; berkat, ritus kudus, dan sakramen disertai atau ditutup dengan seruan kepada Tritunggal Mahakudus. Hal ini sudah dinubuatkan oleh para Rasul dalam kata-kata : “Segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan selama-lamanya!” (Roma 11: 36), dan karenanya menandakan baik Ke-Tritunggal-an Pribadi dan Kesatuan Hakekat: karena hal ini adalah satu dan sama dalam setiap Pribadi, sehingga bagi setiap Pribadi terdapat kemuliaan tertinggi yang setara, sebagaimana kepada Allah yang satu dan sama. St. Agustinus mengomentari kesaksian ini dengan menulis: “Kata-kata Rasul, dari Dia, dan oleh Dia, dan dalam Dia tidak untuk dimengerti secara terpisah; dari Dia mengacu kepada Bapa, melalui Dia kepada Putera, dan dalam Dia kepada Roh Kudus” (De Trin. 1. Vi., c. 10; 1. i., c.6). Gereja secara tepat terbiasa untuk mengenakan kepada Bapa karya keilahian yang berkaitan dengan kuasa surgawi, kepada Putera yang berkaitan dengan kebijaksanaan surgawi, dan cinta surgawi kepada Roh Kudus. Tidak berarti bahwa semua kesempurnaan dan karya eksternal tersebut tidak dimiliki bersama oleh seluruh Pribadi Ilahi; karena “karya dari Tritunggal tidak terbagi, bahkan sama seperti hakekat Tritunggal adalah tidak terbagi” (St. Agustinus., De Trin., 1. 1, cc. 4-5); karena sebagaimana tiga Pribadi Ilahi ini tidak terbagi , maka mereka juga bertindak tanpa terpisah” (St. Agustinus., ib). Tetapi dalam arti tertentu, karya-karya ini dapat diatributkan, atau sebagaimana biasa dikatakan “dikenakan” kepada Satu Pribadi ketimbang yang lain. “Seperti kita melacak kesamaan atau keserupaan yang kita temukan dalam ciptaan untuk menunjukkan manifestasi dari Pribadi Ilahi, juga kita menggunakan atribut esensial mereka; dan manifestasi Pribadi-pribadi melalui atribut essensial mereka disebut ‘penggenaan’ (St. Th. 1a., q. 39, xxxix., a.7). Dengan cara Ini Sang Bapa, yang adalah “dasar seluruh keilahian” (St. Agustinus. De Trin. 1 iv., c. 20) adalah juga penyebab langsung dari segala hal, dari penjelmaan Sabda, dan pengudusan jiwa-jiwa; “dari Dia lah segala sesuatu: dari Dia, mengacu kepada Bapa. Tetapi Putera, Sang Sabda, Gambaran Allah juga adalah penyebab acuan, karena semua ciptaan meminjam bentuk dan keindahan, tatanan dan keselarasan mereka dari Nya. Bagi kita Dia adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup; Pendamai manusia dengan Allah. “Melalui Dia lah segala sesuatu”: Melalui Dia mengacu kepada Putera. Roh Kudus adalah penyebab akhir dari segala sesuatu, karena kehendak dan segala sesuatu yang lain akhirnya memiliki Dia sebagai tujuan akhir mereka, sehingga Dia, yang adalah Kebaikan Ilahi dan Hubungan Cinta antara Bapa dan Putera, memenuhi dan menyempurnakan, dengan KuasaNya yang lembut, karya yang tersembunyi bagi keselamatan abadi manusia. “dalam Dia lah segala sesuatu”: dalam Dia, mengacu kepada Roh Kudus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;4. Setelah menyinggung iman dan penyembahan kepada Tritunggal Mahakudus, yang harus ditingkatkan lebih dan lebih lagi diantara orang-orang Kristen, sekarang Kami beralih untuk menjelaskan kuasa Roh Kudus. Dan, pertama-tama, kita harus memandang kepada Kristus, Pendiri Gereja dan Penebus bangsa manusia. Diantara semua tindakan eksternal Allah, yang tertinggi dari semuanya adalah misteri Penjelmaan Sabda, yang didalamnya kegemilangan kesempurnaan ilahi bersinar begitu terang sehingga tidak dapat dibayangkan apa lagi yang lebih mengagumkan darinya, dan tidak ada lagi yang dapat lebih menyelamatkan bagi umat manusia. Sekarang karya ini, walaupun merupakan milik keseluruhan Tritunggal, namun tetap dikenakan secara khusus kepada Roh Kudus, sehingga Injil berbicara tentang Perawan yang Terberkati: “Dia ditemukan mengandung anak dari Roh Kudus,” dan “anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus” (Matius 1: 18, 20). Dan hal ini secara tepat dikenakan kepadaNya yang adalah cinta Bapa dan Putera, karena “misteri saleh yang agung” (1 Timotius 3:16) ini berasal dari cinta Allah yang tak terbatas bagi manusia, seperti dikatakan St. Yohanes: “Allah begitu mencintai dunia ini sehingga Ia memberikan PuteraNya yang Tunggal” (Yohanes 3: 16). Lebih lagi, karena melaluiNya kodrat manusia diangkat ke dalam persatuan pribadi dengan Sabda, dan kelayakan ini diberikan, bukan berdasarkan jasa apapun, tapi seluruhnya dan secara mutlak melalui rahmat, dan secara khusus melalui rahmat istimewa Roh Kudus. Pada titik ini St. Agustinus menulis: “Cara yang dengannya Kristus dikandung dari Roh Kudus, menunjukkan kepada kita rahmat Allah, dimana manusia tidak memiliki jasa yang mendahului, sejak saat pertama keberadaannya, telah disatukan dengan sabda Allah, dengan persatuan pribadi yang begitu intim, sehingga Dia, yang adalah Putera Manusia, juga adalah Putera Allah, dan Dia yang adalah Putera Allah juga adalah Putera Manusia” (Enchir., c. xl. St. Th., 3a., q. xxxii., a. 1). Melalui karya Roh Kudus, bukan saja pengandungan Kristus yang dipenuhi, tetapi juga pengudusan JiwaNya, yang oleh Kitab Suci, disebut pengurapanNya (Kisah Para Rasul 10: 38). Karenanya semua tindakannya “dilakukan dalam Roh Kudus” (St. Basil de Sp. S., c. xvi), dan secara khusus kurban diriNya sendiri: “Kristus, oleh Roh Kudus, mempersembahkan diriNya tanpa noda kepada Allah” (Ibrani 9: 14). Dengan memperhatikan semua ini tak seorangpun heran karena semua rahmat Roh Kudus dicurahkan ke dalam jiwa Kristus. Dalam Dia berdiam kepenuhan rahmat, dengan cara terbesar dan paling berdaya guna; dalam Dia terdapat semua harta kebijaksanaan dan pengetahuan, rahmat yang diberikan dengan bebas (gratis datae), kebajikan, dan semua anugerah yang disebutkan dalam nubuat Yesaya (Yesaya 11;2, 61:1), dan juga ditandai dengan merpati ajaib yang muncul di Yordan, saat Kristus, dengan PembaptisanNya, menguduskan airnya untuk Perjanjian Baru. Tentang kata-kata ini sangat tepat untuk mengutip St. Agustinus: “Adalah bodoh untuk mengatakan bahwa Kristus menerima Roh Kudus saat Dia telah berusia 30 tahun, karena Dia datang untuk dibaptis tanpa dosa, dan karenanya tidak tanpa Roh Kudus. Pada saat itu (saat Dia dibaptis), Dia berkenan menjadi pratanda bagi GerejaNya, yang di dalam Gereja itu orang yang dibaptis menerima Roh Kudus” (De. Trin. 1., xv., c. 26). Karenanya, melalui penampakan jelas Roh Kudus atas Kristus dan dengan kuasaNya yang terlihat dalam jiwaNya, misi ganda Roh Kudus terselebung, yaitu, Misi lahiriah dan terlihatNya dalam Gereja, dan rahasia kediamanNya dalam jiwa orang yang dibenarkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;5. Gereja, yang telah dikandung, berasal dari sisi Adam kedua dalam tidurNya di Salib, pertama kali menunjukkan dirinya pada hari raya Pentakosta. Pada hari itu Roh Kudus mulai memanifestasikan anugerahNya dalam Tubuh Mistik Kristus, yaitu melalui pencurahan ajaib yang sebelumnya telah dinubuatkan Nabi Yoel (2: 28-29), karena Sang Paraclete “duduk atas para Rasul sebagai mahkota rohani yang ditempatkan di atas kepala mereka dalam bentuk lidah api” (S. Sirilius Hier. Catech. 17). Kemudian para Rasul “turun dari gunung,” seperti ditulis oleh St. Yohanes Chryostomus “tidak seperti Musa yang membawa loh batu di tangannya, tetapi membawa Roh dalam budi mereka, dan mencurahkan harta dan sumber ajaran dan rahmat (In Matt. Hom. 1., 2 Cor. Iii, 3). Dengan itu dipenuhilah janji terakhir Kristus kepada Para RasulNya untuk mengutus Roh Kudus, untuk memenuhi, dan kemudian, memateraikan harta pusaka ajaran yang dipercayakan kepada mereka dibawah inspirasiNya. “Masih banyak hal yang harus Ku katakan kepadaMu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya; tetapi apabila Dia datang, Roh Kebenaran, Ia akan mengajar kamu semua kebenaran” (Yohanes 16: 12-13). Karena Dia yang adalah Roh Kebenaran, adalah juga Dia yang berasal baik dari Bapa, yang adalah kebenaran abadi, dan dari Putera, yang adalah kebenaran hakiki, menerima dari keduaNya hakekat dan kepenuhan semua kebenaran. Kebenaran ini Ia sampaikan kepada GerejaNya, dijagaiNya Gereja itu dengan bantuan penuh kuasa sehingga tak pernah jatuh dalam kesesatan, dan dibantuNya Gereja untuk meningkatkan secara lebih dan lebih lagi dari hari ke hari benih ajaran ilahi dan untuk membuatnya berbuah bagi kesejahteraan semua orang. Dan karena untuk kesejahteraan orang-orang, Gereja telah didirikan, secara mutlak tugas ini harus berlanjut untuk selama-lamanya, maka Roh Kudus secara kekal menyalurkan hidup dan kekuatan untuk memelihara dan meningkatkan perkembangan Gereja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;6. Oleh Dia para Uskup ditetapkan, dan melalui pelayanan mereka dipergandakanlah bukan hanya anak-anak, tetapi juga para ayah- yaitu, para imam- untuk memerintah dan memberi makan Gereja dengan Darah Kristus yang telah menebus Gereja. “Roh Kudus telah menempatkan kamu sebagai Uskup untuk menggembalakan Gereja Allah yang diperolehNya dengan Darah PuteraNya sendiri” (Kisah Para Rasul 20: 28). Dan baik Uskup dan Imam, dengan anugerah ajaib dari Roh, memiliki kuasa untuk mengampuni dosa, menurut kata-kata Kristus kepada Rasul: Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya akan diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada” (Yohanes 20: 22-23). Bahwa Gereja adalah lembaga ilahi tampak jelas terbukti dari kegemilangan dan kemuliaan anugerah-anugerah dan rahmat yang menghiasinya, yang pencipta dan pemberinya adalah Roh Kudus. Maka cukuplah untuk menyatakan bahwa, sebagaimana Kristus adalah Kepala Gereja, maka Roh Kudus adalah jiwanya. “Sebagaimana jiwa dalam tubuh kita, begitulah Roh Kudus dalam Tubuh Kristus, yaitu Gereja” (St. Agustinus., Serm. 187, de Temp.). Demikianlah, agar tidak lebih jauh dan lebih penuh lagi “manifestasi pewahyuan Roh Ilahi” dibayangkan atau diharapkan; karena apa yang ada dalam Gereja sekarang adalah kemungkinan yang paling sempurna, dan akan tetap begitu sampai Gereja sendiri, menyelesaikan jalan perjuangannya, dan diangkat ke dalam sukacita para kudus yang berjaya di surga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;7. Cara dan tingkat kehadiran karya Roh Kudus dalam jiwa pribadi tidaklah kurang indah, walaupun lebih sulit untuk dijelaskan, karena hampir seluruhnya tidak terlihat. Pencurahan Roh itu begitu melimpah, sehingga Kristus sendiri, yang dariNya lah seluruh anugerah itu berasal membandingkannya dengan sungai yang mengalir, seperti kata-kata St. Yohanes: “ Dia yang percaya kepadaKu, seperti kata Kitab Suci : Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup” yang tentang ini kesaksian Penginjil menambahkan keterangan: “Yang dimaksudkanNya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepadaNya” (Yohanes 7: 38-39). Adalah benar bahwa dalam diri orang benar yang hidup sebelum Kristus, Roh Kudus berdiam melalui rahmat, sebagaiamana kita baca dalam Kitab suci mengenai para nabi, Zakaria, Yohanes Pembaptis, Simeon dan Hanna; sehingga para hari Pentakosta Roh Kudus tidak menyalurkan diriNya seperti “untuk pertama kalinya mulai berdiam dalam diri orang kudus, tetapi dengan mencurahkan diriNya secara lebih melimpah; Ia memahkotai, bukan memulai anugerahNya; bukan memulai karya baru, tetapi memberi secara lebih melimpah” (St. Leo Agung, Hom. Iii., de Pentec.). Tetapi jika mereka juga terhitung anak-anak Allah, mereka itu berada dalam keadaan seperti hamba, karena “selama mereka masih berstatus anak-anak mereka tidak berbeda dari hamba, yaitu beraa dibawah perwalian dan pengawasan” (Galatia 4: 1,2). Lebih lagi tidak hanya keadilan mereka berasal dari jasa Kristus yang akan datang, tetapi komunikasi Roh Kudus setelah Kristus juga lebih berlimpah, sebagaimana harga melampaui nilai yang sebenarnya dan kenyataan melampaui bayangan. Karena itulah St. Yohanes menyatakan: “Sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan” (Yohanes 7: 39). Maka, segera setelah Kristus “naik ke tempat tinggi,” masuk ke dalam kemuliaan KerajaanNya yang dimenangkanNya dengan perjuangan berat, Dia dengan melimpah-ruah mencurahkan harta Roh Kudus: “Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia” (Efesus 4: 8). Karena “ pemberian atau pengutusan Roh Kudus setelah pemuliaan Kristus tidak pernah seperti sebelumnya; bukan karena sebelumnya tidak pernah diberikan tetapi tidak pernah diberikan secara demikian” (St. Agustinus., De Trin., 1. iv. c. 20).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;8. Kodrat manusia adalah hamba Allah karena kebutuhan: “Ciptaan adalah hamba, kita adalah hamba Allah karena kodrat” (St. Sirilius Alex. Thesaur.1. v., c. 5). Bagaimanapun, karena dosa asal, seluruh kodrat kita telah jatuh ke dalam kesalahan dan kehinaan sehingga kita telah menjadi musuh Allah. “Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai” (Efesus 2:3). Tidak ada kuasa apapun yang dapat mengangkat dan membebaskan kita dari kekacauan dan pemusnahan abadi. Tetapi Allah, Pencipta manusia yang belaskasihNya tak terbatas, melalui PuteraNya yang Tunggal, yang melalui jasaNya membawa pemulihan derajat dan harkat manusia yang telah jatuh, dan masih menghiasi manusia dengan rahmat yang lebih melimpah. Tidak satupun yang dapat mengungkapkan kebesaran karya rahmat ilahi didalam diri manusia ini. Karena itu baik di dalam Kitab suci maupun dalam tulisan para bapa, manusia disebut sebagai telah dilahirkan kembali, ciptaan baru, peng-ambil bagian dalam Kodrat Ilahi, anak-anak Allah, serupa dengan Allah, dan sebutan-sebutan lain yang serupa. Sekarang berkat-berkat luar biasa ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;secara tepat dikenakan atau secara khusus berasal dari Roh Kudus. Dia adalah “Roh yang mengangkat kita menjadi anak, sehingga kita dapat berseru: Abba, Bapa.” Dia memenuhi hati kita dengan kemanisan cinta kebapaan: “Roh sendiri memberi kesaksian kepada roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah” (Roma 8: 15-16). Kebenaran ini serupa dengan yang diamati oleh doktor Malaikat mengenai karya Roh Kudus; karena melalui Dia “Kristus dikandung dalam kekudusan untuk menjadi Anak Allah karena kodrat,” dan “yang lainnya dikuduskan untuk menjadi anak Allah karena pengangkatan” (St. Th. 3a, q. xx ii., a. 1). Kelahiran rohani ini berasal dari cinta yang jauh lebih mulia daripada cinta kodrati: yaitu, dari Cinta yang tidak tercipta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: normal;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;9. Permulaan dari kelahiran baru dan pemulihan manusia adalah Baptisan. Dalam sakramen ini ketika roh najis diusir dari jiwa, Roh Kudus memasukinya dan membuatnya serupa dengan diriNya. “Apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh” (Yohanes 3: 6). Roh yang sama juga memberikan diriNya secara lebih melimpah dalam Krisma, menguatkan dan meneguhkan hidup Kristen; yang darinya mengalirlah kemenangan para martir dan kejayaan para perawan mengatasi godaan dan kebobrokan. Kami telah mengatakan bahwa Roh Kudus memberi diriNya sendiri: “cinta kasih Allah dicurahkan kedalam hati kita oleh Roh Kudus yang diberikan kepada kita” (Roma 5: 5). Karena Ia tidak hanya memberikan kepada kita anugerah-anugerah ilahiNya tetapi juga Sumbernya dan itu adalah DiriNya sendiri sang Anugerah tertinggi, yang berasal dari hubungan cinta Bapa dan putera, yang secara tepat diimani dan disebut sebagai “Anugerah Allah Mahatinggi”. Untuk menunjukkan ha
