Selasa, 19 Mei 2009

Ensiklik Leo XIII Tentang Kehadiran dan Kuasa Roh Kudus "Divinum Illud Munus"

Kepada Saudara-saudara Kami yang terhormat, Patriarkh, Primat, Uskupagung, Uskup dan Ordinaris Lokal lainnya yang berada dalam Damai dan Persekutuan dengan Tahta Suci.

Saudara Terhormat, Kesehatan dan Berkat Apostolik.

1. Tugas perutusan ilahi yang diterima Yesus Kristus dari BapaNya untuk kesejahteraan seluruh umat manusia, yang dipenuhiNya dengan sempurna, memiliki tujuan akhir untuk menempatkan manusia kepada kehidupan abadi dan kemuliaan, dan sepanjang peredaran zaman menjaga mereka tetap dekat pada kehidupan rahmat ilahi, yang ditentukan untuk pada akhirnya berbuah dalam kehidupan surgawi. Karenanya, Penyelamat kita tak pernah berhenti untuk mengundang, dengan perhatian yang tak terbatas, semua manusia, dari setiap suku dan bahasa, ke dalam pangkuan GerejaNya: “Datanglah kalian semua kepadaKu,” “Akulah Kehidupan,” Akulah Gembala Baik.” Walaupun begitu, menurut kebijaksanaanNya yang tak terpahami, Ia tidak berkehendak untuk menyelesaikan dan memenuhi semua tugas ini sendiri sementara Ia masih di dunia, tetapi sebagaimana Ia terima dari Bapa, Ia menyerahkan pemenuhannya kepada Roh Kudus. Adalah menghibur untuk mengingat jaminan yang diberikan Kristus kepada tubuh para muridNya sesaat sebelum Ia meninggalkan dunia: “Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Paraclete itu tidak akan datang kepadaMu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu (Yohanes 16:7). Dalam kata-kata ini Ia memberikan alasan utama kepergian dan kembalinya Dia kepada Bapa, manfaat yang paling jelas bagi para muridNya dari kepergian itu adalah kedatangan Roh Kudus, dan pada saat yang sama, Ia membuat jelas bahwa Roh Kudus secara setara diutus- dan karena itu berasal- dari diriNya dan Bapa; dan Roh itu akan memenuhi, tugasNya sebagai Pengantara, Penghibur, dan Guru, karya yang telah dimulai oleh Kristus sendiri dalam hidup duniawiNya. Karena, dalam penebusan dunia ini, penyempurnaan karya itu oleh Penyelenggaraan Ilahi dikhususkan kepada bermacam-macam kuasa yang dimiliki Roh itu, yang dalam penciptaan, “menghiasi langit” (Ayub 26:13) dan “memenuhi seluruh dunia” (Kebijaksanaan 1:7)

2. Sampai sekarang Kami telah berjuang sekuat tenaga, dengan pertolongan rahmatNya, untuk mengikuti teladan Kristus, Penyelamat kami, Gembala Utama, dan Penilik Jiwa kami, dengan menjalankan tugas dariNya yang Ia percayakan kepada Para Rasul dan terutama kepada Petrus “yang kewibawaannya tidak jatuh, bahkan dalam diri para penggantinya yang tak pantas” (St. Leo Agung, Sermon ii, Pada Ulangtahun Terpilihnya). Untuk mencapai tujuan ini Kami telah berketetapan untuk mengarahkan semua usaha Kami dan melakukannya terus-menerus selama masa kepausan Kami yang panjang kepada dua tujuan utama; pada tempat pertama, untuk memulihkan, dalam diri penguasa dan rakyat, prinsip-prinsip hidup Kristen dalam masyarakat sipil dan domestik, karena tidak ada kehidupan sejati untuk manusia kecuali dari Kristus; dan, kedua, untuk mendukung persatuan kembali dari mereka yang telah meninggalkan Gereja Katolik entah karena bidaah atau skisma, karena tanpa diragukan lagi adalah kehendak Kristus bahwa semua harus disatukan dalam satu kawanan dibawah satu Gembala. Tetapi sekarang Kami mendekati hari-hari terakhir hidup Kami, jiwa Kami secara mendalam tergerak untuk mempersembahkan kepada Roh Kudus, yang adalah Cinta yang memberi hidup, semua karya yang telah Kami kerjakan selama masa kepausan Kami, semoga Dia membawanya kepada kesempurnaan dan menghasilkan buahnya. Dan agar kehendak Kami ini dijalankan lebih baik dan lebih sempurna, Kami memutuskan untuk menjelaskan kepada kalian di saat menjelang Pentakosta ini mengenai kehadiran dan kuasa yang menakjubkan dari Roh Kudus; dan cara serta dayaguna tindakanNya baik dalam seluruh tubuh Gereja dan dalam jiwa setiap individu anggotanya, melalui kelimpahan rahmat ilahiNya yang mulia. Dengan tulus kami mengharapkan, sebagai hasil pengajaran kami ini, meningkatnya iman dalam budimu tentang misteri Tritunggal yang terpuji, dan khususnya agar semakin meningkat dan membara kesalehan kepada Roh Kudus, yang kepadaNya secara khusus kita semua berhutang rahmat untuk mengikuti jalan kebenaran dan kebajikan; karena seperti yang dikatakan St. Basilius, “Siapa yang menyangkal bahwa segala keistimewaan berkaitan dengan manusia, yang telah dibuat oleh Allah dan Penyelamat kita yang besar, Yesus Kristus, menurut kebaikan Allah, telah dipenuhi melalui rahmat Roh?” (Tentang Roh Kudus, c. xvi, v. 39).

3. Sebelum Kami masuk ke dalam topik ini, adalah berguna dan sesuai dengan keinginan Kami untuk menyampaikan beberapa kata tentang Misteri Tritunggal Mahakudus. Dogma ini disebut oleh para doktor Gereja sebagai “substansi Perjanjian Baru” maksudnya ialah, yang terbesar dari semua misteri karena misteri ini adalah sumber dan dasar dari semuanya. Untuk mengetahui dan merenungkan misteri ini, diciptakan malaikat di surga dan manusia di bumi. Untuk mengajarkan misteri ini secara lebih penuh, yang ada namun tersamar dalam Perjanjian Lama, Allah sendiri datang dari antara para malaikat untuk manusia: “ Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakanNya” (Yohanes 1 :18). Siapapun yang menulis atau berbicara tentang Tritunggal harus memperhatikan peringatan yang tepat dari Doktor Para Malaikat: “Saat kita berbicara tentang Tritunggal kita harus melakukannya dengan teliti dan rendah hati, karena seperti yang dikatakan oleh St. Agustinus “, tidak ada lagi kesalahan berbahaya dibuat, atau penelitian menjadi lebih sulit, atau penemuan lebih berbuah” (Summ. Th. 1a., q. xxxi. De Trin. 1 1., c.3). Bahaya yang muncul tidak kurang adalah Pribadi Ilahi yang satu dicampurkan dengan yang lain dalam iman atau ibadat, atau satu Hakekat dalam mereka dipisahkan: karena “Inilah Iman Katolik bahwa kita harus menyembah satu Allah dalam Tritunggal dan Tritunggal dalam Kesatuan”. Karenanya pendahulu Kami Innocentius XII, secara tegas menolak petisi dari mereka yang menginginkan pesta khusus untuk menghormati Allah Bapa. Karena, walaupun sejumlah misteri berbeda yang terhubung dengan Sabda yang menjadi daging dirayakan pada hari-hari tertentu, tidak ada pesta khusus apapun dimana Sabda dihormati menurut Kodrat IlahiNya semata. Dan walaupun Pesta Pentakosta telah ditetapkan sejak masa-masa paling awal, namun tidak ditujukan semata untuk menghormati Roh Kudus sendiri, tetapi untuk mengenangkan kedatanganNya, atau misi eksternalNya. Dan semua ini telah ditetapkan dengan bijaksana, agar dalam membedakan Pribadi orang tidak terpancing untuk membedakan Hakekat Ilahi. Lebih lagi Gereja, dengan tujuan memelihara anak-anaknya dalam kemurnian iman, menetapkan Pesta Tritunggal Mahakudus, yang oleh Yohanes XXII diperluas bagi Gereja Universal untuk seterusnya. Dia juga mengizinkan altar-altar dan gereja-gereja didedikasikan kepada Tritunggal Mahakudus, dan dengan persetujuan ilahi, mengakui Ordo untuk Pemeliharaan para Tawanan, yang secara khusus didedikasikan kepada Tritunggal Mahakudus dan memakai namaNya. Banyak fakta meneguhkan kebenaran ini. Penghormatan kepada para malaikat dan para kudus, kepada Bunda Allah, dan kepada Kristus sendiri, akhirnya terarah kepada kehormatan Tritunggal Mahakudus. Dalam doa ditujukan kepada Yang Satu melalui Putera, juga disebutkan yang lainnya; dalam litani-litani setelah Pribadi Ilahi disebut secara khusus dan terpisah, seruan bersama kepada seluruhnya ditambahka: semua mazmur dan himne ditutup dengan doksologi kepada Bapa, Putera dan Roh Kudus; berkat, ritus kudus, dan sakramen disertai atau ditutup dengan seruan kepada Tritunggal Mahakudus. Hal ini sudah dinubuatkan oleh para Rasul dalam kata-kata : “Segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan selama-lamanya!” (Roma 11: 36), dan karenanya menandakan baik Ke-Tritunggal-an Pribadi dan Kesatuan Hakekat: karena hal ini adalah satu dan sama dalam setiap Pribadi, sehingga bagi setiap Pribadi terdapat kemuliaan tertinggi yang setara, sebagaimana kepada Allah yang satu dan sama. St. Agustinus mengomentari kesaksian ini dengan menulis: “Kata-kata Rasul, dari Dia, dan oleh Dia, dan dalam Dia tidak untuk dimengerti secara terpisah; dari Dia mengacu kepada Bapa, melalui Dia kepada Putera, dan dalam Dia kepada Roh Kudus” (De Trin. 1. Vi., c. 10; 1. i., c.6). Gereja secara tepat terbiasa untuk mengenakan kepada Bapa karya keilahian yang berkaitan dengan kuasa surgawi, kepada Putera yang berkaitan dengan kebijaksanaan surgawi, dan cinta surgawi kepada Roh Kudus. Tidak berarti bahwa semua kesempurnaan dan karya eksternal tersebut tidak dimiliki bersama oleh seluruh Pribadi Ilahi; karena “karya dari Tritunggal tidak terbagi, bahkan sama seperti hakekat Tritunggal adalah tidak terbagi” (St. Agustinus., De Trin., 1. 1, cc. 4-5); karena sebagaimana tiga Pribadi Ilahi ini tidak terbagi , maka mereka juga bertindak tanpa terpisah” (St. Agustinus., ib). Tetapi dalam arti tertentu, karya-karya ini dapat diatributkan, atau sebagaimana biasa dikatakan “dikenakan” kepada Satu Pribadi ketimbang yang lain. “Seperti kita melacak kesamaan atau keserupaan yang kita temukan dalam ciptaan untuk menunjukkan manifestasi dari Pribadi Ilahi, juga kita menggunakan atribut esensial mereka; dan manifestasi Pribadi-pribadi melalui atribut essensial mereka disebut ‘penggenaan’ (St. Th. 1a., q. 39, xxxix., a.7). Dengan cara Ini Sang Bapa, yang adalah “dasar seluruh keilahian” (St. Agustinus. De Trin. 1 iv., c. 20) adalah juga penyebab langsung dari segala hal, dari penjelmaan Sabda, dan pengudusan jiwa-jiwa; “dari Dia lah segala sesuatu: dari Dia, mengacu kepada Bapa. Tetapi Putera, Sang Sabda, Gambaran Allah juga adalah penyebab acuan, karena semua ciptaan meminjam bentuk dan keindahan, tatanan dan keselarasan mereka dari Nya. Bagi kita Dia adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup; Pendamai manusia dengan Allah. “Melalui Dia lah segala sesuatu”: Melalui Dia mengacu kepada Putera. Roh Kudus adalah penyebab akhir dari segala sesuatu, karena kehendak dan segala sesuatu yang lain akhirnya memiliki Dia sebagai tujuan akhir mereka, sehingga Dia, yang adalah Kebaikan Ilahi dan Hubungan Cinta antara Bapa dan Putera, memenuhi dan menyempurnakan, dengan KuasaNya yang lembut, karya yang tersembunyi bagi keselamatan abadi manusia. “dalam Dia lah segala sesuatu”: dalam Dia, mengacu kepada Roh Kudus.

4. Setelah menyinggung iman dan penyembahan kepada Tritunggal Mahakudus, yang harus ditingkatkan lebih dan lebih lagi diantara orang-orang Kristen, sekarang Kami beralih untuk menjelaskan kuasa Roh Kudus. Dan, pertama-tama, kita harus memandang kepada Kristus, Pendiri Gereja dan Penebus bangsa manusia. Diantara semua tindakan eksternal Allah, yang tertinggi dari semuanya adalah misteri Penjelmaan Sabda, yang didalamnya kegemilangan kesempurnaan ilahi bersinar begitu terang sehingga tidak dapat dibayangkan apa lagi yang lebih mengagumkan darinya, dan tidak ada lagi yang dapat lebih menyelamatkan bagi umat manusia. Sekarang karya ini, walaupun merupakan milik keseluruhan Tritunggal, namun tetap dikenakan secara khusus kepada Roh Kudus, sehingga Injil berbicara tentang Perawan yang Terberkati: “Dia ditemukan mengandung anak dari Roh Kudus,” dan “anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus” (Matius 1: 18, 20). Dan hal ini secara tepat dikenakan kepadaNya yang adalah cinta Bapa dan Putera, karena “misteri saleh yang agung” (1 Timotius 3:16) ini berasal dari cinta Allah yang tak terbatas bagi manusia, seperti dikatakan St. Yohanes: “Allah begitu mencintai dunia ini sehingga Ia memberikan PuteraNya yang Tunggal” (Yohanes 3: 16). Lebih lagi, karena melaluiNya kodrat manusia diangkat ke dalam persatuan pribadi dengan Sabda, dan kelayakan ini diberikan, bukan berdasarkan jasa apapun, tapi seluruhnya dan secara mutlak melalui rahmat, dan secara khusus melalui rahmat istimewa Roh Kudus. Pada titik ini St. Agustinus menulis: “Cara yang dengannya Kristus dikandung dari Roh Kudus, menunjukkan kepada kita rahmat Allah, dimana manusia tidak memiliki jasa yang mendahului, sejak saat pertama keberadaannya, telah disatukan dengan sabda Allah, dengan persatuan pribadi yang begitu intim, sehingga Dia, yang adalah Putera Manusia, juga adalah Putera Allah, dan Dia yang adalah Putera Allah juga adalah Putera Manusia” (Enchir., c. xl. St. Th., 3a., q. xxxii., a. 1). Melalui karya Roh Kudus, bukan saja pengandungan Kristus yang dipenuhi, tetapi juga pengudusan JiwaNya, yang oleh Kitab Suci, disebut pengurapanNya (Kisah Para Rasul 10: 38). Karenanya semua tindakannya “dilakukan dalam Roh Kudus” (St. Basil de Sp. S., c. xvi), dan secara khusus kurban diriNya sendiri: “Kristus, oleh Roh Kudus, mempersembahkan diriNya tanpa noda kepada Allah” (Ibrani 9: 14). Dengan memperhatikan semua ini tak seorangpun heran karena semua rahmat Roh Kudus dicurahkan ke dalam jiwa Kristus. Dalam Dia berdiam kepenuhan rahmat, dengan cara terbesar dan paling berdaya guna; dalam Dia terdapat semua harta kebijaksanaan dan pengetahuan, rahmat yang diberikan dengan bebas (gratis datae), kebajikan, dan semua anugerah yang disebutkan dalam nubuat Yesaya (Yesaya 11;2, 61:1), dan juga ditandai dengan merpati ajaib yang muncul di Yordan, saat Kristus, dengan PembaptisanNya, menguduskan airnya untuk Perjanjian Baru. Tentang kata-kata ini sangat tepat untuk mengutip St. Agustinus: “Adalah bodoh untuk mengatakan bahwa Kristus menerima Roh Kudus saat Dia telah berusia 30 tahun, karena Dia datang untuk dibaptis tanpa dosa, dan karenanya tidak tanpa Roh Kudus. Pada saat itu (saat Dia dibaptis), Dia berkenan menjadi pratanda bagi GerejaNya, yang di dalam Gereja itu orang yang dibaptis menerima Roh Kudus” (De. Trin. 1., xv., c. 26). Karenanya, melalui penampakan jelas Roh Kudus atas Kristus dan dengan kuasaNya yang terlihat dalam jiwaNya, misi ganda Roh Kudus terselebung, yaitu, Misi lahiriah dan terlihatNya dalam Gereja, dan rahasia kediamanNya dalam jiwa orang yang dibenarkan.

5. Gereja, yang telah dikandung, berasal dari sisi Adam kedua dalam tidurNya di Salib, pertama kali menunjukkan dirinya pada hari raya Pentakosta. Pada hari itu Roh Kudus mulai memanifestasikan anugerahNya dalam Tubuh Mistik Kristus, yaitu melalui pencurahan ajaib yang sebelumnya telah dinubuatkan Nabi Yoel (2: 28-29), karena Sang Paraclete “duduk atas para Rasul sebagai mahkota rohani yang ditempatkan di atas kepala mereka dalam bentuk lidah api” (S. Sirilius Hier. Catech. 17). Kemudian para Rasul “turun dari gunung,” seperti ditulis oleh St. Yohanes Chryostomus “tidak seperti Musa yang membawa loh batu di tangannya, tetapi membawa Roh dalam budi mereka, dan mencurahkan harta dan sumber ajaran dan rahmat (In Matt. Hom. 1., 2 Cor. Iii, 3). Dengan itu dipenuhilah janji terakhir Kristus kepada Para RasulNya untuk mengutus Roh Kudus, untuk memenuhi, dan kemudian, memateraikan harta pusaka ajaran yang dipercayakan kepada mereka dibawah inspirasiNya. “Masih banyak hal yang harus Ku katakan kepadaMu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya; tetapi apabila Dia datang, Roh Kebenaran, Ia akan mengajar kamu semua kebenaran” (Yohanes 16: 12-13). Karena Dia yang adalah Roh Kebenaran, adalah juga Dia yang berasal baik dari Bapa, yang adalah kebenaran abadi, dan dari Putera, yang adalah kebenaran hakiki, menerima dari keduaNya hakekat dan kepenuhan semua kebenaran. Kebenaran ini Ia sampaikan kepada GerejaNya, dijagaiNya Gereja itu dengan bantuan penuh kuasa sehingga tak pernah jatuh dalam kesesatan, dan dibantuNya Gereja untuk meningkatkan secara lebih dan lebih lagi dari hari ke hari benih ajaran ilahi dan untuk membuatnya berbuah bagi kesejahteraan semua orang. Dan karena untuk kesejahteraan orang-orang, Gereja telah didirikan, secara mutlak tugas ini harus berlanjut untuk selama-lamanya, maka Roh Kudus secara kekal menyalurkan hidup dan kekuatan untuk memelihara dan meningkatkan perkembangan Gereja.

6. Oleh Dia para Uskup ditetapkan, dan melalui pelayanan mereka dipergandakanlah bukan hanya anak-anak, tetapi juga para ayah- yaitu, para imam- untuk memerintah dan memberi makan Gereja dengan Darah Kristus yang telah menebus Gereja. “Roh Kudus telah menempatkan kamu sebagai Uskup untuk menggembalakan Gereja Allah yang diperolehNya dengan Darah PuteraNya sendiri” (Kisah Para Rasul 20: 28). Dan baik Uskup dan Imam, dengan anugerah ajaib dari Roh, memiliki kuasa untuk mengampuni dosa, menurut kata-kata Kristus kepada Rasul: Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya akan diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada” (Yohanes 20: 22-23). Bahwa Gereja adalah lembaga ilahi tampak jelas terbukti dari kegemilangan dan kemuliaan anugerah-anugerah dan rahmat yang menghiasinya, yang pencipta dan pemberinya adalah Roh Kudus. Maka cukuplah untuk menyatakan bahwa, sebagaimana Kristus adalah Kepala Gereja, maka Roh Kudus adalah jiwanya. “Sebagaimana jiwa dalam tubuh kita, begitulah Roh Kudus dalam Tubuh Kristus, yaitu Gereja” (St. Agustinus., Serm. 187, de Temp.). Demikianlah, agar tidak lebih jauh dan lebih penuh lagi “manifestasi pewahyuan Roh Ilahi” dibayangkan atau diharapkan; karena apa yang ada dalam Gereja sekarang adalah kemungkinan yang paling sempurna, dan akan tetap begitu sampai Gereja sendiri, menyelesaikan jalan perjuangannya, dan diangkat ke dalam sukacita para kudus yang berjaya di surga.

7. Cara dan tingkat kehadiran karya Roh Kudus dalam jiwa pribadi tidaklah kurang indah, walaupun lebih sulit untuk dijelaskan, karena hampir seluruhnya tidak terlihat. Pencurahan Roh itu begitu melimpah, sehingga Kristus sendiri, yang dariNya lah seluruh anugerah itu berasal membandingkannya dengan sungai yang mengalir, seperti kata-kata St. Yohanes: “ Dia yang percaya kepadaKu, seperti kata Kitab Suci : Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup” yang tentang ini kesaksian Penginjil menambahkan keterangan: “Yang dimaksudkanNya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepadaNya” (Yohanes 7: 38-39). Adalah benar bahwa dalam diri orang benar yang hidup sebelum Kristus, Roh Kudus berdiam melalui rahmat, sebagaiamana kita baca dalam Kitab suci mengenai para nabi, Zakaria, Yohanes Pembaptis, Simeon dan Hanna; sehingga para hari Pentakosta Roh Kudus tidak menyalurkan diriNya seperti “untuk pertama kalinya mulai berdiam dalam diri orang kudus, tetapi dengan mencurahkan diriNya secara lebih melimpah; Ia memahkotai, bukan memulai anugerahNya; bukan memulai karya baru, tetapi memberi secara lebih melimpah” (St. Leo Agung, Hom. Iii., de Pentec.). Tetapi jika mereka juga terhitung anak-anak Allah, mereka itu berada dalam keadaan seperti hamba, karena “selama mereka masih berstatus anak-anak mereka tidak berbeda dari hamba, yaitu beraa dibawah perwalian dan pengawasan” (Galatia 4: 1,2). Lebih lagi tidak hanya keadilan mereka berasal dari jasa Kristus yang akan datang, tetapi komunikasi Roh Kudus setelah Kristus juga lebih berlimpah, sebagaimana harga melampaui nilai yang sebenarnya dan kenyataan melampaui bayangan. Karena itulah St. Yohanes menyatakan: “Sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan” (Yohanes 7: 39). Maka, segera setelah Kristus “naik ke tempat tinggi,” masuk ke dalam kemuliaan KerajaanNya yang dimenangkanNya dengan perjuangan berat, Dia dengan melimpah-ruah mencurahkan harta Roh Kudus: “Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia” (Efesus 4: 8). Karena “ pemberian atau pengutusan Roh Kudus setelah pemuliaan Kristus tidak pernah seperti sebelumnya; bukan karena sebelumnya tidak pernah diberikan tetapi tidak pernah diberikan secara demikian” (St. Agustinus., De Trin., 1. iv. c. 20).

8. Kodrat manusia adalah hamba Allah karena kebutuhan: “Ciptaan adalah hamba, kita adalah hamba Allah karena kodrat” (St. Sirilius Alex. Thesaur.1. v., c. 5). Bagaimanapun, karena dosa asal, seluruh kodrat kita telah jatuh ke dalam kesalahan dan kehinaan sehingga kita telah menjadi musuh Allah. “Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai” (Efesus 2:3). Tidak ada kuasa apapun yang dapat mengangkat dan membebaskan kita dari kekacauan dan pemusnahan abadi. Tetapi Allah, Pencipta manusia yang belaskasihNya tak terbatas, melalui PuteraNya yang Tunggal, yang melalui jasaNya membawa pemulihan derajat dan harkat manusia yang telah jatuh, dan masih menghiasi manusia dengan rahmat yang lebih melimpah. Tidak satupun yang dapat mengungkapkan kebesaran karya rahmat ilahi didalam diri manusia ini. Karena itu baik di dalam Kitab suci maupun dalam tulisan para bapa, manusia disebut sebagai telah dilahirkan kembali, ciptaan baru, peng-ambil bagian dalam Kodrat Ilahi, anak-anak Allah, serupa dengan Allah, dan sebutan-sebutan lain yang serupa. Sekarang berkat-berkat luar biasa ini secara tepat dikenakan atau secara khusus berasal dari Roh Kudus. Dia adalah “Roh yang mengangkat kita menjadi anak, sehingga kita dapat berseru: Abba, Bapa.” Dia memenuhi hati kita dengan kemanisan cinta kebapaan: “Roh sendiri memberi kesaksian kepada roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah” (Roma 8: 15-16). Kebenaran ini serupa dengan yang diamati oleh doktor Malaikat mengenai karya Roh Kudus; karena melalui Dia “Kristus dikandung dalam kekudusan untuk menjadi Anak Allah karena kodrat,” dan “yang lainnya dikuduskan untuk menjadi anak Allah karena pengangkatan” (St. Th. 3a, q. xx ii., a. 1). Kelahiran rohani ini berasal dari cinta yang jauh lebih mulia daripada cinta kodrati: yaitu, dari Cinta yang tidak tercipta.

9. Permulaan dari kelahiran baru dan pemulihan manusia adalah Baptisan. Dalam sakramen ini ketika roh najis diusir dari jiwa, Roh Kudus memasukinya dan membuatnya serupa dengan diriNya. “Apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh” (Yohanes 3: 6). Roh yang sama juga memberikan diriNya secara lebih melimpah dalam Krisma, menguatkan dan meneguhkan hidup Kristen; yang darinya mengalirlah kemenangan para martir dan kejayaan para perawan mengatasi godaan dan kebobrokan. Kami telah mengatakan bahwa Roh Kudus memberi diriNya sendiri: “cinta kasih Allah dicurahkan kedalam hati kita oleh Roh Kudus yang diberikan kepada kita” (Roma 5: 5). Karena Ia tidak hanya memberikan kepada kita anugerah-anugerah ilahiNya tetapi juga Sumbernya dan itu adalah DiriNya sendiri sang Anugerah tertinggi, yang berasal dari hubungan cinta Bapa dan putera, yang secara tepat diimani dan disebut sebagai “Anugerah Allah Mahatinggi”. Untuk menunjukkan hakekat dan dayaguna anugerah ini adalah baik untuk mengulang kembali penjelasan yang diberikan oleh para doktor Gereja tentang sabda Kitab Suci. Mereka mengatakan bahwa Allah hadir dan ada dalam segala sesuatu, “dengan KuasaNya, karena semua hal adalah subyek bagi kekuasaanNya; dengan kehadiranNya, karena semua hal telanjang dan terbuka bagi mataNya; dengan hakekatNya, sebagaimana Ia hadir bagi semua sebagai penyebab keberadaan mereka” (St. Th. Ia, q. viii., a. 3). Tetapi Allah dalam diri manusia, bukan hanya seperti Ia berada didalam hal-hal yang tidak berjiwa, tetapi karena Ia lebih diketahui dan dicintai oleh manusia, karena bahkan oleh kodrat kita secara spontan mencintai, menginginkan, dan mencari segala yang baik. Lebih lagi, karena rahmat Allah berdiam di dalam jiwa orang benar seperti didalam kuil, dengan cara yang teramat intim dan istimewa . Dari sini muncullah persatuan cinta yang melaluinya jiwa dibawa semakin mendekat kepada Allah, sedemikian sehingga lebih daripada persatuan antara teman yang paling dicintai dan mencintainya, dan jiwa tersebut menikmati Allah dalam segala kepenuhan dan kemanisan. Persatuan yang amat indah ini, secara tepat disebut sebagai “berdiam,” dan hanya berbeda dalam derajat atau tingkatan dari dialami Allah dengan para kudusNya di surga, walaupun persatuan ini secara jelas dihasilkan oleh kehadiran seluruh Tritunggal Kudus- “Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia,” (Yohanes 14:23)- namun dikenakan dengan cara yang istimewa kepada Roh Kudus. Karena, sementara jejak kuasa dan kebijaksanaan ilahi nampak dalam manusia yang cela, namun cinta kasih, yang merupakan tanda khusus Roh Kudus, dibagikan hanya kepada orang-orang benar. Sejalan dengan ini, Roh yang sama disebut Kudus,, karena Dia, adalah Cinta pertama dan tertinggi, menggerakan jiwa dan menuntunnya kepada kekudusan, yang akhirnya termasuk dalam cinta kepada Allah. Karenanya ketika Rasul menyebut kita Bait Allah, ia tidak segera menyebutkan Bapa atau Putera atau Roh Kudus: “Tidak tahukah kamu bahwa tubuhmu adalah Bait Roh Kudus, yang diam di dalam kamu, yang kamu peroleh dari Allah?” (1 Korintus 6: 19). Kepenuhan anugerah-anugerah ilahi dalam banyak cara adalah konsekuensi dari berdiamnya Roh Kudus dalam jiwa orang benar. Karena, seperti St. Thomas mengajar “Karena Roh Kudus muncul sebagai cinta, Dia muncul dalam karakter dari anugerah pertamaNya; itulah sebabnya Agustinus berkata bahwa melalui anugerah yaitu Roh Kudus, banyak anugerah-anugerah khusus lainnya dibagikan diantara anggota Kristus” (Summ. Th., 1a. q. xxxviii., a. 2. St. Agustinus. De Trin., xv., c. 19). Diantara anugerah-anugerah ini adalah peringatan-peringatan dan ajakan rahasia, yang dari waktu ke waktu dibisikkan dalam hati dan pikiran kita melalui inspirasi Roh Kudus. Tanpa hal-hal ini tidak ada permulaan hidup yang baik, tidak ada kemajuan, dan orang tidak dapat tiba pada keselamatan abadi. Dan karena kata-kata dan nasehat ini disampaikan dalam jiwa dengan cara yang teramat rahasia, maka bisikan ini beberapa kali dalam Kitab Suci diperbandingkan dengan hembusan angin sepoi-sepoi, dan Doktor Malaikat menyamakan mereka dengan detak jantung yang sepenuhnya tersembunyi dalam tubuh yang hidup. “Jantungmu jelas memiliki kekuatan tersembunyi, dan karenanya Roh Kudus, yang secara tak terlihat menghidupkan dan menyatukan Gereja, diperbandingkan dengan jantung.” (Summ. Th. 3a, q. vii., a. 1, ad3). Lebih daripada ini, orang benar, yaitu mereka yang menjalani hidup dalam kehidupan rahmat dan bertindak dengan kebajikan yang cocok dengan kemampuan mereka, membutuhkan tujuh karunia yang secara tepat dikenakan kepada Roh Kudus. Melalui tujuh karunia tersebut jiwa dilengkapi dan dikuatkan agar dapat lebih mudah mematuhi dengan segera suaraNya dan dorongan dariNya. Begitu bermanfaatnya karunia-karunia ini sehingga mereka menuntun orang kepada tingkat tertinggi kekudusan; dan begitu sempurnanya karunia-karunia ini sehingga mereka tetap berlanjut di surga walaupun dengan cara yang lebih sempurna. Karena anugerah-anugerah ini jiwa begitu terpesona dan didorong untuk mencari dan memperoleh kebahagiaan injil, yang, seperti bunga yang mekardi musim semi, adalah tanda dan awal dari kebahagiaan abadi. Akhirnya adalah buah-buah yang terberkati, yang diurutkan oleh Rasul (Galatia 5: 22), yang bahkan dalam kehidupan fana ini dihasilkan oleh Roh dan dinampakkan dalam diri orang benar; buah-buah ini dipenuhi dengan semua kemanisan dan sukacita karena mereka berasal dari Roh, “yang ada dalam Trinitas, kemanisan baik Bapa dan Putera, memenuhi semua ciptaan dengan kepenuhan dan kelimpahan tak terhingga” (St. Agustinus. De Trin. 1. vi., c. 9). Roh Ilahi, berasal dari Bapa dan sabda dalam cahaya kekal kekudusan, Dia sendiri adalah Cinta dan Anugerah, setelah menampakkan diriNya melalui selubung tanda-tanda dalam Perjanjian Lama, mencurahkan seluruh kepenuhanNya atas Kristus dan atas Tubuh MistikNya, Gereja; dan dengan kehadiran dan rahmatNya memanggil kembali, manusia yang pergi dalam kejahatan dan kebobrokannya, dengan akibat yang menyelamatkan, yaitu manusia itu tidak lagi menjadi makhluk duniawi, mereka menikmati dan mencari hal lain, menjadi yang surgawi.

10. Kebenaran yang mendalam ini, yang dengan begitu jelas menunjukkan tak terbatasnya kebaikan Roh Kudus kepada kita, secara pasti menuntut bahwa kita harus memberikan cinta dan devosi kita yang tertinggi kepadaNya. Orang-orang Kristen dapat melakukan hal ini dengan cara yang paling efektif jika kita setiap hari berjuang untuk mengenal Dia, mencintai Dia, dan berdoa kepadaNya secara lebih mendalam lagi; karena alasan-alasan ini semoga anjuran Kami yang mengalir secara spontan dari hati kebapaan, mencapai telinga orang-orang Kristen. Mungkin pada saat ini masih ada diantara orang-orang Kristen yang walaupun telah menerima Roh Kudus namun mempertanyakan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh sebagian orang pada zaman Rasul St. Paulus: “Kami bahkan belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus” (Kisah Para Rasul 19: 2). Setidaknya ada diantara mereka yang sangat kurang dalam menjalankan agama mereka, dan iman mereka berada dalam kegelapan yang cukup pekat. Karena itu semua pengkhotbah dan mereka yang ambil bagian dalam pemeliharaan jiwa-jiwa mengingat bahwa adalah tugas mereka untuk mengajar umat mereka secara lebih tekun dan lebih penuh mengenai Roh Kudus- bagaimanapun juga, hal ini harus dijalankan sedemikian dengan menghindari kesulitan dan masalah yang sulit untuk menghindari kebodohan berbahaya dari mereka yang memikirkan misteri ilahi secara sembarangan. Apa yang harus secara utama ditekankan dan diterangkan dengan jelas adalah betapa banyak dan besarnya anugerah yang telah diberikan, dan secara tetap diberikan, kepada kita oleh Pemberi Ilahi., sehingga kesalahan-kesalahan dan ketidaktahuan mengenai hal itu dapat seluruhnya disingkirkan, karena ketidaktahuan semacam itu tidak patut bagi “anak-anak terang”. Kami mendorong hal ini, bukan hanya karena hal ini berkaitan dengan misteri yang melaluinya kita secara langsung dibawa kepada kehidupan kekal, dan yang karenanya harus diimani dengan teguh; tetapi juga agar secara lebih jelas dan lebih penuh yang baik dikenal dan semakin dicintai dengan tulus. Sekarang kita harus memberikan kepada Roh Kudus, seperti yang Kami sebutkan dalam urutan kedua, cinta, karena Dia adalah Allah: “Cintailah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu” (Ulangan 6: 5). Dia juga harus dicintai karena Dialah Cinta yang hakiki, abadi, dan mendahului segalanya, dan tidak ada yang dapat lebih dicintai selain cinta itu sendiri. Dan semua ini berlaku lebih lagi karena Dia telah melimpahi kita dengan anugerah-anugerah terbesar, yang memberi kesaksian baik kemurahan Pemberi dan kewajiban bersyukur dari penerimanya. Cinta ini memiliki dua sisi yang paling mencolok. Pada tempat pertama ia akan mendorong kita untuk memperoleh setiap hari pengetahuan yang lebih jelas tentang Roh Kudus; karena seperti dikatakan oleh Doktor Malaikat, “pencinta tidak puas dengan pengetahuan yang sekedar kulitnya saja mengenai yang dicintainya, tetapi berjuang untuk memperoleh secara lebih mendalam semua yang berkaitan dengan yang dicintainya, dan karena ini masuk kepada apa yang ada didalamnya, dalam kaitannya dengan Roh Kudus, yang adalah Cinta Allah, Ia menyelidiki bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah” (1 Korintus 2: 10; Summ. Theol., 1a. 2ae., q. 28, a2). Pada tempat yang kedua cinta ini akan memperoleh bagi kita secara lebih melimpah lagi pemberian anugerah-anugerah surgawi; karena sementara hati yang sempit menutup tangan Sang Pemberi, hati yang bijak dan penuh syukur membuka tangan itu lebih luas. Karenanya kita harus berjuang agar cinta ini harus sedemikian mendalam sehingga tidak menjadi sekedar spekulasi yang kering atau pengamalan yang lahiriah belaka, tetapi diarahkan kepada tindakan, dan secara khusus menjauhi dosa, yang secara istimewa menyakiti Roh Kudus. Karena apapun kita, kita menjadi demikian karena kebaikan ilahi; dan kebaikan ini secara khusus dikenakan kepada Roh Kudus. Pendosa menyerang Pendermanya sendiri, menyalahgunakan anugerahNya; dan mengambil keuntungan dari kebaikanNya dengan semakin mengeraskan diri dalam dosa hari demi hari. Sekali lagi, karena Dia adalah Roh Kebenaran, siapapun yang bersalah karena kelemahan atau ketidaktahuannya mungkin mendapatkan beberapa kelonggaran di hadapan Allah yang mahakuasa; tetapi dia yang menolak kebenaran dengan sengaja dan berbalik kepadanya, telah berbuat dosa amat berat menentang Roh Kudus. Pada hari-hari ini dosa telah menjadi begitu sering dan masa kegelapan yang dikatakan oleh St. Paulus, dimana manusia telah buta terhadap penghakiman Allah yang adil, menukar kesalahan dengan kebenaran, dan mempercayai “pangeran dunia ini,” yang adalah pendusta dan bapa segala dusta sebagai guru kebenaran: “Allah akan mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta (2 Tessalonika 2: 11). Pada hari-hari terakhir sebagian akan murtad dari iman, dan mempercayai roh-roh penyesat dan ajaran-ajaran setan (1 Timotius 4: 1)”. Tetapi karena Roh Kudus, seperti yang telah Kami katakan, berdiam di dalam kita seperti di dalam baitNya, Kami harus mengulangi peringatan Rasul: “Jangan kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memateraikan kamu” (Efesus 4: 30). Juga tidak cukup hanya dengan menjauhi dosa; tetapi setiap orang Kristen harus bersindar dengan kegemilangan kebajikan untuk menyenangkan Tamu Jiwa yang begitu agung dan murah hati itu; dan pertama-tama dengan kemurnian dan kesucian, karena hal yang murni dan suci pantas untuk sebuah Bait. Karenanya Rasul mengatakan: “Tidak tahukan kamu bahwa kamu adalah Bait Allah dan Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan Bait Allah, Allah akan membinasakan dia. Karena Bait Allah adalah kudus, dan Bait Allah itu adalah kamu” (1 Korintus 3: 16-17); peringatan yang mengerikan namun adil.

11. Akhirnya, kami hendak berdoa dan berseru kepada Roh Kudus, karena setiap kita sangat membutuhkan perlindungan dan bantuanNya. Karena semakin manusia tidak bijaksana., lemah, dan tertekan masalah, condong kepada dosa, semakin ia butuh terbang bersama Dia yang merupakan sumber tak pernah habis dari cahaya, kekuatan, penghiburan, dan kekudusan. Dan terutama pertolongan pertama yang dibutuhkan manusia, pengampunan dosa, harus dicari dariNya: “Adalah karakter istimewa Roh Kudus bahwa Dia adalah Anugerah Bapa dan Putera. Sekarang pengampunan semua dosa diberikan oleh Roh Kudus sebagai Anugerah Allah” (Summ. Th. 3a, q. iii., a. 8, ad3m). Tentang Roh ini kata-kata Liturgi sangat jelas: “Karena Ia adalah pengampunan semua dosa” (Missale Romanum, Kamis setelah Pentakosta). Bagaimana kita harus berseru kepadaNya telah diajarkan dengan jelas oleh Gereja, yang berbicara kepadaNya dalam kerendahan sembah bakti, menyebutNya dengan nama-nama termanis: “Datanglah, Bapa orang miskin! Datanglah Pemberi Anugerah! Datanglah, cahaya hati kami! Oh Penghibur yang ulung, Tamu jiwaku yang manis, kesegaran kami!” (Himne Veni Sancte Spiritus). Gereja dengan tulus memohon kepadaNya untuk membasuh, menyembuhkan, mencuci pikiran dan hati kita, dan untuk memberi kepada kita yang percaya kepadaNya “ganjaran kebajikan, perolehan keselamatan, dan sukacita tak henti.” Tidak dapat diragukan dengan cara apapun bahwa Dia akan mendengarkan doa semacam itu karena kita membaca dalam kata-kata yang diinspirasikanNya sendiri: “Roh sendiri berdoa untuk kita dengan keluhan yang tak terkatakan” (Roma 8: 26). Akhirnya, kita dapat dengan yakin dan terus-menerus memohon kepadaNya untuk menerangi kita setiap hari lebih dan lebih lagi dengan cahayaNya dan membakar kita dengan cinta kasihNya; agar, dengan disemangati oleh iman dan kasih, kita dapat terus melangkah maju menuju ganjaran abadi kita, karena Dia “jaminan bagian kita” (Efesus 1; 14).

12. Jadi, Saudara Terhormat, inilah pengajaran dan anjuran yang Kami pandang baik untuk sampaikan, dalam rangka meningkatkan devosi kepada Roh Kudus. Kami tidak ragu, bahwa terutama karena kerajinan dan ketulusanmu, pengajaran kami ini akan menghasilkan buah berlimpah diantara orang-orang Kristen. Kami sendiri, di masa mendatang, tidak akan melalaikan diri untuk bekerja mewujudkan tujuan yang amat penting ini; bahkan adalah kehendak Kami, dengan cara apapun yang kelihatan cocok, untuk lebih jauh lagi mendorong dan memperluas karya kesalehan yang mengagumkan ini. Sementara, dua tahun lalu, dalam surat Kami Provida Matris, Kami merekomendasikan kepada orang-orang Katolik doa-doa khusus pada Pesta Pentakosta untuk persatuan kembali dunia Kristen, sekarang Kami ingin untuk menetapkan dekrit yang lebih jauh lagi mengenai subyek yang sama.

13. Dari sebab itu, Kami menetapkan dan memerintahkan agar di seluruh Gereja Katolik, mulai tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya, harus diadakan suatu Novena yang berlangsung sebelum Minggu Pentakosta, di semua gereja-gereja paroki, dan jika oleh Ordinaris Lokal, dipandang cocok, juga di gereja-gereja dan tempat doa lainnya. Bagi semua yang ambil bagian dalam Novena ini dan dengan tekun berdoa untuk intensi Kami, Kami memberikan untuk setiap harinya Indulgensi tujuh tahun dan tujuh kali empat puluh tahun; lebih lagi, Indulgensi Penuh pada hari apapun dalam Novena tersebut, atau pada Minggu Pentakosta itu sendiri, atau pada hari apapun selama Oktaf Pentakosta; bagi mereka yang menerima Sakramen Tobat dan Ekaristi Kudus, serta dengan tekun berdoa bagi intensi Kami. Kami juga ingin agar mereka yang dengan alasan sah terhalang mengikuti Novena, atau mereka yang berada di tempat-tempat dimana menurut Ordinaris devosi ini tidak dapat dijalankan di dalam gedung gereja, dapat menikmati manfaat yang sama, asalkan mereka mengadakan Novena secara pribadi dan mematuhi kondisi-kondisi yang lain. Lebih lagi, Kami berkenan untuk memberikan, untuk selama-lamanya, dari Perbendaharaan Harta Gereja, kepada siapapun yang selama Oktaf Pentakosta sampai Hari Minggu Trinitas, mempersembahkan sekali lagi baik secara pribadi maupun publik doa-doa apapun, menurut devosi mereka, kepada Roh Kudus, dan memenuhi kondisi-kondisi diatas, dapat memperoleh Indulgensi yang sama untuk kedua kalinya. Kami juga mengizinkan bahwa semua Indulgensi ini dapat dipersembahkan untuk membantu jiwa-jiwa di Api Penyucian.

14. Dan sekarang pikiran dan hati Kami terarah kepada harapan-harapan yang telah Kami sampaikan di awal, dan yang bagi pemenuhannya Kami dengan tekun berdoa, dan akan terus berdoa, kepada Roh Kudus. Kalian pun Saudara Terhormat, satukanlah doa-doamu dengan kami, dan biarlah karena pengajaranmu semua orang Kristen menambahkan doa-doa mereka juga, menyerukan bantuan doa yang penuh kuasa dan selalu diterima dari Perawan Terberkati. Kamu tahu dengan baik hubungan yang sangat mendalam dan indah antara Sang Perawan dengan Roh Kudus, sehingga ia disebut dengan tepat sebagai Mempelai Roh Kudus. Bantuan Doa Perawan Terberkati sangat besar baik dalam misteri Penjelmaan dan kedatangan Roh Kudus atas Para Rasul. Semoga dia tetap menguatkan doa-doa kita dengan penderitaannya, dan di tengah semua tekanan dan masalah bangsa-bangsa, keajaiban ilahi dibangkitkan oleh Roh Kudus, seperti telah dinyatakan dalam kata-kata Daud; “Apabila Engkau mengirim RohMu mereka tercipta, dan Engkau membarui muka bumi” (Mazmur 104: 30).

15. Sebagai tanda perkenanan Ilahi dan kesaksian cinta Kami, dengan senang hati Kami memberikan dalam nama Tuhan, Berkat Apostolik, kepada kalian, para imam kalian, dan seluruh umat kalian.

Diberikan di Basilika St. Petrus di Roma, pada tanggal 9 Mei dalam tahun ke 1897 sejak kedatangan Tuhan, tahun ke 20 masa Kepausan Kami.

LEO P.P. XIII

Terjemahan ini dipersembahkan kepada Roh yang telah menjiwai semua orang kudus dan menghantar mereka kepada kemuliaan abadi.

Diterjemahkan dari teks bahasa inggris yang dimuat di situs Eternal Worldwide Television Network ( http://www.ewtn.com).

Jumat, 12 September 2008

Katekese dari Paus Benediktus XVI tentang St. Hieronimus (part 1)

Saudara-saudari terkasih

Hari ini, kita memusatkan perhatian kita kepada St. Hieronimus, Bapa Gereja yang memusatkan hidupnya kepada Alkitab: dia menerjemahkannya ke dalam bahasa latin, menafsirkannya dalam karya-karyanya, dan diatas segalanya, ia berjuang menghayatinya sepanjang hidupnya di dunia, walaupun ia memiliki kesulitan berupa sifat temperamen tinggi yang menjadi bawaannya.

Hieronimus dilahirkan dalam sebuah keluarga Kristen sekitar tahun 347 AD di Stridon. Dia menerima pendidikan yang baik dan kemudian dikirim ke Roma untuk menyelesaikan studinya. Sebagai pria muda ia tertarik dengan kehidupan duniawi (cf. Ep 22, 7), tetapi ketertarikan dan minatnya terhadap agama Kristen tetap tinggi.

Hieronimus dibaptis tahun 366 dan memilih hidup asketis. Dia pergi ke Aquileia dan bergabung dengan suatu kelompok kesalehan Kristen yang berhimpun disekeliling Uskup Valerian yang ia gambarkan hampir menyerupai “komunitas para kudus” (Chron ad ann. 374). Dia kemudian pergi ke Timur dan hidup sebagai hermit di di Padang Gurun Chalcis, selatan Aleppo (Ep 14,10), dan membaktikan hidupnya untuk belajar secara intensif. Dia menyempurnakan pengetahuan bahasa Yunani nya, dan mulai belajar bahasa Ibrani (cf. Ep 125, 12), dan menyalin kodeks serta tulisan para Bapa (cf. Ep 5,2). Meditasi, penyendirian diri, dan kontak dengan Sabda Allah menolong sensitifitas Kristennya menjadi semakin dewasa. Dengan pahit ia menyesali kesembronoan masa mudanya (Ep. 22, 7) dan secara mendalam menyadari betapa berbedanya mentalitas kafir dan kehidupan Kristen: melalui sebuah “visiun” yang dramatis dan hidup ia membuat sebuah pengkontrasan yang terkenal- dimana ia meninggalkan kepada kita dalam suatu tulisannya- didalam visiun itu ia melihat bahwa ia diusir dari hadapan Allah karena ia lebih menyerupai pengikut Cicero daripada seorang Kristen” (cf. Ep. 22, 30).

Tahun 382 ia pindah ke Roma: karena kehidupan asketis dan kemampuannya sebagai pakar, Paus Damasus memintanya bekerja sebagai sekretaris dan penasehatnya, Paus mendorong dia, untuk alasan pastoral dan cultural, mengerjakan suatu terjemahan Latin baru dari teks-teks Alkitab. Beberapa orang dari para aristokrat Romawi, khususnya para bangsawan wanita seperti Paula, Marcella, Asella, Lea dan beberapa yang lain, didorong oleh keinginan untuk menjalani kesempurnaan hidup Kristen secara lebih mendalam dan memperdalam pengetahuan mereka akan Sabda Allah, memilih dia sebagai pembimbing rohani dan guru dalam pembelajaran yang terstruktur terhadap teks-teks suci. Para bangsawan wanita ini juga mempelajari bahasa Yunani dan Ibrani

Setelah kematian Paus Damasus, Hieronimus meninggalkan Roma tahun 385 dan berziarah pertama-tama ke Tanah Suci, saksi bisu dari kehidupan Kristus di dunia, dan kemudian ke Mesir negara yang sangat disukainya karena di sana terdapat banyak rahib (cf. Contra Rufinum, 3, 22; Ep. 108, 6-14). Tahun 386 ia menetap di Bethlehem sampai ia mati, dan di sana juga ia menulis sejumlah besar karyanya: ia menafsirkan Sabda Allah, ia membela iman dan dengan penuh semangat melawan berbagai bidaah; ia mendorong para biarawan kepada kesempurnaan; ia mengajar kebudayaan Kristen dan filsafat klasik kepada para orang muda; dengan hati seorang gembala ia m menyambut para peziarah yang berkunjung ke Tanah Suci. Dia meninggal dalam sel nya yang terletak dekat Grotto Kelahiran Yesus tanggal 30 September 420.

Kecerdasan dan luasnya pengetahuan Hieronimus dalam bidang sastra memampukannya memperbaiki dan menerjemahkan banyak teks-teks bibis: suatu pekerjaan yang tak ternilai hasilnya bagi Gereja Latin dan kebudayaan Barat. Dengan mendasarkan diri pada teks berbahasa asli Yunani dan Ibrani, dan dengan bantuan perbandingan dengan versi-versi yang lebih tua, ia memperbarui terjemahan empat Injil dalam bahasa Latin, lalu Psalter dan sebagian besar Perjanjian Lama. Dengan mempelajari teks berbahasa asli Ibrani dan terjemahan Yunani Septuaginta, serta terjemahan dalam bahasa Yunani klasik yang berasal dari sebelum era Kristen, sebagaimana juga terjemahan Latin yang lebih awal, Hieronimus dengan bantuan para rekan kerjanya, mampu menghasilkan terjemahan yang lebih baik: terjemahan ini membentuk apa yang sering disebut “Vulgata”, teks ‘resmi’ Gereja Latin yang diakui demikian oleh Konsili Trente, dan setelah beberapa revisi tetap diakui sebagai teks ‘resmi’ Gereja dalam bahasa Latin. Sangat menarik untuk menegaskan criteria yang digunakan oleh Hieronimus dalam karyanya sebagai penerjemah. Dia sendiri mengungkapkan kriteria itu saat dia mengatakan bahwa ia menghormati susunan kata dalam Kitab Suci, karena dalam susunan itu, ia mengatakan “susunan kata-kata juga merupakan suatu misteri” (Ep. 57, 2), yaitu, suatu pewahyuan. Lebih jauh lagi, ia menegaskan kembali kebutuhan untuk mengacu keapda teks asli: “Perbedaan pandangan tentang Perjanjian Baru diantara orang-orang Latin seringkali terjadi karena interpretasi mereka didasarkan kepada manuskrip yang buruk, marilah kita kembali kepada yang asli, yaitu ke dalam bahasa Yunani, yang dengan bahasa itu Perjanjian Baru ditulis.” Demikian halnya juga dengan Perjanjian Lama, jika ada perbedaan antara teks Latin dan Ibrani kita harus mengacu keapda teks Ibrani; dan, kemudian kita akan mampu menemukan aliran yang mengalir dari sumbernya” (Ep. 106, 2). Hieronimus juga menafsirkan banyak teks-teks Alkitab. Baginya penafsiran harus menawarkan berbagai kemungkinan “agar pembaca, setelah membaca berbagai penjelasan yang berbeda dan mendengar banyak pendapat- bisa menerima atau menolak- dan dapat menilai mana yang paling masuk akal, dan seperti penukar uang yang ahli, dapat menolak uang yang palsu” (Contra Rufinum 1, 16).

Dengan penuh semangat dan tak kenal lelah Hieronimus melawan semua bidaah yang menentang tradisi dan iman Gereja. Dia juga menunjukkan betapa penting dan benar nya literatur Kristen yang kemudianmenjadi kebudayaan nyata dan diperbandingkan dengan literatur klasik: ia melakukan itu dengan mengarang De Viris Illustribus, sebuah karya yang didalamnya Hieronimus menampilkan biografi lebih dari seratus pengarang Kristen. Ia juga menulis banyak biografi para rahib, dan memperbandingkan kedalaman spiritualitas mereka dengan kehidupan monastik yang ideal. Sebagai tambahan, ia menerjemahkan berbagai karya pengarang Yunani. Akhirnya, dalam Epistulae yang sangat penting, sebuah mahakarya literatur Latin, Hieronimus dengan kekhasan keahliannya menampilkan, suatu panduan asketis bagi jiwa-jiwa.

Apa yang dapat kita pelajari dari St. Hieronimus? Bagi saya, pertama-tama adalah: cinta kepada Sabda Alalh dalam Kitab Suci. St. Hieronimus mengatakan: “Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus”. Maka sangat penting bagi setiap orang Kristen memiliki hubungan pribadi yang hidup dengan Sabda Allah yang diberikan kepada kita dalam Kitab Suci. Dialog dengan Kitab Suci harus memiliki dua dimensi di satu sisi, dialog ini harus menjadi dialog pribadi karena Allah berbicara dengan setiap kita melalui Kitab Suci dan Kitab Suci itu juga memiliki pesan untuk setiap kita. Kita harus membaca Kitab Suci bukan sebagai kata-kata yang ditulis di masa lalu tetapi sebagai Sabda Allah yang juga disampaikan kepada kita, dan kita harus mencoba untuk mengerti apa yang ingin Tuhan katakana kepada kita. Bagaimanapun, agar tidak jatuh kepada individualisme, kita harus ingat bahwa Sabda Allah diberikan keapda kita untuk membangun persekutuan dan menyatukan kekuatan dalam kebenaran dalam perjalanan kita menuju Allah. Jadi, walaupun Sabda Allah selalu merupakan Sabda pribadi, ia juga sella merupakan Sabda yang membangun komunitas, membangun Gereja. Maka kita harus membacanya dalam persekutuan dengan Gereja yang hidup. Tempat istimewa untuk membaca dan mendengarkan Sabda Allah adalah Liturgi, di dalamnya, kita merayakan Sabda dan menjadikan Tubuh Kristus hadir dalam Sakramen, kita mengaktualisasikan Sabda dalam hidup kita dan menghadirkannya di tengah kita. Kita juga tak boleh lupa bahwa Sabda Allah melampaui waktu. Pendapat manusia dating dan pergi. Apa yang sangat modern hari ini bisa jadi sangat kuno esok hari. Di sisi lain, Sabda Allah adalah Sabda hidup abadi, ia berada dalam keabadian dan tetap benar selamanya. Dengan membawa Sabda Allah dalam hidup kita, kita membawa dalam diri kita keabadian, hidup abadi.

Saya ingin menutup dengan kata-kata St. Hieronimus yang pernah ia sampaikan kepada St. Paulinus Nola. Dalam kata-kata ini sang penafsir hebat ini mengungkapkan kenyataan yang sangat mendasar, yaitu, dalam Sabda Allah kita menerima keabadian, hidup abadi. St. Hieronimus berkata: “Cari dan pelajarilah di dunia kebenaran yang akan tetap berlaku di Surga” (Ep. 53, 10).

Paulus: Rasul Sukacita Kristus

Jika seseorang ditanya apa yang membuat dia bersukacita maka kita akan mendapat jawaban berupa hal-hal yang menyenangkan seperti: lulus ujian, mendapat perkerjaan atau naik gaji, mendapat pasangan hidup dan semacamnya, dan ini sangat wajar dan manusiawi, hal-hal semacam itu memang membuat hati kita menjadi penuh sukacita. Tetapi, hidup kita tidak selalu diisi oleh hal-hal yang menyenangkan, seringkali kita harus menanggung banyak kesusahan. Kesusahan seperti itu kadang membuat kita sedih dan kehilangan sukacita kita, hal-hal seperti; orang yang disayangi meninggal, kebakaran rumah, tidak lulus ujian, atau kehilangan pekerjaan jelas membuat kita sedih, dan kesedihan ini wajar dan manusiawi.

Paulus mengatakan kepada umat di Filipi untuk bersukacita, ia mengatakan: “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah” (Filipi 4:4). Disini kita diminta untuk selalu bersukacita, selalu berarti tanpa henti, dalam segala keadaan kita harus terus bersukacita. Apakah ini mungkin? Apakah bersukacita di tengah segala kesusahan hidup yang kita alami itu mungkin? Kalau ditanya “mungkin” atau “tidak mungkin” jawabannya yah jelas mungkin saja, toh dalam hidup sehari-hari kita juga bisa melihat bagaimana orang bisa tetap bersukacita walaupun ia harus menanggung kesusahan dalam hidupnya. Contoh yang paling sederhana adalah melihat bagaimana misalnya para orang tua harus bekerja keras demi mencukupi kebutuhan hidup anak-anaknya, seringkali para orangtua harus bekerja sangat keras namun mereka melakukannya dengan penuh sukacita. Mereka mungkin jengkel dengan bos di kantor atau pelanggan di toko, dan beratnya pekerjaan mungkin membuat mereka stress juga, tapi mengingat bahwa semua ini dilakukan untuk anak menimbulkan suatu sukacita tersendiri. Saya kira hal ini benar pada kebanyakan orang tua kita, dan Anda yang menjadi orang tua saya rasa juga mengalami sendiri hal ini. Jadi pada prinsipnya apa yang diperintahkan Kitab Suci bukanlah sesuatu yang tidak mungkin. Kita mungkin belum mampu melakukannya tapi kita dapat mengetahui dengan pasti bahwa dibantu dengan rahmat Allah kita bisa mencapai hal itu.

Allah memerintahkan kita untuk selalu bersukacita melalui Paulus, seorang Rasul besar yang memiliki peranan istimewa mengembangkan Gereja pada masa-masa awal berdirinya. Paulus bernama asli Saulus adalah seorang Yahudi yang lahir di Tarsus (Kis 22:3) sebuah daerah yang sekarang ini berada di Republik Turki, yang memiliki kewarganegaraan Romawi sejak lahir (Kis 22:8) dan dari situ kita dapat menyimpulkan ia berasal dari keluarga yang memiliki status sosial cukup tinggi karena dalam kekaisaran Romawi seorang non-Roma yang memperoleh kewarganegaraan Roma adalah sesuatu yang istimewa. Saulus adalah seorang yang terpelajar dalam hal hukum taurat menurut tradisi farisi, ia belajar di bawah bimbingan Gamaliel dan mahir berbahasa Ibrani (Kis 22:2-3). Ketika Saulus bertemu dengan Yesus ia menjadi buta dan perlu dituntun (Kis 9:9; 22:11), dan disini Paulus belajar untuk tidak lagi melihat dengan matanya sendiri dan menuntun dirinya sendiri, sejak saat itu ia bukan lagi dirinya tapi Kristus yang hidup dalam dia dan hidupnya yang sekarang adalah hidup dalam iman akan Putera Allah yang telah mengasihi dia dan menyerahkan diriNya untuk dia (Gal 2:20).

Penyerahan diri kepada Kristus memiliki akibat yang sangat panjang bagi Paulus ia mengalami banyak hal yang tidak menyenangkan; dianggap penipu entah oleh orang Yahudi ataupun sebagian orang Kristen yang menentangnya, ia pernah dipukuli sampai hampir mati, kapalnya pernah tenggelam dan ia kelaparan, ia dipenjara beberapa kali, dan akhirnya dipenggal di Roma setelah permohonan bandingnya ditolak Kaisar. Paulus menyebut dirinya pernah mengalami apa itu kelimpahan dan kekurangan (Filipi 4: 12). Kita bisa memperkirakan bahwa ia mengalami kelimpahan sebelum ia bertemu Yesus dan mulai kekurangan sesudah bertemu Yesus. Sangat sulit membayangkan Saulus yang berasal dari keluarga Yahudi elite dan mampu memperoleh pendidikan yang baik adalah seorang yang berkekurangan, sementara sangat mudah membayangkan Paulus yang ditengah perjalanannya sebagai pewarta Injil masih harus menjalankan bisnis kecil-kecilan sebagai tukang tenda untuk mencari makan (Kis 18:1) adalah orang yang hidupnya serba pas-pas an.

Paulus mengatakan: “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! (Filipi 4: 4-5)”. Bagi Paulus “sukacita”, “kebaikan hati” dan “Tuhan sudah dekat” adalah sesuatu yang saling berkaitan. Istilah “Tuhan sudah dekat” menunjuk kepada kedatangan Tuhan, saat akhir dan final dari penyelamatan manusia, saat dimana Yesus datang mengadili semua orang; yang baik akan hidup kekal dan yang jahat akan dihukum (Yoh 5: 28-29; 2 Kor 5: 10). Ini menjelaskan kepada kita mengapa pesan “Tuhan sudah dekat” memiliki kaitan yang erat dengan “bersukacita” dan “kebaikan hati”. Kalau Tuhan sudah dekat maka kita semua sepantasnya bersukacita karena saat penyelamatan kita yang akhir dan final sudah semakin dekat, kita menyambut datangnya saat itu dengan berbuat baik agar nanti kita menerima pemenuhan janji keselamatan dari Yesus.

Di sini kita melihat kaitan antara sukacita dan harapan. Di awal saya menggunakan contoh orang tua untuk menunjukkan bahwa bersukacita dalam saat susah dan tidak menyenangkan adalah sesuatu yang masih mungkin bagi manusia biasa semacam kita ini. Kalau kita melihat contoh itu lagi kita juga bisa melihat bahwa sukacita itu juga berhubungan dengan harapan orang tua akan masa depan yang indah bagi anaknya. Orang tua yang memiliki harapan akan masa depan yang baik bagi anaknya memiliki kemampuan untuk tetap bersukacita walaupun ia harus menderita demi mencukupi kebutuhan-kebutuhan anaknya. Disini kita melihat sekali lagi bahwa hal ini secara alami juga dapat dibenarkan.

Katekismus Gereja Katolik mengungkapkan hubungan antara harapan akan kedatangan Tuhan dan kegembiraan sebagai berikut: “Kebajikan harapan adalah kebajikan teologal yang dengannya kita menginginkan Kerajaan Surga dan kehidupan abadi sebagai kebahagiaan kita, dengan menaruh kepercayaan pada janji Kristus dan bukan bersandar pada kekuatan kita sendiri, tapi dalam pertolongan rahmat Roh Kudus. Kebajikan harapan menanggapi kerinduan manusia akan kebahagiaan yang telah Allah tempatkan dalam hati setiap orang; ia mengangkat harapan yang menginspirasi semua akifitas manusia dan memurnikannya serta mengarahkannya kepada Kerajaan Surga; kebajikan harapan memelihara manusia dari keputusasaan, menguatkannya pada masa kesusahan; membuka hatinya untuk menginginkan kebahagiaan kekal. Dipenuhi harapan, orang dibebaskan dari keegoisan dan dituntun kepada kebahagiaan yang mengalir dari cinta kasih” (KGK no. 1817 dikutip sebagian dan 1818).

Hubungan antara sukacita, harapan akan kedatangan Tuhan dan perbuatan baik sebagaimana kita lihat dalam tulisan St. Paulus juga diungkapkan oleh St. Teresa dari Avila yang mengatakan kepada jiwanya: “ Berharaplah, jiwaku, berharaplah. Kamu tahu tidak tahu kapan hari dan waktunya. Berjagalah dengan cermat, bahkan sekalipun ketidaksabaranmu membuat kamu meragukan apa yang pasti dan mengubah waktu yang sebenarnya sangat singkat menjadi sangat lama. Bayangkanlah bahwa semakin kamu berjuang, semakin kamu membuktikan cintamu kepada Allah, dan semakin kamu akan bersukacita bersama Dia yang kamu cintai, dalam kebahagiaan dan pengangkatan yang tidak akan berakhir” (Exclamaciones del alma a Dios 15: 3, dikutip dari KGK no. 1821).

Sampai di sini, marilah kita mencoba meringkas apa yang telah kita bahas sebelumnya. Paulus selalu bersukacita dalam setiap peristiwa yang ia alami karena ia memiliki harapan akan Kristus yang menyelamatkannya dan yang memiliki rencana indah atas hidupnya. Harapan inilah yang menggerakan Paulus untuk terus bekerja di ladang Tuhan dan menebarkan benih injil dalam seluruh perjalanan kerasulannya dan harapan ini juga yang menggembirakan dia dalam segala kesusahan dan kegagalan yang dialaminya, dia tetap gembira dan tetap optimis serta tetap tekun dalam pekerjaannya apapun yang terjadi karena harapannya ia dasarkan pada Kristus yang selalu setia kepadanya.

Kita semua juga mengalami banyak kesulitan dalam hidup kita, kadang terasa begitu menghimpit sehingga membuat kita hampir kehilangan semangat. Jika kita percaya kepada Kristus yang telah menaklukkan kematian, maka kita tahu bahwa seburuk apapun situasi kita Allah mampu mengubahnya menjadi sesuatu yang baik. Harapan itu lah yang membuat kita selalu bergembira, tidak ada sesuatu yang benar-benar buruk karena Allah selalu mampu mengubah keburukan menjadi kebaikan, bahkan Ia telah mengubah kematian menjadi kehidupan. Jika kita benar-benar percaya akan Allah yang bangkit dari mati, maka dalam kesulitan seberat apapun kita harus atau mungkin lebih enak dikatakan kita diajak untuk selalu optimis dan selalu tekun melakukan apa yang baik dan benar dan untuk selalu bersukacita karena kita percaya akan akhir bahagia yang disediakan Allah untuk kita. Paulus mengatakan “Spe salvi facti sumus” Kita diselamatkan dalam pengharapan (Rom 8: 24). Semoga kita menaruh harapan kita hanya pada Kristus dan selalu bergembira karenanya!

Jumat, 25 Juli 2008

Ratzinger: Ilah-ilah palsu

Ilah-ilah palsu apapun nama, bentuk atau rupa yang kita berikan kepada mereka, selalu berkaitan dengan penyembahan terhadap tiga hal: kepemilikan materi, cinta yang cemburuan, atau kekuasaan. Biarkan Saya menjelaskan apa yang Saya maksudkan.

Pada prinsipnya memiliki materi adalah baik. Kita tak dapat bertahan lama tanpa uang, pakaian dan tempat tinggal. Kita harus makan untuk tetap hidup. Tetapi, jika kita rakus, jika kita menolak untuk berbagi apa yang kita punyai dengan mereka yang miskin dan lapar kita menjadikan harta milik kita sebagai ilah palsu. Dan bukannya membawa hidup ia malahan membawa kematian.

Cinta yang otentik jelas adalah suatu yang baik. Tanpanya akan sulit untuk hidup bahagia. Ia memenuhi kebutuhan terdalam kita, dan saat kita mencintai, kita menjadi diri kita sendiri sepenuhnya, menjadi manusia yang utuh. Tetapi betapa mudahnya ia berubah menjadi ilah palsu! Orang sering berpikir mereka sedang mencintai pada saat mereka menjadi ingin memiliki dan memanipulasi. Orang seringkali memperlakukan sesamanya sebagai obyek untuk memenuhi kebutuhan dirinya daripada sebagai pribadi untuk dicintai dan dihargai. Betapa mudahnya kita tertipu oleh suara-suara dalam masyarakat kita yang membela sikap permisif terhadap seksualitas, tanpa memperdulikan batas-batas kesopanan serta penghargaan terhadap nilai-nilai moral yang meningkatkan kualitas hubungan manusia! Ini juga adalah penyembahan terhadap ilah palsu. Dan bukannya membawa hidup ia malahan membawa kematian.

Kuasa yang diberikan Allah kepada kita untuk menaklukkan dunia ini jelas adalah sesuatu yang baik. Penggunaan sepatutnya dan bertanggungjawab, memampukan kita mengubah hidup orang. Setiap komunitas membutuhkan pemimpin yang baik. Tetapi muncul godaan untuk menggunakan kekuasaan untuk keuntungan sendiri, untuk mendominasi yang lain atau mengeksploitasi lingkungan hidup untuk tujuan-tujuan egois. Ini menjadikan kekuasaan ilah palsu. Dan bukannya membawa hidup ia malahan membawa kematian.

Pemujaan terhadap harta milik, cinta yang cemburuan dan kekuasaan seringkali membuat orang berusaha "mempermainkan Allah". Mencoba menguasai hal-hal itu secara penuh tanpa memandang perintah yang Allah berikan kepada kita. Inilah jalan menuju kematian. Sebaliknya, penyembahan kepada satu Allah yang benar berarti mengakui Dialah sumber semua kebaikan, mempercayakan segalanya kepada Dia, membuka diri kita kepada kuasa penyembuhan dalam rahmatNya dan mematuhi perintahNya: inilah jalan yang menuju kepada kehidupan






Benediktus P.P. XVI
Pidato pada pertemuan dengan para penyandang cacat
July 18, 2008

Homili Paus Penutupan WYD

Teman-teman terkasih,

"Kamu akan menerima kuasa saat Roh Kudus turun atasmu" (Kis 1:8). Kita telah melihat janji ini dipenuhi! Pada hari Pentakosta seperti yang kita dengar dalam bacaan pertama, Tuhan yang bangkit, duduk disisi kanan Bapa, mengutus Roh Kudus atas para murid yang berkumpul di Ruang Atas. Dalam kuasa Roh itu, Petrus dan Para Rasul pergi mewartakan Injil sampai ke ujung bumi. Dalam setiap zaman, dan dalam segala bahasa, Gereja terus menerus mewartakan keajaiban Allah dan memanggil segala bangsa dan semua orang kepada iman, harapan dan hidup baru dalam Kristus.

Dalam hari-hari ini juga Saya telah dating, sebagai Pengganti Santo Petrus, ke tanah Australia yang mengagumkan ini. Saya dating untuk meneguhkan kamu, saudara-saudari muda saya, dalam imanmu, dan untuk mendorong kamu membuka hatimu kepada kuasa Roh Kristus dan kepada kekayaan anugerahNya. Saya berdoa agar pertemuan besar ini, yang menyatukan orang-orang muda "dari segala bangsa di kolong langit" (Kis 2:5), akan menjadi Ruang Atas yang baru. Semoga api cinta Allah turun memenuhi hatimu, menyatukan kamu secara lebih penuh dengan Tuhan dan GerejaNya, dan mengutus kamu sebagai generasi rasul-rasul yang baru, untuk membawa dunia kepada Kristus!

"Kamu akan menerima kuasa saat Roh Kudus turun atasmu". Kata-kata Tuhan yang bangkit ini memiliki arti khusus bagi kaum muda yang akan menerima Sakramen Krisma, yang akan dimeteraikan dengan anugerah Roh Kudus pada Misa hari ini. Tetapi kata-kata ini juga dialamatkan kepada setiap kita- kepada kita semua yang telah menerima anugerah Roh Kudus yaitu pendamaian dan kelahiran baru saat Baptisan, kepada kita semua yang telah menyambut Roh Kudus dalam hati kita sebagai penolong dan pembimbing saat Krisma, dan yang setiap hari bertumbuh dalam anugerah rahmat ini melalui Ekaristi Kudus. Dalam setiap Misa, sesungguhnya Roh Kudus dicurahkan secara baru melalui doa agung Gereja, bukan hanya untuk mengubah persembahan roti dan anggur kita menjadi Tubuh dan Darah Tuhan tetapi juga untuk mengubah hidup kita, untuk menjadikan kita, dalam kuasaNya, "satu tubuh dan satu roh dalam Kristus".


Tapi kuasa macam apakah yang diberikan Roh Kudus ini? Ini adalah kuasa kehidupan dari Allah! Ini adalah kuasa dari Roh yang sama yang melayang di atas air pada permulaan penciptaan dan yang, dalam kepenuhan waktu, membangkitkan Yesus dari kematian. Inilah kuasa yang menunjuk kita, dan dunia kita, dan mengarahkannya kepada kedatangan Kerajaan Allah. Dalam Injil hari ini, Yesus mewartakan suatu zaman baru telah dimulai, dimana Roh Kudus akan dicurahkan kepada semua manusia (Luk 4:21). Dia sendiri, dikandung oleh Roh Kudus dan dilahirkan dari Perawan Maria, datang diantara kita membawa Roh itu. Roh Kudus itu adalah sumber hidup baru kita dalam Kristus, dan dengan cara yang senyatanya Roh Kudus itu juga adalah jiwa Gereja, Dialah cinta yang mengikat kita dengan Tuhan dan sesama dan cahaya yang membuka mata kita untuk melihat keajaiban rahmat Allah disekitar kita

Disini di Australia,"tanah Roh Kudus di selatan yang besar ini", kita semua memiliki pengalaman akan Roh Kudus yang tak terlupakan, akan kehadiran dan kuasaNya dalam keindahan alam. Mata kita telah dibuka untuk melihat dunia kita sebagaimana sesungguhnya ia: "didandani" seperti dalam sebuah puisi dikatakan "dengan keagungan Allah", dipenuhi dengan kemuliaan cintaNya yang kreatif. Di sini juga dalam perkumpulan orang muda Kristen yang besar ini dari seluruh dunia, kita memiliki pengalaman yang hidup akan kehadiran dan kuasa Roh Kudus dalam hidup Gereja. Kita telah melihat Gereja sebagaimana ia adanya: Tubuh Kristus, komunitas cinta yang hidup, yang terdiri dari semua orang dari segala suku, bangsa dan bahasa, dari setiap tempat dan waktu, dalam kesatuan yang lahir dari iman kita dalam Tuhan yang bangkit.

Kuasa Roh Kudus tidak pernah berhenti memenuhi Gereja dengan hidup! Melalui rahmat sakramen Gereja, kuasa itu juga mengalir kedalam diri kita, seperti sungai yang tak pernah kering yang menguatkan roh kita dan menarik kita semakin dekat ke dalam sumber hidup yang sejati, yaitu Kristus. Santo Ignatius dari Antiokhia, yang mati sebagai martir di Roma pada permulaan awal abad kedua, telah meninggalkan kita gambaran yang mengagumkan tentang kuasa Roh Kudus yang berdiam dalam kita. Dia berbicara seperti sumber air yang memancar dalam hati dan berbisik: "Datanglah, datang kepada Bapa" (Ad. Rom 6:1-9).

Namun kuasa ini, rahmat Roh Kudus ini bukanlah sesuatu yang bisa kita usahakan atau kita peroleh, tetapi hanya dapat kita terima sebagai anugerah saja. Cinta Allah hanya dapat menjalankan kuasanya saat ia diizinkan untuk mengubah kita dari dalam. Kita harus membiarkannya menghancurkan kekerasan hati kita, kekhawatiran batin kita, kebutuhan hati kita terhadap roh-roh zaman ini. Hanya dengan itu kita dapat membiarkannya menerangi bayangan (imagination) kita dan membentuk keinginan kita yang terdalam. Itulah sebabnya doa sangat penting: doa harian, doa pribadi dalam keheningan hati kita dan dihadapan Sakramen Mahakudus, dan doa liturgy dalam jantung Gereja. Doa adalah penerimaan murni atas rahmat Allah, cinta dalam tindakan, persekutuan dengan Roh Kudus yang diam dalam kita, memimpin kita, melalui Yesus, dalam Gereja, kepada Bapa Surgawi kita. Dalam kuasa Roh Kudus ini, Yesus selalu hadir dalam hati kita, dengan tenang menunggu kita untuk terbuka bagiNya, untuk mendengar suaraNya, untuk terikat dengan cintaNya, dan untuk menerima "kuasa dari tempat tinggi", yang memapukan kita menjadi garam dan terang bagi dunia kita.

Pada hari Ia terangkat, Tuhan yang bangkit berkata kepada para muridNya: "Kamu akan menjadi saksi-saksiKu…sampai ujung dunia" (Kis 1:8). Di sini, di Australia, marilah kita bersyukur kepada Allah untuk anugerah iman, yang telah diwariskan kepada kita seperti harta warisan yang diturunkan dari generasi ke generasi dalam persekutuan Gereja. Disini, di Oceania, marilah kita bersyukur secara khudus atas para misionaris yang heroik, para imam dan religius yang berdedikasi, atas para orang tua dan leluhur Kristen kita, atas para guru dan katekis yang membangun Gereja di tanah ini- para saksi seperti Beata Mary MacKillop, Santo Peter Chanel, dan Beato Peter To Rot, serta banyak lagi yang lain! Kuasa Roh Kudus yang nampak dalam hidup merekam masih bekerja dalam kebaikan yang mereka tinggalkan, dalam komunitas yang mereka bentuk dan yang sekarang diwariskan kepada kamu.

Orang muda terkasih, sekarang saya akan bertanya kepada kamu. Apa yang akan kamu tinggalkan bagi generasi yang akan datang? Apakah kamu akan membangun hidupmu dalam dasar yang teguh, membangun sesuatu yang akan bertahan? Apakah kamu menjalani hidupmu dengan membuka ruang bagi Roh Kudus di tengah dunia yang ingin melupakan Allah, atau menolak Dia atas nama kebebasan palsu? Apakah kamu menggunakan anugerah yang telah diberikan kepadamu, kuasa Roh Kudus yang bahkan sekarang bersiap membebaskan kamu? Apa yang akan kamu bawa kepada kaum muda yang akan datang? Perbedaan macam apa yang akan kamu buat?

Kuasa Roh Kudus tidak hanya menerangi dan menghibur kita. Ia juga menunjuk kepada masa depan, kepada kedatangan Kerajaan Allah. Visi yang mengagumkan tentang manusia yang ditebus dan diperbarui kita lihat dalam zaman baru yang dijanjikan dalam Injil hari ini! Santo Lukas mengatakan kepada kita bahwa Yesus Kristus adalah pemenuhan dari semua janji Allah, Mesias yang sepenuhnya memiliki Roh Kudus untuk mencurgakan anugerah Roh itu kepada semua manusia. Pencurahan Roh Kudus atas diri manusia adalah wujudnyata dari harapan dan pembebasan dari semua yang mempermiskin kita. Ia memberi orang buta pandangan baru, ia menegakkan yang terkulai, dan menciptakan kesatuan dalam dan melalui perbedaan (Luk 4: 18-19, Yes 61:1-2). Kuasa ini dapat menciptakan dunia baru: "ia dapat memperbarui dunia ini" (Mzm 104:30)!

Dikuatkan oleh Roh Kudus, dan menarik kekayaan visi iman, generasi Kristen baru dipanggil untuk membantu membangun dunia ini dimana anugerah hidup dari Allah disambut, dihormati, dan dipelihara- bukan ditolak, ditakuti sebagai ancaman dan dimusnahkan. Zaman baru dimana cinta tidak menjadi rakus dan mementingkan diri, tetapi murni, setia, dan sejatinya bebas, terbuka kepada yang lain, menghormati martabat mereka, menginginkan kebaikan bagi semua, menyinarkan kegembiraan dan keindahan. Suatu zaman baru dimana harapan membebaskan kita dari ketakutan, sikap apatis dan mementingkan diri yang mematikan jiwa kita dan meracuni petemanan kita. Teman muda yang terkasih, Tuhan memintamu menjadi nabi dalam zaman baru ini, utusan cintaNya, menarik orang kepada Bapa dan membangun harapan akan masa depan bagi semua orang.

Dunia membutuhkan pembaruan ini! Dalam banyak komunitas kita, bersamaan dengan kemakmuran materi, suatu padang gurun rohani menyebar, kekosongan batin, ketakutan yang tak bernama, keputusasaan yang tersembunyi. Betapa banyak reka-rekan kita telah membentuk bejana yang retak dan kosong (Yer 2:13) dalam pencarian putus asa akan arti-arti tertinggi bahwa hanya cinta yang dapat memberi. Inilah anugerah besar yang membebaskan yang dibawa oleh Injil: ia mewahyukan martabat kita sebagai pria dan wanita yang diciptakan dalam gambar dan rupa Allah. Ia mewahyukan panggilan manusia yang indah, yang mencapai pemenuhannya dalam cinta. Ia membuka kebenaran tentang manusia dan hidup.
Gereja juga membutuhkan pembaruan ini! Dia membutuhkan imanmu, idealisme mu, dan kemurahanmu, supata ia bisa tetap muda dalam Roh (Lumen Gentium, 4)! Dalam bacaan kedua hari ini, Rasul Paulus mengingatkan bahwa kita semua dan setiap orang Kristen telah menerima anugerah untuk membangun Tubuh Kristus. Gereja secara khusus membutuhkan anugerah orang-orang muda, semua orang muda. Gereja perlu bertumbuh dalam kuasa Roh Kudus yang sampai sekarang memberikan kegembiraan kepada orang muda dan menginspirasi kalian untuk melayani Tuhan dengan gembira. Bukalah hatimu kepada kuasa itu! Saya memohon secara khusus kepada kalian yang dipanggil kepada imamat dan hidup bakti. Jangan takut mengatakan "iya"kepada Yesus, untuk menemukan sukacita dalam melakukan kehendakNya, memberikan dirimu seluruhnya untuk memperoleh kekudusan, dan menggunakan seluruh talentamu untuk melayani sesama!

Sebentar lagi, kita akan merayakan Sakramen Krisma. Roh Kudus akan tercurah atas para kandidat, mereka akan dimeteraikan dengan anugerah Roh Kudus dan diutus menjadi saksi-saksi Kristus. Apa maksudnya menerima materai Roh Kudus? Ini berarti ditandai secara khas, perubahan yang tidak bisa diubah lagi, menjadi ciptaan yang baru. Bagi mereka yang telah menerima anugerah ini, tak dapat lagi terjadi hal yang sama! Dibaptis dalam satu Roh (1 Kor 12:13) berarti dibakar dalam api cinta Allah. "Minum" dalam Roh berarti disegarkan dengan keindahan rencana Allah bagi kita dan bagi dunia, dan pada gilirannya kita menjadi sumber kesegaran rohani bagi sesama. Dimeteraikan dalam Roh Kudus berarti tidak takut berdiri bagi Kristus, membirakan kebenaran Injil menentukan sudut pandangan kita dalam berpikir dan bertindak, sebagai mana kita bekerja bagi kejayaan peradaban cinta.

Saat kita berdoa bagi para kandidat, marilah kita mohon agar kuasa Roh Kudus juga membangkitkan kembali rahmat Krisma kita. Semoga Ia mencurgakan anugerahNya secara berlimpah kepada semua yang hadir, di kota Sydney ini, di atas tanah Australia dan kepada semua umatNya! Semoga kita semua diperbarui dalam roh kebijaksanaan dan pengertian, dalam keadilan dan keberanian, dalam pengetahuan dan kesalehan, dalam kekaguman dan takut akan kehadiran Allah!

Melaui bantuan doa penuh cinta dari Maria, Bunda Gereja, semoga World Youth Day ke-23 ini menjadi pengalaman Ruang Atas, bagi kita semua, agar kita dibakar dengan api dan cinta Roh Kudus, yang mengutus kita untuk mewartakan Tuhan yang bangkit dan menarik semua hati kepadaNya! amen.