Sabtu, 31 Oktober 2009

Dari Ortodoks Koptik Menjadi Katolik Koptik

Diterjemahkan dari
Catholic Answer Forum: My Witness by mardukm

Keterangan Istilah:
Ortodoks Timur= Gereja-gereja Ortodoks yang mengakui 7 Konsili Oikumenis pertama dan berada dalam persekutuan dengan Patriarkh Konstantinopel, serta baru memisahkan diri dari Gereja Katolik sejak tahun 1054.

Ortodoks Oriental= Gereja-gereja Ortodoks yang memisahkan diri sejak Konsili Chalcedon, dan karenanya juga disebut sebagai non-Chalcedonian. Termasuk ke dalam Gereja-gereja ini adalah Gereja Ortodoks Koptik dan Gereja Ortodoks Syria.

Katolik Koptik= Salah satu dari 22 gereja otonom dalam persekutuan Gereja Katolik. Gereja ini terdiri dari orang-orang Koptik yang kembali ke dalam persekutuan Katolik.


Kristos Anesti!
(Kristus Bangkit!)

Saudara-saudari dalam Kristus


Beberapa waktu lalu, saya telah menerima beberapa permintaan untuk menceritakan pengalaman perpindahan Gereja saja. Saya selalu merasa enggan melakukannya karena merasa tidak punya cukup waktu untuk itu. Bagaimanapun juga, perhatian utama saya adalah saya khawatir orang-orang akan berpikir mengenai sesuatu yang salah dengan iman Ortodoks Koptik saya. Namun, sejak saya kembali online sekitar dua minggu yang lalu, saya telah menerima sejumlah permintaan melalui pesan pribadi atau e-mail (kebanyakan adalah orang yang tak pernah saya temui di Catholic Answers Forum; saya menduga mereka memiliki status ‘sekedar pembaca’ atau saya hanya tidak berjumpa dengan mereka), mereka ini adalah orang-orang Timur, Oriental, dan Barat yang ingin agar saya memberikan kesaksian tentang perpindahan saya. Setelah banyak berdoa, akhirnya saya memutuskan untuk memberikan kesaksian perpindahan saya. Saya sendiri tidak pernah berhenti untuk membela atau mewartakan iman Ortodoks Koptik di forum-forum yang saya ikuti, jadi saya pikir saya bisa berterus terang mengenai hal ini tanpa melanggar perhatian utama yang saya sampaikan di atas.

Sebelum mulai, saya ingin menyampaikan suatu pengamatan bahwa salah satu permintaan itu ada yang menyatakan “Saya belum pernah menemui seorang Oriental yang berpengetahuan dan tampak Romawi seperti Anda.” Dalam tradisi Koptik saya, belajar dipuji sebagai sarana yang penting untuk mengenal Allah, secara istimewa adalah mempelajari Kitab Suci, Bapa-bapa Gereja, dan kehidupan para kudus. Saya selalu berusaha untuk menjadi seorang pelajar yang serius (sayangnya belakangan ini tidak, karena tanggung jawab dunia nyata saya meningkat dengan sangat dramatis). Saya memiliki waktu tiga tahun unuk memutuskan kepindahan saya- karena mempelajari kesamaan antara Ortodoks Koptik dan Katolisisme Barat, rasanya setara dengan gelar Master bagi saya! Walaupun saya kira saya belum menerima gelar Doktor. Tetapi, sebenarnya, pernyataan saya mengenai kesamaan antara Ortodoks Koptik dan Katolisisme hanyalah masalah penelitian. Seelumnya saya tidak tahu apapun tentang Katolisisme selain dari apa yang dikatakan oleh orang-orang non-Katolik. Hanya melalui pembelajaran yang intensif saya menemukan betapa banyak hal yang dimiliki bersama oleh Ortodoks Koptik dan Katolisisme. Hal-hal itu mungkin membuat saya, entah bagaimana, terilah “Romawi”. Tetapi, saya hanya menundukkan pendirian saya tidak lebih daripada bersifat patristik. Ada banyak hal dimana ketika saya mempertahankan Kekatolikan sebenarnya adalah pembelaan terhadap warisan Ortodoks Koptik saya- ajaran Penebusan, spiritualitas penitensial (termasuk gagasan penderitaan dapat menuntun pada kesempurnaan), iman dan akal budi, sekerta eklesiologi yang bersifat yuridis/hierarkial, eklesiologi Agustinian (sejauh dibedakan dari Cyprian), sikap mengenai kewajiban suci terhadap Allah sebagaimana diarahkan oleh hierarki, kesederhanan Allah, penghargaan terhadap ungkapan teologis yang berbeda dan definisi-definisi dalam Gereja, pandangan ekumenis, tidak dapat putusnya perkawinan/pelaksanaan pembatalan perkawinan, kanon Kitab Suci yang identik, ajaran tentang kejatuhan manusia dari keadaan rahmat, tekanan akan keadilan Ilahi, dst.

Menariknya (sebuah kata euphemistic dibutuhkan di sini), orang-orang Ortodoks Timur/Byzantine (khususnya para polemis) melihat semua ini dengan semangat pertentangan, dan bahkan kebencian, ketika dihadapakan dengan Katolisisme, tetapi jika berhadapan dengan Ortodoks Koptik (dan Ortodoks Oriental secara umum), entah bagaimana kebencian itu hilang dan masalah bisa diatasi dengan mudah! Kita sering mendnegar gagasan bahwa perbedaan antara Ortodoks Timur dan Ortodoks Oriental adalah dua kodrat Kristus. SALAH. Saya menghargai ketika orang Ortodoks Timur memandang seorang Koptik (dan Ortodoks Oriental secara umum) sebagai saudara mereka dalam Ortodoksi, tetapi saya kira hal ini adalah hasil dari kurangnya pengetahuan mengenai Ortodoksi Oriental dan Katolisisme, dan setidaknya ada dua keberatan yang muncul dari ekumenisme palsu semacam ini: 1) Penolakan untuk mengakui perbedaan tradisi dan spiritualitas dari Gereja-gereja Ortodoks Oriental pada umumnya, dan Gereja Ortodoks Koptik pada khususnya; 2) Hal itu secara menyedihkan dan nyata semakin mengekalkan prasangka buruk terhadap Gereja Katolik. Hal yang terakhir ini bukan hanya sekedar fakta saja, tetapi juga menghalangi perwujudan dari DOA KRISTUS SENDIRI bagi kesatuan Tubuh-Nya. Maka, jika sekarang ini saya menyoroti perbedaan antara Ortodoks Timur dan Ortodoks Oriental, saya tidak bertujuan untuk mendukung sksima. Tidak ada niat untuk itu! Sebaliknya tujuan saya adalah agar orang mengenali tradisi dan spiritualitas Ortodoks Oriental yang khas, yang seringkali tidak terwakili dan tidak diakui, dan juga untuk mengajak orang-orang Ortodoks Timur agar berpikir- “Jika kalian bisa mengatasi perbedaan-perbedaan ini dengan saudara-saudara Orientalmu mengapa kamu tidak melakukannya dengan saudara-saudara Katolikmu? Mengapa menyorotinya (mungkin tanpa disengaja) akan memperpanjang skisma dengan Katolisisme, sementara kamu mengabaikan kesulitan-kesulitan itu ketika kamu berpikir tentang Ortodoksi Oriental?”

Hal semacam ini memiliki dampak yang besar dalam perpindahan saya ke Gereja Koptik Katolik. Saya tak pernah melihat usaha seorang Koptik Katolik untuk membujuk seorang Ortodoks Koptik berpindah Gereja, namun saya telah menemui orang Ortodoks Timur melakukannya terhadap orang Koptik, DAN bahkan seorang Ortodoks Timur yang berpindah ke Ortodoksi Oriental, justru berusaha memaksakan pandangan Timur tertentu kepada saudara-saudara non-Chalcedonian saya, khususnya mengenai pandangan yang berkaitan dengan (walaupun tidak terbatas pada) penebusan, kesederhanaan Allah, dan padangan non-ekumenis mereka terhadap Gereja Katolik. Saya menolak usaha apapun dari pihak Timur untuk memaksakan posisi mereka ke dalam identitas/tradisi Oriental yang khas (yang saya sebut sebagai helenisasi, dan tanda bagus untuk melihat seberapa jauh seorang Oriental ter-helenisasi adalah penghormatannya kepada Gregorius Palamas sebagai santo), sebagaimana orang Timur menolak Latinisasi.
Ortodoksi Timur telah memiliki terlalu banyak anggota yang menunjukkan intoleransi, ketidaktahuan, dan kesombongan, daripada buah-buah rohani kebaikan, pengertian, kebijaksanaan dan kerendahan hati. Saya memiliki kesan ini sejak saya masih seorang Ortodoks Oriental sebelum perpindahan saya ke Gereja Koptik Katolik; sedih memang, hanya sedikit bukti yang berkebalikan dengan hal itu telah saya lihat sebagai seorag Ortodoks Oriental yang memiliki persekutuan dengan Roma.

Jadi apa yang memulai perjalanan saya kepada Kekatolikan? Awalnya hanya perubahan sederhana dalam Liturgi Koptik yang hampir tidak dirasakan perubahannya, yaitu penghapusan frase “kepala para Rasul” dari gelar St. Petrus dan Paulus. saya ingin tahu alasan perubahannya, jadi saya menyelidiki Bapa-bapa Gereja. Hal ini dimulai sebagai sekedar penelitian ilmiah terhadap frase “kepala para Rasul” dalam Gereja perdana yang akhirnya mengantar kepada penerimaan yang nyata dna penuh akan Kebenaran yang diajarkan oleh Gereja Katolik.

Tentu saja ada hal-hal doktrinal yang memisahkan Ortodoksi Koptik dari Gereja Katolik- berbeda dari Kekatolikan, dan lebih dekat dengan Ortodoksi Timur, saya dapat menyebutkan sejumlah hal seperti: Pengandungan Tanpa Noda Bunda Allah, Filioque, Api Penyucian, dan Kepausan (sebagai masalah berbeda dari eklesiologi, karena eklesiologi Oriental lebih serupa dengan eklesiologi Katolik daripada eklesiologi Ortodoks Timur)- saya hanya menyebutkan hal ini karena hanya hal-hal itulah yang benar-benar bisa disebut masalah (hal lain seperti ikon, penggunaan roti tak beragi untuk Ekaristi, co-Mediatrik, dst. TIDAK TERMASUK). Saya tidak merasa bahwa saya harus masuk ke dalam masalah-masalah doktriner ini di sini, karena saya sudah melakukannya dalam banyak topik lain yang muncul di sini. Dan saya mengundang siapapun yang ingin mengetahui pandangan saya untuk mencari tanggan-tanggapan saya tentang topic-topik itu di forum ini. Dalam kesaksian, saya ingin membicarakan proses batin saya dalam memahami, menerima, dan merasa damai dengan apa yang saya (pada titik ini masih sebagai seorang Ortodoks Koptik TIDAK dalam persekutuan dengan Roma) tangkap sebagai perbedaan dalam hal ajaran.
1) Pertama dan terutama, dalam memahami masalah-masalah tertentu, hendaklah selalu memilih penjelasan dari mulut kuda dan bukan dari mulut sapi. Bedakan antara interpretasi yang mungkin dengan apa yang pada dasarnya dimaksud oeh ajaran itu. Dengan kata lain, terimalah ajaran-ajaran ini SEBAGAIMANA MEREKA ADA, bukan berdasarkan karikatur yang dikenakan kepada ajaran-ajaran itu oleh para polemis. Hal ini membutuhkan banyak pembelajaran dan pemahaman. Misalnya, mengenai masalah Filioque, keberatan umum yang disampaikan adalah bahwa ajaran ini mengaburkan pembedaan antara Pribadi Bapa dan Putera (beberapa polemic bahkan lebih jauh mengatakan bahwa ajaran ini mengaburkan SEMUA Pribadi Trinitas). Bagaimanapun, penafsiran semacam ini tidak dapat ditemukan dalam ajaran Gereja Katolik. Sebaliknya, Gereja Katolik malahan SECARA TEGAS mengajarkan pembedaan diantara Pribadi-pribadi Ilahi.
2) Dalam memahami sebuah masalah khusus, hendaklah selalu membiarkan argumen mengalir sampai selesai. Pada satu titik , pihak lain tidak akan dapat menjawabnya. Terimalah kata akhir, terutama JIKA hal itu logis. Misalnya, berkaitan dengan kepausan, tidak perduli dalam hal apa diskusi (atau argumen) mengenai kepausan dimulai, hal itu selalu berakhir dengan argumen dimana saya tidak pernah mendapatkan jawaban, “Kamu percaya akan prinsip apostolik tentang kerekanan (i.e. sebuah badan yuridis dengan kepala yuridis). lalu, apa yang membuatmu berpikir bahwa prinsip ini harus berhenti pada tingkat Kepatriarkan? Tidakkah hal itu juga harus diterapkan pada Gereja sebagai keseluruhan dan bukannya hanya pada Gereja-gereja lokal?” (Tentu, saya mengakui bahwa retorika semacam itu akan gagal untuk meyakinkan seorang Ortodoks Timur yang memiliki paradigm eklesiologi yang berbeda).
3) Saat menfsirkan suatu latar belakang sejarah, pilihlah yang mengakomodasi SEMUA fakta. Hal ini membutuhkan kebijaksanaan. Mislanya, dalam hal pendudukan Konstantinopel, biasanya orang-orang non-Katolik akan menyalahkan Paus atas seluruh kejadian ini. Para polemis ini tidak pernah memperdulikan bahwa Paus secara eksplisit melarang para prajurit perang salib untuk pergi ke Konstantinopel sebelum pergi ke tanah suci, dan bahwa penyebab langsung dari kehadiran tentara salib di Konstantinopel adalah seorang Yunani dari Konstantinopel sendiri.
4) Pelajarilah para Bapa Gereja awal. Hal ini memerlukan kesetiaan. Pembelajaran yang mendalam akan sejarah Gereja awal pada millennium pertama akan menunjukkan kebenaran yang menuntun kita menjadi satu sebagai Tubuh Kristus lagi. Pembelajaran ini akan menunjukkan semua Tradisi Aposolik yang kita miliki bersama daripada apa yang umumnya kita pahami atau salah pahami sebagai hal yang memisahkan kita.
5) Selalu menunda penilaian dan selalu mau untuk mendekati suatu masalah sebagai murid. Hal ini membutuhkan pengendalian diri dan kerendahan hati.
6) Selalu mau untuk mengakui bahwa Anda salah ketika fakta-fakta menunjukkan kita salah. Hal ini memerlukan kerendahan hati.
7) Pastikan hati nurani bersih dari segala tanda-tanda kemunafikan saat seseorang menuduh pihak lain atau semacanya. Hal ini membutuhkan pengertian dan kerendahan hati. Inilah pendekatan batin yang sungguh membantu saya. Semakin saya mampu melihat ke dalam dengan mata saya, saya semakin memahami bahwa saya tidak memiliki dasar yang kuat untuk sebagian besar, atau malah semua, kesalahpahaman saya mengenai Gereja Katolik. Misalnya, mengenai Maria dikandung tanpa noda. Saya dulu (sebelum perpindahan saya) pernah mengatakan kepada teman Katolik saya, “Jika pengandungan Maria tanpa noda menghindarkan Maria dari kemampuan berdosa, maka hal itu menghindarkannya dari kehendak bebas.” Ia menjawab, “Yesus tidak punya kemampuan berbuat dosa. Apakah kamu juga mempercayai bahwa Yesus tidak punya kehendak bebas? Hal ini tidak dapat dibantah adalah sesuatu yang sangat logis bagi saya. Sekarang saya sering menggunakan retorika itu, dan hasilnya selalu sama, entah pengakuan, atau kebungkaman. Tentu saja, cara berpikir ini tergantung pada poin 6 di atas- kemauan dan kerendahan hati untuk mengakui saat seseorang bersalah.
8) Mengampuni. Dalam pembelajaran saya akan Katolisisme, saya menerapkan setiap poin-poin ini, menghidupinya dengan banyak doa, dan menghasilkan buah-buah Roh. Saya mengakui bahwa momentum dari lahirnya sudut pandang ini adalah pengalaman saya sebagai seorang Arab-Amerika yang sejak masih kecil telah menerima banyak prasangka. Ketika saya tumbuh besar, saya dihadapkan pada pilihan: 1) Menyerah kepada kebencian, dan melakukan kepada orang lain seperti yang mereka lakukan padamu; 2) Menyerah pada apatisme; 3) Mencari kebaikan terlebih dahulu daripada menerima kejahatan, atau lakukan kepada orang lain apa yang kamu ingin mereka lakukan padamu. Berkat rahmat Allah, saya memilih pilihan yang terakhir. Contoh: Saat Bapa Suci Paus Yohanes Palus II dalam kenangan terberkati ingin mengunjungi Russia dengan Ikon dari Kazan (seingat saya itulah namanya), seorang pengamat Ortodoks Timur memberi dua kemungkinan: 1) Melihat kebaikan, dan memandang pemberian itu sebagai tindakan kerendahan hati; 2) Melihat yang jelek, dan melihat hadiah itu sekedar sebagai semacam sogokan. Saya menemukan banyak orang Ortodoks Timur yang memilih pilihan 1, tetapi yang memilih pilihan 2 lebih heboh dan menerima perhatian media. Karena pengalaman saya dengan prasangka, saya mencela kemunafikan dan ketidaktahuan.. Saya lebih bisa menerima keidaktahuan, dan selalu ingin mengoreksinya dengan pengetahuan yang disertai kesabaran, tetapi saat saya berhadapan dengan kemunafikan, saya aku, saya mendapat lebih banyak gairah untuk mempertahankan Gereja Katolik.

Saya juga sering ditanya mengenai perasaan saya tentang perubahan Liturgi di Gereja Barat. Bukankah ini suatu tanda bahwa Gereja Katolik mengkhianati tradisinya dan seharusnya mencegah saya dari menjadi Katolik? Hal ini, sekali lagi, menunjukkan kesamaan antara paradigm Katolik dan Koptik. Bagi orang Koptik, Uskup adalah penjaga jiwa kita, sebagaimana dinyatakan oleh Kitab Suci, dan dalam otoritas mereka ada kekuasaan untuk mengikat dan melepaskan untuk menentukan cara dan sarana yang melaluinya kita diilahikan; bentuk Liturgi ada dibawah pengawasan Uskup. Bagi orang Koptik dan Katolik, Liturgi terutama diarahkan untuk mendekatkan kita dengan Kristus., dan puncak dari Liturgi adalah Ekaristi, semua unsur lain dalam Liturgi diakui hanya sebagai sarana untuk menyiapkan diri atau merenungkan Ekaristi dengan cara yang layak. Dengan memperhatikan dua hal ini, sebagai orang Koptik saya tidak punya urusan untuk menilai Liturgi Barat. Dan jika saya harus menilainya, maka penilaian saya didasarkan pada dua kriteria di atas- 1) Apakah perubahan Liturgi ini dilakukan oleh otoritas yang berwenang; 2) apakah perbuahan ini untuk mempermudah atau meingkatkan persatuan dengan Kristus? Saya menemukan bahwa Gereja Katolik Barat telah memenuhi kedua kriteria ini (tentu saja perubahan ini tidak mengabaikan bahwa ada unsur-unsur tertentu dalam Misa/Liturgi yang mutlak harus ada agar Misa/Liturgi menjadi valid). Tuduhan sensasionalis terhadap gereja lokal yang melakukan ini dan itu jelas bukan kesalahan Magisterium Katolik, karena kesalahan-kesalahan ini muncul pada tingkat paroki (i.e. praktek-praktek ekstrim ini juga tidak diadakan oleh Uskup lokal).

Mungkin saja bahwa banyak orang Kristen Oriental terhelenisasi secara berlebihan. Hal ini terjadi karena kebanyakan literatur berjudul “Ortodoksi” yang dapat diperoleh datang dari Ortodoks Timur. Juga dipahami, bahwa orang-orang Kristen Oriental kerapkali melihat Ortodoksi Timur sebagai acuan bagi pemahaman spiritualitas, makna Liturgi, eskatologi, eklesiologi, dll. Hal yang menyedihkan adalah bersamaan dengan semua ini datanglah suatu cara pandang anti-Latin yang kuat. Segala sesuatu yang tampak dan berbau Latin, harus dianggap sebagai penyusupan terhadap tradisi Timur/Oriental yang “asli”. Hal ini JAAAAUHHH dari kebenarannya saudara-saudariku dalam Kristus. Orang Timur memiliki tradisi mereka sendiri yang terhormat, dan sebagai orang Oriental kita juga memiliki identitas khas kita sendiri, tanpa dipengaruhi oleh polemik Timur dan Barat dari abad 12 sampai abad 15.

Satu hal terakhir yang ingin saya sampaikan dan seringkali saya ulangi: Saya tidak datang ke dalam persekutuan Katolik dengan pandangan bahwa ada sesuatu yang salah dengan Ortodoksi Koptik. Saya tidak menolak apapun dari warisan Koptik saya untuk menjadi Katolik; saya hanya menolak kesalahpahaman dan ketakutan tentang Gereja Katolik yang dulu saya pegang. Inilah sebabnya saya tidak pernah dan tidak akan pernah menganggap keputusan saya menjadi Katolik sebagai suatu pertobatan, tetapi perpindahan. Perpindahan ini jelas merupakan suatu berkat khusus yang hanya dapat ditemukan dalam Gereja Katolik diantara keluarga Gereja-gereja Apostolik. Dan saya mengundang setiap orang untuk mempelajari Gereja Katolik dan menikmati damai Kristus yang tidak dapat dipahami.

Saya berdoa agar tulisan ini mencukupi sebagai jawaban bagi mereka yang meminta saya untuk memberikan kesaksian tentang harapan yang ada pada saya. Maafkanlah saya jika saya telah menyinggung seseorang. Dan silahkan menghubungi saya untuk pertanyaan lebih jauh.

Berkat,
Marduk.

Kamis, 29 Oktober 2009

Penjelasan Qurbono (Part 5)

Pra-Anafora
Pra-anafora terdiri dari sejumlah tindakan dan doa yang mengubungkan bagian pertama dan bagian kedua serta mempersiapkan bagian kedua, yaitu anafora, yang dalam bahasa Yunani berarti “persembahan Qurbono”. Bagian ini dibuka dengan Credo dan termasuk didalamnya adalah prosesi penyerahan persembahan, persembahannya di Altar, dan pendupaan Altar, persembahan dan umat.

Credo
Gereja Maronite menggunakan Credo Nicaea-Konstantinopel. Credo ini diperkenalkan dalam Ibadat Qurbono pada abad ke 5. Sebelumnya, Credo ini digunakan sebagai pengakuan katekumen yang dilakukan sebelum penerimaan mereka ke dalam Misteri Baptisan dan kemudian menjadi pengakuan umat terbaptis sebelum bagian liturgi Ekaristis, dulu pada bagian ini katekumen diutus dari Gereja.

Naik ke Altar

Selebran dan para pelayan yang membantunya menuju ke Altar, menyanyikan madah yang mengiringi mereka naik ke Altar. Madah ini berbeda dari dialog pembukaan pada awal Qurbono. Bagaimanapun juga, kedua madah ini memiliki arti yang sama. Dalam penggunaan madah ini kami tidak membedakan antara Uskup dan Imam, walaupun di waktu lampau madah ini dikhususkan hanya bagi Uskup. Naik ke Altar diikuti dengan tindakan mencium bagian tengah Altar, karena Altar adalah simbol Kristus sendiri; menghormatinya berarti menghormati Kristus sendiri.

Orientasi Selebran di Altar

Menurut tradisi Maronite dan menurut kesaksian Patriarkh Duwaihy, Altar harus dipisahkan dari tembok panti imam, agar selebran dapat mengelilinginya. Arsitektur gereja yang tradisional mengharuskan Altar menghadap ke timur. Jadi merupakan kebiasaan dimana selebran menghadap timur dan konggregasi di belakangnya menghadap arah yang sama.

Bagaimanapun, karena alasan-alasan pastoral dan pemahaman Ekaristi yang lebih baik, sebagaimana Perjamuan Malam Terakhir, cara baru perayaan telah muncul dalam Gereja, yaitu selebran menghadap jemaat. Berkat hal ini, umat yang lebih terdidik mengenai Qurbono telah menunjukkan partisipasi yang lebih besar.

Pada tanggal 6 Juni 1992, Sinode Patriarkhal para Uskup telah mendekritkan kemungkinan untuk merayakan baik menghadap umat, atau bersama umat menghadap timur. Pengaturan akhir mengenai masalah ini diserahkan kepada hierarki lokal. Sejumlah besar gereja baru telah dibangun untuk mengakomodasi arahan baru ini, yang dalam pandangan kami, menampilkan suatu pembaruan yang sejalan dengan semangat Qurbono (sebagaimana kenangan akan Perjamuan Malam Terakhir), dan juga memenuhi tuntutan kehidupan pastoral masa kini.

Pemindahan Persembahan
Persembahan diserahkan atau dipindahkan dari tempat persiapan ke Altar. Mereka dibawa dalam prosesi yang disertai lilin, dupa, dan nyanyian madah tradisional yang populer: “Tuhan bertahta berpakaian kemuliaan.” Banyak makna dikenakan kepada ritus ini, yaitu: pemisahan antara dua bagian Qurbono, Sabda Allah dalam Kitab Suci dan Sabda Allah dalam Ekaristi; juga undangan kepada jemaat untuk mempersembahkan diri dan dikuduskan bersama roti dan anggur yang dipersembahkan untuk menjadi Tubuh dan Darah Kristus.

Penyerahan Persembahan
Selebran menerima persembahan-persembahan, lalu mengangkatnya dalam sikap mempersembahkan persembahan kepada Allah sambil mengucapkan salah satu doa Maronite tertua dalam ritus ini.

Penempatan Persembahan di Altar

Penempatan persembahan di Altar adalah suatu tindakan liturgis imami; tindakan ini menandakan pemisahan bahan-bahan persembahan sebagai penyerahan resmi di Altar Allah. Ritus konsekrasi dimulai pada bagian ini. Melanjutkan penempatan di Altar, selebran melakukan sejumlah pengenangan, terutama: pengenangan akan Kristus dan rencana keselamatan-Nya dan pengenangan akan orang-orang kudus, terutama pelindung gereja dan orang kudus yang pestanya sedang dirayakan. Kemudian dia mewartakan intensi umum dan khusus yang bagi mereka persembahan ini disampaikan. Persembahan diletakkan di tengah Altar di atas sepotong kayu atau marmer yang dikonsekrasi (disebut tablet), atau di atas sepotong kain yang dikonsekrasi (seperti corporale dalam Gereja Latin).

Pendupaan

Untuk pertama kalinya selebran mendupai Altar yang disiapkan untuk mengurbankan persembahan yang ditempatkan di atasnya. Pendupaan sebelumnya, dalam doa mohon belas kasihan (Hoosoyo) sewaktu Ibadat Sabda, dilakukan diluar konteks Altar dan persembahan. Pendupaan ini disertai dengan madah peringatan, madah pendupaan “Pencinta mereka yang bertobat, dan madah lain seperti Salatooke Ma’na (Semoga doamu menyertai kami), atau madah lainnya.

Anaphora
Anaphora adalah kata dalam bahasa yunani yang berarti “persembahan atau “qurbono”. Di sini berarti serangkaian doa dan tindakan syukur; anaphora dimulai dengan ritus damai, konsekrasi dan komuni sampai penutupan ibadat. Bagian kedua dari Qurbono sekarang disebut dengan nama anaphora. Menurut tradisi Syriac Maronite kita, ada bermacam-macam anaphora; anaphora itu dikenakan kepada Dua Belas Rasul, atau salah satu Rasul dan Pengarang Injil, atau salah satu Patriarkh, Bapa Pendahulu, atau Uskup yang ternama. Jumlah anaphora dalam seluruh tradisi Syriac berjumlah sekitar tujuh puluh buah.

Anaphora Syriac Barat

Ada dua model anaphora dalam tradisi Maronite kita; beberapa diantaranya menggunakan model Syriac Barat, seperti Anaphora Santo Yakobus dari Yerusalem, sementara yang lainnya menggunakan model Syriac Timur seperti Anaphora Sharar dan Anaphora Addai dan Mari dari Assyria Chaldea.

Dalam edisi-edisi Qurbono sebelumnya (kecuali “Ritus Sederhana” terbitan Bkerke tahun 1973), sebagai tambahan dari model yang sepenuhnya Barat juga ada beberapa doa dari Anaphora Sharar yang termasuk model Syriac Timur. Anaphora ini kemudian menjadi perpaduan antara model Barat dan Timur. Dalam teks Qurbono baru ini, kami menghapuskan duplikasi semacam itu. Kami menyusun anaphora hanya menurut model Syriac Barat saja tanpa doa-doa Anaphora Sharar Maronite Timur. Bagaimanapun, hal ini tidak berarti kami sepenuhnya mengabaikan Anaphora Sharar (lihat bawah).

Ada banyak anaphora-anaphora Syriac Barat yang digunakan oleh Gereja Maronite. Kami menemukan beberapa diantaranya dalam manuskrip-manuskrip Maronite, terutama dalam kompilasi anaphora-anaphora yang disiapkan oleh Patriarkh Duwaihy. Kompilasi ini memuat tiga puluh nama, beberapa diantaranya memiliki nama non-Maronite. Teksnya bervariasi dari satu manuskrip dengan yang lainnya. Bagaimanapun, beberapa anaphora ini benar-beanr berasal dari sebelum abad ke 10; mereka juga dipakai dalam sejumlah manuskrip dan edisi-edisi Buku Qurbono selanjutnya.

Sementara itu, untuk edisi Qurbono ini, kami hanya membatasi jumlahnya menjadi enam anaphora saja, kami berharap nantinya kami dapat melengkapinya sampai sekurangnya ada dua puluh empat anaphora. Enam anaphora yang dipilih saat ini seluruhnya berasal dari tradisi Maronite sebelum abad ke sepuluh. Berikut kami tampilkan daftarnya sebagaimana urutan dalam buku Qurbono:
Anaphora Dua Belas Rasul;
Anaphora Santo Petrus, Pemimpin Para Rasul (Ya Allah Kedamaian)
Anaphora Santo Yakobus, Saudara Tuhan;
Anaphora Santo Yohanes Rasul;
Anaphora Santo Markus Pengarang Injil;
Anaphora Sixtus, Paus Roma.
Anaphora-anaphora ini telah menjadi subyek dari sejumlah penelitian, yang beberapa diantaranya diterbitkan sebagai karya illmiah. Kami mengacu kepada teks anaphora hasil penelitian ilmiah, atau, jika belum ada hasil penelitian ilmiah semacam itu, kami mengacu kepada teks liturgis yang umum dipakai.

Anaphora Sharar Syriac Timur
Anaphora ini memiliki berbagai nama, seperti Anaphora Para Rasul, Anaphora Santo Petrus (ketiga), dan Anaphora Sharar (Sharar adalah kata Syriac pertama dari anaphora ini dan berarti “meneguhkan”). Sejumlah penelitian atas anaphora Syriac Timur ini menunjukkan keserupaan dengan Anaphora Addai dan Mari yang digunakan oleh Gereja-gereja Assyria Chaldea. Kedua anaphora ini mungkin memiliki asal yang sama dari Edessia sekitar abad ke 5.

Dalam ritus Maronite, Anaphora Sharar memiliki susunan internal yang sama dalam Qurbono dalam dalam ritus konsekrasi krisma (Myron) dan untuk konsekrasi air baptis pada malam Epifani. Tidak diragukan bahwa Gereja Maronite menggunakan Anaphora Sharar dalam Qurbono sebelum abad ke 16, edisi pertama Buku Qurbono menempatkan anaphora ini setelah anaphora-anaphora yang lainnya, sementara edisi ke 2 (1716) tidak lagi menggunakannya. Kemudian anaphora ini menjadi Qurbono Penandaan Piala, yang merupakan ritus komuni pada hari Jumat Agung.

Anaphora Sharar telah memiliki susunannya sendiri yang tidak begitu jelas atau mudah dipahami. Pada saat ini, anaphora ini tidak dapat digunakan, tetapi harus dipelajari dan diberi susunan yang baru terlebih dahulu. Komisi Liturgi Patriarkal telah melakukan tugas ini dengan tujuan membawa anaphora ini kembali ke kehidupan liturgis Gereja maronite, dan secepat mungkin mengoreksi dan menyusun Anaphora Sharar secara jelas. Dari sini tapak jelas bahwa Liturgi Maronite memiliki akar-akarnya juga pada sumber-sumber Syriac Timur. Kami tidak perlu menyatakan bahwa tugas ini cukup sulit, yaitu untuk menyusun kembali suatu anaphora yang selama beratus-ratus tahun tidak lagi digunakan, dan juga untuk mempersiapkan ritus serupa untuk konsekrasi krisma (Myron) dan air baptis. Sekarang ini kami menunda pekerjaan ini sampai beberapa waktu kedepan, insha Allah.

Enam Anaphora Qurbono Baru

Kami menggunakan enam anaphora, sebagaimana ditunjukkan di atas, dengan sejumlah variasi, terutama:
Kata-kata konsekrasi, yaitu narasi penetapan Ekaristi saat Perjamuan Malam Terakhir, aslinya teks ini bervariasi dari anaphora yang satu dengan yang lainnya. Bagaimanapun kami tidak dapat kembali kepada teks literal tiap anaphora, karena teks kata-kata konsekrasi dalam situasi ritus Maronite sekarang telah mengambil bentuk yang baru, dalam isi dan bentuknya. Maka, kami membatasi pilihan kami dari semua anaphora satu teks saja untuk kata-kata konsekrasi bagi semua anaphora. Kami mengambil teks dari Anaphora Dua Belas Rasul dan menambahkannya sedikit sentuhan jika hal itu dianggap perlu untuk melancarkan alur bahasa dan bentuknya, selain juga untuk mengakomodasi melodi musik.

Dalam buku Qurbono semua anaphora ini dicetak berdampingan dalam bahasa Syriac dan Arab. Kami menginginkan agar terjemahan Arab ini elegan dan indah, terutama dalam pengenangan-pengenangan.

Minggu, 18 Oktober 2009

Berkata-kata dan Berdoa Dalam Bahasa Roh

Oleh Leo Kardinal Suenens
A New Pentecost p. 74-76 (versi pdf).


Seorang pengunjung baru ke persekutuan doa seringkali merasa risih, untuk mendengar dari waktu ke waku, seseorang- atau seluruh kelompok- mulai berdoa atau bernyanyi dalam bahasa roh. kesan pertamanya adalah ketidaknyamanan yang dipicu oleh ungkapan verbal yang spontan, dimana suku-suku kata diucapkan membentuk suatu frase yang tidak dapat dimengerti. Maka, penting untuk memahami glossalalia, tanpa merendahkan atau melebih-lebihkan cara doa ini. Ini bukanlah mukjizat; juga bukan suatu kelainan.

Bukan Mukjizat
Banyak orang karismatik dari berbagai denominasi, tetapi secara khusus Pentakostal Klasik, menganggap glossalalia sebagai tanda mutlak bahwa seseorang telah menerima ‘baptisan Roh Kudus’. Juga mereka menganggap bahwa ini adalah suatu anugerah yang dicurahkan dan memampukan orang berdoa dalam sebuah bahasa yang tidak dipahaminya. Saya sudah menunjukkan bahwa cara pandang semacam itu tidak sejalan dengan teologi Katolik. Tapi kita tidak menyangkal kemungkinan dalam suatu kasus yang amat jarang dapat terjadi bahwa hal itu dapat terjadi, karena kita percaya akan mukjizat, dan fenomena semacam itu termasuk ke dalam tatanan “mukjizat” (dalam arti teologis). Tetapi saya mengakuinya bahwa hal itu sungguh merupakan pengecualian, dan kita harus menghindarkan segala bentuk “sensasionalisme”. Menurut pemahaman saya fenomena “bahasa roh” tidak ada kaitannya pencurahan bahasa misterius melalui penetapan ilahi. Dan signifikasinya seutuhnya berbeda.

Bukan Patologis

Pada ekstrim yang lain, kami menemukan orang, khususnya mereka yang pada tingkat tertentu familiar dengan ilmu psikiatri, mengenakan keadaan-keadaan patologis kepada fenomena ini, seperti: emosionalsime, hysteria massa. kelakukan infantil (infantile regression), dst. Inilah bukanlah pandangan yang berasal dari penelitian ilmiah yang memadai, juga hal ini bukanlah pandangan dari salah seorang yang sangat unggul dalam bidang ini yaitu William J. Samarin, professor antropolgi dan linguistic di Universitas Toronto. Profesor Samarin mengadakan suatu penelitian yang panjang dan luas, yang dilakukan di banyak negara, dan menyimpulkan bahwa fenomena ini tidak mengandung apapun yang abnormal atau patologis, dan dia menyampaikan bukti-buktinya(William J. SAMARIN, Tongues of Men and Angels (New York, 1972)). .

Jika berdoa dalam bahasa roh bukan mukjizat dan juga bukan patologis, jadi bagaimana kita memahaminya?

Jadi, Apa itu Glossalalia?

Pertama kita harus mengakui bahwa kita berhadapan dengan suatu fenomena yang disebutkan dalam Kitab suci: ada sekitar tiga puluh penyebutan tentang berdoa dalam bahasa roh. Dalam Perjanjian Baru kita memiliki kesaksian dari Kisah Para Rasul (2:4-11; 10:46; 19:6), Surat St. Paulus (1Kor 12:30; 13:1; 14: 2,39) dan juga janji Yesus dalam Injil St. Markus (16:7). Jadi jelas ada permasalahan eksegetis dalam hal ini, namun kita jangan membutakan diri dengan kenyataan sederhana bahwa Perjanjian Baru berbicara mengenai fenomena ini secara nyata dan cukup sering. St. Paulus mengatakan bahwa ‘karunia’ ini adalah yang paling kurang penting dalam tatanan karunia; dia juga mengatakan bahwa ia memilikinya dan berharap hal yang sama bagi orang lain, walaupun ia menekankan bahwa dalam ibadat bersama, keteraturan harus diutamakan. Maka, kita tidak dapat mengatakan bahwa tidak ada bukti alkitabiah mengenai keberadaan karunia ini. Karunia ini juga ditemukan dalam tradisi Gereja, dibagikan secara luas pada mulanya dan kemudian menjadi lebih terbatas dalam biara-biara dan para santo-santa.

Di sini saya ingin menyampaikan suatu refleksi pribadi yang tidak bersifat definitif atau memuaskan.

Kita harus mengingat bahwa berkat anugerah Pembaptisan, setiap orang Kristen telah menerima Roh Kudus, dan secara potensial semua karunia Roh Kudus. Manifestasi lahiriah dari anugerah ini, penggunaannya yang aktif, menunjukkan kehadiran-Nya tetapi tidak menghasilkan suatu aungerah. Pembacaan fundamentalistik terhadap Perjanjian Baru mungkin akan membuat orang memperlakukan karunia-karunia Allah ini sebagai suatu “obyek”, suatu yang berada di luar diri kita. Pentingnya berbahasa roh tidak berkurang jika kita menempatkannya dalam tatanan alamiah yang mengenakan suatu karakter spiritual melalui intensi yang menjiwainya. Lebih jauh kita harus mengingat bahwa segalanya, dalam arti tertentu, adalah anugerah: ‘semuanya adalah rahmat’.

Bentuk doa non-diskursif ini- suatu ungkapan prakonseptual dari doa spontan- berada dalam jangkauan tubuh dan selalu berada dalam kendali kita. Ini adalah suatu cara pengungkapan yang juga dikenal dalam kebudayaan lain, jadi hal ini tidaklah begitu asing sebagaimana yang kita kira. Ingatlah, misalnya dalam madah Gregorian ada suatu jubilasi (nyanyian spontan dengan suku-suku kata yang lahir dari ungkapan sukacita yang sangat mendalam sehingga kata-kata biasa tidak lagi dapat menggambarkannya seperti fa-la-la-na-na atau semacamnya, banyak yang berpendapat bahwa jubilasi adalah identik dengan bahasa roh yang umum pada gerakan pembaruan karismatik di zaman modern ini, salah satu yang berpandangan demikian adalah Kardinal Suenens sendiri) yang melanjutkan ‘a’ yang diperpanjang pada akhir Alleluia (misalnya pada Veni Sancte Spiritus, pada bagian akhir alleluia sesudah amen, nadanya dibuat naik dan menggantung sama seperti kebiasaan lagu-lagu penyembahan karismatik saat mau ‘naik’ atau hendak bersenandung dalam roh/singing in the spirit). Ingatlah juga, bagaimana seorang anak kecil, sebelum belajar berbicara secara benar, menggunakan ungkapan bunyi-bunyian yang spontan dan tidak memiliki arti untuk mengungkapkan sukacitanya.

Seseorang telah mengatakan bahwa berdoa dalam bahasa roh dalam kaitannya dengan berdoa secara biasa diperbandingkan seperti seni figuratif dan seni abstrak; perbandingan ini saya kira memberikan beberapa pencerahan.

Karunia bahasa roh juga dapat dibandingkan dengan karunia air mata. Siapapun yang berada dalam keadaan yang emosional dapat menangis; aktor bisa menangis kapan saja naskah memintanya. Ini alami. Tetapi juga ada karunia air mata, yang diakui oleh tradisi spiritual sejak lama. Lebih lagi, dalam Rituale, ada anugerah untuk doa ini (mungkin sebenarnya Missale Romanum, dimana dalam Missale pra-Vatikan II ada teks misa votif memohon karunia air mata, yang intinya agar hati kita tersentuh oleh kebaikan Allah, menyesali dosa-dosa secara mendalam dan karenanya bertobat sungguh-sungguh). Tangisan disini menjadi suatu pengalaman keagamaan yang mendalam, dimana seseorang memberikan ungkapan kepada hal yang tidak terungkapkan, saat digerakan oleh rasa penyesalan, penyembahan atau syukur di hadapan Allah. Dalam hal ini, air mata, jika kita menganalisanya, tidak berbeda dari air mata tangisan biasa tetapi dampaknya jauh melampaui sekedar fenomena fisik semata. Maka, cukup tepat membandingkannya dengan bahasa roh.

Sabtu, 17 Oktober 2009

Bantulah Kami Melaksanakan Kehendak-Mu: Refleksi Berdasarkan Doa Pembukaan Minggu Biasa XXIX

Latin (Missale Romanum 2002):
Omnípotens sempitérne Deus, fac nos tibi semper et devótam gérere voluntátem, et maiestáti tuae sincéro corde servíre. Per Dóminum.

English (ICEL):

Almighty and ever-living God, our source of power and inspiration, give us strength and joy in serving you as followers of Christ.

Indonesia (Ibadat Harian):

Allah yang kekal dan kuasa, bantulah kami melaksanakan kehendak-Mu yang kudus serta mengabdi kepada-Mu dengan hati yang ikhlas. Demi Yesus Kristus.

Bagi saya doa ini sangat mengesan karena didalamnya tertuang pengakuan bahwa melakukan kehendak Allah tidak selalu mudah, bahkan seringkali tidak mudah. Melakukan yang benar itu kadang-kadang bertentangan dengan keinginan pribadi dan minat kita. Kita semua mengalami bahwa hati kita seringkali tidak selaras dengan kehendak Allah. Saya kira pengalaman ini adalah pengalaman kita semua, dan doa ini mewakili kerinduan hati kita semua yang sebenarnya ingin menaati Allah tetapi seringkali kesulitan melawan godaan-godaan yang datang.

Bacaan Epistel tahun B yang diambil dari Ibrani 4 memberikan dasar alkitabiah bagi doa ini: “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah Imam Besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu, marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.”(15-16)

Bacaan ini menyinggung Yesus yang ikut merasakan kelemahan-kelemahan kita namun tidak jatuh dalam dosa. Dan berdasarkan hal itu penulis surat Ibrani meminta kita untuk datang kepada-Nya tanpa malu-malu karena Yesus tahu persis dan telah mengalami sendiri segala kesulitan kita untuk tetap tinggal benar di hadapan Allah. Penulis surat Ibrani menyatakan bahwa hal itu adalah jaminan bahwa Yesus mampu dan mau menolong kita, karena Ia sudah mengalami sendiri semua kesulitan-kesulitan kita.

Terjemahan bahasa Inggris menambahkan kata “our source of power and inspirations” pada diri Allah. Sementara kata ini tidak terdapat dalam teks asli bahasa Latin dan juga tidak muncul dalam bahasa Indonesia, saya kira teks ini cukup menarik. Sosok Yesus yang berani setia kepada Bapa sampai mati memang merupakan suatu kekuatan dan inspirasi bagi mereka yang hendak setia kepada Allah. Perkataan Yesus yang meminta kita “tulus seperti merpati dan cerdik seperti ular” juga merupakan hal yang sangat penting, menaati kehendak Allah bukan berarti naïf dan bego, tetapi juga perlu menggunakan otak.

Contoh yang paling jelas adalah dalam perintah Yesus untuk “memberi pipi kiri jika pipi kanan ditampar, jika orang meminta jubahmu berikan bajumu, jika seorang meminta kamu berjalan dengannya sepanjang satu mil berjalanlah bersamanya sepanjang dua mil”. Yesus tidak menyuruh kita untuk pasrah begitu saja jika dianiaya, tetapi Ia memerintahkan kita untuk melawan kekerasan dan perlakuan tidak adil dengan cara yang kreatif. Sebuah kisah menarik berkaitan dengan kata-kata Yesus ini ditunjukkan oleh pendiri General Motors yang setelah mendengar bacaan ini dibacakan di gerejanya ia terinspirasi untuk mengadakan suatu layanan purna jual (zaman itu belum ada layanan semacam ini, analoginya adalah jika orang memintamu berjalan sepanjang satu mil/menampar pipi kananmu/meminta jubahmu= ingin membeli barang, maka berjalanlah bersamanya sepanjang dua mil/berikan pipi kirimu/berikan juga bajumu= layanilah pembeli juga setelah membeli barang, jadi disini sabda Yesus diartikan sebagai memberi melebihi yang diminta). Apakah usahanya bangkrut karena ia melaksanakan sabda Yesus? Tidak, malahan usahanya makin maju dan berkembang, dan kebangkrutan General Motors dalam krisis ekonomi belakangan ini juga bukan karena prinsip layanan purna jualnya (yang ditiru banyak pengusaha di banyak bidang) tapi karena kerakusan sejumlah pejabat pentingnya (ini memang menyederhanakan persoalannya). Kisah ini menekankan sisi inspiratif dan menguatkan yang datang dari Allah dan membantu kita untuk melaksanakan kehendak-Nya.

Contoh sederhana tadi juga dikuatkan dengan Mazmur Tanggapan tahun B yang menyatakan bahwa “sesungguhnya mata Tuhan tertuju kepada mereka yang takut akan DIa, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya, untuk melepaskan jiwa mereka daripada maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.”(Mzm 33: 18-19)

Nah bagi semua yang merasa sulit mengikuti kehendak Allah dalam hidupmu, datanglah pada-Nya. Ia mengerti kesulitanmu dan hendak membantumu memenuhi kehendak-Nya.

Peringatan St. Ignatius Dari Anthiokhia

St. Ignatius dari Antiokhia (+110) adalah murid dari Rasul Yohanes, menurut tradisi, ia adalah salah seorang anak kecil yang pernah diberkati oleh Yesus. Setelah dewasa ia menggabungkan diri dengan komunitas para Rasul, dan akhirnya menjadi Uskup di Antiokhia. Pada akhir hidupnya ia ditangkap oleh pemerintahan Romawi dan hendak dihukum mati di Roma. Sepanjang perjalanannya ia menulis surat kepada sejumlah jemaat Kristen dan dalam surat-suratnya ia menjelaskan berbagai hal yang dianggapnya perlu bagi perkembangan iman Kristen.
Dalam surat-suratnya Ignatius menekankan pentingnya untuk hidup selaras dengan kehendak Allah dan untuk mengasihi Allah dan sesama. Ia juga menekankan pentingnya kesetiaan kepada Uskup yang sah dan agar umat Kristen menjauhkan diri dari berbagai pengajaran sesat. Ignatius adalah orang pertama yang menggunakan nama “Gereja Katolik” untuk menyebut persekutuan murid-murid Yesus pertama kalinya, ia juga menegaskan peranan Uskup dan Sakramen Ekaristi dalam Gereja.

Dalam suratnya kepada Gereja Roma, Ignatius menyebut Gereja Roma mengajar Gereja lain, dan ia menolak memberi perintah (mengajar) Gereja Roma karena Rasul Petrus dan Paulus telah mengajar Gereja Roma. Mengenai Paulus memang jelas dari Kitab Suci bahwa ia menulis surat ke Roma dan dihukum mati di kota itu. Tetapi mengenai Petrus, Kitab Suci tidak secara eksplisit menunjukkan ia pergi ke Roma atau menulis suatu surat kepada Gereja itu. Maka, pernyataan Ignatius ini menunjukkan bahwa Tradisi mengenai Petrus tinggal di Roma dan menjadi Uskup di kota itu adalah tradisi yang berasal nyaris se-zaman dengan para Rasul.

Di bawah ini ada beberapa kutipan dari pengajaran St. Ignatios yang tentunya juga masih relevan untuk kehidupan Kristen kita pada zaman ini.

Saya tidak memberi perintah kepada kamu seolah-olah saya adalah orang besar. Tetapi, saya terikat karena nama Kristus, saya belum sempurna dalam Yesus Kristus. Sekarang saya mulai menjadi murid-Nya, dan saya berbicara kepadamu sebagai sesama murid Kristus. Iman saya sendiri pun pernah sungguh dikuatkan oleh kamu melalui nasehat, kesabaran, dan penderitaanmu. Tetapi cinta juga mendesak saya untuk tidak diam mengenai kamu, maka saya telah menggunakan kesempatan ini pertama-tama untuk menasehati kamu agar menjalankan segala sesuatunya selaras dengan kehendak Allah. Karena Yesus Kristus, yang tak terpisahkan dari hidup kita, adalah manifestasi dari kehendak Bapa. (Ad Ephesians, I)

Saya mendorong kalian untuk memiliki hanya satu iman, satu macam pewartaan, dan satu Ekaristi. Karena hanya ada satu daging Tuhan Yesus Kristus dan darah-Nya yang ditumpahkan-Nya bagi kita adalah satu; karena hanya satu roti yang dipecahkan bagi semua penerima Komuni, dan satu piala dibagikan bagi mereka semua, dan hanya ada satu Altar bagi seluruh Gereja, dan satu Uskup dengan para Penatua dan Diakonnya. JUga karena hanya ada satu Allah, Bapa yang kekal, dan satu Putera yang Tunggal, Allah, Firman dan manusia, dan satu Penghibur, roh Kebenaran; dan hanya ada satu pewartaan, satu iman, dan satu baptisan, dan satu Gereja yang didirikan oleh Para Rasul dari ujung-ujung bumi dengan Darah Kristus, dan dengan keringat dan usaha mereka sendiri; maka hendaknya kamu juga, sebagai orang yang dikhususkan, dan sebagai bangsa yang suci, lakukanlah segala sesuatu dengan keselarasan dalam Kristus. (Ad Philadelphian, IV)

Janganlah seorangpun melakukan apapun yang berkaitan dengan urusan Gereja tanpa Uskup…Di mana Uskup ada, hendaklah di sana kawanan berada sebagaimana, di mana Yesus Kristus ada, di situlah Gereja Katolik berada.
(Ep. ad Symraean, VIII)

Kalian tidak pernah memusuhi siapapun, kalian telah mengajar yang lain. Sekarang saya ingin agar hal-hal itu, melalui kelakukanmu, dipersatukan dalam pengajaran kalian. Hanya satu permintaanku dari jiwa dan ragaku, yaitu semoga aku tidak hanya berbicara, tetapi sungguh-sungguh mengendakinya, sehingga aku tidak hanya disebut Kristen, tetapi sungguh ditemukan Tuhan sebagai orang Kristen….Aku tidak menyampaikan perintah bagimu, sebagaimana Petrus dan Paulus telah menyampaikannya bagimu. Mereka itu Rasul-rasul, dan aku ini orang terkutuk; mereka bebas, sementara aku sampai saat ini adalah hamba. Tetapi, saat aku menderita aku akan menjadi manusia bebas bagi Yesus, dan akan bangkit bersama Dia. Dan sekarang, sebagai seorang tahanan, aku belajar untuk tidak menginginkan yang duniawi dan fana. (Ad Roman III,IV)