Sabtu, 27 Oktober 2007

Interview dengan Msgr. Guido Marini

CITTA' DEL VATICANO- Ia baru saja tiba di Vatikan: pria berusia 42 tahun dengan aksen Genoanya yang kental, dididik oleh Giuseppe Cardinal Siri dan rekan kerja yang akrab dari Uskupagung Dionigi Tettamanzi, Tarcisio Bertone dan Angelo Bagnasco, dialah Msgr. Guido Marini Ceremoniarius liturgi kepausan yang baru, pengganti dari Msgr. Piero Marini, berbicara pertama kasilnya sejak pengangkatan dirinya untuk tugas yang penting ini dan ia berbicara kepada Petrus (pewawancara yang asli).

Tuanku (Monsignor), pertama-tama selamat datang dan Saya berharap agar pekerjaan Anda berjalan lancar
GM: Terimakasih atas dukungannya, Saya benar-benar membutuhkan itu. Kamu tahu, bahwa Saya masih baru di Roma, dan Saya masih melihat-lihat keadaan, Saya terlibat didalamnya, dan juga ada dalam pikiran Saya bahwa disini ada banyak hal yang harus dikerjakan dan diperhatikan, percayalah.

Jadi kita beralih dari satu Marini kepada yang lainnya: apa yang ingin Anda katakan tentang Piero, pendahulu Anda?
GM: Saya berterimakasih kepadanya dari dalam hati saya. Dia telah melakukan banyak hal bagi Gereja, dia telah melayani dua Paus, dan Saya disini hanya pada permulaan pelayanan Saya.

Katanya tugas Anda itu berat.....
GM: Jelas..Kehidupan setiap ceremoniarius kepausan dipenuhi masalah. Kami ada dalam sorotan, dan kami disini tidak dapat memberikan kelonggaran untuk melakukan kesalahan mencolok.

Banyak yang memperkirakan bahwa Anda dipanggil karena dalam hal liturgi Anda lebih tradisional dan ketat daripada Uskupagung Piero Marini. Tapi apa sebenarnya konsep Anda tentang liturgi?
GM: Apa yang Gereja inginkan dan ajarkan, tidak lebih, tidak kurang. Saya bukan tipe orang yang mencari-cari sesuatu yang baru atau aneh. Mungkin Saya terdengar blak-blakan, tapi liturgi membutuhkan hormat terhadap aturan yang ditetapkan oleh Gereja, dan Saya tidak melihat alasan apapun mengapa Saya harus mengabaikan semua aturan itu.

Katanya di Genoa, dimana Anda bekerja sampai saat ini, liturgi sangat diperhatikan, meriah dan anggun, tanpa ada yang aneh-aneh
GM: Liturgi memang sudah begitu dari hakekatnya. Biarkan Saya mengulanginya: Tidak seorangpun dapat mengesampingkan norma-norma liturgi. Misa adalah pemberian, adalah rahmat, bukan pertunjukkan. Jadi, tidak ada ruang untuk kreatifitas dibuat-buat, tapi ketaatan mutlak kepada norma liturgi.

Paus Benediktus XVI, selain seorang teologian yang hebat, juga seorang liturgis yang baik. Dia memberi banyak sumbangan pemikiran terhadap liturgi, tanggapan Anda
GM: Bekerjasama dengan Bapa Suci akan menjadi rahmat bagi saya. Popularitas Paus memenuhi kepala setiap orang sebagaimana dia mewartakan kebenaran dan semangatnya. Sejauh mengenai liturgi, Saya sepenuhnya sejalan dengan pendapat Paus: Misa adalah kurban.

Menurut Anda, apakah liturgi telah sering dilanggar belakangan ini?
GM: Kamu tahu, Gereja itu besar. tapi sebagaimana Paus juga telah mengakui sendiri dalam suratnya yang menjelaskan Motu Proprio Summorum Pontificum, telah terjadi penyelewengan dan penafsiran keluar jalur dari liturgi. Yang bisa Saya katakan adalah Saya memastikan Saya tidak akan menjadi biang kerok dari penyimpangan apapun, dan Saya akan membatasi diri Saya untuk menerapkan secara sangat seksama aturan yang berlaku sekarang ini.

Dalam hal itu, apa pendapat Anda mengenai Motu Proprio yang memperluas penggunaan Misa Tridentine?
GM: Saya setuju 100% dengan Motu Proprio sebagai tindakan yang sesuai dengan akal sehat, keadilan, kebebasan, dan berpandangan luas.

Artikel ini diambil dari What Does The Prayer Really Say

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar