Selasa, 13 November 2007

Pelarangan Penggunaan Warna Merah Saat Berkabung Dalam Tradisi Cina

Dibawah ini adalah jawabanku yang aku tulis untuk seorang teman yang menanyakan tentang hal yang aku pasang sebagai judul posting ini diatas yaitu bagaimana seorang Kristen bersikap terhadap pantangan memakai warna tertentu (dalam hal ini merah) pada saat masa perkabungan menurut tradisi Cina. Jawabanku disini ditampilkan dengan diedit seperlunya

Pada prinsipnya adalah sangat umum dalam setiap bangsa atau masyarakat punya warna-warna khusus yang mengekspresikan perasaan atau harapan tertentu. Dalam Gereja hal seperti ini pun berlaku misalnya kita punya warna-warna liturgis.

Nah, dalam masyarakat cina aku kira merah biasanya dianggap sebagai warna kegembiraan dan kemakmuran, meskipun aku gak bisa memastikan ini tapi kita toh bisa lihat bagaimana warna ini begitu dominan saat perayaan tahun baru cina dimana orang mengharapkan agar di tahun yang baru segalanya berlangsung lebih baik dan rezeki juga lancar. Dan dari sudut pandang ini sangat wajar kalau warna merah kemudian dilarang untuk dipakai pada masa berkabung (yah anehlah lagi abis ada yang meninggal kok memakai warna yang identik dengan kegembiraan). Bagaimanapun harus ditekankan bahwa kita menolak mitos dan takhayul seperti melanggar pantangan itu (i.e memakai warna merah dalam masa berkabung) akan membawa sial, digentayangin arwah orang yang meninggal, atau apapun. Semua mitos semacam ini tidak bisa mendapat tempat dalam kehidupan iman kita.

Dari dari sisi lain seperti yang juga telah disinggung diatas jelas gak ada keberatan samasekali untuk melestarikan kebiasaan tidak memakai warna merah selama masa berkabung. Malahan, menurut aku, sebaiknya dipelihara toh menjadi Katolik tidak berarti membuang tradisi yang baik dari leluhur kita hanya perlu menyelaraskannya dengan iman kita.

Kedua, sepanjang yang aku tahu warna berkabung tradisional dalam kebudayaan cina adalah putih. Dan aku menemukan hal yang menarik dari
Literatur Lengkap Ajaran Konfusius
Bab 10.6 (dikutip sebagian)
....Sementara untuk masa berkabung, hingga selesai, ia takkan mengenakan perhiasan samasekali. Semua pakaian seragam harus dipotong lebih pendek ketimbang pakaian upacara. Ia tidak pernah mengenakan pakaian berwarna hitam kalau melayat. Pada hari pertama setiap bulannya, kalau menghadap raja, ia harus selalu mengenakan pakaian upacara.

Bagian 10.6 ini lengkapnya berbicara tentang cara memilih pakaian bagi orang terhormat. Dan disini dikatakan bahwa memakai pakaian hitam kalau melayat adalah tidak layak bagi orang terhormat. Tapi rasanya orang-orang keturunan cina di indonesia mulai cukup biasa untuk mengenakan pakaian hitam kalau melayat. Jadi rasanya ada pergeseran tradisi disini.

Aku cukup yakin bahwa pemilihan warna dalam hal ini sebenarnya hanya menggambarkan bagaimana suatu komunitas memandang arti dari suatu warna (dan bukannya mitos-mitos). Di Cina pada masa lalu rupanya putih dianggap lebih mengungkapkan perasaan dukacita atau mungkin juga menggambarkan bagaimana seorang yang mati adalah polos dimana dia tidak membawa harta atau benda materi lainnya yang telah diperoleh didunia ini semua ditinggalkan sehingga dibandingkan hitam sehingga warna putihlah yang dipakai.

Dalam liturgi Gereja sendiri pengaturan warna sebenarnya tidaklah seketat yang dibayangkan orang. Umumnya orang Katolik pasti sudah tahu pembagian itu garis besarnya, yang jarang orang tahu adalah dalam pesta-pesta besar pakaian liturgis yang bahannya paling bermutu boleh dipakai walaupun warnanya tidak sesuai dengan aturan umum (mis waktu Natal ungu bisa dipakai kalau memang bahan untuk stola dan kasula ungu lebih bermutu dibandingkan yang warna putih) dan juga ada pengaturan yang berbeda untuk ritus non-latin serta sejumlah pengecualian yang memang tidak diberikan dengan gampang bagi beberapa keuskupan (di Toledo misalnya pada pesta-pesta Maria dan masa Adven dipakai biru dan bukan putih dan ungu) atau pengecualian untuk Paus (pada Misa Arwah untuk para Paus dipakai merah).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar