Minggu, 11 Mei 2008

Sorang Penolong Yang Lain

Hari ini kita merayakan hari Pentakosta, dan karena Injil pada hari ini diambil dari Yohanes 20: 19-23 maka dalam tulisan ini kita akan mencoba merenungkan mengenai Roh Kudus terutama dari sudut pandang Injil Yohanes.

Yesus menyebut Roh Kudus sebagai seorang Penolong yang lain (Yoh 14:15) yang akan menyertai kita selama-lamanya. Jika kita mendengar kata “seorang penolong” kita tentunya akan berpikir tentang seorang yang bersedia membantu kita dalam semua kesulitan kita seperti halnya Doraemon bagi Nobita. Gambaran seperti itu tidak sepenuhnya salah, tetapi rasanya bukan itu yang dimaksudkan oleh Yesus ketika dia menyebut Roh Kudus sebagai “seorang Penolong yang lain”.

Yesus menyebut Roh Kudus sebagai penolong atau dalam bahasa yunaninya parakletos, kata yunani parakletos ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa latin sebagai advocatus. Kata yang terakhir ini tentu sudah tidak terlalu asing lagi, kita pun masih menggunakan istilah itu dengan arti yang kurang lebih tetap sama. Kata itu menunjuk kepada seseorang yang dipanggil untuk mendampingi seorang yang sedang digugat atau menjalani tuntutan di pengadilan. Seorang advocatus memberi saran, nasehat atau memberikan pembelaan agar orang yang memanggilnya tidak terkena atau terbebas dari tuntutan pengadilan. Dan Roh Kudus adalah “seorang Penolong” pertama-tama dalam arti yang semacam ini.

Dalam kitab Wahyu, yang menurut tradisi juga ditulis oleh Rasul Yohanes yang menulis Injil ini, iblis digambarkan sebagai seorang pendakwa (dan kata aslinya dalam bahasa ibrani memang berarti demikian) yang mendakwa kaum beriman siang malam dihadapan Allah kita (Why 12:10). Iblis, pendakwa kita disebut sebagai pembunuh manusia sejak semula, dia adalah pendusta dan bapa segala dusta (Yoh 8:44). Iblis ingin agar kita ditemukan bersalah dihadapan Allah, ia menginginkan kita bercela seperti yang dulu ia lakukan terhadap Ayub (Ayb 1:7-12). Ia menyerang, menyakiti dan membujuk kita supaya berdosa. Santo Petrus menggambarkannya sebagai singa yang berkeliling dan mencari korbannya (1 Petrus 5:8). Dengan gambaran semacam itu cukup dimengerti bahwa kita sangat membutuhkan seorang advocatus yang selalu mendampingi kita.

Jika si pendakwa disebut sebagai pendusta dan bapa segala dusta maka Penolong kita itu disebut sebagai Roh Kebenaran (Yoh 14:17). Di atas tadi kita telah membahas bagaimana pendakwa kita begitu ingin membuat kita bersalah di hadapan Allah sehingga kita dihukum. Tetapi Penolong kita adalah Roh Kebenaran, dan kebenaran itu memerdekakan (Yoh 8:32; 2Kor 3:17). Penolong kita itu menginsyafkan kita akan dosa, kebenaran dan penghakiman (Yoh 16:8-11), menuntun kita kepada seluruh kebenaran (Yoh 16:13) dan memberitakan segala yang telah diterimaNya dari Kristus (Yoh 16:14-15). Itulah Penolong kita yang membantu kita mengalahkan pendakwa kita, si iblis, yang ingin kita bersalah di hadapan Allah dan dihukum, Penolong ini diutus untuk membantu kita hidup benar sehingga kita tidak ditemukan bercela di hadapan Allah (1 Tes 5: 23) sehingga kita pun terbebaskan dari tuduhan dan hukuman.

Kita tahu bahwa iblis menanamkan kekuasaannya dalam diri kita melalui dosa, karena alasan itu juga maka Roh Kudus dihubungkan dengan pengampunan dosa, yang melaluinya kita menerima penyembuhan dari racun mematikan yang ditanamkan iblis dalam diri kita. Maka tidaklah heran jika dalam Injil Yohanes Roh Kudus juga dihubungkan dengan kuasa untuk mengampuni dosa, seperti yang kita baca dalam Yohanes 20: 22-23 dimana para Rasul menerima kuasa untuk mengampuni dosa berkat penghembusan Roh Kudus oleh Yesus kepada mereka. Rumusan absolusi dalam sakramen tobat pun menegaskan hal yang sama:

Allah Bapa yang berbelas kasih,

melalui wafat dan kebangkitan PuteraNya

telah mendamaikan dunia dengan diriNya

dan mengutus Roh Kudus untuk pengampunan dosa;

melalui pelayanan Gereja semoga Allah memberikan

pengampunan dan damai kepada saudara,

dan aku melepaskan kamu dari segala dosamu

dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus.

Akhirnya kita juga melihat bahwa Roh Kudus selalu digambarkan seperti angin. Pada hari Pentakosta tiupan angin kencang mendahului kedatanganNya (Kis 1: 2) dan diberikan dengan hembusan (Yoh 20:22) kepada para Rasul supaya mereka menerima kuasa mengampuni dosa. Adalah menarik untuk diperhatikan bahwa kata “roh” dalam bahasa ibrani adalah ruah dan dalam bahasa yunani adalah pneuma yang bisa berarti angin, nafas, hembusan, atau nyawa. Namun gagasan utama dari kata ruah dan pneuma ini adalah suatu daya yang menghidupkan, yang menggerakan, dan tidak bisa dibendung seperti halnya angin berhembus ke arah mana yang dikehendakinya. Dari sini kita dapat membayangkan bahwa ketika st. Paulus mengatakan bahwa Tuhan adalah Roh, dan dimana Roh Allah berada disitu ada kemerdekaan (2 Kor 3:17) ia merenungkan bahwa Allah adalah sumber hidup dan kekuatanNya tak dapat dibendung, Ia bebas dan tidak dikendalikan oleh kekuatan lain yang berada di luar diriNya.

Roh Kudus juga kadang digambarkan dengan merpati (Yoh 1:32), menurut Yves Congar bukanlah kebiasaan Yahudi untuk menggambarkan Roh Allah sebagai merpati, sebaliknya dalam tradisi rabbinik merpati adalah gambaran bagi umat Allah. Di sini kita melihat bahwa Roh Kudus dihubungkan dengan umatNya, pertama-tama Israel dan kemudian Israel sejati yaitu Gereja. Dari sini juga kita dapat memahami mengapa st. Paulus menekankan peranan Roh Kudus bagi kesatuan Gereja (1 Korintus bab 12 seluruhnya, ingat juga bahwa sebagian dari bab ini muncul sebagai bacaan kedua hari ini). Roh Allah tidak memecah belah tetapi menghimpunkan kita menjadi satu tubuh, menjadi satu Gereja.

Saya kira semua gambaran ini memberikan sedikit keterangan mengenai siapa Roh Kudus itu, Ia adalah pembela yang menuntun, penyembuh, dan Ia juga dinamis dan menggerakan dan lebih lagi Ia mempersatukan kita. Ketika kita menyerahkan diri kita kepada pimpinan Roh ini berarti kita menata hidup kita menurut kehendakNya. Kita menuruti bimbinganNya untuk menghindarkan yang jahat serta baik dan benar, menerima tawaran penyembuhan dan kekuatan dariNya melalui doa dan sakramen. Di sisi lain juga berarti kita menerima semangat, kekuatan dan ke-fleksibel-an atau dinamismenya. Dan jika kita mencari model orang macam apakah yang dipimpi~ luh0Rh0itu< }a{a0jqwqbqn~ya adalah Yesus. Sulit sebenarnya untuk menggambarkan seperti apa Yesus dalam beberapa kata, tapi saya kira tidak lah terlalu salah untuk mengatakan Dia sebagai orang yang; teguh, punya prinsip, tenang dan fleksibel dengan keadaan. Sebenarnya ada istilah singkat lain yang lebih tepat untuk menggambarkan seperti apa Yesus itu, yaitu “pribadi yang seimbang” tetapi istilah ini terlihat terlalu abstrak, setidaknya bagi saya sendiri. Jika kita mengikuti bimbingan Roh kita akan menjadi orang yang semacam itu, dan aku suka kata-kata dari seseorang (tante Olly persisnya) “kalian gak akan gila”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar