Jumat, 12 September 2008

Paulus: Rasul Sukacita Kristus

Jika seseorang ditanya apa yang membuat dia bersukacita maka kita akan mendapat jawaban berupa hal-hal yang menyenangkan seperti: lulus ujian, mendapat perkerjaan atau naik gaji, mendapat pasangan hidup dan semacamnya, dan ini sangat wajar dan manusiawi, hal-hal semacam itu memang membuat hati kita menjadi penuh sukacita. Tetapi, hidup kita tidak selalu diisi oleh hal-hal yang menyenangkan, seringkali kita harus menanggung banyak kesusahan. Kesusahan seperti itu kadang membuat kita sedih dan kehilangan sukacita kita, hal-hal seperti; orang yang disayangi meninggal, kebakaran rumah, tidak lulus ujian, atau kehilangan pekerjaan jelas membuat kita sedih, dan kesedihan ini wajar dan manusiawi.

Paulus mengatakan kepada umat di Filipi untuk bersukacita, ia mengatakan: “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah” (Filipi 4:4). Disini kita diminta untuk selalu bersukacita, selalu berarti tanpa henti, dalam segala keadaan kita harus terus bersukacita. Apakah ini mungkin? Apakah bersukacita di tengah segala kesusahan hidup yang kita alami itu mungkin? Kalau ditanya “mungkin” atau “tidak mungkin” jawabannya yah jelas mungkin saja, toh dalam hidup sehari-hari kita juga bisa melihat bagaimana orang bisa tetap bersukacita walaupun ia harus menanggung kesusahan dalam hidupnya. Contoh yang paling sederhana adalah melihat bagaimana misalnya para orang tua harus bekerja keras demi mencukupi kebutuhan hidup anak-anaknya, seringkali para orangtua harus bekerja sangat keras namun mereka melakukannya dengan penuh sukacita. Mereka mungkin jengkel dengan bos di kantor atau pelanggan di toko, dan beratnya pekerjaan mungkin membuat mereka stress juga, tapi mengingat bahwa semua ini dilakukan untuk anak menimbulkan suatu sukacita tersendiri. Saya kira hal ini benar pada kebanyakan orang tua kita, dan Anda yang menjadi orang tua saya rasa juga mengalami sendiri hal ini. Jadi pada prinsipnya apa yang diperintahkan Kitab Suci bukanlah sesuatu yang tidak mungkin. Kita mungkin belum mampu melakukannya tapi kita dapat mengetahui dengan pasti bahwa dibantu dengan rahmat Allah kita bisa mencapai hal itu.

Allah memerintahkan kita untuk selalu bersukacita melalui Paulus, seorang Rasul besar yang memiliki peranan istimewa mengembangkan Gereja pada masa-masa awal berdirinya. Paulus bernama asli Saulus adalah seorang Yahudi yang lahir di Tarsus (Kis 22:3) sebuah daerah yang sekarang ini berada di Republik Turki, yang memiliki kewarganegaraan Romawi sejak lahir (Kis 22:8) dan dari situ kita dapat menyimpulkan ia berasal dari keluarga yang memiliki status sosial cukup tinggi karena dalam kekaisaran Romawi seorang non-Roma yang memperoleh kewarganegaraan Roma adalah sesuatu yang istimewa. Saulus adalah seorang yang terpelajar dalam hal hukum taurat menurut tradisi farisi, ia belajar di bawah bimbingan Gamaliel dan mahir berbahasa Ibrani (Kis 22:2-3). Ketika Saulus bertemu dengan Yesus ia menjadi buta dan perlu dituntun (Kis 9:9; 22:11), dan disini Paulus belajar untuk tidak lagi melihat dengan matanya sendiri dan menuntun dirinya sendiri, sejak saat itu ia bukan lagi dirinya tapi Kristus yang hidup dalam dia dan hidupnya yang sekarang adalah hidup dalam iman akan Putera Allah yang telah mengasihi dia dan menyerahkan diriNya untuk dia (Gal 2:20).

Penyerahan diri kepada Kristus memiliki akibat yang sangat panjang bagi Paulus ia mengalami banyak hal yang tidak menyenangkan; dianggap penipu entah oleh orang Yahudi ataupun sebagian orang Kristen yang menentangnya, ia pernah dipukuli sampai hampir mati, kapalnya pernah tenggelam dan ia kelaparan, ia dipenjara beberapa kali, dan akhirnya dipenggal di Roma setelah permohonan bandingnya ditolak Kaisar. Paulus menyebut dirinya pernah mengalami apa itu kelimpahan dan kekurangan (Filipi 4: 12). Kita bisa memperkirakan bahwa ia mengalami kelimpahan sebelum ia bertemu Yesus dan mulai kekurangan sesudah bertemu Yesus. Sangat sulit membayangkan Saulus yang berasal dari keluarga Yahudi elite dan mampu memperoleh pendidikan yang baik adalah seorang yang berkekurangan, sementara sangat mudah membayangkan Paulus yang ditengah perjalanannya sebagai pewarta Injil masih harus menjalankan bisnis kecil-kecilan sebagai tukang tenda untuk mencari makan (Kis 18:1) adalah orang yang hidupnya serba pas-pas an.

Paulus mengatakan: “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! (Filipi 4: 4-5)”. Bagi Paulus “sukacita”, “kebaikan hati” dan “Tuhan sudah dekat” adalah sesuatu yang saling berkaitan. Istilah “Tuhan sudah dekat” menunjuk kepada kedatangan Tuhan, saat akhir dan final dari penyelamatan manusia, saat dimana Yesus datang mengadili semua orang; yang baik akan hidup kekal dan yang jahat akan dihukum (Yoh 5: 28-29; 2 Kor 5: 10). Ini menjelaskan kepada kita mengapa pesan “Tuhan sudah dekat” memiliki kaitan yang erat dengan “bersukacita” dan “kebaikan hati”. Kalau Tuhan sudah dekat maka kita semua sepantasnya bersukacita karena saat penyelamatan kita yang akhir dan final sudah semakin dekat, kita menyambut datangnya saat itu dengan berbuat baik agar nanti kita menerima pemenuhan janji keselamatan dari Yesus.

Di sini kita melihat kaitan antara sukacita dan harapan. Di awal saya menggunakan contoh orang tua untuk menunjukkan bahwa bersukacita dalam saat susah dan tidak menyenangkan adalah sesuatu yang masih mungkin bagi manusia biasa semacam kita ini. Kalau kita melihat contoh itu lagi kita juga bisa melihat bahwa sukacita itu juga berhubungan dengan harapan orang tua akan masa depan yang indah bagi anaknya. Orang tua yang memiliki harapan akan masa depan yang baik bagi anaknya memiliki kemampuan untuk tetap bersukacita walaupun ia harus menderita demi mencukupi kebutuhan-kebutuhan anaknya. Disini kita melihat sekali lagi bahwa hal ini secara alami juga dapat dibenarkan.

Katekismus Gereja Katolik mengungkapkan hubungan antara harapan akan kedatangan Tuhan dan kegembiraan sebagai berikut: “Kebajikan harapan adalah kebajikan teologal yang dengannya kita menginginkan Kerajaan Surga dan kehidupan abadi sebagai kebahagiaan kita, dengan menaruh kepercayaan pada janji Kristus dan bukan bersandar pada kekuatan kita sendiri, tapi dalam pertolongan rahmat Roh Kudus. Kebajikan harapan menanggapi kerinduan manusia akan kebahagiaan yang telah Allah tempatkan dalam hati setiap orang; ia mengangkat harapan yang menginspirasi semua akifitas manusia dan memurnikannya serta mengarahkannya kepada Kerajaan Surga; kebajikan harapan memelihara manusia dari keputusasaan, menguatkannya pada masa kesusahan; membuka hatinya untuk menginginkan kebahagiaan kekal. Dipenuhi harapan, orang dibebaskan dari keegoisan dan dituntun kepada kebahagiaan yang mengalir dari cinta kasih” (KGK no. 1817 dikutip sebagian dan 1818).

Hubungan antara sukacita, harapan akan kedatangan Tuhan dan perbuatan baik sebagaimana kita lihat dalam tulisan St. Paulus juga diungkapkan oleh St. Teresa dari Avila yang mengatakan kepada jiwanya: “ Berharaplah, jiwaku, berharaplah. Kamu tahu tidak tahu kapan hari dan waktunya. Berjagalah dengan cermat, bahkan sekalipun ketidaksabaranmu membuat kamu meragukan apa yang pasti dan mengubah waktu yang sebenarnya sangat singkat menjadi sangat lama. Bayangkanlah bahwa semakin kamu berjuang, semakin kamu membuktikan cintamu kepada Allah, dan semakin kamu akan bersukacita bersama Dia yang kamu cintai, dalam kebahagiaan dan pengangkatan yang tidak akan berakhir” (Exclamaciones del alma a Dios 15: 3, dikutip dari KGK no. 1821).

Sampai di sini, marilah kita mencoba meringkas apa yang telah kita bahas sebelumnya. Paulus selalu bersukacita dalam setiap peristiwa yang ia alami karena ia memiliki harapan akan Kristus yang menyelamatkannya dan yang memiliki rencana indah atas hidupnya. Harapan inilah yang menggerakan Paulus untuk terus bekerja di ladang Tuhan dan menebarkan benih injil dalam seluruh perjalanan kerasulannya dan harapan ini juga yang menggembirakan dia dalam segala kesusahan dan kegagalan yang dialaminya, dia tetap gembira dan tetap optimis serta tetap tekun dalam pekerjaannya apapun yang terjadi karena harapannya ia dasarkan pada Kristus yang selalu setia kepadanya.

Kita semua juga mengalami banyak kesulitan dalam hidup kita, kadang terasa begitu menghimpit sehingga membuat kita hampir kehilangan semangat. Jika kita percaya kepada Kristus yang telah menaklukkan kematian, maka kita tahu bahwa seburuk apapun situasi kita Allah mampu mengubahnya menjadi sesuatu yang baik. Harapan itu lah yang membuat kita selalu bergembira, tidak ada sesuatu yang benar-benar buruk karena Allah selalu mampu mengubah keburukan menjadi kebaikan, bahkan Ia telah mengubah kematian menjadi kehidupan. Jika kita benar-benar percaya akan Allah yang bangkit dari mati, maka dalam kesulitan seberat apapun kita harus atau mungkin lebih enak dikatakan kita diajak untuk selalu optimis dan selalu tekun melakukan apa yang baik dan benar dan untuk selalu bersukacita karena kita percaya akan akhir bahagia yang disediakan Allah untuk kita. Paulus mengatakan “Spe salvi facti sumus” Kita diselamatkan dalam pengharapan (Rom 8: 24). Semoga kita menaruh harapan kita hanya pada Kristus dan selalu bergembira karenanya!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar