Selasa, 19 Mei 2009

Daripada Pergi Kepaksa Mending Gak Usah?

Itu adalah alasan paling ‘suci’ yang bisa dikemukakan kalau orang tidak pergi ke Misa pada hari minggu atau hari raya wajib sementara dia tidak punya alasan-alasan berat yang sah untuk melalaikan kewajiban hari minggu atau hari rayanya. Kalau diperhatikan alasan ini ada sedikit benarnya daripada pergi ke Misa dengan terpaksa, di Gereja juga hanya ngobrol sana-sini atau sms-an yah lebih baik tidak pergi, toh di Gereja juga kehadiran kita yang tidak niat mungkin malahan akan menganggu orang lain yang ingin mengikuti Misa dengan khusyuk.

Untuk hari-hari biasa atau hari yang tidak termasuk hari raya wajib dan minggu alasan semacam ini sah-sah saja, bahkan kalau Anda malas ke Misa harian karena alasan-alasan tidak penting seperti ingin menonton siaran langsung Copa America sampai selesai (yang kadang pertandingannya baru selesai jam 6.30 WIB) atau karena ingin tidur sebentar sebelum ke kantor setelah jatah istirahat malam terbuang karena ada siaran langsung pertandingan Liga Champion atau malah sekedar malas tanpa alasan yang jelas sekalipun, itu sah-sah saja. Tidak perlu memaksakan diri untuk sesuatu yang tidak wajib. Mengikuti Misa harian itu baik dan dianjurkan, tetapi tidak harus, hal ini sifatnya sukarela dan sesuka hati Anda.

Tetapi, untuk hari minggu dan hari raya wajib apakah alasan ini bisa diterima? Tidak. Mengikuti Misa pada hari minggu dan hari raya wajib adalah harus kecuali ada alasan-alasan berat seperti mengurus orang sakit, atau sakit yang memang membuat orang tidak mampu ikut Misa, atau mengurus anak atau orang lanjut usia yang tidak dapat ditinggal sendirian di rumah, atau pekerjaan yang secara langsung berkaitan dengan kepentingan umum, atau berada di tempat asing yang tidak diketahui dimana ada tempat ibadat Katolik dan untuk alasan-alasan lain yang disetujui oleh imam (percayalah, kebanyakan imam di Indonesia akan sangat murah hati untuk soal ini). Sementara itu, jika orang dengan sengaja melalaikan diri dari kewajiban untuk mengikuti Misa pada hari minggu dan hari raya wajib tanpa alasan-alasan berat maka ia jatuh ke dalam dosa berat (KGK no. 2181). Konsekuensinya orang ini tidak boleh menerima Komuni sebelum ia menerima Sakramen Tobat terlebih dahulu.

Kewajiban hari minggu dan hari raya ini memang cukup dipenuhi dengan menghadiri salah satu entah Misa pada hari raya yang bersangkutan atau pada sore hari menjelang hari raya yang bersangkutan, sehingga cukuplah menghadiri Misa malam Natal saja dan Misa pada pagi harinya tidak usah kalau memang tidak niat, begitu juga pada saat Paskah cukup menghadiri salah satu dari malam Paskah atau Misa pada hari raya Paskah saja, sama seperti Misa sabtu sore sudah memenuhi kewajiban untuk ke Misa pada hari minggu. Sementara pada Tri Hari Suci kalau memang malas, tidak usah memaksakan diri mengikuti Misa Mengenang Perjamuan Terakhir (yang umum disebut Kamis Putih) atau mengikuti Peringatan Sengsara Tuhan (yang umum disebut Jumat Agung) karena keduanya bukanlah hari raya wajib! Kedua hari itu tidak muncul di daftar hari raya wajib Gereja universal yang ada di KGK no.2177, dan yang oleh Gereja Indonesia sebagian dihapuskan sifat wajibnya, sehingga hanya ada dua hari raya wajib yang jatuh di luar hari minggu yaitu Natal dan Kenaikan Tuhan, sementara sisanya menjadi tidak wajib atau digeser ke hari minggu. Kamis Putih adalah Misa harian dengan acara yang sedikit spesial, sementara Jumat Agung tidak ada Misa jadi memang bukan hari raya dan tidak mungkin wajib. Tentu dianjurkan untuk pada hari-hari spesial itu mengikuti seluruh rangkaian ritual seperti kalau malam Natal sudah Misa maka paginya Misa lagi, dan untuk mengikuti Kamis Putih, Jumat Agung, Vigili Paskah, dan Paskah, tetapi ini tidaklah wajib, bagi yang malas atau capek silahkan mengambil batas minimal saja yaitu mengikuti salah satu dari Misa Vigili Paskah atau Misa hari raya Paskah.

Tapi bagaimana dengan soal ikut Misa secara terpaksa atau malas-malasan dan akhirnya datang hanya karena merasa wajib datang? Itu memang tidak ideal, tetapi setidaknya kita bisa melakukan beberapa hal untuk memastikan kita memenuhi batas minimum mengikuti Misa. Gereja meminta kita untuk berpartisipasi aktif dalam Misa, jadi pertama kita akan melihat apa dulu artinya partisipasi. Kata part-isipasi artinya setiap orang melakukan bagiannya dalam satu tindakan (actio) bersama yang dalam konteks liturgi mengacu kepada “Doa Syukur Agung” tindakan liturgis yang sejati dan puncak dari Perayaan Ekaristi (Joseph Ratzinger, The Spirit of The Liturgy, p. 171-172). Jadi kalaupun sedang tidak niat sekalipun, paksakanlah diri untuk berkonsentrasi pada bagian Doa Syukur Agung (mulai dari dialog sebelum Prefasi sampai “Amin” meriah yang mengakhirinya) dan terutama pada saat “Terimalah makanlah, inilah Tubuh-Ku” dan “Terimalah minumlah, inilah Piala Darah-Ku”. Tidak terlalu sulit kan memenuhi ini?

Selanjutnya kita berpartisipasi dalam Misa dengan cara yang lebih penuh dengan menyambut Komuni. Bagaimanapun hanya mereka yang dalam keadaan rahmat (tidak berdosa berat) yang boleh menyambut Komuni. Mereka yang minggu lalu tidak pergi ke Misa tanpa alasan berat, yang menikah tidak secara Katolik dan belum dibereskan, mereka yang bercerai dan kawin lagi, yang habis menonton film porno, bermasturbasi, memakai kontrasepsi buatan, berhubungan badan dengan yang bukan istri sahnya, memarahi orang secara tidak proporsional dengan kesalahannya, melakukan kebohongan serius, mencuri dengan akibat kerugian serius pada yang dicuri atau dosa-dosa berat lainnya jangan menyambut Komuni sebelum menerima Sakramen Tobat terlebih dahulu. Tidak ada perbuatan yang lebih mengacaukan keagungan Misa selain dari menyambut Komuni dalam keadaan berdosa berat. Dan juga harap diingat bahwa mereka yang menyambut Komuni dalam keadaan berdosa berat melakukan dosa berat baru yaitu pelecehan terhadap Tubuh dan Darah Tuhan. Namun tidak bisa menerima Komuni bukanlah alasan untuk tidak ikut Misa, mereka yang terhalang untuk menyambut Komuni tetap terikat kewajiban untuk mengikuti Misa dan tidak menyambut Komuni.

Saat pembagian Komuni, itu adalah saat doa, daripada ribut lebih baik berlutut dan memandang Tubuh Tuhan yang dibagikan kepada mereka yang sedang menerima, atau sekedar memandang Altar yang adalah meja perjamuan Tuhan dan tempat kurban-Nya dihadirkan, tidak perlu pusing memikirkan apa yang mau didoakan, pandanglah saja, memandang wajah Allah adalah aktifitas surgawi kita (Wahyu 22: 4). Pandanglah Dia, itu lebih berarti daripada banyak kata-kata yang dapat kita ucapkan. Juga perlu diperhatikan sikap tubuh saat berjalan dalam antrian Komuni dan menerima Tubuh (dan Darah) Tuhan, lakukanlah dengan sikap lahir yang menunjukkan sikap batin yang tepat sesuai iman kita yaitu yang menunjukkan rasa hormat dan cinta kepada Tuhan yang hadir dalam rupa Roti dan Anggur.

Secara lahiriah partisipasi aktif itu ditunjukkan dengan mengikuti semua petunjuk mengenai sikap badan dan ucapan yang harus dilakukan dalam Misa. Sepanjang pengamatan saya mereka yang kelihatannya pergi ke Misa secara tidak niat sekalipun akan tetap berdiri, duduk, atau berlutut sesuai tata cara. Yang harus diperbaiki hanya mulut dan tangan yang terlalu sibuk dengan sms, dan biasanya hal ini mulai berlangsung saat homili selain dari saat pembagian Komuni yang telah dibahas diatas. Kalau merasa bosan dengan homili dan ingin mengobrol atau ber-sms ria, lebih baik ambil buku TPE dan ucapkan dalam hati mazmur-mazmur yang ada disana, atau sekedar membaca bacaan-bacaan Misa yang ada di teks yang disediakan. Ini lebih baik daripada ngobrol atau ber-sms ria. Jika masih bosan maka persembahkanlah semua rasa bosan dan ngantuk itu kepada Allah, ini bisa dilakukan dengan doa sederhana seperti, “kupersembahkan kepada-Mu Tuhan semua rasa bosan dan ngantuk ini sebagai silih (satisfaction) atas dosa-dosaku dan untuk dosa-dosa imam yang membawakan homili. Terimalah persembahan sederhana ini dalam persatuan dengan persembahan Kurban Tubuh dan Darah Putera-Mu yang sebentar lagi akan dihadirkan diatas Altar”. Doa sederhana ini tentunya tidak akan menghilangkan rasa bosan dan ngantuk tetapi dapat membuat rasa bosan dan ngantuk itu menjadi bermanfaat untuk kesejahteraan rohani kita sendiri.

Satu lagi, ucapkanlah bagian-bagian Misa yang memang diperuntukkan bagi umat seperti “Amin”, “dan bersama rohmu”, “syukur kepada Allah”, dan bagian-bagian lain yang biasa disebut ordinarium (kecuali kalau koor menyanyikannya dalam melodi yang susah dinyanyikan apa boleh buat). Mungkin Anda bertanya, apa gunanya mengucapkan kalau tidak mengerti maknanya? Ekaristi adalah misteri yang tidak terkatakan, jadi pengertian kita hanyalah dangkal saja, tidak usah terlalu pusing soal mengerti atau tidak. Di masa lalu Misa diselenggarakan hanya dalam bahasa latin dan telah menghasilkan ribuan orang kudus yang dikanonisasi resmi oleh Gereja (dan entah berapa puluh atau ratus juta orang kudus lain yang tidak dikanonisasi resmi), dan banyak (bahkan mungkin kebanyakan) santo-santa ini tidak mengerti dengan pikiran mereka apa yang diucapkan di Misa karena mereka memang tidak bisa bahasa latin. Jadi kalau Anda merasa kesulitan mengerti apa maksudnya teks-teks Misa itu, berbahagialah, Anda punya banyak teman di surga dan mungkin Anda berbakat menjadi salah satu dari mereka.

Partisipasi yang paling mendasar adalah sikap batin. Dan sikap batin yang diminta ada dalam Misa adalah; penyembahan, penyesalan, syukur, permohonan dan terutama adalah ketaatan kepada Allah (Fr. William Most, A Basic Catholic Catechism, Part 12) karena ketaatan kepada Bapa lah Kristus mempersembahkan diri-Nya sebagai Kurban (Ibr 10: 5-7). Jadi jelaslah kalau orang datang ke Misa dengan motifasi yang seringkali dianggap sebagai motifasi yang paling ‘miskin’ yaitu datang karena kewajiban sebenarnya dia sudah memenuhi sikap batin yang paling mendasar, yaitu datang untuk melakukan kehendak Allah yang melalui Gereja memerintahkan dia hadir di Misa. Tentunya semua sikap batin itu harus ada dan tidak cukup hanya salah satunya saja, tetapi tidaklah harus dalam bentuk yang sempurna meskipun semakin baik semakin intimlah partisipasi kita. Bagaimanapun, mereka yang datang ke Misa sekedar karena kewajiban jelas tidak sama dengan mereka yang memilih tidak ke Misa daripada datang juga karena terpaksa. Mereka yang datang dengan terpaksa namun tetap datang karena wajib sekurangnya telah menunjukkan ketaatan mereka kepada Allah yang melalui Gereja-Nya telah mewajibkan mereka untuk mengikuti Misa, inilah persembahan terbaik yang bisa kita bawa ke dalam Misa untuk dipersembahkan kepada Allah dalam persatuan dengan persembahan Kurban Tubuh dan Darah Kristus, yaitu ketaatan kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar