Minggu, 12 Agustus 2007

Judith and Mary

Aku tidak salah ketik! Kita tidak membicarakan “Judy and Mary” yang menyanyikan salah satu opening theme dari Rurouni Kenshin -kalau tidak salah ingat judulnya “Sobakazu”. Bacaan Misa dalam Missale Romanum 1962 (Tridentine) pada Hari Raya Maria Diangkat ke Surga memang bercerita tentang dua tokoh ini (Bacaan Injil diambil dari Luk 1: 41-50).

Pertama, mari kita lihat Judith. Judith adalah seorang janda yang dikenang dalam sejarah Israel sebagai pahlawan karena membinasakan musuh besar mereka Holofernes. Dengan berani Judith masuk ke dalam perkemahan musuh, dengan kecantikannya ia berhasil membuat musuh lengah dan Holofernes yang tak mampu menahan diri mengajaknya masuk ke kamar. Saat Holofernes tertidur maka beraksilah Judith dan matilah penindas bangsa Israel itu.

Tokoh Maria, tentu tak asing lagi. Liturgi hari ini memparalelkan keduanya, Judith adalah seorang perempuan cantik yang hidup benar dan dibimbing Allah untuk membunuh musuh Israel, dan Maria perawan yang cantik tak bernoda juga dalam kesatuan dengan Puteranya membinasakan musuh sejati umat manusia yaitu setan.

Dalam bacaan hari ini dikatakan tentang Judith:
“Allah yang mahatinggi memberkati engkau, hai anakku, lebih daripada semua perempuan di atas bumi: dan terpujilah Tuhan Allah, yang menciptakan langit dan bumi! Ia telah membimbing engkau untuk menghancurkan kepala panglima para musuh kita. Sungguh kenangan akan kepercayaanmu tak pernah akan lenyap dari hati manusia yang selama-lamanya akan mengenangkan kekuatan Allah. Sebab engkau tidak menyayangkan hidupmu sendiri ketika bangsa kita direndahkan. Sebaliknya engkau telah mencegah keruntuhan kita dengan berlaku benar di hadapan Allah kita! Engkaulah keluhuran Yerusalem, kebanggaan besar bagi Israel dan kemegahan besar bagi bangsa kita.” (Yudit 13:18, 19, 20; 15:9b)

Dalam teks ini kita juga dapat melihat hidup Perawan Maria, yang tidak menyayangkan hidupnya sendiri ketika bangsa manusia direndahkan dalam kekuasaan setan. Maria menyerahkan dirinya kepada kehendak Allah untuk menjadi ibu dari Penebus kita dan dengan demikian membuka jalan bagi hancurnya kepala ular. Maria juga telah mencegah keruntuhan manusia dengan berlaku benar dihadapan Allah, bertolak belakang dengan Hawa yang percaya kepada tipu daya ular, maka Maria lebih memilih untuk percaya pada Gabriel yang membawa berita dari Allah, sehingga iblis yang memperdaya wanita pada pohon pengetahuan yang baik dan jahat kini harus takluk pada pohon salib karena kepercayaan seorang wanita.

Kepada dua wanita perkasa ini Gereja menyanjung mereka dan bernyanyi:
“Engkaulah keluhuran Yerusalem, kebanggaan besar bagi Israel dan kemegahan besar bagi bangsa kita.”

Kisah hidup kedua pribadi ini memberi pesan yang sama kuat bahwa mereka yang dianggap lemah justru dipilih Allah untuk membinasakan mereka yang dianggap kuat. Allah hanya membutuhkan kesediaan dan kesetiaan kita dan dengan itu Ia akan melakukan hal-hal besar bagi kita.

Hari ini Perawan Maria diangkat ke Surga, para malaikat bergembira! Alleluia! (Bait Pengantar Injil)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar