Minggu, 18 Oktober 2009

Berkata-kata dan Berdoa Dalam Bahasa Roh

Oleh Leo Kardinal Suenens
A New Pentecost p. 74-76 (versi pdf).


Seorang pengunjung baru ke persekutuan doa seringkali merasa risih, untuk mendengar dari waktu ke waku, seseorang- atau seluruh kelompok- mulai berdoa atau bernyanyi dalam bahasa roh. kesan pertamanya adalah ketidaknyamanan yang dipicu oleh ungkapan verbal yang spontan, dimana suku-suku kata diucapkan membentuk suatu frase yang tidak dapat dimengerti. Maka, penting untuk memahami glossalalia, tanpa merendahkan atau melebih-lebihkan cara doa ini. Ini bukanlah mukjizat; juga bukan suatu kelainan.

Bukan Mukjizat
Banyak orang karismatik dari berbagai denominasi, tetapi secara khusus Pentakostal Klasik, menganggap glossalalia sebagai tanda mutlak bahwa seseorang telah menerima ‘baptisan Roh Kudus’. Juga mereka menganggap bahwa ini adalah suatu anugerah yang dicurahkan dan memampukan orang berdoa dalam sebuah bahasa yang tidak dipahaminya. Saya sudah menunjukkan bahwa cara pandang semacam itu tidak sejalan dengan teologi Katolik. Tapi kita tidak menyangkal kemungkinan dalam suatu kasus yang amat jarang dapat terjadi bahwa hal itu dapat terjadi, karena kita percaya akan mukjizat, dan fenomena semacam itu termasuk ke dalam tatanan “mukjizat” (dalam arti teologis). Tetapi saya mengakuinya bahwa hal itu sungguh merupakan pengecualian, dan kita harus menghindarkan segala bentuk “sensasionalisme”. Menurut pemahaman saya fenomena “bahasa roh” tidak ada kaitannya pencurahan bahasa misterius melalui penetapan ilahi. Dan signifikasinya seutuhnya berbeda.

Bukan Patologis

Pada ekstrim yang lain, kami menemukan orang, khususnya mereka yang pada tingkat tertentu familiar dengan ilmu psikiatri, mengenakan keadaan-keadaan patologis kepada fenomena ini, seperti: emosionalsime, hysteria massa. kelakukan infantil (infantile regression), dst. Inilah bukanlah pandangan yang berasal dari penelitian ilmiah yang memadai, juga hal ini bukanlah pandangan dari salah seorang yang sangat unggul dalam bidang ini yaitu William J. Samarin, professor antropolgi dan linguistic di Universitas Toronto. Profesor Samarin mengadakan suatu penelitian yang panjang dan luas, yang dilakukan di banyak negara, dan menyimpulkan bahwa fenomena ini tidak mengandung apapun yang abnormal atau patologis, dan dia menyampaikan bukti-buktinya(William J. SAMARIN, Tongues of Men and Angels (New York, 1972)). .

Jika berdoa dalam bahasa roh bukan mukjizat dan juga bukan patologis, jadi bagaimana kita memahaminya?

Jadi, Apa itu Glossalalia?

Pertama kita harus mengakui bahwa kita berhadapan dengan suatu fenomena yang disebutkan dalam Kitab suci: ada sekitar tiga puluh penyebutan tentang berdoa dalam bahasa roh. Dalam Perjanjian Baru kita memiliki kesaksian dari Kisah Para Rasul (2:4-11; 10:46; 19:6), Surat St. Paulus (1Kor 12:30; 13:1; 14: 2,39) dan juga janji Yesus dalam Injil St. Markus (16:7). Jadi jelas ada permasalahan eksegetis dalam hal ini, namun kita jangan membutakan diri dengan kenyataan sederhana bahwa Perjanjian Baru berbicara mengenai fenomena ini secara nyata dan cukup sering. St. Paulus mengatakan bahwa ‘karunia’ ini adalah yang paling kurang penting dalam tatanan karunia; dia juga mengatakan bahwa ia memilikinya dan berharap hal yang sama bagi orang lain, walaupun ia menekankan bahwa dalam ibadat bersama, keteraturan harus diutamakan. Maka, kita tidak dapat mengatakan bahwa tidak ada bukti alkitabiah mengenai keberadaan karunia ini. Karunia ini juga ditemukan dalam tradisi Gereja, dibagikan secara luas pada mulanya dan kemudian menjadi lebih terbatas dalam biara-biara dan para santo-santa.

Di sini saya ingin menyampaikan suatu refleksi pribadi yang tidak bersifat definitif atau memuaskan.

Kita harus mengingat bahwa berkat anugerah Pembaptisan, setiap orang Kristen telah menerima Roh Kudus, dan secara potensial semua karunia Roh Kudus. Manifestasi lahiriah dari anugerah ini, penggunaannya yang aktif, menunjukkan kehadiran-Nya tetapi tidak menghasilkan suatu aungerah. Pembacaan fundamentalistik terhadap Perjanjian Baru mungkin akan membuat orang memperlakukan karunia-karunia Allah ini sebagai suatu “obyek”, suatu yang berada di luar diri kita. Pentingnya berbahasa roh tidak berkurang jika kita menempatkannya dalam tatanan alamiah yang mengenakan suatu karakter spiritual melalui intensi yang menjiwainya. Lebih jauh kita harus mengingat bahwa segalanya, dalam arti tertentu, adalah anugerah: ‘semuanya adalah rahmat’.

Bentuk doa non-diskursif ini- suatu ungkapan prakonseptual dari doa spontan- berada dalam jangkauan tubuh dan selalu berada dalam kendali kita. Ini adalah suatu cara pengungkapan yang juga dikenal dalam kebudayaan lain, jadi hal ini tidaklah begitu asing sebagaimana yang kita kira. Ingatlah, misalnya dalam madah Gregorian ada suatu jubilasi (nyanyian spontan dengan suku-suku kata yang lahir dari ungkapan sukacita yang sangat mendalam sehingga kata-kata biasa tidak lagi dapat menggambarkannya seperti fa-la-la-na-na atau semacamnya, banyak yang berpendapat bahwa jubilasi adalah identik dengan bahasa roh yang umum pada gerakan pembaruan karismatik di zaman modern ini, salah satu yang berpandangan demikian adalah Kardinal Suenens sendiri) yang melanjutkan ‘a’ yang diperpanjang pada akhir Alleluia (misalnya pada Veni Sancte Spiritus, pada bagian akhir alleluia sesudah amen, nadanya dibuat naik dan menggantung sama seperti kebiasaan lagu-lagu penyembahan karismatik saat mau ‘naik’ atau hendak bersenandung dalam roh/singing in the spirit). Ingatlah juga, bagaimana seorang anak kecil, sebelum belajar berbicara secara benar, menggunakan ungkapan bunyi-bunyian yang spontan dan tidak memiliki arti untuk mengungkapkan sukacitanya.

Seseorang telah mengatakan bahwa berdoa dalam bahasa roh dalam kaitannya dengan berdoa secara biasa diperbandingkan seperti seni figuratif dan seni abstrak; perbandingan ini saya kira memberikan beberapa pencerahan.

Karunia bahasa roh juga dapat dibandingkan dengan karunia air mata. Siapapun yang berada dalam keadaan yang emosional dapat menangis; aktor bisa menangis kapan saja naskah memintanya. Ini alami. Tetapi juga ada karunia air mata, yang diakui oleh tradisi spiritual sejak lama. Lebih lagi, dalam Rituale, ada anugerah untuk doa ini (mungkin sebenarnya Missale Romanum, dimana dalam Missale pra-Vatikan II ada teks misa votif memohon karunia air mata, yang intinya agar hati kita tersentuh oleh kebaikan Allah, menyesali dosa-dosa secara mendalam dan karenanya bertobat sungguh-sungguh). Tangisan disini menjadi suatu pengalaman keagamaan yang mendalam, dimana seseorang memberikan ungkapan kepada hal yang tidak terungkapkan, saat digerakan oleh rasa penyesalan, penyembahan atau syukur di hadapan Allah. Dalam hal ini, air mata, jika kita menganalisanya, tidak berbeda dari air mata tangisan biasa tetapi dampaknya jauh melampaui sekedar fenomena fisik semata. Maka, cukup tepat membandingkannya dengan bahasa roh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar