Selasa, 06 Oktober 2009

Penjelasan Qurbono (Part 2)

REALITAS LITURGIS GEREJA MARONITE DAN NORMA-NORMA PEMBARUAN

Realitasnya

Realitas liturgis yang aktual dalam Gereja Maronite merupakan hasil dari berbagai rangkaian dan akumulasi sejarah, hasil interaksi dengan berbagai trend intelektual, budaya, dan sosial. Semua ini terefleksikan dalam status quo liturgis.
Kita telah melihat suatu gerakan liturgis yang aktif, secara khusus berkaitan dengan doa-doa dan madah. Para “pembaru” meningkat jumlahnya, dan juga meningkat jumlah mereka yang mengikuti inspirasi dari para “pembaru” ini. Ritus Qurbono itu sendiri, berasal dari berbagai teks ritus yang berbeda, sebagiannya lama, baru dan bahkan lebih baru lagi. Sekalipun banyak nilai positif dari gerakan liturgis, namun tidak jarang gerakan itu menghasilkan kebingungan dan kekacauan. Fakta menunjukkan bahwa baik para klerus maupun awam tidak lagi mampu mengenali ritus manakah yang harus diikuti. Lebih jauh lagi, sejumlah pendukung gerakan liturgis ini ingin membuat suatu ritus liturgi yang baru, dengan meniru gerakan pembaruan serupa dalam ritus Latin.

Situasi semacam ini menimbulkan perpecahan dalam komunitas Maronite. Karena itu suatu pembaruan liturgi yang sejati menjadi amat perlu untuk memelihara disiplin dan kesatuan. Para pemimpin Gereja dengan pengertian dan kebijaksanaannya, menyadari bahwa sudah waktunya menerbitkan satu buku untuk pelaksanaan Qurbono, sebuah buku yang mampu menyatukan semua orang Maronite baik di Lebanon atau di negara-negara lain: satu Qurbono untuk semua, digunakan oleh semua Maronite di seluruh tempat ibadat Maronite yang mereka hadiri.

PRINSIP-PRINSIP PEMBARUAN LITURGI

Prinsip-prinsip Untuk Pembaruan Qurbono

Untuk memperbarui ritus Qurbono Maronite, Komisi Liturgi terikat oleh sejumlah norma dan peraturan:
•Setia kepada sumber-sumber otentik dari Liturgi Maronite Syriac dan memelihara identitasnya dari pengaruh unsur asing entah itu Barat ataupun Timur;

•Menentang semua inovasi, kecuali hal itu dituntut bagi kebaikan Gereja dengan yang cara yang tegas dan sesuai hukum;

•Menentang sikap kembali ke masa lalu, kecuali hal itu dapat memelihara identitas Maronite;

•Menjadikan ritus Qurbono mudah digunakan dari sudut pandang pastoral, sehingga setiap alur perayaan dan berbagai doa serta madahnya dapat menuntun kepada partisipasi secara penuh dan sadar;

•Kembali kepada kalender liturgi Maronite, menempatkan siklus ini pada pusat seluruh tahun: tiap hari Minggu dan sepanjang pekannya, akan memiliki doa-doa dan madah-madahnya sendiri, agar cocok sepenuhnya dengan bingkai tahun liturgis dan berpusat pada misteri Kristus dan pada misteri-misteri utama agama Kristen.

•Memberi ruang, sesuai dengan tanda-tanda zaman, bagi kemungkinan perubahan dalam syafaat pada liturgi, doa dan gerakan, agar dapat menanggapi kebutuhan berbagai kelompok dalam masyarakat seperti anak- anak, pelajar, dan orang muda, dst., dan memampukan mereka untuk ambil bagian didalamnya, dengan memastikan bahwa hal itu tidak mengganggu struktur liturgi.

Tradisi dan Pembaruan
Pembaruan liturgi bukan sekedar kembali kepada tradisi; tetapi, sebaliknya, merupakan kebutuhan pastoral yang mengalir dari prinsip-prinsip dasar liturgi dan menuntut kepada partisipasi yang baru dan aktif dari komunitas, sejalan dengan semangat ritus dan kebutuhan umum. Di sini kita tidak menciptakan doa-doa dan madah-madah baru; sebaliknya, kita kembali kepada doa-doa dan madah-madah yang dipilih dari sumber-sumber dan akar Syriac kita. Seringkali kita menggunakan teks Syriac sebagai dasar dari teks-teks terjemahan. Jelas, bahwa teks Syriac yang kita warisi memiliki suatu kedalaman dan otentisitas, yang juga memungkinkannya untuk menjaga kehidupan liturgis, yaitu suatu hal terhormat yang diabadikan oleh generasi yang lampau, dan pada saat yang sama, untuk mengungkapkan kebutuhan dan manfaat yang diperlukan oleh setiap generasi secara khusus.

Kami harus menyatakan bahwa kami tidak menyampaikan suatu teks liturgi yang akan bertahan selamanya; tetapi hanya teks liturgi yang otentik. Kami harus mengacu kepada mereka dalam setiap perubahan gerejani yang dipandang perlu, dalam isi juga dalam bentuknya yang berdasarkan penyelidikan kami diperlukan oleh kebutuhan pastoral. Kenyataannya, praktek liturgis dan pastoral Gereja dimasa datang akan menunjukkan kebutuhan untuk suatu arahan yang baru. Gereja sendiri, melalui Komisi Liturginya, akan mengikuti arahan ini dan akan menemukan solusi untuk setiap masalah dengan tetap mengacu kepada dua prinsip dasar: di satu sisi identitas dan di sisi lain evolusi. Disini terbentang norma yang berlaku dalam setiap aspek hidup itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar