Selasa, 06 Oktober 2009

Penjelasan Qurbono (Part 1)

PENGANTAR DAN PENJELASAN UMUM

Sumber-sumber Kuno
Pertama-tama, kita perlu melihat kembali kepada sumber-sumber liturgi Gereja Antiokhia dimana Gereja Syriac Maronite merupakan bagian darinya. Sejak zaman para Rasul, Antiokhia telah menjadi titik penting bagi agama Kristen. Disanalah Kabar Baik agama Kristen berasal, dan dari sana menyebar melewati lautan dan daratan, sampai ke pantai dan puncak gunung.

Setelah zaman kekuasaan Byzantine, Antiokhia dihubungkan dengan kota Yerusalem dan gerakan liturgi yang bersemi pada dua gereja yaitu gereja Nativitas dan Kebangkitan (orang Kristen Latin biasa menyebutnya gereja Makam Suci), ritus dari Gereja Yerusalem menjadi pusat perhatian para pziarah dan menjadi sumber bagi perkembangan liturgi di seluruh wilayah Oriental.

Ketika para Maronite muncul sebagai komunitas Kristen Syriac Antiokhia sekitar abad ke 5, ritus Antiokhia berada dibawah pengaruh Yerusalem, dan secara khusus dipengaruhi oleh liturgi yang umum disebut berasal dari St. Yakobus saudara Tuhan, Uskup pertama Yerusalem. Bagaimanapun, para Maronite juga memiliki ikatan liturgis dengan titik penting lainnya, yaitu titik Syriac di Edessa. Edessa, adalah negara mayoritas Kristen pertama dan pusat kebudayaan serta politik di Syria. Edessa tidak terpengaruh oleh unsur Hellenistik Yunani, sebagaimana ritus Antiokhia di Yerusalem; sebaliknya, mereka memelihara unsur dan ungkapan mereka sendiri yang lebih dekat dengan Kitab Suci dan teologi Kristen yang awal.

Menurut sejumlah kecil dokumen yang masih kita miliki, ritus Maronite lebih dekat kepada ritus Syriac Semitic dari Edessa daripada ritus Antiokhia yang Hellenistik dari Yerusalem. Bagaimanapun, pada abad kelima, perbedaan antara kedua ritus amat mudah dikenali.

Evolusi Liturgi Maronite Sampai Abad Ke 10
Karena langkanya jumlah dokumen yang masih tersisa, tidak mudah untuk memastikan bagaimana persisnya evolusi liturgis yang dijalankan oleh Gereja Maronite sejak permulaan sampai abad ke sepuluh. Bagaimanapun, kita dapat mengenali evolusi itu melalui doa-doa liturgis kita, terutama Anaphora dari Sharar dan doa serta himne ibadat harian yang dikenal dengan nama Shimto (yaitu, ibadat harian sederhana):: dalam kedua doa ini tampak bahwa ritus Maronite lebih dekat kepada sumber-sumber Antiokhia daripada Yerusalem.

Ritus Maronite Abad 10-16
Manuskrip liturgi Maronite paling tua yang kita miliki sekarang berasal dari periode antara abad 12 dan 16. Manuskrip tertua Buku Qurbono berasal dari pertengahan abad 15 (1454) dan memiliki sejumlah halaman yang berasal dari abad 12 (Vat. 309). Manuskrip ini menunjukkan bahwa ritus Maronite telah menjadi sangat dekat dengan ritus Antiokhia dari Yerusalem (yang dikenal sebagai Syria Barat) dan menjadi lebih, bahkan mungkin secara tegas, menjauhkan diri dari tradisi Syriac Timur dari Edessa.
Kami tidak ingin membahas masalah ini lebih jauh di sini, tetapi kami mengajak siapapun, sekalipun jumlahnya sedikit, untuk mempelajari lebih jauh masalah ini. Faktanya, manuskrip dari Qurbono Maronite pada saat itu telah menjadi sama dengan ritus Syriac Barat meskipun Anaphora Para Rasul atau Sharar yang berasal dari Syriac Timur masih dipertahankan. Anaphora ini sangat mirip dengan anaphora yang digunakan dalam Gereja-gereja Syria Timur baik Katolik maupun non-Katolik.

Edisi Pertama Buku Qurbono Maronite
Edisi pertama Buku Qurbono Maronite diterbitkan di Roma atara 1592 dan 1594. Para mahasiswa Kolese Maronite di Roma meng-edit edisi ini dibawah bimbingan pimpinan kolese. Edisi ini berasal dari manuskrip yang ditulis tahun 1566 di Biara Qozhaya, Lebanon oleh pertapa Mikhail al-Razzi, yang kemudian terpilih sebagai Patriarkh (1567-1581), beliau adalah saudara dari Sarkis al-Razzi, yang kemudian menggantikannya sebagai Patriarkh (1581-1596).

Penerbit dari edisi ini mengubah doa pada kisah institusi Ekaristi dari manuskrip tulisan al-Razzi dimana mereka menerjemahkan kata-kata konsekrasi dari bahasa Latin ke bahasa Aram. Ketika edisi ini diterima oleh Patriarkh, ia menolak dan melarang penggunaannya. Tekanan yang dilakukan oleh utusan Paus, Dandini, membuat Patriarkh menerimanya untuk digunakan sementara waktu (1596) sementara sejumlah akan diperbaiki menurut sumber-sumber Maronite.

Edisi-edisi Selanjutnya
Seratus dua puluh tahun kemudian, terlepas dari sejumlah keberatan yang tertuang dalam tulisan dari sejumlah pakar Maronite pada abad ke 17, edisi kedua Buku Qurbono diterbitkan (1716). Edisi ini terbukti lebih terlatinisasi daripada yang pertama. Doa Syukur Agung ritus Latin, yang diterjemahkan dalam bahasa Arab dan Aram, dimasukkan, sementara Anaphora dari Sharar dipindahkan. Bagaimanapun, edisi ini, yang dikerjakan oleh para mahasiswa Kolese Maronite, tidak menerima pertentangan apapun.

Edisi-edisi selanjutnya merupakan sekedar salinan dari edisi kedua ini, dengan perkecualian beberapa pengurangan yang dilakukan karena alasan ekonomi, yaitu untuk membuat harga buku menjadi lebih murah: misalnya, dalam edisi ketiga (1763) memuat hanya delapan anaphora dan tidak empat belas seperti edisi sebelumnya. Hal yang sama terjadi dalam empat edisi yang diterbitkan oleh Biara Qozhaya pada tahun 1816, 1838, 1855, dan 1872. Dua edisi terakhir diterbitkan di Beirut pada tahun 1888 dan 1908 dibawah pengawasan Uskup Youssef Dibs, Uskup Agung Beirut. Uskup Dibs menempatkan anaphora ritus Latin sebelum semua anaphora dan mengubah gaya bahasa dari doa-doa dan madah. Edisi pertama dalam huruf Arab diterbitkan pertama kali di Jounieh tahun 1959 (edisi sebelumnya ditulis dalam huruf Syriac) oleh Serikat Misionaris Lebanon. Akhirnya, sebuah edisi singkat, yang disebut “Ritus Sederhana” diterbitkan dalam sebuah booklet tahun 1973 dan hanya memuat satu anaphora. Edisi ini hanya digunakan secara eksperimental dalam periode satu tahun.

Semua edisi ini, kecuali “Ritus Sederhana” (1973) diterbitkan tanpa cap atau tanda tangan Patriarkh, tetapi diterbitkan “dengan sepengetahuan beliau” atau “setelah mendengarkan nasehat beliau”, atau tanpa menyebutkan apapun mengenai Patriarkh.

Proyek Pembaruan Qurbono Maronite
Proyek pertama untuk pembaruan Qurbono direncanakan oleh sejumlah mahasiswa Kolose Maronite di Roma pada permulaan abad 17. Mereka ingin mengembalikan Qurbono Maronite ke sumber-sumber Syriac Antiokhia-nya yang telah hilang pada edisi pertama. Bagaimanapun, proyek ini gagal menemui titik terang.

Sinode Gunung Lebanon (1736), menetapkan bahwa sebuah komisi hendaknya didirikan untuk memperbarui semua ritus, tetapi terutama Qurbono. Proyek ini tidak pernah terwujud. Sebelum itu Patriarkh Stephanus Duwaihy, dalam kenangan terberkati (1670-1704), bersusah payah mengumpulkan manuskrip-manuskrip liturgi, mempelajarinya dan mempersiapkan proyek pembaruan Qurbono dan banyak ritus liturgi lainnya. Dia sendiri menulis bahwa ia “berharap dapat menyenangkan matanya dengan memandang penerbitan buku-buku liturgi”. Namun, dia meninggal sebelum harapannya terwujud.
Pada tahun 40an dan 50an di abad ke dua puluh, ada sejumlah upaya untuk memperbarui Qurbono Maronite, namun upaya ini tidak berhasil. Kemudian datanglah Konsili Vatikan II (1963-1965) dengan panggilan kepada pembaruan, khususnya dalam bidang liturgi. Sejumlah proyek baru diadakan untuk memperbarui Qurbono. Antara tahun 1963 dan 1982 ada 40 proyek yang diadakan untuk itu. Kemudian, Komisi Liturgi Kepatriarkhan dan Sinode para Uskup memusatkan perhatian mereka pada proyek yang sekarang ini. Sebenarnya sejak 1980 proyek ini telah melewati banyak penelitian dan revisi melalui perhatian dan bimbingan Komisi Liturgi Kepatriarkhan.

Proyek Yang Sekarang
Proyek ini disampaikan kepada Sinode Patiarkat bersama para Uskup tahun 1980; kemudian diperbarui dan disampaikan kembali pada tahun 1982. Semua teks-teks hasil proyek ini bersama semua detailnya diterima secara definitif pada sidang terakhir Sinode baik oleh Sinode itu sendiri dan juga Konggregasi Romawi untuk Gereja-gereja Timur. Proyek ini kemudian diterbitkan, untuk pertama kalinya, dengan sebuah dekrit resmi yang disertai tanda tangan Patriarkh dan imprimatur (izin terbit) darinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar