Kamis, 06 Januari 2011

Interview dengan Kardinal Urbano Navarrete Cortes

VATICAN CITY –Beliau telah melayani tidak kurang dari lima Paus, sejak Pius XII sampai Benediktus XVI dengan kesetiaan mutlak. Kami berbicara tentang Kardinal Urbano Navarrete Cortes, seorang Spanyol dari Camarena de la Sierra, yang menajdi Rektor Universitas Kepausan Gregorian sejak tahun 1980, seorang imam Yesuit yang termasyhur, dan ahli Hukum Kanon, yang diangkat menjadi Kardinal dalam konsistori 24 Novemnver 2007.

Yang Mulia, apakah Anda memiliki cerita yang dapat dibagikan kepada kami mengenai pelayanan Anda selama melayani Gereja?

”Saya punya banyak cerita dan anekdot, tetapi jika Anda berkenan, saya lebih senang memusatkan perhatian saya kepada dua Paus yang paling saya sayangi, tanpa mengurangi peranan dan rasa sayang saya kepada yang lain.”

Mari kita mulai berdasarkan urutan waktu dengan membahas Pius XII.


“Mengenai beliau, telah ada banyak fitnah dan catatan sejarah yang tidak tepat telah ditulis dan dibicarakan yang perlu dibantah sekali untuk selamanya. Misalnya, mengenai tuduhan bahwa beliau itu anti-Semit: ini adalah penipuan yang berteriak menuntut pembalasan! Saya sendiri sadar bahwa ada fakta-fakta yang belum pernah dipublikasikan dan sampai sekarang belum dibuka”

Tolong, katakanlah kepada kami!

“Saat saya menjadi Rektor, beberapa pengajar yang berusia lebih tua daripada saya mengatakan kepada saya bahwa selama Perang Dunia II, Paus Pacelli telah merancang dan memerintahkan- saya tekankan bahwa beliau “memerintahkan”- sebuah istana untuk dijadikan tempat pengungsian Yahudia di bagian subterran Universitas Gregorian untuk menyelamatkan mereka. Saya bertanya kepadamu: Dapatkah kenyataan ini selaras dengan tuduhan bahwa Pius XII itu anti-Semit?

Namun diamnya Pacelli dengan kasus Shoah seringkali dikecam oleh masyarakat.

“Seriuslah! Apa lagi yang dapat ia lakukan? Ia diam bukan karena tidak peduli tetapi karena pertimbangan yang matang berdasarkan situasi sejarah. Sebenarnya Pius XII memilih keburukan yang lebih kecil, bersikap diam saja ini ditujukan agar tidak memperburuk keadaan orang Yahudi dan mencegah mengganasnya penganiayaan Nazi terhadap mereka. Hal ini juga membuktikan Pacelli tidak pernah menjadi anti-Semit, dan saya menantikan saatnya ia dinyatakan kudus sambil tetap menghormati keputusan Gereja.”

Mari beralih kepada Hamba Allah Paulus VI.

“Saya mengenalnya secara pribadi dan dapat memberikan kesaksian mengenai kekudusannya. Dia orang yang sangat teliti, kaku dan dengan tekun memperhatikan setiap detail. Jadi, sungguh menyenangkan sekaligus sulit untuk bekerja dengannya.”

Seperti apakah kepribadian Paus Montini?

“ Ia penyendiri dan pendiam. Tetapi setelah Vatikan II, ia merasa terluka, diserang dan dalam arti tertentu ia tidak lagi menjadi dirinya sendiri.”

Dalam arti apa?

“Ia disalahkan atas kekacauan paska-Konsili: Ia merasa diserang dan dituduh bahkan oleh mereka yang umum disebut faksi progresif dalam Gereja. Saya dapat meyakinkan kamu bahwa hal itu sangat menyakitkan baginya.”

Dalam pandangan Anda, apakah yang dimaksud oleh Paulus VI dengan ungkapan “asap Setan dalam Gereja”?

“Saya ingin mengingatkan kamu akan apa yang saya katakana sebelumnya. Ungkapan ini diucapkannya sesudah Konsili, ketika hidup telah menjadi sulit baginya. Jadi, pada masa itu, menurut beliau, kehadiran asap setan dalam Gereja terdapat pada gagasan bernuansa memberontak yang dianut oleh beberapa pejabat Gereja yang telah meninggalkan dia sendirian.”

Apa yang sebenarnya Paulus VI pikirkan tentang Konsili Vatikan II pada akhir Konsili?

“Dia tidak menafsirkannya sebagai pemutusan terhadap masa lalu. Sebaliknya, ia mempertahankan gagasan bahwa sungguh salah menggambarkan Konsili sebagai semacam revolusi, sebaliknya ia mendorong supaya Konsili “dibaca” dalam terang kesinambungan dengan tradisi Gereja”

Mari berbicara mengenai “kreatifitas liturgi” ibu dari begitu banyak pelecehan sepanjang Misa Kudus.


“Salah satu penyebab kesedihan Paulus VI adalah pandangan dari begitu banyak tokoh dalam Gereja yang memerintahkan, bahwa sesudah Vatikan II “buanglah semua yang lampau!” untuk memutus semua ikatan dengan masa lalu. “Kreatifitas liturgi” semacam ini telah disalahgunakan untuk melindungi dan mendorong segala kelakuan dan imajinasi dari para Imam yang berpikir bahwa mereka mengendalikan Gereja”

Apakah Anda berharap bahwa Pius XII dan Paulus VI akan dibeatifikasi dalam waktu dekat?

“Bagi saya, keduanya sudah menajdi orang kudus karena apa yang telah mereka lakukan dan karena penderitaan yang mereka tanggung demi iman mereka. Perkataan saya ini, saya serahkan kepada penilaian Gereja.”

Dalam motu proprio “Summorum Pontificum” telah membebaskan perayaan Misa Kudus menurut buku-buku liturgi Santo Pius V. Apakah Anda setuju dengan gagasan Benediktus ini?

“Tentu saja. Paus telah menjalankan suatu tindakan kejujuran intelektual dan kebijaksanaan, juga kebebasan dan keadilan. Saya sendiri bertanya, bagaimana mungkin suatu ritus yang telah menguatkan banyak generasi orang beriman dilarang atas nama modernisme yang absurg? Saya percaya bahwa orang-orang tradisionalis memiliki hak untuk merayakan Misa Kudus menurut ritus kuno dalam persekutuan dengan Pengganti Petrus, terutama karena hal ini tidak bertentangan dengan Novus Ordo”

Apakah Anda menemukan keagungan, spiritualitas dan Misteri dalam Misa secara lebih baik dalam ritus St. Pius V?

“Untuk lebih jelasnya, saya tidak memiliki apapun untuk menentang tata cara Misa Paulus VI, dan saya menganggapnya valid sebagaimana tata cara St. Pius V. Tetapi, pada kenyataannya, Misa Pius V, melalui Kanon Romawi lebih terarah kepada Allah daripada Kanon yang terlalu singkat (Doa Syukur Agung II). Maka, saya piker Misa St. Pius V lebih terarah kepada Allah dibandingkan dengan Misa Novus Ordo, selain dalam pandangan saya doa-doa dalam Misa St. Pius V lebih lengkap dibanding Novus Ordo.

Apa pendapat Anda mengenai Komuni di tangan?

“Saya percaya lebih baik membagikan Ekaristi di lidah daripada di tangan, untuk mencegah bagian atau remahnya disentuh tangan yang kotor. Saya tidak ikhlas mengizinkan pembagian Komuni di tangan; dibutuhkan suatu pendidikan yang jauh lebih baik, juga karena Komuni di tangan cenderung membuat orang menganggap enteng menerima Komuni.



Diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Daniel P. dari terjemahan Inggris oleh Carlos Antonio Palad:

http://rorate-caeli.blogspot.com/

Versi asli Italia:

http://www.papanews.it/dettaglio_interviste.asp?IdNews=8150#a

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar