Kamis, 06 Januari 2011

Terjemahan Indo- Surat Benediktus XVI Yang Menyertai Summorum Pontificum

Saudara-saudaraku terkasih para uskup,

Dengan penuh kepercayaan dan harapan, Saya menyerahkan kepada kalian selaku gembala-gembala teks dari Surat Apostolik yang baru “Motu Proprio data” tentang penggunaan liturgi Romawi sebelum pembaruan tahun 1970. Dokumen ini adalah buah dari banyak permenungan, konsultasi, dan doa.

Ada banyak berita dan penilaian yang dibuat tanpa informasi yang cukup, dan telah menciptakan banyak kebingungan. Ada berbagai reaksi terhadap dokumen ini, yang nyatanya isinya belum diketahui, mulai dari yang menerima dengan gembira sampai yang menolak dengan keras.

Dokumen ini ditentang secara keras terutama karena dua ketakutan, yang sekarang ingin saya bahas lebih jauh dalam surat ini.

Pertama-tama, ada ketakutan bahwa dokumen ini menyimpang dari otoritas Konsili Vatikan II, yang salah satu keputusan mendasarnya- pembaruan liturgi- sedang dipertanyakan. Ketakutan ini tidak berdasar. Dalam hal ini, harus dikatakan bahwa pertama-tama Misale yang diterbitkan oleh Paulus VI dan kemudian diterbitkan kembali dalam dua edisi oleh Yohanes Paulus II, tetap menajdi bentuk yang normal-bentuk biasa- dari liturgi Ekaristi. Versi terakhir dari Missale Romanum sebelum Konsili, yang diterbitkan dengan otoritas Paus Yohanes XXIII di tahun 1962 dan digunakan selama Konsili, sekarang dapat digunakan sebagai bentuk luar biasa dalam perayaan liturgi. Sungguh tidak patut untuk berbicara mengenai dua versi Misale Romawi ini seolah-olah mereka adalah “dua ritus”. Sebaliknya, ini adalah masa dua cara penggunaan dari ritus yang satu dan sama.

Mengenai penggunaan Misale 1962 sebagai bentuk luar biasa dari liturgi Misa, saya ingin menarik perhatian kalian kepada fakta bahwa Misale ini tidak pernah dibatalkan secara hukum, dan konsekuensinya adalah, selalu diizinkan untuk digunakan. Pada saat penerbitan Misale baru, tampaknya tidak ada kebutuhan untuk mengeluarkan norma khusus bagi kemungkinan penggunaan Misale yang lebih tua. Mungkin pada masa itu dipikirkan bahwa hal ini akan timbul sebagai kasus yang menyangkut sedikit orang, dan dapat diselesaikan secara kasus per kasus pada tingkat lokal. Namun, kemudian menjadi jelas bahwa sejumlah orang dalam jumlah yang cukup banyak tetap terikat kepada penggunaan ritus Romawi ini, yang telah akrab dengan mereka sejak masa kanak-kanak. Hal ini terutama menyangkut kasus-kasus di negara-negara dimana gerakan liturgi telah memberikan pendidikan liturgi yang mendalam dan keakraban yang pribadi dengan bentuk perayaan liturgi yang lebih tua. Kita semua tahu bahwa dalam gerakan yang dipimpin oleh Uskupagung Lefebvre, kesetiaan kepada Misale kuno menajdi tanda lahiriah identitas mereka, walaupun alasan perpecahan dengan mereka ada pada tingkatan yang lebih dalam. Banyak orang yang secara tegas menerima karakter mengikat dari Konsili Vatikan II, setia kepada Paus dan para Uskup, juga ingin memulihkan bentuk liturgi suci yang mereka sayangi. Hal ini terjadi karena di banyak tempat perayaan menurut tata cara baru telah dirayakan dengan tidak setia, malahan dipahami sebagai pengesahan atas kreatifitas yang seringkali menuntun kepada kehancuran liturgi yang sulit diterima. Saya mengemukakan hal ini dari pengalaman, karena saya sendiri juga mengalami masa-masa itu dengan segala harapan dan kebingungannya. Dan saya juga telah melihat bagaimana penghancuran liturgi secara sembarangan ini telah menimbulkan luka yang dalam bagi umat yang sepenuhnya berakar dalam iman Gereja.

Maka, Paus Yohanes Paulus II merasa berkewajiban untuk menyediakan panduan bagi penggunaan Misale 1962 dalam Motu Proprio Ecclesia Dei ( 2 Juli 1988), bagaimanapun juga dokumen itu tidak memuat persyaratan yang rinci selain sebuah permohonan secara umum agar para uskup bermurah hati kepada “keinginan yang sah” dari umat beriman yang meminta penggunaan ritus Romawi ini. Pada saat itu tujuan utama Paus adalah untuk membantu Serikat Santo Pius X untuk memulihkan kesatuan penuh dengan Pengganti Petrus, dan untuk menyembuhkan suatu luka menyakitkan yang pernah dialami. Sayangnya, rekonsiliasi ini belum membuahkan hasil yang diahrapkan. Namun begitu, ada juga sejumlah komunitas yang dengan senang hati menggunakan kemungkinan-kemungkinan yang disediakan oleh Motu Proprio itu. Di sisi lain, tetap ada kesulitan untuk menggunakan Misale 1962 di luar kelompok-kelompok tersebut, karena kurang rincinya norma-norma hukum yang ada, secara khusus kesulitan ini timbul karena para Uskup seringkali merasa takut otoritas Konsili akan dipertanyakan. Saat Konsili Vatikan II selesai diduga bahwa permintaan penggunaan Misale 1962 hanya akan terbatas kepada generasi tua yang telah tumbuh dengannya, namun seiring berjalannya waktu jelas pula bahwa orang-orang muda telah menemukan bentuk liturgi ini dan merasakan daya tariknya, serta menemukan perjumpaan dengan Misteri Ekaristi Mahakudus, dengan cara yang cocok bagi mereka. Maka, muncullah kebutuhan bagi pengaturan hukum yang lebih jelas, yang belum dianggap perlu pada saat penerbitan Motu Proprio 1988. Norma-norma yang sekarang ini juga bertujuan untuk membebaskan para Uskup dari keharusan untuk melakukan evaluasi terus-menerus mengenai bagaimana cara mereka menganggapi berbagai situasi yang muncul.

Kedua, ketakutan juga diungkapkan bahwa Motu Proprio yang akan muncul ini, yang memungkinkan penggunaan Misale 1962 secara lebih luas, akan menuntun kepada pemisahan atau bahkan perpecahan dalam komunitas paroki. Saya menganggap ketakutan ini tidak berdasar. Penggunaan Misale lama mengandaikan pendidikan liturgi dalam tingkatan tertentu dan sedikit pengetahuan bahasa Latin; kedua hal ini tidaklah sering dijumpai. Dari keadaan nyata ini, jelaslah bahwa Misale baru akan tetap menajdi bentuk biasa dari ritus Romawi, bukan hanya secara hukum, tetapi juga karena situasi nyata komunitas umat beriman.

Juga benar bahwa kadang-kadang beberapa aspek sosial dari sikap umat yang terikat dengan tradisi liturgi Latin kuno telah dilebih-lebihkan secara tidak bertanggung jawab. Cinta kasih dan kebijaksanaan pastoral kalian akan menjadi suatu bantuan dan panduan untuk memperbaiki keadaan ini. Karena itu, dua bentuk dari ritus Romawi bisa saling memperkaya; santo-santa baru dan prefasi-prefasi baru dapat dan harus ditambahkan ke Misale lama. Komisi “Ecclesia Dei”, bersama dengan berbagai lembaga yang setia menggunakan usus antiquior (cara lama), akan mempelajari berbagai kemungkinan praktis tentang hal ini. Sebaliknya, perayaan Misa menurut Misale Paulus VI juga akan mampu untuk menunjukkan dengan lebih baik segala hal yang dikaitkan dengan Misale lama, yaitu sakralitas yang telah menarik banyak orang ke cara lama. Jaminan paling kuat bahwa Misale Paulus VI dapat menyatukan komunitas paroki dan dicintai oleh umat beriman bergantung pada cara merayakannya yang sesuai dengan aturan-aturan liturgi. Hal ini akan memperlihatkan kekayaan rohani dan kedalaman teologi dari Misale ini.

Sekarang saya akan menjelaskan alasan positif yang mendorong keputusan saya untuk mengeluarkan Motu Proprio yang memperbarui Motu Proprio tahun 1988. Alasan ini adalah mengenai rekonsiliasi internal dalam jantung Gereja. Menatap kembali ke masa lalu, kepada perpecahan yang selama rentang waktu berabad-abad telah menyobek Tubuh Kristus, seseorang dapat memiliki kesan bahwa setiap kali terjadi saat kritis menjelang perpecahan, para pemimpin Gereja tidak cukup berupaya untuk memelihara atau memulihkan kembali rekonsiliasi dan kesatuan. Seseorang dapat memiliki kesan bahwa kelalaian dari pihak Gereja ini menunjukkan bahwa mereka memiliki tanggung jawab atas kenyataan bahwa perpecahan ini kemudian menjadi semakin keras. Keadaan masa lalu ini memberikan kewajiban kepada kita di zaman sekarang; untuk melakukan segala usaha yang membuka kesempatan bagi mereka yang sungguh-sungguh ingin tetap berada dalam kesatuan atau ingin memperolehnya kembali secara baru. Saya teringat suatu kalimat dalam Surat Kedua kepada umat Korintus, ketika Paulus menulis: “Hai orang Korintus! Kami telah berbicara terus terang kepada kamu, hati kami terbuka lebar-lebar bagi kamu. Dan bagi kamu ada tempat yang luas dalam hati kami, tetapi bagi kami hanya tersedia empat yang sempit dalam hati kamu. Maka sekarang, supaya timbale balik- Bukalah hati kamu selebar-lebarnya!” (2 Kor 6: 11-13). Paulus memang berbicara dalam konteks yang lain, tetapi anjurannya dapat dan harus menyentuh kita juga dalam masalah ini. Marilah kita dengan murah hati membuka hati kita dan membuat ruang bagi segala hal yang diizinkan oleh iman itu sendiri.

Tidak ada pertentangan antara dua edisi Misale Romawi ini. dalam sejarah liturgi ada pertumbuhan dan perkembangan, tetapi tidak ada ketidaksinambungan. Apa yang dipandang oleh generasi sebelumnya sebagai suci, akan tetap suci dan agung bagi kita, tidak mungkin terjadi suatu hal tiba-tiba dianggap terlarang dan berbahaya. Pada kita tergantung tugas untuk memelihara kekayaan yang telah berkembang dalam iman dan doa Gereja, dan bergantung pula tugas untuk memberi tempat yang pantas bagi kekayaan ini. Tidak usah dijelaskan lagi bahwa agar dapat mengalami persekutuan penuh, para imam dari komunitas-komunitas yang setia menggunakan cara lama, pada prinsipnya tidak dapat menyingkirkan secara total perayaan menurut buku-buku liturgi yang baru. Penyingkiran total ritus baru tidak akan sejalan dengan pengakuan akan nilai dan kesuciannya.

Saudara-saudaraku terkasih, sebagai penutup, saya ingin menekankan bahwa norma-norma baru ini tidak memperkecil otoritas dan tanggung jawabmu, baik mengenai liturgi atau mengenai kepedulian pastoral bagi umat berimanmu. Sesungguhnya, setiap uskup adalah moderator liturgi di keuskupannya sendiri (cf. Sacrosanctum Concilium, 22: "Sacrae Liturgiae moderatio ab Ecclesiae auctoritate unice pendet quae quidem est apud Apostolicam Sedem et, ad normam iuris, apud Episcopum").

Maka, tidak ada sesuatu pun yang diambil dari otoritas para uskup, yang perannya tetap bertugas untuk menjaga agar segala sesuatu dilakukan dalam damai dan ketentraman. Jika kemudian muncul masalah yang tidak dapat diselesaikan para pastor paroki, Ordinaris lokal selalu dapat mengintervensi sejalan dengan setiap hal yang telah diatur oleh norma-norma baru yang disampaikan Motu Proprio ini.

Lebih jauh lagi, saudara-saudara terkasih, saya mengundang kalian semua untuk mengirimkan kisah pengalaman kalian kepada Tahta Suci dalam jangka waktu 3 tahun setelah Motu Proprio ini berlaku. Jika memang ada masalah yang benar-benar serius, maka cara penyembuhannya juga harus dicari.

Saudara-saudara terkasih, dengan penuh syukur dan kepercayaan, saya mempercayakan ke dalam hati kalian sebagai gembala halaman-halaman surat ini dan norma-norma Motu Proprio. Ingatlah selalu akan kata-kata Rasul Paulus yang ia sampaikan kepada para penatua di Efesus: “Jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi uskup untuk menggembalakan Gereja Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Putera-Nya sendiri.” (Kis 20:28)

Saya mempercayakan norma-norma ini kepada bantuan doa penuh kuasa dari Maria, Bunda Gereja, dan dengan sepenuh hati saya menyampaikan berkat Apostolik saya kepada kalian semua, saudara-saudara terkasih, kepada para pastor paroki keuskupan kalian, kepada semua imam kalian, rekan kerja kalian, dan juga seluruh umat beriman kalian.

Diberikan di Santo Petrus, 7 Juli 2007

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar