Senin, 22 Oktober 2007

Penjelasan Liturgi Misa (bag. 2 Liturgi Sabda)

Bacaan-Bacaan

Sejak 1969 ditetapkan bahwa dalam Misa Hari Minggu digunakan struktur Bacaan Pertama-Mazmur Tanggapan- Bacaan Kedua-Bacaan Injil. Bacaan dibagi kedalam siklus 3 tahun menurut bacaan Injil yang mendominasi tahun tersebut (A-Matius, B-Markus, C-Lukas, sementara Yohanes disebar dalam tiga tahun tersebut). Sementara, untuk Hari Raya walaupun berstruktur sama namun hanya ada satu rangkaian bacaan yang digunakan setiap tahunnya.

Biasanya Bacaan Pertama diambil dari Perjanjian Lama, kecuali pada masa Paskah dimana seluruhnya diambil dari Kisah Para Rasul. Sementara Bacaan Kedua selalu diambil dari Perjanjian Baru non-Injil. Bacaan Pertama umumnya selalu memiliki kaitan tematis yang langsung dengan Bacaan Injil sementara Bacaan Kedua umumnya bersifat kontinuitas (penerusan) dan tidak selalu memiliki kaitan tematis yang langsung baik dengan Bacaan Pertama maupun Injil (kecuali pada Hari Raya dan Masa liturgis khusus dimana pengaturannya umumnya lebih tematis).

Untuk Pesta, Peringatan (Memoria obligatoria dan facultativa) dan Hari Biasa tanpa pesta (Feria) digunakan struktur Bacaan Pertama-Mazmur Tanggapan-Bacaan Injil. Perbedaannya ialah jika dalam Pesta ditunjuk bacaan-bacaan khusus sementara untuk Peringatan dan Feria bacaan mengikuti siklus dua tahunan yang terdiri dari tahun I dan II. Dalam siklus dua tahunan ini bacaan Injilnya sama dan yang berbeda ialah bacaan pertama dan pilihan mazmurnya.

Harap diperhatikan bahwa Mazmur merupakan bagian integral dari Liturgi Sabda dan karenanya tidak bisa digantikan dengan “lagu antarbacaan” (PUMR 61). Sementara Alleluia yang mengiringi perarakan kecil dari Altar ke Ambo (mimbar) dapat ditiadakan jika tidak dinyanyikan, selama masa Prapaskah Alleluia juga tidak dinyanyikan dan hanya ayatnya saja yang dinyanyikan.

Dalam beberapa Hari Raya khusus sebelum bacaan Injil dinyanyikan Sequentia. Untuk sekarang ini Sequentia hanya wajib pada Hari Raya Paskah (Victimae Paschali Laudes) dan Pentakosta (Veni, Sancte Spiritu) sementara Sequentia menjadi fakultatif pada Hari Raya Tubuh Kristus (Lauda Sion Salvatorem), Peringatan Dukacita Bunda Maria (Stabat Mater Dolorosa) dan Misa Requiem serta Peringatan Arwah Orang Beriman (Dies Irae).

Bacaan dimulai dengan menyebutkan dari Kitab atau surat apa bacaan diambil (Lectio secundum….) tanpa menyebut bab dan ayat-ayatnya dan diakhiri dengan “Verbum Domini” yang dijawab “Deo gratias” kecuali Injil yang dijawab “Laus tibi Christe)

Sikap khusus saat Pembacaan Injil

Jika dalam semua bacaan umat mendengarkan dengan duduk, maka saat Injil dibacakan umat berdiri. Sebelum membaca Injil pembaca (Imam) mengucap doa persiapan “Munda cor (sucikanlah hati..)” dengan berbisik atau mohon berkat dari Imam (jika pembaca adalah Diakon).

Sebelum membaca, pembaca memberi salam kepada umat dan sambil mengumumkan dari kitab mana bacaan diambil ia menandai buku bacaan dengan tanda salib dan bersama umat menandai dirinya dengan tiga tanda salib kecil di dahi, bibir, dan dada. Dalam perayaan meriah buku bacaan didupai terlebih dahulu dan Injil (bersama semua bacaan lain) dinyanyikan.

Setelah bacaan Imam mencium Injil sambil diam-diam mengucap doa “Per evangelica dicta, deleantur nostra delicta (semoga karena pewartaan Injil ini pelanggaran kita dihapuskan).” Pemberkatan umat dengan menggunakan buku Injil (evangeliarium) dianjurkan untuk dilakukan pada Misa Agung terutama pada Misa yang dipimpin oleh Uskup (Misa Agung Pontifikal).

Homili

Diwajibkan pada Misa Hari Minggu dan Hari Raya serta pada Misa-misa lain dengan banyak umat berdatangan. Yang diizinkan untuk membawakan homili hanya Imam tertahbis dan dalam situasi khusus Diakon tertahbis. Awam (biarawan/wati, frater, mahasiswa teologi, dll) tidak diizinkan untuk membawakan homili.

Credo

Hanya diwajibkan pada Hari Minggu, Hari Raya dan Pesta. Dianjurkan agar digunakan Credo Nicaea dan dinyanyikan. Pada saat pengakuan akan misteri inkarnasi diucapkan atau dinyanyikan semua membungkuk kecuali pada Misa Vigili Natal dan Hari Raya Kabar Sukacita semua berlutut.

Doa umat

Hanya diadakan pada Hari Minggu dan Hari Raya, walaupun boleh diperluas pada Misa-misa dengan tingkat kemeriahan yang lebih rendah jika dikehendaki demikian. Urut-urutan permohonannya selalu adalah: bagi Gereja, bagi pemerintahan negara dan kesejahteraan seluruh dunia, bagi mereka yang ditimpa berbagai kesulitan hidup, dan bagi komunitas lokal. Namun kebebasan menyusun intensi doa dan isinya diberikan kebebasan yang relatif besar.

Pada zaman Gereja Perdana para katekumen, simpatisan dan pendosa berat yang tidak dapat menyambut Komuni dipersilahkan meninggalkan Gereja sesudah bagian ini selesai. Walaupun sekarang ini tidak ada aturan yang mengharuskan atau menganjurkan untuk memelihara kebiasaan kuno ini namun juga tidak ada larangan untuk meneruskannya.

Sesuai dengan keadaan setempat tidak ada salahnya jika kebiasaan ini diteruskan, terutama pada Misa-misa dimana ada kemungkinan cukup banyak orang tak beriman yang hadir seperti dalam Misa-misa penyembuhan atau Misa-misa besar lainnya. Jika ini dilakukan maka sebaiknya teks doa penutup dari doa umat sebaiknya menyebut mereka secara khusus dan juga dimohonkan berkat bagi mereka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar