Senin, 12 Oktober 2009

Audiensi Umum Paus Benediktus XVI: St. Syemon Sang Teolog Baru




Audiensi Umum Benediktus XVI
Aula Paulus VI
Rabu, 16 September 2009


Saudara-saudari terkasih,
Hari ini kita berhenti sejenak untuk merefleksikan seorang rahib Timur, Syemon sang Teolog baru, yang tulisan-tulisannya memiliki pengaruh sangat besar dalam teologi dan spiritualitas Timur, secara khusus berkaitan dengan persatuan mistik dengan Allah. Syemon sang Teolog baru lahir tahun 949 di Galatai, Paphlagonia, di Asia Kecil, dalam sebuah keluarga bangsawan provinsial. Ketika masih muda ia pindah ke Konstantinopel untuk menyelesaikan pendidikannya dan memasuki birokrasi Kekaisaran. Akhirnya, ia tidak tertarik dengan karier pemerintahan yang menantinya. Dibawah pengaruh penerangan batin yang dialaminya, dia bersiap mencari seseorang yang dapat membimbingnya dalam periode kebingungan dan ketidakjelasan. Ia menemukan pembimbing rohaninya dalam diri Syemon si saleh (Eulabes), seorang biarawan sederhana di Studios di Konstantinopel yang menyarankannya membaca traktat dari Markus sang rahib, Hukum Rohani. Syemon sang Teolog baru menemukan dalam teks ini ajaran yang memberikan kesan mendalam baginya: “Jika kamu mencari penyembuhan rohani, dengarkanlah suara hatimu,” ia membaca di dalamnya. “Lakukan semua yang ia katakan kepadamu dank au akan mendapati bahwa ia melayanimu”. Sejak saat itu, ia sendiri mengatakan bahwa ia tidak pernah pergi tidur tanpa terlebih dulu bertanya kepada dirinya sendiri apakah hati nuraninya memiliki suatu kritikan terhadap dirinya atau tidak.

Syemon memasuki biara Studite dan di sana ia mendapatkan sejumlah kesulitan karena pengalaman-pengalaman mistik dan devosinya yang luar biasa kepada pembimbing rohaninya. Ia lalu pindahk ke sebuah biara kecil yaitu St. Mamas, juga di Konstantinopel., dimana tiga tahun kemudian ia menjadi abbas, hegumen. Disana ia mengalami suatu pencarian intensif akan persatuan rohani dengan Kristus yang memberikan bagi dirinya suatu kuasa yang besar. Menarik juga untuk mencatat bahwa ia diberi gelar “Teolog baru” dalam suatu tradisi yang mengkhususkan gelar ini bagi dua orang yaitu Yohanes pengarang Injil dan Gregorius dari Nazianze. Syemon menderita beberapa kesalahpahaman dan pengucilan tetapi direhabilitasi oleh Patriarkh Sergius II dari Konstantinopel.

Syemon sang Teolog baru menghabiskan masa-masa akhir hidupnya di Biara St. Marina dimana ia menulis sebagian besar karyanya dan menjadi lebih dikenal karena pengajaran dan mukjizat-mukjizatnya. Ia meninggal pada 12 Maret 1022.

Muridnya yang paling terkenal, Niceta Stethatos, yang mengumpulkan dan menyalin tulisan-tulisan Syemon, mengkompilasi suatu edisi yang lengkap dan selanjutnya menulis biografinya. Karya Syemon terdiri dari 9 volume yang terbagi menjadi karya teologis, gnostik dan hal-hal praktis, tiga buku berupa katekese bagi para rahib, dua buku tentang traktat teologi dan etika serta sebuah buku madah. Lebih lagi sejumlah besar Surat-Surat-nya tidak boleh dilupakan. Semua karya ini memiliki tempat penting dalam tradisi monastik Timur sampai pada zaman kita.

Syemon memusatkan refleksinya pada kehadiran Roh Kudus dalam diri orang terbaptis dan pada kesadaran yang harus dimiliki umat terbaptis akan kenyataan rohani ini. “Hidup Kristen”, ia memberi penekanan, “adalah hubungan intim dan pribadi dengan Allah, dimana rahmat Ilahi menerangi hati umat beriman dan menuntunnya kepada visiun mistik Tuhan”. Bersamaan dengan ini, Syemon sang Teolog baru berkeras bahwa pengetahuan sejati akan Allah tidak datang melalui buku-buku tetapi dari pengalaman rohani, dari hidup rohani. Pengetahuan akan Allah lahir dari suatu proses penerangan batin yang dimulai dengan pertobatan hati melalui kuasa iman dan kasih. Proses ini berjalan melalui penyesalan yang mendalam akan dosa-dosa dan kerinduan untuk memperoleh persatuan dengan Kristus, sumber kedamaian dan sukacita yang disinari oleh cahaya kehadiran-Nya dalam diri kita. Bagi Syemon pengalaman rahmat Ilahi buknalah suatu anugerah khusus bagi para mistikus saja tetapi merupakan buah Pembaptisan dalam hidup setiap orang beriman yang memiliki komitmen akan imannya.

Satu hal yang perlu direnungkan, saudara-saudari terkasih! Rahib Timur ini memanggil kita untuk memberi perhatian kepada hidup rohani kita, kepada kehadiran Allah yang tersembunyi dalam kita, kepada ketulusan hati nurani dan pemurnian, kepada pertobatan hati, sehingga kehadiran Roh Kudus menjadi lebih nyata dalam diri kita dan membimbing kita. Jika kita sungguh memberi perhatian kepada perkembangan fisik, manusiawi dan intelektual kita, juga lebih penting untuk tidak mengabaikan perkembangan batin kita. Hal ini terdapat dalam pengetahuan akan Allah, dalam pengetahuan yang sejati, bukan hanya dengan belajar dari buku-buku tetapi dari dan dalam persekutuan dengan Allah, untuk mengalami pertolongan-Nya dalam setiap saat dan setiap keadaan. Pada dasarnya inilah yang digambarkan oleh Syemon saa ia membahas pengalaman mistiknya sendiri. Sebagai seorang muda sebelum ia masuk biara, ia mengalami di rumahnya sendiri pada malam ia bertekun dalam doa dan berseru kepada Tuhan agar membantu-Nya memerangi godaan, ia melihat ruangannya dipenuhi dengan cahaya. Kemudian, saat ia masuk biara, ia diberi buku-buku rohani untuk pengajaran bagi dirinya namun membaca buku-buku itu tidak memberinya damai yang ia cari. Ia merasa, seperti ia sendiri katakan, bagaikan burung kecil malang yang tidak memiliki sayap. Maka ia menerima situasi ini dengan rendah hati tanpa memberontak dan suatu saat ia menerima visiun cahaya sekali lagi dan hal itu mulai berkembang. Ketika ia ingin memastikan keaslian dari pengalaman ini, ia bertanya kepada Kristus seara langsung: “Tuhan, apakah itu sungguh Engkau yang ada di sini?” Dan ia mendengar jawaban yang meneguhkan bergema dalam hatinya dan jawaban itu sungguh menentramkannya. “Tuhan, saat itu”, tulisnya kemudian “adalah saat pertama dimana Engkau menganggap aku, anak yang hilang ini, layak mendengar suara-Mu”. Meskipun begitu pewahyuan ini tidak memberinya rasa damai yang penuh. Ia bertanya, atau lebih tepat, ia mempertimbangkan bahwa pengalaman itu adalah suatu ilusi atau bukan. Akhirnya, pada suatu hari terjadilah pengalaman yang menentukan dalam pengalaman-pengalaman mistiknya. Ia mulai merasa seperti “orang miskin yang mencintai saudara-saudaranya” (ptochos philadelphos). Saat itu ia melihat dirinya dikelilingi musuh yang berusaha mengancam dia dan melukainya, namun ia merasa dalam dirinya adalah dorongan cinta yang besar kepada mereka. Bagaimana hal ini dapat dijelaskan? Sesungguhnya, cinta sebesar itu tidak dapat datang dari dirinya sendiri tetapi harus berasal dari sumber lain. Syemon menyadari bahwa hal itu daang dari Kristus yang hadir dalam dirinya dan segalanya menajdi jelas: ia memiliki bukti yang pasti bahwa sumber cinta dalam dirinya adalah kehadiran Kristus. Dia yakin bahwa dengan memiliki cinta yang melampaui pemikiran dan kehendak manusiawi menyatakan kepada kita bahwa Sumber Cinta ada dalam diri kita. Maka di satu sisi kita dapat mengatakan bahwa jika kita tidak memiliki suatu keterbukaan kepada cinta, Kristus tidak memasuki diri kita, dan di sisi lain menjadi jelas bahwa Kristus adalah sumber dari cinta yang mengubah kita. Teman-teman terkasih, pengalaman ini tetap penting bagi kita saat ini jika kita hendak mencari kriteria yang menolong kita untuk mengetahui apakah kita sungguh dekat kepada Allah, apakah Allah hadir dan berdiam dalam diri kita. Cinta Allah berkembang dalam diri kita jika tetap bersatu dengan Dia dalam doa dan dengan mendengarkan sabda-Nya dengan hati terbuka. Hanya cinta Ilahi saja yang memampukan kita untuk membuka hati kita kepada sesama dan membuat kita peka terhadap kebutuhan mereka, membawa kita untuk mengakui semua orang sebagai saudara dan saudari dan mengundang kita untuk menanggapi kebencian dengan cinta dan pelanggaran dengan pengampunan.

Dalam berpikir tentang sosok Syemon sang Teolog baru, kita dapat menambahkan suatu catatan khusus mengenai spiritualitasnya. Jalan hidup asketiks yang dipilih dan diatempuhnya, sang rahib memberi perhatian kepada pengalaman batin dan menekankan pentingnya peranan pembimbing rohani dalam kehidupan biara. Sewatu masih muda, Syemon, seperti dikatakannya sendiri, telah menemukan pembimbing rohani yang memberinya bantuan yang mendasar dan yang selalu dipegangnya dengan rasa hormat yang tinggi dan memberi penghormatan kepadanya, bahkan di hadapan umum. Dan saya ingin mengatakan bahwa undangan Syemon untuk memiliki seorang pembimbing rohani yang baik, yang dapa membantu setiap individu untuk memiliki pengetahuan yang mendalam tentang dirinya sendiri dan untuk membantunya memiliki persatuan dengan Allah sehingga dalam hidupnya dia dapat hidup lebih selaras dengan Injil masih berlaku bagi setiap imam, biarawan-biarawati dan awam. Untuk menuju kepada Allah kita selalu membutuhkan bimbingan, sebuah dialog. Kita tidak dapat melakukannya dengan pemikiran kita sendiri. Hal ini juga merupakan makna dari sifat gerejani iman kita, yaitu untuk menemukan suatu bimbingan.

Untuk menutupnya kita dapat meringkaskan ajaran dan pengalaman Syemon sang Teolog baru dengan kata-kata ini: dalam pencarian tanpa henti akan Allah, bahkan ditengah segala kesulitan yang ia hadapi dan kritikan yang bernada keberatan terhadap dirinya, pada akhirnya ia membiarkan dirinya dibimbing oleh cinta. Ia sendiri mampu untuk hidup dan mengajar para rahibnya bahwa bagi setiap murid Yesus adalah sangat mendasar untuk bertumbuh dalam cinta; maka kita bertumbuh dalam pengetahuan akan Kristus sendiri, agar bersama Santo Paulus kita dapat mengatakan: “Bukan lagi Kristus yang hidup dalam aku, tetapi Kristus yang hidup dalam aku” (Gal 2:20).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar