Senin, 12 Oktober 2009

Purgatory Dalam Pandangan Timur

Oleh Anthony Dragani
Versi asli silahkan dibaca di
http://www.east2west.org/doctrine.htm#Purgatory

Dapatkah Anda menjelaskan perbedaan antara teologi Latin mengenai Dogma Api Penyucian dengan berbagai Gereja-gereja Timur?


Secara umum, semua orang Kristen Timur tidak menggunakan kata “Api Penyucian”. Hal ini berlaku baik orang Katolik Timur maupun Ortodoks Timur. Kata “Api penyucian” sendiri merupakan suatu hal yang khusus bagi tradisi Latin, dan memiliki sejumlah muatan historis yang tidak nyaman bagi orang-orang Kristen Timur.

Di lingkungan Barat pada abad pertengahan, banyak teolog ternama yang mendefinisikan Api Penyucian sebagai suatu tempa khusus, di mana orang-orang pada dasarnya ditempatkan didalamnya dan mengalami penderitaan. Sejumlah teolog bahkan melangkah lebih jauh hendak mengatakan bahwa secara literal memang ada api yang membakar mereka yang menderita di Api Penyucian. Juga merupakan suatu hal yang populer untuk mengaitkan sejumlah periode waktu yang akan dijalani seseorang di Api Penyucian untuk berbagai pelanggaran. Perlu diperhatikan bahwa teologi Latin sekarang ini (syukurlah) telah meninggalkan pendekatan semacam itu, dan beralih kepada pendekatan yang lebih berakar pada ajaran para Bapa Gereja mengenai Api Penyucian.

Dalam pemahaman Katolik, hanya dua hal yang dogmatis berkenaan dengan Api Penyucian ini: 1) Bahwa ada tempat (atau keadaan) peralihan/transformasi bagi mereka yang akan masuk Surga, dan 2) Doa-doa berguna bagi arwah yang berada dalam keadaan ini.

Gereja-gereja Katolik Timur dan Ortodoks Timur sepenuhnya sepakat dengan Gereja Latin mengenai hal-hal ini. Praktisnya, kami secara rutin merayakan Liturgi Ilahi bagi mereka yang telah meninggal, dan mempersembahkan sejumlah doa bagi arwah-arwah itu. Kami tidak akan berbuat demikian jika kami tidak setuju dengan dua poin dogmatis di atas.

Tetapi sekali lagi kami sampaikan bahwa kami tidak menggunakan istilah Api Penyucian karena dua alasan. Pertama, hal itu adalah sebuah kata Latin yang pertama kali digunakan di Barat pada abad pertengahan, dan kami menggunakan bahasa Yunani untuk menggambarkan teologi kami. Kedua, kata Api Penyucian masih membawa muatan abad pertengahan yang kami merasa tidak nyaman dengannya.

Penting untuk diperhaikan bahwa Gereja Katolik Byzantine saya sendiri tidak pernah disyaratkan untuk menggunakan kata Api Penyucian. Piagam persatuan kami dengan Roma, “Traktar Brest: yang secara resmi diterima oleh Paus Klemens VII, tidak mewajibkan kami untuk menerima pengertian Barat tentang Api Penyucian.
Pasal V dari Traktat Brest menyatakan “Kita tidak boleh berdebat mengenai Api Penyucian…” menandakan bahwa kedua pihak dapat sepakat untuk tidak sepakat mengenai detail dari apa yang oleh orang-orang Barat disebut sebagai Api Penyucian.

Di Timur, kami memiliki kecenderungan untuk memandang secara lebih positif peralihan dari kematian ke Surga. Daripada menyebutnya “Api Penyucian” kami memilih menyebutnya “Pengilahian Terakhir” (Final Theosis). Hal ini mengacu kepada proses pengilahian dimana sisa-sisa kodrat manusiawi kita diubah sehingga kita dapat berbagai hidup dengan Tritunggal Mahakudus. Ketimbang memandangnya sebagai tempat untuk “menanti dan menderita”, para Bapa Gereja Timur mendefiniskan Pengilahian Terakhir ini sebagai suatu perjalanan. dan sekalipun perjalanan ini dapat mengandung kesulitan, namun juga ada secercah sukacita yang kuat.

Yang menarik adalah Muder Angelica (seorang biarawati pendiri stasiun televisi Katolik EWTN) telah berulangkali mengungkapkan pengertian yang sangat positif akan Api Penyucian sebagai keadaan yang penuh sukacita daripada sebagai tempat penderitaan. Dalam arti tertentu pengertiannya sungguh sejalan dengan pemahaman Timur mengenai Pengilahian Terakhir.

Walaupun kami tidak menggunakan kata-kata yang sama, orang Ortodoks Timur dan Katolik Timur serta Latin secara mendasar mempercayai hal yang sama dalam hal yang penting ini.

Harap diperhatikan juga bahwa teologi Timur mengajarkan bahwa pengilahian adalah proses tidak terbatas (infinite), dan tidak berhenti saat orang memasuki surga. Istilah “Pengilahian Terakhir” tidak dimaksudkan untuk menunjukkan hal yang sebaliknya.


Catatan Penerjemah:
Pandangan Dr. Dragani mewakili tradisi teologi Byzantine, sementara tradisi Alexandria (Koptik) dan Antiokhia (Syria) tampak seperti suatu jalan tengah antara pandangan Latin dan Byzantine. Tradisi Oriental (Syria dan Koptik) misalnya meskipun secara dominan masih menekankan aspek sukacita dari “Api Penyucian” namun memiliki tekanan yang lebih akan penderitaan dan hukuman dibandingkan tradisi Byzantine, dan karena itu juga lebih mendekati tradisi Latin walaupun secara umum mereka tetap lebih dekat dengan tradisi Byzantine.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar