Selasa, 06 Oktober 2009

Bertumbuh Dalam Pengenalan Akan Allah

Buat bahan pengajaran sel gabungan KTM MM Bdg

Ketika kita masuk ke dalam komunitas ini, kita tentu memiliki suatu tujuan. Tujuan ini mengungkapkan apa yang sebenarnya kita harapkan dari komunitas ini. Tujuan itu bisa bermacam-macam seperti ingin mendapat teman-teman baru, ingin punya pacar, sekedar mengisi waktu luang dengan kegiatan yang menurut kita baik, atau hal-hal lain, namun yang utama dan paling dalam tentunya tujuan kita bergabung dalam komunitas ini adalah agar kita bisa mengenal Allah secara lebih dalam lagi. Semua tujuan yang lain itu tidak seluruhnya salah sepanjang kita menempatkannya secara proporsional, tetapi tujuan yang utama yaitu untuk semakin mengenal Allah harus ada, dan jika hal itu tidak lagi menjadi motivasi yang utama maka kita tidak akan lama bertahan di sini. Hanya kerinduan untuk semakin mengenal Allah yang akhirnya akan membuat kita betah dan memiliki rasa cinta terhadap komunitas ini.

Hari ini kita akan merenungkan bagaimana kita dapat semakin bertumbuh mengenal Allah dan melihat bagaiman komunitas ini bisa membantu kita mencapai hal itu. Pertama-tama marilah kita mendefinisikan dulu apa itu mengenal Allah. Mengenal Allah dalam pandangan Kristen berarti memiliki relasi dengan Allah. Sama seperti halnya dengan relasi antar manusia, relasi dengan Allah juga dapat berkembang dan menjadi semakin mendalam, begitu mendalam sehingga kita tiba pada persatuan cintakasih yang memperbarui diri kita secara radikal sehingga menjadi serupa dengan Kristus Tuhan kita. Sama seperti halnya relasi dengan sesama manusia membutuhkan waktu dan komitmen untuk menjadi semakin berkembang dan mendalam begitu juga relasi dengan Allah membutuhkan waktu dan komitmen untuk mencapai kedalamannya. Santo Paulus menggambarkan proses pertumbuhan hidup rohani kita dalam suatu perbandingan dengan pertumbuhan fisik kita dari bayi sampai menjadi dewasa.

Lalu, apa yang harus kita lakukan agar kita dapat bertumbuh dalam relasi ini? St. Simeon seorang mistik Byzantine mendapatkan nasehat dari buku Hukum Rohani karangan Markus sang Pertapa “Jika engkau mencari penyembuhan rohani, dengarkanlah suara hatimu. Lakukan apa yang ia katakan padamu dan kau akan melihat bagaimana ia melayanimu”. St. Simeon menuruti bimbingan ini dan sejak itu ia tidak pernah lalai untuk mendengarkan suara hatinya, ia memeriksa segala pikiran dan perbuatannya dengan hati nuraninya dan mendengarkannya. Mendengarkan suara hati adalah suatu hal yang sangat penting dalam pertumbuhan rohani kita karena Allah berbicara dengan kita secara pribadi melalui suara hati (Katekismus no. 1776-1777, Rom 2:15-16). Senada dengan itu Paus Leo XIII mengatributkan bicara Allah dalam suara hati kepada Roh Kudus, ia mengatakan “Diantara anugerah-anugerah ini adalah peringatan-peringatan dan ajakan rahasia, yang dari waktu ke waktu dibisikkan dalam hati dan pikiran kita melalui inspirasi Roh Kudus. Tanpa hal-hal ini tidak ada permulaan hidup yang baik, tidak ada kemajuan, dan orang tidak dapat tiba pada keselamatan abadi” (Divinum Illud Munus no. 9). Bagaimanapun juga perlu diperhatikan bahwa mendengarkan bicara Allah dalam suara hati kadang tidaklah mudah, dan karena itu kita perlu menyiapkan diri kita agar dapat mendengarkan Ia berbicara, dan dalam hal ini pembacaan Kitab Suci, doa, dan penerimaan Sakramen yang dilakukan secara teratur adalah hal yang mutlak harus dilakukan.

St. Simeon secara khusus merenungkan mengenai kehadiran Roh Kudus dalam diri orang yang terbaptis dan bahwa mereka yang sudah dibaptis harus memiliki kesadaran akan kenyataan rohani ini. Ia menekankan bahwa persekutuan pribadi dan intim dengan Allah, memberikan begitu banyak rahmat yang menerangi hati orang beriman dan menuntunnya kepada persatuan dengan Allah. Sampai disini kita dapat menyimpulkan bahwa pengalaman rohani memiliki tempat yang penting dalam kehidupan rohani kita. Pengetahuan akan Allah bukanlah suatu pengetahuan intelektual yang dapat dipelajari dengan membaca buku-buku, tetapi merupakan suatu pengetahuan yang lahir dari pengalaman. Pengetahuan itu datang dari suatu proses pemurnian batin yang dimulai dari pertobatan akan dosa-dosa dan terus berkembang dalam kerinduan untuk memperoleh persatuan dengan Kristus dengan disirami oleh cahaya kehadiran-Nya dalam diri kita. Pengetahuan intelektual akan ajaran agama memang membantu kita untuk mengenal Allah, tetapi itu hanya alat yang menunjukkan jalan, sementara kita baru mulai berjalan di jalan itu jika kita memiliki pengalaman akan Allah.

Apa yang dikatakan oleh St. Simeon memiliki kesamaan dengan visi misi komunitas kita, “Dalam kuasa Roh Kudus mengalami dan menghayati sendiri kehadiran Allah yang penuh kasih dan menyelamatkan sampai pada persatuan cinta kasih serta membawa orang lain kepada pengalaman yang sama”. Visi misi ini meminta kita untuk bersandar pada kuasa Roh Kudus dan harus membuka diri terhadap pengalaman kehadiran Allah yang ditawarkan kepada kita, serta diperdalam sampai pada persatuan dengan Allah di mana kita hanya menghendaki apa yang dikehendaki Allah dan mengasihi apa dan siapa yang dikasihi-Nya. Bagi Simeon salah satu titik penting pengalaman rohaninya adalah ketika ia merasa dirinya adalah “seorang miskin yang mencintai saudara-saudaranya” dalam pengelihatannya ia melihat ada begitu banyak musuh mengelilingi, membenci dan hendak melukainya tetapi hatinya dipenuhi rasa cinta kepada musuh-musuhnya. Simeon menyadari bahwa dirinya sendiri tidak memiliki rasa cinta sebesar itu, ia adalah manusia normal yang seperti kita sulit untuk mengasihi mereka yang membenci kita, jadi Simeon tiba pada keyakinan penuh bahwa cinta itu pastilah berasal dari sumber lain, yaitu dari Kristus yang meminta kita mencintai musuh. Adalah Kristus yang memberi kita rahmat yang cukup untuk melaksanakan perintah-Nya, pengalaman ini merupakan bukti baginya bahwa Kristus hadir dalam dirinya.

Sekarang mari kita membandingkan pengalaman Simeon dengan pengalaman rohani kita. Sebagian besar dari kita, katakanlah begitu, memiliki pengalaman kesadaran akan kehadiran Roh Kudus dalam diri kita, pertama-tama saat kita mengalami Pencurahan Roh Kudus. Kita tahu bahwa sejak dibaptis kita telah menerima Dia dan diperkuat dalam Dia saat menerima Sakramen Krisma, kita juga tahu bahwa Allah hadir dalam Ekaristi, dan seterusnya. Tetapi, pengetahuan ini seringkali datang hanya sekedar sebagai informasi dari orang tua atau dari guru agama atau dari buku rohani atau dari Kitab Suci. Kita tahu, tetapi kurang menyadari dan seringkali tidak mengalami, dan karena itu seperti kata St. Simeon pengetahuan ini bukanlah pengetahuan yang sejati. Pencurahan Roh Kudus membawa kita kepada kesadaran bahwa Allah hadir dalam diri kita, saat-saat itu seringkali dipenuhi kerinduan untuk meninggalkan dosa-dosa dan untuk hidup bagi Allah, untuk menjalin relasi lebih mendalam dengan-Nya dan untuk bertumbuh dalam segala hal yang baik. Ini adalah awal yang baik, tetapi dapat berakhir dengan tidak baik jika kita tidak mengembangkannya karena anggota-anggota Gereja yang tidak bertumbuh dalam cintakasih bukan hanya tidak dapat diselamatkan tetapi malahan akan diadili dengan lebih keras (Lumen Gentium 14).

Sekarang, kita akan melihat bagaimana komunitas ini dapat membantu kita bertumbuh mengenal Allah. Pertama, komunitas ini memiliki spiritualitas karmelit. Tradisi Karmel, seperti diungkapkan oleh Teresia dari Avila, dapat diringkas dengan dua pernyataan “Aku ingin melihat Allah” dan “Aku adalah puteri Gereja”. Pernyataan pertama menekankan unsur pengalaman pribadi, aku ingin melihat Allah berarti memiliki hubungan yang intim dengan-Nya. Pernyataan kedua menekankan unsur pengalaman bersama, hubungan pribadi dengan Allah dihayati komunitas beriman yang berasal dari Yesus yaitu Gereja yang didirikan-Nya di atas Kefas, dan yang diperolehnya dengan menumpahkan darah di kayu salib. Kedua, komunitas ini memiliki spiritualitas karismatik, yaitu keterbukaan akan bimbingan Roh Kudus dan karunia-karunia-Nya. Hal ini sedikit banyak berhubungan dengan pernyataan yang pertama dan memberi beberapa unsur baru didalamnya. Karismatik disini terutama dipahami secara teologis, yaitu melalui pengalaman Pencurahan Roh Kudus seseorang menyadari kehadiran Allah dalam diri-Nya yang secara tradisional dalam teologi Katolik (sebagaimana ditunjukkan oleh St. Simeon, Paus Leo XIII dan banyak lainnya) selalu diatributkan sebagai karya Roh Kudus.

Secara konkret komunitas memiliki komitmen-komitmen, yang disini akan kita lihat saja secara sepintas. Sejumlah komitmen berkenaan dengan hidup pribadi kita seperti mendoakan doa penyerahan dan meluangkan waktu satu jam dalam doa dan bacaan Kitab Suci. Kehadiran dalam pertemuan sel dan acara komunitas berkaitan dengan unsur kebersamaan dalam komunitas. Mengikuti Misa sekurangnya sekali selain pada hari minggu dan hari raya wajib serta menerima Sakramen Tobat secara teratur berkaitan dengan hidup rohani pribadi kita dan kebersaman dengan seluruh Gereja. Pelayanan dan persembahan kasih merupakan tanda nyata dari komitmen dan hendaknya dihayati sebagai kesediaan berbagi dengan sesama. Komitmen ini penting karena menunjukkan bahwa pengalaman relasi dengan Allah bukanlah hanya soal perasaan saya merasa dekat dengan Allah yang dapat datang dan pergi kapan saja, tetapi merupakan keputusan yang melibatkan seluruh diri kita; pikiran, perasaan, kehendak, dan perbuatan yang harus ditumbuhkan dari hari ke hari sampai akhirnya kita tiba pada persatuan dengan-Nya.

Akhirnya kita dapat mengingat kata-kata dari Paus Benediktus XVI ini “Teman-teman terkasih, jika kita ingin mengetahui kriteria apakah kita sungguh dekat dengan Allah, atau apakah Allah hadir dan berdiam dalam kita maka kita akan mengalami dalam diri kita suatu cinta yang melampaui kehendak pribadi kita maka kita dapat yakin bahwa cinta itu berasal dari luar diri kita yaitu berasal dari Kristus. Cintakasih Allah bertumbuh dalam diri kita jika kita tetap bersatu dengan Dia dalam doa dan mendengarkan sabda-Nya dengan hati terbuka. Hanya cinta Ilahi saja yang memampukan hati kita menjadi terbuka kepada sesama dan membuat kita peka akan kebutuhan mereka dan menganggap mereka sebagai saudara dan saudari serta mengundang kita untuk menanggapi kebencian dengan cinta dan pelanggaran atau tindakan yang menyakiti dengan pengampunan”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar