Jumat, 09 Oktober 2009

St. Rafqa Boutrossie al-Choubouq al-Rais



Riwayat Hidup
Rafqa lahir pada tanggal 29 Juni 1832, bertepatan dengan Hari Raya St. Petrus dan Paulus, disebuah desa di wilayah Metn Utara, Libanon. Ia adalah puteri tunggal dari pasangan Mourad Saber al-Chobouq al-Rais dan Rafqa Gemayel. Ia dibaptis pada tanggal 7 Juni 1832 oleh Abouna (=Pater, dalam bahasa Aram) Hanna al-Rais di gereja Mar Jergyes (St.George) dan diberi nama Boutrossie (bentuk feminin dari Boutros/Petrus). Masa kecil Boutrossie berlangsung bahagia, ia dibesarkan dalam keluarga Katolik ritus Maronite yang saleh, ketika ia berusia tiga tahun orang tuanya mulai mengajarkan doa-doa dasar seperti Tanda Salib, Bapa Kami, dan Salam Maria serta mengajaknya untuk terlibat aktif dalam kehidupan Paroki di desa mereka.

Rafqa Gemayel meninggal ketika Boutrossie berusia 7 tahun. Setelah ibunya meninggal, Boutrossie tinggal bersama ayahnya, namun kesulitan ekonomi yang melanda seluruh Libanon dan juga keluarga itu memaksa sang ayah untuk pergi merantau ke Damaskus. Selama sang ayah berada di Damaskus, Rafqa dititipkan kepada keluarga Assaad Badawi, yang merupakan keluarga kaya dan terpandang di wilayah itu. Meskipun dititipkan untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga, namun keluarga Assaad Badawi sangat menyayangi Boutrossie, istri Assad yang bernama Heleneh memperlakukan Boutrossie sebagai puterinya sendiri dan menyebut Boutroussie sebagai teladan kejujuran, kesalehan, dan kemurnian.

Setelah empat tahun tinggal bersama keluarga Badawi, Rafqa kembali kepada ayahnya. Keadaan keluarga mereka kini mengalami perubahan karena sang ayah telah menikah kembali dengan seorang perempuan bernama Kafa. Boutrossie sangat disayang oleh ibu tirinya, namun rasa sayang ini justru menimbulkan konflik dalam keluarga besar. Kafa rupanya berniat menjodohkan Boutrossie dengan adik laki-lakinya, sementara itu bibinya, yang merupakan saudari ibu kandungnya berniat menjodohkan Boutroussie dengan puteranya. Kemudian timbullah pertengkaran antara ibu tiri dan bibi Boutroussie, mereka berdua berebut menjodohkan Boutroussie dengan pilihan masing-masing.

Di tengah-tengah keributan mengenai perjodohan itu, Boutroussie justru merasakan adanya panggilan untuk suatu cara hidup yang lain. Didalam hatinya ia merasa bahwa Allah memanggilnya untuk hidup membiara. Dalam kebingungannya ini Boutroussie menemukan sosok pembimbing rohani pada diri Abouna Youseff Gemayel. Abouna Youseff masih kerabat almarhum ibunya dan merupakan pembimbing rohani yang baik. Boutroussie sering mengunjungi Abouna Youseff di Paroki St. Mikael di Bifkaya dan di sana ia mengenal Konggregasi Mariamite yang didirikan oleh Abouna Youseff bersama para misionaris Yesuit.

Pada tahun 1859 Boutroussie memutuskan untuk masuk Konggregasi Mariamite setelah ia diteguhkan lewat sebuah suara yang mengatakan kepadanya “kamu akan menjadi biarawati” saat ia dan 2 orang temannya berdoa di hadapan ikon Bunda Maria Pembebasan. Keluarga Boutroussie rupanya tidak begitu setuju dengan keputusannya untuk menjadi biarawati, ayah dan ibu tirinya datang ke biara meminta ia pulang, namun Boutroussie menolaknya, ia memilih untuk tetap menjadi biarawati.

Di biara Boutroussie mulanya bertugas di dapur untuk mempersiapkan makanan bagi para seminaris dan menggunakan waktu luangnya untuk memperdalam bahasa Arab, kaligrafi, dan matematika. Diantara para seminaris yang sempat ia layani banyak diantaranya akan menjadi tokoh penting dalam Gereja Maronite antara lain Patriarkh Elias al-Houwayek dan Uskup Agung Boutros al-Zoghbi.

Pada tahun 1860 Boutroussie mulai ditugaskan untuk mengajar, tugas pertamanya adalah di Deir al Kamar, dan di tempat ini pula ia menyaksikan suatu kerusuhan berdarah yang dipicu oleh serangan orang-orang Druze terhadap warga Maronite, kerusuhan itu menewaskan sekitar 7000 orang, menghancurkan 360 desa, 560 gereja, 28 sekolah dan 42 biara. Dalam kerusuhan itu Boutroussie sempat menyelamatkan seorang anak dengan cara yang unik, yaitu menyembunyikannya di balik jubah sehingga anak itu lolos dari kejaran para perusuh.

Kemudian Boutroussie dipindahkan ke Byblos dan akhirnya ke sebuah desa bernama Maad. Kedatangan para suster Mariamite ke Maad difasilitasi oleh seorang kaya bernama Antoun Issa. Antoun Issa menghendaki agar di desanya didirikan sebuah sekolah bagi anak-anak perempuan, ia meminta agar Patriarkh Masaad bersedia memberi izin kepada para suster Mariamite untuk berkarya di desanya. Lebih jauh lagi ia menyumbangkan segala yang diperlukan untuk mendirikan sekolah, dan menyerahkan separuh rumahnya untuk dijadikan rumah para suster.

Para suster cepat diterima di Maad dan sekolah yang mereka dirikan berkembang pesat, tetapi kesulitan ekonomi lagi-lagi mendatangkan masalah bagi para suster. Kesulitan ekonomi membuat para Yesuit memutuskan untuk menggabungkan Konggregasi Mariamite dan Hati Kudus dari Zahle. Para suster yang tidak setuju dengan penggabungan itu dipersilakan meninggalkan biara. Situasi kembali menjadi sulit bagi Boutroussie.

Tuan Antoun Issa yang senang dengan pekerjaan para suster menawarkan agar jika para suster memilih meninggalkan biara mereka tetap tinggal di desanya dan ia akan menggaji mereka sebagai guru. Boutroussie menolak permintaan ini, dan menceritakan pengalaman rohaninya kepada Tuan Antoun bahwa ia ingin menjadi pertapa. Boutroussie menceritakan bagaimana ia mendapat mimpi bertemu St. Antonius Agung, St. George, dan St. Simon pertapa dan St. Simon memintanya bergabung dengan para pertapa Maronite yang dikenal dengan sebutan Baladite. Boutroussie menceritakan bahwa mimpi ini memberinya kebahagiaan dan menghapuskan semua kekhawatirannya. Tuan Antoun dan Boutroussie sama-sama yakin bahwa mimpi ini adalah jawaban dari Allah atas pergumulan hidup Boutroussie. Selanjutnya Tuan Antoun membantu Boutroussie masuk biara Baladite dengan meminta rekomendasi bagi Boutroussie dari sejumlah imam dan uskup yang dikenalnya.

Boutroussie kemudian menjadi biarawati di Pertapaan St. Simon al-Qarn di Aito dan tetap setia sampai akhir hayatnya. Ia mengganti namanya dari Boutroussie menjadi Rafqa, sesuai dengan nama ibunya, orang pertama yang memperkenalkan Kristus dan menanamkan rasa cinta kepada Allah dalam dirinya. Pada minggu pertama bulan Oktober 1885, Rafqa meminta agar Yesus memberinya penyakit dan penderitaan sehingga ia dapat menemani Yesus menanggung penderitaan dan sengsara-Nya. Doa Rafqa ini dijawab dengan cepat, ia menderita penyakit pada mata yang berakhir dengan kebutaan dan juga menderita lumpuh. Rafqa melewati tahun-tahun penderitaannya dengan penuh syukur karena diberi kesempatan untuk menemani Yesus dalam sengsara-Nya. Akhirnya setelah melewati penderitaan panjang Rafqa meninggal pada tanggal 23 Maret 1914, bertepatan pada hari Senin Abu (permulaan masa Prapaskah menurut kalender liturgi Maronite), ia meninggal sekitar 4 menit setelah menerima absolusi dan berkat terakhir.

Pada anggal 11 Februari 1982 Paus Yohanes Paulus II menyatakan Rafqa sebagai Venerabilis, dan kemudian pada tanggal 17 November 1985 menyatakan Rafqa sebagai Beata, dan akhirnya pada tanggal 10 Juni 2001 menyatakannya sebagai Santa.

Menderita Bersama Yesus
Salah satu hal yang paling menonjol dalam kehidupan rohani Rafqa adalah kerelaannya untuk menderita bersama Yesus. Kesadaran ini muncul setelah ia melihat penderitaan para saudari sebiaranya yang sedang sakit, penderitaan masyarakat di Deir al Kamar dan kemudian dengan penyakitnya sendiri. Melalui semua penderitaan ini Rafqa semakin mencintai Salib dan ingin memanggulnya bersama sang Penebus. Rafqa menghayati benar kata-kata Kitab Suci “sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikianlah pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah” (2Kor 1:5), “bersukacita karena boleh menderita dan menggenapkan apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu Gereja” (Kol 1: 24), “bersukacitalah sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya” (1 Ptr 4: 13). Bagi Rafqa semua penderitaan tidaklah sia-sia karena melaluinya Tuhan bekerja sehingga “penderitaan kami menjadi penghiburan dan keselamatan bagi kamu; jika kami dihibur, maka hal itu adalah untuk penghiburan kamu, sehingga kamu beroleh kekuatan untuk dengan sabar menderita kesengsaraan yang sama seperti yang kami derita juga” (2Kor 1:6).

Kerinduan ini membawa Rafqa untuk meminta penderitaan dari Tuhan, ia rindu untuk membawa tanda-tanda kesengsaraan Kristus dalam dirinya (Gal 6: 17). Kerinduan inilah yang akhirnya mendorong Rafqa untuk berdoa secara khusus memohon agar Tuhan berkenan memberinya suatu penderitaan. Doa Rafqa ini dijawab dengan cepat dan segera oleh Tuhan, tak lama setelahnya Rafqa mendapatkan rasa sakit yang luar biasa pada matanya, kedua matanya membengkak dan tampak seperti terbakar. Para rekan susternya berusaha mengobati penyakit ini dengan mengirimkan Rafqa ke sejumlah dokter, namun upaya ini tampak sia-sia. Setelah pengobatan ke dokter-dokter lokal tidak membuahkan hasil. Suatu ketika seorang imam meminta agar Rafqa dibawa kepada seorang dokter Amerika yang sedang berada di Libanon, dokter Amerika ini kemudian mengoperasi Rafqa. Operasi ini berakhir dengan kegagalan dan Rafqa kehilangan mata kanannya, sehingga para suster terpaksa membawa Rafqa ke dokter lain lagi untuk menghentikan pendarahan yang masih berlangsung akibat operasi. Dua tahun setelah operasi Rafqa mata kirinya juga menjadi buta, dan Rafqa mengalami kebutaan total. Selain buta dan tetap mengalami rasa sakit pada matanya, Rafqa juga menderita kelumpuhan dan kerap kali mengalami pendarahan dari hidungnya. Ia menjadi kurus kering dan kondisinya sangat lemah. Secara khusus ia sangat tersiksa dengan rasa sakit pada kedua bahunya, rasa sakit yang membuatnya berkali-kali berdoa “bagi kemuliaan Allah, dalam partisipasi dengan luka Yesus pada bahu-Nya”.

Meskipun sakit parah, Rafqa selalu berusaha untuk menjalankan semua kewajiban hidup membiaranya. Sejauh mungkin ia berusaha agar dapat mengikuti ibadat bersama di kapel, dan ketika ia tidak mampu maka ia mengisinya dengan berdoa sendirian di tempat tidurnya. Sekalipun ia buta dan lumpuh namun ia tetap bekerja dengan menjahit dan menyulam. Rafqa yakin bahwa Allah sengaja tidak memberikan rasa sakit pada kedua tangannya agar ia tetap dapat bekerja dengan tangan itu.

Rafqa mengalami penderitaan ini selama sekitar 20 tahun, dan kesaksian dari mereka yang pernah mengenalnya mengatakan kepada kita bahwa mereka tidak pernah melihat ia mengeluh. Dari diri Rafqa sendiri terlihat jelas bahwa ia menyadari benar bahwa penderitaannya adalah “bagi kemuliaan Allah, dengan ambil bagian dalam luka Yesus dan mahkota duri-Nya”.

Kecintaan Kepada Ekaristi Kudus Dan Perawan Maria

Pada tahun 2000, bertepatan dengan Yubileum Agung, Paus Yohanes Paulus II menetapkan Rafqa sebagai teladan dalam melakukan Adorasi kepada Sakramen Mahakudus. Selama hidupnya Rafqa menunjukkan betapa ia mencintai Tuhan dalam Ekaristi dan berusaha agar orang lain juga memiliki cinta kepada Yesus dalam Ekaristi. Sewaktu ia masih menjadi guru ia kerap kali mengatakan kepada para muridnya “Kalian hendaknya mengerti bahwa Yesus turun ke Altar saat imam mengucapkan Kata-kata Suci (konsekrasi), pada saa itu, tundukkanlah kepala kalian dan renungkanlah Tuhan yang tersembunyi dalam Roti dan Anggur”. Ia juga mendorong agar para muridnya kerap menerima Sakramen Tobat dan sering menyambut Komuni. Rafqa juga adalah orang yang diduga mendorong kebiasaan Penahtaan Sakramen Mahakudus di gereja St. Yohanes Markus di Byblos dan menyebarkan devosi ini di kota itu.

Rafqa menyadari benar bahwa Ekaristi adalah suatu Kurban sebagaimana orang-orang Maronite menyebut Misa dengan nama Qurbono, sebuah kata dalam bahasa Aramaik yang berarti Kurban. Maka Ekaristi adalah suatu Kurban yang dipersembahkan kepada Allah dan pada saat yang sama adalah santapan yang menguduskan jiwa kita sebagaimana dalam bahasa Arab mereka menyebutnya Quddas (Kudus). Pemahaman ini mendorong Rafqa untuk bertekun dalam menjaga kekudusan dan mempersembahkan hidupnya sebagai kurban bagi Allah.

Rafqa menunjukkan cintanya kepada Ekaristi dengan cara yang luar biasa. Pada suatu Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus antara tahun 1905-1914, ia begitu ingin mengikuti Misa di kapel sekalipun tubuhnya lumpuh dan sangat lemah. Para suster berusaha memindahkan dia ke kapel namun gagal karena Rafqa yang selain lumpuh juga sudah sangat kurus kering itu terlalu lemah untuk beranjak dari tempat tidurnya, sehingga suster pemimpin biara hanya menjanjikan bahwa sesudah Misa, imam akan mengantarkan Komuni untuknya. Namun, kemudian dengan bantuan rahmat Allah, Rafqa meminta agar Yesus membawanya ke kapel. Ia memperoleh sedikit tenaga untuk menjatuhkan dirinya ke lantai dan kemudian merangkak ke kapel. Dengan perjuangan yang luar biasa Rafqa tiba di kapel dan menyambut Komuni. Tindakan ini menunjukkan betapa besarnya cinta Rafqa kepada Yesus dalam Ekaristi dan menegaskan bahwa Ekaristi adalah sumber kekuatan dan penghiburan di tengah segala penyakit dan kelemahan tubuhnya.

Rafqa juga memiliki cinta yang besar kepada Perawan Maria, devosi kepada Perawan Maria adalah warisan yang sangat berharga yang ia terima dari ibunya. Sedari kecil Rafqa memiliki ikatan yang istimewa dengan Bunda Maria, khususnya dengan ikon Bunda Maria Pembebasan yang populer di Libanon ketika itu. Tradisi rohani orang-orang Libanon secara umum memiliki hubungan erat dengan Santa Perawan, di negara itu Bunda Maria populer dengan nama “Bunda kita dari Libanon” dan devosi kepada Maria tumbuh sangat subur dalam lingkungan ritus Maronite dan semua orang Kristen Libanon entah mereka itu Katolik (Maronite, Syriac, Chaldean, Yunani, Latin dst), Ortodoks Yunani, ataupun Ortodoks Syria (Monofisit).

Garam dan terang dunia
Setelah kematiannya, tepatlah jika kata-kata Kitab Suci ini dikenakan kepada Rafqa “Yang mati dibunuhnya pada waktu matinya itu lebih banyak dari pada yang dibunuhnya pada waktu hidupnya” (Hakim 16: 30b). Begitulah setelah kematiannya Rafqa telah membuat banyak orang mati terhadap dosa dan hidup bagi Kristus jauh lebih banyak daripada yang telah ia lakukan selama hidupnya. Rafqa telah menjadi sumber kekuatan bagi mereka yang menderita khususnya karena penyakit yang amat parah. Ia menunjukkan bahwa penderitaan kita tidaklah tanpa arti dan di tangan Tuhan penderitaan kita menjadi sesuatu yang berharga untuk keselamatan kita dan juga orang lain. Penderitaan Rafqa juga telah menjadi sumber penghiburan bagi banyak orang lain yang menderita, yang dengan menatap penderitaannya telah memperoleh kekuatan dan penghiburan dari Tuhan. Rafqa juga telah menjadi perantara bagi banyak mukjizat penyembuhan dan pertobatan sehingga nama Tuhan semakin dimuliakan melaluinya.

Oleh karena itu tepatlah Paus Yohanes Paulus II pada saat ia menyatakan Rafqa sebagai Beata mengatakan hal ini tentang dirinya: “Beata Rafqa dari Himlaya adalah “garam dan terang dunia”. Dan inilah perutusan dari semua murid-murid Yesus. Setelah ia menerima banyak dari harta Gereja dan hidup membiara, Beata yang baru ini memberikan kepada Gereja dan tanah airnya, secercah rahasia keberadaan, yang sepenuhnya diperkaya oleh Jiwa sang Penebus. Rafqa bagaikan lampu yang menyala di puncak gunung. Kita dapat menggambarkan dia dengan kata-kata indah dari Mazmur 92 (ayat 12): Orang benar akan bertunas seperti pohon kurma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon.”

Tulisan ini dibuat dengan mengacu pada riwayat hidup St. Rafqa yang dimuat di saintrafqa.org, wikipedia, dan vatican.va

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar