Sabtu, 10 Oktober 2009

Penjelasan Qurbono (Part 4)

PENJELASAN TIAP RITUS QURBONO

Judulnya

Judul dituliskan dalam bahasa Syriac dan Arab. Kata Syriac, Qurbono, diterjemahan menjadi kata Arab Quddas, walaupun terjemahan ini tidaklah literal. Dua kata ini dipertahankan karena penggunaannya yang sudah umum dalam kedua bahasa itu. Untuk melengkapi judul ini, ditambahkanlah sub-judul: “Menurut Ritus Gereja Maronite Syriac Antiokhia”. Gereja Maronite, pada kenyataannya bukanlah suatu kelompok gerejani yang berdiri sendiri, melainkan termasuk ke dalam Gereja Antiokhia dalam tradisi Syriac. Penerbitan buku ini oleh “Bkerke” (Tahta Patriarkal) memiliki keistimewaan tersendiri: selain buklet “Ritus Sederhana” tahun 1973, ini adalah satu-satunya buku Qurbono yang secara resmi diterbitkan oleh Kepatriarkan Maronite). Selain itu, tahun 1992 memiliki arti tersendiri: hal itu mengingatkan kita bahwa tepat 400 tahun sebelumnya, edisi pertama Buku Qurbono diterbitkan di Roma (1592-1594). Edisi pertama ini kemudian ditolak karena mengubah sejumlah tradisi Gereja Syriac Antiokhia Maronite (kenyataannya, judul dari edisi ini adlaah: Buku Qurbono Chaldean). Setelah 400 tahun, edisi kita yang sekarang ini, telah membuat koreksi yang diperlukan dan membawa kembali Ibadat Qurbono ke tradisi Maronite yang otentik.

Persiapan Persembahan
Pada masa sekarang ini, ritus ini hanya tindakan rutin tanpa arti liturgis apapun. Roti ditempatkan di atas patena, lalu diselubungi; anggur dan air dicampur ke dalam piala lalu ditutup, dan menunggu dibawa ke Altar untuk dikonsekrasi. Pada masa yang lebih awal, ketika persembahan terdiri dari pengumpulan persembahan dari umat yang dikumpulkan oleh jemaat kepada Diakon, ritus ini memiliki banyak makna. Diakon kemudian akan memisahkan persembahan menjadi duga bagian, satu dikhususkan untuk konsekrasi, dan yang lainnya dibagikan kepada umat diakhir Qurbono. Bagian yang dikhususkan untuk konsekrasi disebut Furshono dalam bahasa Syriac (begitu juga kata dalam bahasa Arab Burshan) yang berarti: yang dipisahkan untuk dikuduskan.

Dalam ritus sederhana ini, kami menyisakan unsur-unsur yang mendasar; untuk menyertai tiap tindakan kami menyediakan ayat-ayat yang menyertainya, satu ayat untuk roti, ayat lain untuk penutupan dengan selubung, dst. Kami menyerahkan ritus ini kepada Diakon menurut tradisi yang lebih awal sebagaimana terlihat dalam Buku Bimbingan (Kitab al-Hoda - abad 11). Karena itu, kami mendorong kehadiran seorang Diakon di setiap paroki untuk mendampingi selebran dalam ritus ini. Jika tidak ada Diakon, maka seorang pelayan dengan tahbisan rendah dapat menggantikannya. Ritus ini berlangsung di Altar samping atau di sisi kanan Altar utama (sisi kanan selebran jika ia berdiri di Altar). Pada hari-hari biasa, persiapan persembahan dapat berlangsung di Altar utama, yaitu di sisi kanan Altar. Hal ini menampilkan perubahan praktis untuk hari-hari biasa karena sekarang ini Qurbono dirayakan setiap hari.


Pengenaan Pakaian Liturgis
Selebran mengenakan pakaian yang khusus sesuai tradisi Maronite Syriac, sebagaimana hal itu dinyatakan dalam dokumen-dokumen Maronite yang kuno. Untuk kembali kepada tradisi itu merupakan suatu hal yang perlu untuk memelihara identitas Maronite dari semua unsur asing (Latin dan non-Latin). Pakaian ini akan menunjukkan jejak Maronite Syriac “Timur”/ Doa-doa dan mazmur-mazmur yang menyertai penggenaan pakaian ini bersifat optional. Mereka sudah dikenal baik dalam buku-buku liturgi kita. Doa “Ya Tuhan, buatlah aku layak…” yang diucapkan di kaki Altar sebelum memulai Qurbono adalah hal baru dalam tradisi kita yan dipinjam dari ritus Ortodoks Syriac Barat.

Penerangan Gereja
Tindakan liturgis pertama yang dapat di-indera adalah penyalaan. Kristus adalah terang kita; cahaya melambangkan diri-Nya. Maka, penerangan gereja (lilin dan lampu) berlangsung sebelum selebran masuk, sementara lilin-lilin dinyalakan jemaat menyanyikan madah kepada Kristus sang Terang yang menerangi kita semua.

Perarakan Masuk
Perarakan masuk menandai perarakan selebran dan para pelayan pembantunya. Seorang pembawa salib memimpin perarakan diikuti oleh pembawa lilin, pembawa dupa, dan pembawa buku-buku yang diperlukan untuk perayaan. Perarakan dimulai dari sakristi, atau lebih baik lagi dari pintu masuk utama gereja. Perarakan diiringi dengan sebuah madah atau mazmur yang cocok dengan peristiwa liturgis, dan menempatkan semua dalam suasana yang cocok berdasarkan liturgi hari itu. Perarakan masuk berakhir di muka panti imam: semua beridri di hadapan Altar, membungkuk di hadapannya, dan menyanyikan madah, “Aku memasuki Bait-Mu, ya Tuhan..” dalam bahasa Syriac. Madah ini harus dinyanyikan dalam bahasa Syriac di seluruh gereja-gereja Maronite di seluruh dunia. Orang Maronite, di manapun mereka berada, akan dapat mendengar madah yang sama, dengan melodi yang sama, dan dalam bahasa yang sama di semua gereja-gereja mereka.

Dengan persetujuan dari otoritas gerejani yang berwenang, kami memutuskan untuk mewajibkan penggunaan bahasa Syriac dalam menyanyikan tiga madah berikut ini; dialgo pembukaan pada permulaan ibadat (dan saat naik ke Altar pada permulaan anaphora), Qadeeshat Aloho, dan narasi kisah penetapan Ekaristi.

Ibadat
“Ibadat” (dalam bahasa Arab Khidmat) adalah terjemahan dari kata Syriac teshmesto. Ibadat ini adalah ritus khusus untuk tindakan liturgis yang khusus. Kenyataannya, dalam tradisi Maronite kita, nama Teshmeshto diberikan kepada buku yang memuat doa-doa Gereja untuk berbagai pesta. Khidmat (ibadat) juga berarti buku yang memuat bagian-bagian jemaat dan Diakon. Saat kami mengatakan Buku Ibadat, kami mengacu kepada buku yang memuat tugas pelayanan Diakon dalam Qurbono.

Dalam kaitannya dengan Qurbono, “Ibadat” berarti doa-doa untuk hari pesta sepanjang seluruh masa liturgi. Ibadat adalah unsur dalam Qurbono yang berubah hampir setiap minggu. Dalam bingkai masa-masa liturgi, Ibadat menampilkan kedalaman dan keindahan liturgi. Karena itu, orang yang melayani “Ibadat Pesta” harus menyadari aturan dasar tahun liturgi dan pergantian pesta-pesta dan hari-hari biasa.

Tahun Liturgi Maronite
Tahun liturgi dimulai pada minggu pertama bulan November dan berakhir pada minggu terakhir bulan Oktober. Tahun liturgi berpusat pada misteri Tuhan Yesus mulai dari kelahiran-Nya, pembaptisan-Nya, ajaran-Nya yang menyelamatkan, sampai kepada kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya serta turun-Nya Roh Kudus atas para murid-Nya, dan penantian akan kedatangan-Nya yang kedua. Semua perayaan Tuhan ini dianggap sebagai batu penjuru yang penting dalam tahun liturgi dan disebut sebagai “masa liturgi”. Masa-masa liturgi itu adalah: Kelahiran Tuhan, Epifani, Prapaskah, Sengsara, Kebangkitan, Pentakosta, dan Salib Suci. Masa-masa liturgi ini penuh makna dan mengandung banyak berkat, dihayati oleh umat Gereja dari minggu ke minggu, sebagai persiapan dari pesta tertentu atau sebagai bagian dari kelanjutannya. Keseluruhan masa ini dikenal sebagai tahun liturgi atau lingkaran liturgi. Dalam Buku Qurbono yang baru ini, kami memuat serangkaian doa-doa dan madah-mada, yang disebar kesemua pekan sepanjang tahun menyertai semua pesta-pesta Tuhan. Keseluruhan ini membentuk “Ritus Ibadat” yang membentuk bagian Qurbono. Dalam Buku Qurbono disediakan sekitar 50 Ibadat, sama seperti jumlah pekan sepanjang tahun. Ibadat ini memungkinkan komunitas untuk menghayati “peristiwa besar” Tuhan Yesus dan misteri keselamatan-Nya.

Siklus ini mencerminkan suatu hal yang baru dan unik dalam Qurbono Gereja Maronite. Pada saat yang sama, ia menampilkan suatu gerakan kembali kepada kekayaan warisan Syriac Maronite kita, yang memasukkan sejumlah besar “Ibadat”, terutama diantara masa liturgi antara Pentakosta dan dua pesta Rasul-rasul (Santo Petrus dan Paulus, dan Para Rasul secara umum), dalam Pesta Maria diangkat ke surga, dan peringaan-peringatan mingguan, bagi para kudus secara umum. Umat beriman sebagai individu dan komunitas dapat mengalami setiap minggu dalam tahun, dan lebih lagi, setiap hari dalam pekan, sebagai suatu peristiwa istimewa yang berhubungan dengan kehidupan Tuhan Yesus. Dengan cara ini liturgi menjadi peristiwa yang hidup, bukan pengulangan doa-doa yang sama dan madah yang secara rutin diucapkan setiap hari, minggu, dan tahun. Setiap individu beriman dan seluruh komunitas patut bersyukur atas ritus baru yang hidup ini, dengan menghayati suatu hidup yang baru dan menciptakan suatu gerakan yang terberkati dalam pembaruan iman dan hidup Kristen mereka.
Teks dari berbagai Ibadat ini diambil dari berbagai buku liturgi Syriac Maronite. Referensinya dicatat secara detail dalam penelitian-penelitian yang menyertai proyek Qurbono baru.

Susunan Ibadat Baru
Doa-doa, madah dan tindakan dari tiap ibadat mengikuti suatu urutan yang berlaku untuk semua ibadat:
• Doksologi (Kemuliaan kepada Bapa)
• Doa Pembukaan (Pujian dan Kemuliaan)
• Madah Malaikat (Kemuliaan kepada Allah di tempat mahatinggi)
• Doa Mohon Belaskasih (Hoosoyo)
• Proemion (Pengantar Doksologi)
• Sedro (Susunan Doa)
• Qolo (Madah)
• Etro (Doa Pendupaan)

Susunan ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok. Pertama, adalah bagian yang dikhususkan untuk memuji dan memuliakan Allah pada awal Ibadat. Kedua, adalah permohonan pengampunan melalui pengenangan akan tindakan Allah yang menyelamatkan yang dikenangkan dalam ibadat hari yang bersangkutan. Dalam kelompok kedua ini, sedro memiliki unsur yang dominan: pada dasarnya sedro adalah pengenangan akan tindakan Allah yang menyelamatkan dimasa lalu dan juga sebagai meditasi teologis dari peristiwa yang sama dalam kaitannya dengan zaman sekarang yang diikuti dengan rangkaian permohonan yang diilhami oleh peristiwa itu sendiri dan oleh kebutuhan komunitas. Doa mohon belaskasihan disertai dengan pembakaran dupa dan pendupaan.

Makna Dupa

Liturgi menggunakan dupa untuk berbagai makna.Tiga yang paling penting adalah sebagai berikut:
• Persembahan “kurban dupa” yang terbakar kepada Allah untuk dosa-dosa kita,
memohon agar Dia berkenan dengan persembahan kita dan mengasihani kita;
• Pemurnian dari dosa dan pengusiran roh jahat yang menyebabkan dosa. Maka
selebran mendupai komunitas dan tempat sekitarnya, untuk memurnikan mereka
dan mempersiapkan mereka menyambut Tuhan Allah segala kemuliaan;
• Untuk menghormati Allah yang bagi-Nya dupa dipersembahkan dan menghormati
orang-orang benar dan suci yang merupakan Bait Roh Kudus.

Ritus pembakaran dupa dan pendupaan sendiri adalah bagian dari ritus kuno dalam liturgi Maronite kita. Pendupaan secara umum memberikan karakteristik yang membedakan dalam ritus-ritus Timur. Karakteristik ini sebenarnya lahir dalam liturgi yang dipahami sebagai gerakan simbolik dan menyentuh selain perasaan kagum yang mendalam dan penghormatan. Ritus ini harus dipelihara. Semua yang ambil bagian dalam ritus itu memiliki peranannya sendiri-sendiri: selebran membakar dupa, Diakon melakukan pendupaan, seorang konselebran mengucapkan proemion dan sedro, serta komunitas ambil bagian dengan berdoa dan memohon belaskasihan. Para Putera Altar sendiri memiliki peranan mereka: mereka membawa pendupaan dan menyerahkannya kepada selebran. Ketika selebran merayakan Qurbono sendirian, ia sendiri membakar dupa, mendupai, dan mengucapkan hoosoyo. Dia dapat menyerahkannya kepada orang lain untuk menyanyikannya dengan suara yang merdu dan melodi yang indah; bagaimanapun, ia harus mengkhususkan bagi dirinya sendiri proemion dan sedro.

Qadeeshat Aloho
Ini adalah madah Trisagion yang umum untuk semua ritus dalam Qurbono dan dalam ritus-ritus liturgis lain. Dalam Gereja Byzantine dan Gereja-gereja Syriac Timur, madah ini ditujukan kepada Tritunggal Mahakudus. Namun, dalam Gereja-gereja Syriac Barat, termasuk Gereja Maronite, dalam dalam Gereja-gereja Armenian, Koptik, dan Ethiopia (Geez), madah ini hanya ditujukan kepada Tuhan Yesus. Gereja Latin, secara teologis menganggap madah ini bersifat Trinitarian; namun, dari sudut pandang liturgis, yaitu dalam ritus penghormatan salib pada Jumat Agung, madah ini ditujukan hanya kepada Tuhan Yesus.

Menurut tradisi yang cukup dihormati, diceritakan bahwa Yusuf dari Arimatea adalah orang pertama yang mengucapkan madah ini di kaki Kristus saat ia memindahkan-Nya dari salib dan menguburkannya. Tanggapan umum terhadap seruan Qadeeshat Aloho adalah “Kasihanilah kami”. Namun, dalam pesta-pesta besar dan masa liturgi yang mengikutinya, bait-bait khusus ditambahkan kepada tanggapan ini, seperti: “yang lahir dari puteri Daud…kasihanilah kami” (Kelahiran Tuhan), “yang dibaptis oleh Yohanes…kasihanilah kami” (Epifani), “yang disalibkan bagi kami….kasihanilah kami (Minggu Sengsara), “yang bangkit dari kematian….kasihanilah kami” (Kebangkitan). Kebiasaan berakar dalam tradisi Syriac Maronite kita. Kami mempertahankan variasi ini walaupun ada yang menentangnya dan menuduh penggunaannya sebagai berbau bidaah karena mereka menganggap madah ini sebagai bersifat Trinitarian dan meyakini bahwa saat kita menyanyikan ”yang disalibkan untuk kita” dalam madah ini berarti kita mengenakan penyaliban kepada ketiga pribadi Tritunggal Mahakudus, dan bukan hanya kepada Tuhan Yesus. Kami memilih untuk tetap mempertahankan berbagai tanggapan ini sesuai dengan masa-masa liturgi karena mereka menambah kekayaan ritus dan memperdalam iman kita.

Madah ini beserta tanggapannya harus selalu dinyanyikan dalam bahasa Syriac di seluruh gereja-gereja Maronite di seluruh dunia, sebagai tanda kesatuan diantara semua Maronite.

Doa Sesudah Qadeeshat
Doa ini adalah doa tradisional khusus Maronite dalam semua ritual mereka. Kami memilih teksnya sebagai titik peralihan antara penutupan Qadeeshat Aloho dan persiapan mendengarkan Sabda Tuhan melalui pembacaan Kitab-kitab Suci yang akan segera dilangsungkan.

Bacaan-bacaan Kitab Suci
Pembacaan Kitab Suci, Sabda Tuhan, menampilkan jantung dari bagian pertama Qurbono ini. Yang mendahuluinya adalah persiapan kepada Sabda yang hidup ini: untuk mewartakannya, mendengarkannya, dan menghidupinya. Gereja menunjukkan pentingnya hal ini dengan menyertainya dengan madah, pengajaran, dan prosesi untuk menunjukkan kepenuhan maknyanya. Teks-teks bacaan Kitab Suci bervariasi sesuai perayaan dan masa liturgi. Kami sedang memeprsiapkan buku yang detail dan lengkap untuk bacaan-bacaan, termasuk teks-teks dari Perjanjian Lama sebagaimana Perjanjian Baru. Untuk sekarang ini kami membatasi bacaan hanya dua saja: Surat-surat Paulus dan Injil untuk hari minggu dan pesta, serta Surat-Surat Paulus dan Surat-Surat lain untuk hari-hari biasa. Sebentar lagi pilihan akan menjadi lebih luas dan kita akan memiliki daftar yang lebih menyeluruh yang mencakup semua buku Kitab Suci.

Mazmoroo
Mazmur disini adalah suatu madah khusus dalam tradisi Maronite. Sekarang ini, Mazmur ini terdiri dari tiga bait puitis yang dilagukan menurut melodi Ephremic. Madah ini menggabungkan ayat dari kitab Mazmur dengan ayat-ayat madah yang diinspirasi oleh peristiwa keselamatan yang menandai tema pesta ini. Struktur khusus ini merupakan bagian kuno dari tradisi Antiokhia. Dalam ritus lain, Mazmooro ini serupa dengan menyanyikan ayat-ayat mazmur sebelum Epistel atau bacaan dari buku lain dalam Kitab Suci, dengan pengecualian bacaan Injil.

Seperti sudah kami sampaikan sebelumnya, dimasa datang kami akan memilih bacaan dari semua buku-buku dalam Kitab Suci. Setiap bacaan akan didahului dengan penjelasan singkat untuk pemahaman yang lebih baik akan bacaan Kitab Suci. Pemilihan bacaan akan sulit dan memakan waktu. Pada saat ini, para pakar dari Komisi Liturgi dan Komisi Kitab Suci sedang menggabungkan usaha untuk tujuan itu. Mereka akan menetapkan teks Kitab Suci yang cocok untuk setiap hari menurut pesta dan masa liturgi.

Prosesi Injil

Sebelum pewartaan Injil, dilangsungkan suatu prosesi di Panti Imam untuk menghormati Sabda Allah. Menurut Patriarkh Duwaihy, pada zaman dulu prosesi dilangsungkan di tengah jemaat. Sekarang ini, kami membatasinya hanya di Panti Imam. Prosesi diawali dan diakhiri di tempat Kitab Injil diletakkan, dengan ini kami memelihara ritus prosesi dan disisi lain menyingkat perayaan liturgi. Sebagai tambahan, kami juga mempertahankan pembakaran dupa sebelum Injil, untuk menghormati Sabda Allah dan juga sebagai undangan bagi jemaat untuk berdiri. Peringatan Diakon seperti “Tetaplah tenang…”, mengarahkan jemaat kepada suasana keagamaan yang cocok.

Pewartaan Injil
Pembacaan Injil bukan sekedar pembacaan yang asal-asalan; tetapi merupakan pewartaan indah yang dilakukan tidak dengan terburu-buru; di sejumlah gereja dan dalam beberapa kesempatan, pembacaan ini berubah menjadi menyanyikan teks. Sebelumnya, teks Injil bahasa Syriac akan dinyanyikan dalam melodi sederhana, dan kemudian disusul terjemahan bahasa Arab. Menyanyikan Injil dalam perayaan meriah memiliki banyak manfaat. Kami ingin kembali kepada kebiasaan itu. Kami juga tidak perlu mengulang bahwa pembacaan Injil berpusat pada tema pesta, yaitu peristiwa keselamatan.

Teks liturgi harus cukup sederhana dan mudah dimengerti. Tradisi Maronite kita memilih versi bahasa Syriac yang disebut Peshitta. Ini adalah teks Alkitab kuno yang dekat dengan bahasa Aram yang digunakan oleh Tuhan kita dan juga para Rasul-Nya untuk mewartakan kabar baik pada mulanya.

Pewartaan (Korozooto)
Pewartaan ini dikenal sebagai “yang sederhana”. Yang merupakan satu dari tiga pewartaan dalam Ibadat Qurbono. Pewartaan ini diucapkan setelah homili dengan partisipasi jemaat. Diilhami oleh tema pesta, pewartaan ini dianggap sebagai meditasi teologis dan puitis dari pewartaan. Kompilasi dari pewartaan ini dimuat dalam buku yang khusus bagi para Diakon. Mereka sekarang sedang dipersiapkan dan ditambahkan ke dalam daftar seluruh buku untuk Qurbono (daftar seluruhnya ini termasuk buku untuk selebran, asisten, pembaca, dan jemaat).

Dengan pewartaan ini, bagian pertama Qurbono ditutup. Pada zaman dulu mereka yang akan dibaptis atau katekumen diperbolehkan ambil bagian didalamnya dan setelahnya mereka dipersilakan pulang. Kemudian bagian kedua, yang dikhususkan bagi umat berimana akan dimulai. Bagian kedua ini adalah bagian ekaristis, didahului dengan penyerahan persembahan, persembahannya, dan penempatannya di Altar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar