Minggu, 11 Oktober 2009

Eklesiologi Antiokhia

Artikel ini ditulis oleh seorang Uskup Agung Ortodoks bernama Georges Khodr dari Keuskupan Agung Gunung Libanon dan dimuat di koran Libanon bernama an-Nahar. Saya menerjemahkannya dari versi bahasa inggris karya seorang blogger yang blognya bernama "Notes on Arab Orthodoxy dan diberi judul Eklesiologi Antiohia. Seorang Romo Katolik Melkite (Byzantine ramblings) menyatakan bahwa artikel ini berlaku baik untuk Katolik maupun Ortodoks yang menggunakan ritus Byzantine. Saya menerjemahkan dari bahasa inggris dan beberapa kali menambahkan keterangan dalam tanda kurung untuk membuatnya tampak lebih Katolik dan lebih bisa mudah dimengerti oleh orang Kristen Latin (seperti saya sendiri juga adalah orang Latin). Selamat membaca.

Versi bahasa Inggris dari artikel ini (acuan terjemahan saya):

Notes on Arab Orthodoxy: Anthiochian Ecclesiology

Blog seorang Romo Katolik membahas artikel ini:

Byzantine Ramblings: Eastern Ecclesiology

Versi asli artikel dalam bahasa Arab:

النظام المجمعي في الكنيسة الشرقيّة

Dan sekarang terjemahan saya:


Sistem pemerintahan dalam Gereja Ortodoks adalah penguatan dari suatu ajaran teologis. Bagi kita, umat sebagai keseluruhan memelihara ajaran Gereja. Hal ini berarti, visi dari seluruh kehidupan Gereja adalah visi seluruh umat beriman, yang tampak melalui para uskup di antara mereka. Sejalan dengan pentingnya kedudukan uskup, ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada seluruh kawanannya. Hal ini tidak berarti bahwa ia bergantung kepada kelompok mayoritas kawanannya, tetapi bergantung kepada mereka yang saleh dan secara aktif menjalankan imannya diantara kawanan. Merekalah yang sesungguhnya adalah Tubuh Kristus sejauh mereka menghadirkan Kristus di bumi.

Bagaimanapun, uskup tidak hanya berhubungan dengan seluruh kawanan yang dipercayakan kepadanya. Dia juga berhubungan dengan para metropolitan yang memerintah gereja yang kita sebut ‘lokal’ atau ‘regional’ sebagaimana ia juga dipersatukan dengan para uskup yang beriman lurus di seluruh dunia. Bagaimanapun juga, peristiwa yang kini, terjadi dari hari ke hari, juga menentukan tindakan-tindakan gereja lokal, seperti Gereja Antiokhia.

Gereja ini diperintah oleh Sinode Suci, yang teridiri dari semua uskup di wilayah ini dan dipimpin oleh sang patriarch sebagai yang pertama diantara yang setara. Misteri tunggal imamat menjadikan mereka satu kumpulan, dan diharapkan juga satu pikiran, yang diimani sebagai pikiran Kristus. Inilah kebersamaan yang mereka bentuk, dan yang kepadanya kita berharap Roh Kudus berhembus dan meluas, agar mereka dalam melayani dengan satu spiritualitas semua umat beriman melalui satu unit spiritual yang kita sebut keuskupan. Karena kesatuan anggota-anggotanya, suatu sinode, seperti Sinode Suci Antiokhia, mengawasi semua wilayah karena kita mengandaikan bahwa para uskup menyatukan pikiran mereka dengan pikiran Kristus dan tidak berbicara menurut kehendak-Nya, dan bahwa mereka berjuang untuk Kristus, dengan Injil sebagai titik acuan mereka. Karena alasan inilah mereka menempatkan kitab Injil di aula tempat mereka berkumpul untuk mengingatkan mereka bahwa mereka menyampaikan sabda-Nya dan bahwa mereka tidak menyampaikan apapun selain Dia ketika mereka membuat keputusan atau secara bersama-sama merencanakan sesuatu atau bertindak atau memilih uskup baru atau mengadili seorang uskup yang melanggar hukum Gereja.

Bagi kita, patriarkh adalah penjamin kesatuan karena dia telah mencapai suatu kelepasan. Melalui kebajikan kemurnian ini mereka mengakui dia sebagai yang pertama diantara mereka dan mereka tetap bersemangat untuk menghormati kedudukannya, sama seperti patriarkh juga bersemangat untuk membangun kedudukan para uskupnya. Karena itu mereka tidak berkumpul tanpa dia dan jika Allah memanggil ia untuk diri-Nya sendiri (meninggal), mereka tidak berkumpul kecuali untuk memilih penggantinya. Tidak ada sinode tanpa patriarkh dan tidak ada patriarkh. Dalam hal terjadi skisma, mereka yang memisahkan diri tidak membentuk sinode, tidak perduli apakah dari segi jumlah mereka adalah minoritas, perhimpunan yang dipimpin oleh patriarkh-lah yang merupakan suatu sinode.

Pada dasarnya sistem ini tidak memiliki pembanding dalam sistem pemerintahan duniawi apapun, entah itu parlemen atau lainnya. Maka, tidaklah benar untuk mengatakan bahwa Ortodoksi adalah demokrasi. Ortodoksi adalah harmoni Roh Kudus. Sama seperti kalian mematuhi uskup kalian karena Allah mengangkatnya melalui penumpangan tangan (tahbisan), maka kalian juga mematuhi Sinode Suci bukan karena institusi ini adalah otoritas yang berkuasa atas kalian menurut suatu cara legalistis, tetapi lebih karena penumpangan tangan yang telah diletakkan pada kepala tiap uskup pada hari pentahbisannya. “Uskup adalah gambaran (ikon) Kristus”, begitulah kata St. Ignatius dari Antiokhia. Dalam mematuhi seorang uskup, kalian mematuhi Kristus.

+ + +

Bagaimanapun juga, uskup adalah manusia dan mereka bisa melakukan kesalahan. Jika suatu kesalahan datang dan merusak ajaran Gereja, kalian bertanggung jawab untuk tidak mematuhi uskup, dan dalam hal ini sinode akan membuat pengaduan kepada sinode Ortodoks lain. Jika uskup lokalmu menentang ajaran Gereja dan mengajarkan sesuatu yang baru (diluar Tradisi Suci) maka kalian harus berhenti mendoakannya dan membawa masalahnya kepada rekan-rekan uskupnya yang lain, khususnya kepada patriarkh. Bagaimanapun juga, hal ini jarang sekali terjadi dan dalam beberapa ratus tahun terakhir kita tidak mengalami masalah semacam itu, karena pendefinisian ajaran Gereja adalah hal yang khusus dilakukan oleh Konsili Oikumenis (dalam Gereja Katolik bukan hanya Konsili Oikumenis tetapi juga Paus yang berbicara secara ex-cathedra) dan bukan oleh sinode lokal.

Dapat terjadi bahwa sinode bertindak tidak bijak dalam suatu masalah pastoral atau administratif. Hal ini didiskusikan dalam sesi yang berkaitan dengan keluhan atau keberatan yang dapat dipertanggungjawabkan dan masalah ini akan diselesaikan secara lokal.

Dalam masalah semacam ini para imam yang saleh, yang ahli dalam tradisi gereja serta orang awam yang bijak memainkan peranan yang besar. Semangat kebapakan yang umum akan menentukan bagaimana menyelesaikan masalah ini secara benar, terutama karena ajaran Gereja mengatakan bahwa para klerus dan umat beriman adalah satu tubuh yang berkaitan satu sama lain sebagai anggota dalam Sabda keselamatan yang dipertahankan dengan niat baik dan hati yang benar.

Dalam Gereja, jumlah tidak berarti. Kalian tidak mematuhi Sinode karena alasan ini. Kalian menerimanya karena Sinode adalah wujud nyata dari Gereja yang berjuang dalam pemurnian, yaitu keseleuruhan dari mereka yang berdoa. Pada abad-abad pertama, Gereja menolak sinode yang terdiri dari lebih dari 400 orang uskup dan menyebut mereka sebagai sinode perampok (istilah sinode perampok berasal dari Paus St. Leo Agung terhadap sinode Efesus pada tahun 449 berkaitan bidaah monofisit, dalam sinode itu utusan Paus dipukuli oleh sejumlah biarawan dan surat Paus dilarang untuk dibacakan. Akhirnya diadakan Konsili Chalcedon yang diakui sebagai sinode yang benar), waaupun mereka hanya memutuskan apa yang mereka anggap telah diinspirasikan oleh Roh Allah. Sinode bukanlah tuan atas dirinya sendiri dan bukan suatu perkumpulan biasa, tetapi karena kita yakin bahwa ada ikatan antara sinode dengan Tuhan. Ketika Allah memerintah sinode melalui rahmat, ini adalah sinode yang lurus dan kalian hanya terikat kepada apa yang lurus. Uskup adalah mereka yang dipercayai misteri ilahi, seperti kata St. Paulus. Jika mereka bertindak melawan kepercayaan itu, maka mereka menjadi bukan apa-apa, karena tidak ada penguasa dalam Gereja selain Allah sendiri. Dalam Gereja 7 Konsili Oikumenis pertama (yaitu sebelum skisma besar tahun 1054), konsili yang kemudian meneguhkan kebenaran dari konsili sebelumnya dan dengan cara ini membawa kita semakin mendekat kepada kebenaran tertentu dalam hal iman yang sebelumnya tidak begitu jelas. Kebenaran tertentu diteguhkan oleh penerimaan seluruh umat beriman saat para uskup menyampaikan hal itu ketika mereka berkumpul dalam Konsili. Konsili-konsili besar ini tidak hanya dikenal karena teologinya yang hebat dan kebijaksanaannya (tetapi juga karena kekudusan para bapa konsili), dan karena itu kita menghormati para bapa suci yang berkumpul di Nicaea atau di Konstantinopel. Kekudusan dari mereka yang berkumpul menegakkan kebenaran iman mereka karena tidak ada pemisahan antara kepercayaan dan kemurnian hidup.

+ + +


Mereka yang kemurniannya kita jadikan acuan juga terpanggil ke dalam suatu pemilihan ketika suatu keuskupan kosong karena uskupnya meninggal. Di beberapa Gereja, seperti di Rusia misalnya, para klerus dan awam berpartisipasi dalam pemilihan secara langsung. Di Gereja-gereja lain, ada suatu komisi yang terdiri dari iman dan awam yang mengurusi nama-nama kandidat dan menyampaikan sejumlah nama kandidat kepada Sinode Suci, yang satu di antara kandidat itu akan dipilih oleh sinode. Di negara kita, komisi nominasi itu adalah perhimpunan keuskupan (diocesan assembly). Jika melalui cara ini belum dapat dicapai keputusan, maka sinode sendiri akan mulai mengajukan kandidat-kandidat dan kemudian memilihnya melalui cara nominasi. Pada dasarnya, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh kandidat, pertama-tama adalah hidup rohani dan moralnya, kemudian pencapaiannya akan suatu tingkat (gelar) dalam teologi, kemudian persyaratan umur dan kemajuan pelayanannya.

Sekalipun semua syarat ini dipenuhi, hal itu adalah suatu kedekatan dengan ideal yang diharapkan dan bukan suatu jaminan. Kita bisa memilih, misalnya, seorang yang tampak murni dan rendah hati tetapi kemudian kekuasaan membuatnya korup dan menindas kalian. Jika kita melihat pencapaian studi teologi kita dapat saja berpikir dia itu berpengetahuan, tetapi kemudian menjadi jelas bahwa dia lemah dalam penerapan pengetahuan teologisnya. Kualitas baik yang ada dalam diri seorang imam bisa jadi tidak memadai untuk menentukan kecocokannya dengan tugas-tugas uskup. Suatu karunia baru dapat muncul dalam diri seseorang berkaitan dengan panggilan barunya, jadi bukanlah tidak mungkin anggota sinode akan berbeda dalam pilihan mereka. Satu orang mungkin akan berfokus dalam kemampuan teologis seorang kandidat dan yang lain dalam karunia-karunia pastoralnya jika hal itu memang diketahui. Yang lain mungkin akan menekankan kemampuan administratifnya. Tetapi apakah itu kemampuan administratif?


Kita tidka perlu terkejut jika para pemimpin kita berbeda-beda dalam hal kriteria ini. Seorang mungkin akan tertarik dengan kecerdasan dan pengetahuan seorang kandidat. Yang lain tertarik dengan pengalamannya. karena masalah ini berkaitan dengan penilaian individu, maka kesepakatan bulat pada dasarnya akan sulit dicari. Bagaimanapun jika hal yang akan membebaskan kita dari ketidakjelasan ini adalah mencari seseorang yang terpanggil kepada jabatan uskup dan memiliki cinta yang teguh dan mendalam kepada Tuhan. Pembelajaran harus ditambahan karena apa yang kita cari dalam diri orang ini adalah pengetahuan tentang masalah iman agar ia dapat berkhotbah dan mengajar. Berkaitan dengan apa yang kita sebut sebagai manajemen harta benda Gereja serta pendapatan dan kekayaan materialnya, Gereja perdana merasa adalah baik bagi uskup untuk menunjuk seorang administrator berkaitan dengan hal ini, karena orang yang mendalami pengetahuan teologis pada umumnya tidak memiliki pengalaman berkaitan dengan hal itu. Sementara bagi orang yang berpengalaman dalam masalah-masalah itu namun tidak memiliki pengetahuan akan Allah dan Sabda-Nya, akan sulit baginya untuk menjalankan tugas utama uskup yaitu berkhotbah dan mengajar.

Maka kehendak baik dan opini-opini yang mencerahkan dapat menghasilkan terpilihnya seseorang yang penuh kebijaksanaan Allah dan dia akan dilengkapi dengan berbagai anugerah kebijaksanaan yang diterimanya dari orang lain dan dari seiring berjalannya waktu sepanjang dia bersandar kepada mereka yang saleh dan bijak dalam kawanan yang digembalakannya

Masalah utama kita adalah Injil Kristus diberikan kepada manusia-manusia yang penuh kelemahan karena kodrat manusiawinya dan mereka yang memiliki tingkat kerohanian tinggi sedikitlah jumlahnya. Gereja di dunia ini belum mencapai kerajaan dan kita tahu, sebagaimana dikatakan oleh Paulus “kita memiliki harta dalam bejana tanah liat”. Untuk menjaga apa yang dipercayakan kepada kita tetap aman sampai kedatangan Tuhan, kita harus selalu berjaga dan menanggung segala kesulitan dengan penghiburan yang kita terima dari atas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar