Sabtu, 10 Oktober 2009

Ritus dan Gereja-gereja Otonom (sui-iuris)

Ritus
Suatu ritus menyatakan suatu tradisi gerejani mengenai bagaimana sakramen-sakramen dirayakan. Setiap sakramen memiliki suatu unsur mendasar yang harus dipenuhi agar sakramen dapat dilayankan atau direalisasikan. Materi, bentuk, dan kehendak yang mendasar ini berasal dari hakekat setiap sakramen sebagaimana diwahyukan kepada kita, dan karenanya tidak dapat diubah oleh Gereja. Kitab Suci dan Tradisi, sebagaimana dijelaskan oleh Magisterium, mengatakan kepada kita apa yang mendasar dalam setiap sakramen. Ketika para Rasul membawa Injil kepada pusat-pusat kebudayaan yang besar praktek iman yang mendasar diinkulturasikan kepada mereka, hal yang esensial ditampakkan dengan simbol dan hal-hal lain yang memuat arti spiritual yang sesuai dengan budaa tersebut. Hal ini juga berkenaan dengan sakramen-sakramen. Ada tiga kelompok utama ritus berdasarkan penyebaran iman yang pertama, yaitu: Roma, Antiokhia (Syria), dan Alexandria (Mesir). Kemudian Byzantine muncul sebagai kelompok ritus utama yang sebenarnya berasal dari Antiokhia, terutama dibawah pengaruh St. Basilius dan St. Yohanes Krisostomus. Dari empat kelompok utama ini mengalirlah lebih dari 20 ritus liturgi yang ada dalam Gereja zaman sekarang ini.

Gereja-gereja Lokal
Suatu Gereja adalah persekutuan umat beriman yang ditata secara hierarkis, baik di seluruh dunia (Gereja Katolik) atau di wilayah tertentu (Gereja lokal). Agar Gereja tanda menjadi tanda (sakramen) Tubuh Mistik Kristus di dunia ini Gereja harus memiliki kepala dan anggota. Tanda sakramental dari Kristus sang Kepala Tubuh Mistik adalah hierarki, yaitu: uskup, imam, dan diakon. Secara khusus, adalah uskup, bersama dengan para imam dan diakon yang menyertainya dan membantu dia dalam tugasnya mengajar, menguduskan dan memerintah. Tanda sakramental dari Tubuh Mistik adalah umat awam, kawanan domba Kristus. Jadi Gereja Kristus sungguh hadir secara sakramental (melalui suatu tanda) dimana ada gembala utama (uskup dan para pembantunya) dan orang-orang Kristen yang dipercayakan kepada kegembalaannya. Keuskupan Birmingham, contohnya, adalah suatu Gereja lokal.
Gereja Kristus juga hadir sepenuhnya secara sakramental dalam Gereja-gereja ritual yang mewakili suatu tradisi gerejani dalam merayakan sakramen-sakramen dan yang ditata dibawah seorang Patriarkh, yang bersama dnegan para uskup dan klerus lainnya dalam Gereja ritual tersebut menampilkan Kristus sang kepala dari umat dalam tradisi tersebut. Dalam sejumlah kasus suatu ritus secara erat berkaitan dengan satu Gereja. Misalnya Gereja Maronite, yang dipimpin oleh seorang Patriarkh memiliki suatu ritus yang tidak dapat ditemukan dalam Gereja-gereja lain. Dalam kasus lainnya, seperti ritus Byzantine, digunakan oleh beberapa Gereja yang memiliki ritus yang sama atau serupa. Misalnya Gereja Katolik Ukraina menggunakan ritus Byzantine, begitu juga Gereja Katolik Melkite Yunani, juga menggunakan ritus Byzantine, tetapi ritus ini juga ditemukan di luar Gereja Katolik, misalnya dalam Gereja-gereja Ortodoks Timur yang tidak bersekutu dengan Roma.
Akhirnya Gereja Kristus hadir secara sakramental dalam Gereja Katolik yang tersebar di seluruh dunia dan bersatu dengan Gembala Tertinggi Gereja Kristus, yaitu uskup Roma. Untuk menjadi Katolik, Gereja lokal dan Gereja ritual harus berada dalam persekutuan dengan Pengganti St. Petrus, sebagaimana para Rasul berada dalam persekutuan dengan Petrus dalam mendirikan Gereja-gereja di wilayah-wilayah yang mereka injili.

Berbagai Ritus dan Gereja-gereja Dalam Gereja Katolik

Ritus-ritus dan Gereja-gereja Barat
Secara langsung berada dibawah Imam Agung (Pontifex Maximus) sebagai Patriarkh Barat

Gereja Roma (juga disebut Latin)

Gereja Roma adalah Tahta Utama di dunia dan Tahta Patriarkal dari Kekristenan Barat. Didirikan oleh St. Petrus tahun 42 AD dan dikuduskan dengan darah St. Petrus dan St. Paulus dalam masa penganiayaan oleh Nero (63-67 AD). Sejak saat itu Gereja ini terus-menerus memelihara eksistensinya sebagai sumber keluarga ritus di barat. Sejumlah penelitian para ahli (seperti Rm. Louis Boyer dalam Eucharist) menyatakan bahwa ada kedekatan luar biasa antara ritus romawi yang mula-mula dengan ibadat Yahudi di Sinagoga, yang juga menyertai kurban di Bait Allah. Sementara asal mula dari ritus yang sekarang, bahkan dalam pembaruan Vatikan II, dapat dilacak hanya sampai abad ke 4, hubungan ini menunjukkan bahwa tradisi apostolic kuno yang dibawa ke kota Roma pada dasarnya bersifat Yahudi.
Setelah Konsili Trente dirasakan perlu untuk mengkonsolidasikan ajaran dan praktek dalam kaitan dengan Reformasi Protestan. Maka, Paus St. Pius V membakukan ritus roma kepada Gereja Latin (yang merupakan bawahannya dalam kapasitasnya sebagai Patriarkh Barat) dan hanya mengizikan ritus-ritus barat yang lebih kecil dan berusia ratusan tahun dapat dipertahankan. Banyak ritus yang lebih muda dari sejumlah keuskupan atau wilayah berhenti eksis.

• Roma - Mayoritas mutlak Katolik Latin dan Gereja Katolik secara keseluruhan. Patriarkh dari ritus ini dan ritus-ritus latin lainnya adalah uskup roma.
• Mozarabic - Ritus dari semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal) yang dikenal sejak abad ke 6, tetapi mungkin juga berakar dari penginjilan mula-mula. Sejak awal abad 11 mulai digantikan oleh ritus roma, walaupun tetap dipertahankan sebagai ritus katedral Keuskupan Agung Toledo,dan 6 paroki yang meminta izin untuk menggunakannya. Pada saat ini perayaannya secara umum bersifat semi-privat.
• Ambrosian - Ritus dari Keuskupan Agung Milan, diperkirakan bahwa asal-mulanya dan mungkin dikonsolidasikan oleh St. Ambrosius walapun jelas tidak dikarang olehnya. Paus Paulus VI berasal dari ritus latin Ambrosian ini. Ritus ini tetap digunakan di Milan, meskipun tidak oleh semua Paroki.
• Bragan - Ritus Keuskupan Agung Braga, Tahta Utama di Portugal, berasal dari abad 12 atau lebih awal. Ritus ini tetap digunakan hanya sekali-sekali pada kesempatan tertentu.
• Dominican -. Ritus dari Ordo Saudara Pengkhotbah (OP) yang didirikan oleh St. Dominikus tahun 1215.
• Carmelite - Ritus dari Ordo Karmel, yang pendirian modernnya dilakukan oleh St. Berthold sekitar tahun 1154.
• Carthusian - Ritus dari Ordo Carthusian yang didirikan oleh St. Bruno di tahun 1084.

Ritus dan Gereja-gereja Timur
Mereka memiliki hierarkinya dan sistem pemerintahan (sinode) yang berbeda dari ritus latin dan memiliki hukum kanonnya sendiri yaitu Hukum Kanon untuk Gereja-gereja Timur (CCEO). Paus menjalankan otoritasnya atas mereka melalui Konggregasi untuk Gereja-gereja Timur.

Antiokhia

Gereja di Antiokhia di Syria (di pantai Mediterania) dianggap sebagai tahta apostolic karena pada awalnya didirikan oleh St. Petrus. Antiokhia adalah satu dari pusat kuno Gereja, sebagaimana dinyatakan juga oleh Perjanjian Baru, dan merupakan sumber dari keluarga berbagai ritus serupa yang menggunakan bahasa Syriac kuno (dialek Semitik yang digunakan Yesus dan pada zaman-Nya dikenal sebagai bahasa Aram). Liturginya berasal dari St. Yakobus dan Gereja Yerusalem.

1. Syria Barat
• Maronite - Tak pernah berpisah dari Roma. Pemimpinnya adalah Patriarkh Antiokhia untuk Gereja Maronite. Bahasa liturgisnya adalah Aram, walaupun dalam perayaan umumnya digunakan bahasa lokal kecuali pada bagian tertentu yang harus menggunakan bahasa Aram. Ada sekitar 3 juta orang Maronite di Libanon (daerah asal), Cyprus, Mesir, Syria, Israel, Kanada, US, Mexico, Brazil, Argentina dan Australia.
• Syriac - Katolik Syriac kembali ke pangkuan Roma tahun 1781 dari bidaah monofisit. Pemimpinnya adalah Patriarkh Antiokhia untuk Gereja Syriac. Ada sekitar 110 ribu Katolik Syriac yang terdapat di Syria, Libanon, Iraq, Mesir, Kanada dan US.
• Malankara - Orang Katolik dari India selatan yang diinjili oleh St. Thomas, dan menggunakan liturgi syria barat. Disatukan kembali dengan Roma tahun 1930. Bahasa liturginya adalah Syriac Barat dan Malayalam dan bahasa lokal. Ada sekitar 350 ribu Katolik Malankara yang terdapat di India dan Amerika Utara.

2. Syria Timur
• Chaldean - Orang Katolik Babylonia yang kembali ke Roma tahun 1692 dari bidaah Nestorian. Pemimpinnya adalah Patriarkh Babylonia dari Chaldea. Bahasa liturgi adalah Syriac dan Arab. Ada sekitar 310 ribu orang Katolik Kaldea yang tersebar di Iraq, Iran, Syria, Libanon, Mesir, Turki dan US.
• Syro-Malabar - Orang Katolik dari India selatan yang menggunakan liturgi Syria Timur. Kembali ke Roma di abad 16 dari bidaah Nestorian. Bahasa liturgisnya adalah Syriac dan Malayalam. Ada lebih dari 3 juta Katolik Syro-Malabar di negara bagian Kerela, Malayalam di India selatan.

Byzantine

Gereja Konstaninopel menjadi pusat politik dan keagamaan dari Kekaisaran Romawi Timur setelah Kaisar Konstantine membangun ibukota baru di atas kota kuno Byzantium (324-330). Konstantinopel mengembangkan ritus liturginya sendiri berakar dari Liturgi St. Yakobus, dalam satu bentuk yang telah dimodifikasi oleh St. Basilius, dan dalam bentuk yang lebih umum dipakai, dimodifikasi oleh St. Yohanes Krisostomus. Setelah 1054 kecuali untuk sejumlah masa persatuan kembali yang singkat, kebanyakan orang Kristen Byzantine tidak bersekutu dengan Roma. Mereka membentuk Gereja-gereja Ortodoks Timur, yang kepala titulernya adalah Patriarkh Konstantinopel. Gereja-gereja Ortodoks sebagian besarnya bersifat auto-cephalous, artinya mengepalai diri sendiri, dan dipersatukan satu sama lain oleh persekutuan dengan Konstantinople, yang tidak menjalankan otoritas apapun secara nyata atas mereka. Pada umumnya Gereja-gereja Ortodoks terbagi menurut garis batas nasional. Mereka yang kembali kepada persekutuan dengan Roma dinampakkan dalam Gereja-gereja dan ritus-ritus Gereja Katolik.
1. Armenian
Gereja Armenia menganggap ritusnya sendiri sebagai ritus Byzantine yang lebih kuno. Bentuk kuno yang tidak lagi digunakan oleh kelompok Byzantine lainnya. Mereka adalah orang-orang Katolik pertama yang bertobat sebagai suatu bangsa, yaitu bangsa Armenia (penduduk asli Turki), dan yang kembali ke pangkuan Roma saat perang salib. Pemimpinnya adalah Partiarkh Cilicia untuk Gereja Armenia. Bahasa liturgisnya adalah Armenia klasik. Ada sekitar 350 ribu orang Katolik Armenia yang tersebar di Armenia, Syria, Iran,Iraq, Libanon, Turki, Mesir, Yunani, Ukraina, Perancis, Rumania, US dan Argentina. Kebanyakan orang Armenia adalah Ortodoks dan tidak bersekutu dengan Roma.
2. Byzantine
• Albanian - Orang Kristen Albania yang sejak 1628 bersekutu dengan Roma kini hanya ada 1400 orang. Bahasa liturgisnya adalah Albania. Kebanyakan orang Kristen Albania adalah Ortodoks.
• Belorussian/Byelorussian -Tidak diketahui jumlah orang Kristen Belarusia yang kembali ke pangkuan Roma pada abad ke 17. Bahasa liturgisnya adalah Slavonik. Mereka dapat ditemukan di Belarusia dan di Eropa, juga di Amerika dan Australia.
• Bulgarian - Orang Kristen Bulgaria kembali ke pangkuan Roma tahun 1861. Bahasa liturgisnya adalah Slavonic kuno. Jumlahnya 20 ribu orang dan dapat ditemukan di Bulgaria. Kebanyakan orang Kristen Bulgaria adalah Ortodoks.
• Czech - Orang-orang Katolik Ceko yang menggunakan ritus Byzantine ditata menjadi sebuah yurisdiksi tahun 1996. Kebanyakan orang Kristen Ceko adalah Katolik ritus Latin.
• Krizevci - Orang-orang Katolik Kroasia yang menggunakan ritus Byzantine memperoleh persekutuan dengan Roma di tahun 1611. Bahasa liturgisnya adalah Slavonic Kuno. Ada 50 ribu orang Katolik Kroasia yang menggunakan ritus Byzantine dapat ditemui di Kroasia dan Amerika. Kebanyakan orang Kristen Kroasia adalah Katolik ritus Latin.
• Greek - Orang Katolik Yunani ritus Byzantine kembali ke pangkuan Roma tahun 1829. Bahasa liturgisnya adalah Yunani. Jumlah mereka hanya sekitar 2500 orang di Yunani, Asia Kecil, dan Eropa. Kebanyakan orang Kristen Yunani adalah Ortodoks, mereka dipimpin oleh Uskup Agung Athena sebagai Primat dan Patriarkh mereka adalah Patriarkh Ortodoks di Konstantinopel.
• Hungarian - Keturunan orang-orang Ruthenia yang kembali ke pangkuan Roma tahun 1646. Bahasa liturgisnya adalah Yunani, Hungaria, dan bahasa lokal. Ada sekitar 300 ribu orang beriman yang terdapat di Hungaria, Eropa dan Amerika.
• Italo-Albanian - Mereka tidak pernah berpisah dari Roma, jumlahnya ada sekitar 60 ribu dan terdapat di Italia, Sicila, dan Amerika. Bahasa liturgisnya adalah Yunani dan Italo-Albanian.
• Melkite - Orang-orang katolik yang berasal dari mereka yang memisahkan diri dari Roma di Syria dan Mesir dan kemudian bersatu kembali dengan Roma saat perang salib. Bagaimanapun, persekutuan yang definitive baru terjadi di abad ke 18. Pemimpinnya adalah Patriarkh Antiokhia untuk Gereja Melkite Yunani dan berkedudukan di Damaskus. Bahasa liturgisnya adalah Yunani, Arab dan berbagai bahasa lokal. Jumlahnya adalah sekitar 1,3 juta orang yang tersebar di Syria, Libanon, Yordania, Israel, Kanada, US, Mexico, Brazil, Venezuela dan Australia.
• Romanian - Orang-orang Rumania yang kembali ke pangkuan Roma tahun 1697. Bahasa liturgisnya adalah Rumania. Ada sekitar 1 juta orang Katolik Rumania yang terdapat di Rumania, Eropa dan Amerika. Kebanyakan orang Kristen Rumania adalah Ortodoks Rumania.
• Russian - Orang-orang Rusia yang kembali ke pangkuan Roma tahun 1905. Bahasa liturgisnya adalah Slavonik kuno. Jumlahnya tidak diketahui namun mereka tersebar di Rusia, Cina, serta Amerika dan Australia. Sebagian besar orang Kristen Rusia adalah Ortodoks Rusia dan Patriarkh mereka adalah Patriarkh Ortodoks di Moskow.
• Ruthenian - Orang Katolik yang terpisah dari Roma di Rusia, Hungaria dan Kroasia yang kemudian bersatu kembali dengan Roma di tahun 1596 (Brest-Litovsk) dan 1646 (Uzhorod).
• Slovak - Katolik ritus Byzantine dari Slovakia berjumlah sekitar 225 ribu dan tersebar di Slovakia dan Kanada.
• Ukrainian - Orang Katolik yang terpisah dari Roma melalui Skisma Yunani dan bersatu kembali tahun 1595. Pemimpinnya adalah Uskup Agung Utama Lviv (sekarang pindah ke Kiev dan disebut sebagai Uskup Agung Utama Kiev). Bahasa liturgisnya adalah Slavonik kuno dan Ukraina. Jumlahnya sekitar 5,5 juta dan tersebar di Ukraina, Polandia, Inggris, Jerman, Perancis, Kanada, US, Brazil, Argentina dan Australia. Pada zaman Soviet orang-orang Katolik Ukraina dipaksa bergabung dengan Gereja Ortodoks Ukraina. Namun, hierarki mereka tetap ada di luar Ukraina, dan kemudian didirikan kembali di Ukraina setelah kejatuhan Soviet.

Alexandria
Gereja Alexandria di Mesir merupakan satu dari pusat Kekristenan kuno, karena seperti halnya Roma dan Antiokhia yang memiliki banyak penduduk Yahudi maka kota itu juga menjadi sasaran awal dari penginjilan apostolic. Liturginya berasal dari St. Markus pengarang Injil, dan kemudian menunjukkan adanya pengaruh dari liturgi Byzantine, sebagai tambahan dari unsur-unsurnya yang khas.
• Coptic - Orang-orang Katolik Mesir yang kembali bersekutu dengan Roma tahun 1741. Patriarkh Alexandria menjadi pemimpin dari sekitar 200 ribu umat beriman Gereja ritual ini yang tersebar di seluruh Mesir dan Timur Dekat. Bahasa liturgisnya adalah Koptik (bahasa asli Mesir) dan Arab serta bahasa lokal lainnya. Kebanyakan orang Koptik adalah Ortodoks Koptik yang dipimpin oleh Patriarkh Koptik Alexandria yang umum dipanggil “Baba” (Paus).
• Ethiopian/Abyssinian - Orang Katolik Koptik Etiopia yang kembali ke pangkuan Roma tahun 1846. Bahasa liturgisnya adalah Geez. Jumlahnya sekitar 200 ribu orang yang tersebar di Ethiopia, Eritrea, Somalia dan Yerusalem.

Artikel ini ditulis oleh Colin B. Donovan, STL untuk website ewtn.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar